Sumber Gambar: Soda Machine Films

“Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.”

Akhir pekan lalu, saya menghadiri pemutaran Serpong, sebuah film berdurasi 15 menit karya Lucky Kuswandi di Rumata’ Artspace. Film yang akhirnya mengiring saya untuk mengingat-ingat kembali makna frasa di atas.

Sepasang suami-istri, hidup di pemukiman padat penduduk di wilayah Serpong, Jakarta. Satu pemukiman kelas sosial menengah hingga bawah berbaur. Si suami, sehari-hari bekerja sebagai penjajah Cimol keliling, sedangkan istrinya, istri rumah tangga. Saya tidak bisa menyebutnya ibu rumah tangga karena mereka belum mempunyai anak. Pemukiman tempat tinggal mereka bertetangga dengan area pembangunan mall baru. Suatu hari, jamban di rumah mereka mampet, sepertinya gara-gara pembalut bekas-pakai si istri. Si suami yang kebelet ingin buang air besar terpaksa lari ke area pembangunan mall. Tentu saja, inilah area yang paling memungkinkan baginya untuk buang air besar. Di sana, belumlah begitu ramai, beberapa rumput yang belum dibabat masih menjulang tinggi. Di area buang air besar si suami, ia juga bisa menyaksikan bagaimana mall tersebut dibangun.

Serpong merupakan potret yang membelah kelompok kaya dengan kelompok miskin, serta bagaimana orang-orang kaya berpengaruh bagi kondisi kehidupan orang-orang miskin. Walau di-shoot dalam format hitam-putih, Serpong tidak punya narasi yang mengundang sedih tragis semata. Sebaliknya, di setiap frame-nya, ada banyak hal yang mengundang tawa. Orang-orang yang buang air besar di rerumputan memang selalu lebih menarik ketimbang mereka yang buang air besar di toilet yang nyaman, bukan? Dan sembari mengajak kita tertawa, Serpong juga menggelitik pikiran.

Kisah sepasang suami istri yang tinggal di pemukiman padat yang dipotret dalam Serpong.

Sepasang suami istri yang tinggal di pemukiman padat yang dipotret dalam Serpong.

Di Indonesia, orang-orang yang memiliki banyak uang dan kebingungan mencari cara menghabiskannya, cenderung mencari peluang bisnis yang justru membuat uang mereka makin bertambah. Sebagian besar bisnis yang berkembang di Indonesia adalah bisnis yang menarik minat kalangan menengah atas, dan menelantarkan kalangan menengah bawah. Seperti membangun mall, hotel, clothing shop, atau kafe. Sementara orang-orang yang memiliki banyak uang lainnya, memilih menjadi konsumen.

Seperti yang saya tulis di awal, sembari mengajak tertawa, Serpong juga berniat memprovokasi pikiran. Seorang pemuda asal Jerman yang ikut duduk di barisan penonton di Rumata’ Artspace malam itu ikut berkomentar bahwa Serpong baginya sangat menarik. Ketika mendarat di Indonesia, dia sempat menanyakan ke salah seorang temannya, orang Indonesia: mengapa ada banyak mall di sini? Mengapa orang-orang di sini senang berkunjung ke mall? Sementara saya, yang tinggal di Makassar, juga punya pertanyaan yang sama: Mengapa setiap jalan di Makassar selalu bisa ditemukan dua sampai empat hotel? Belum lagi yang masih sementara dibangun.

Pembangunan di Indonesia, yang tujuannya untuk berdagang, begitu pesat. Sayangnya, tak begitu sejalan dengan nasib seluruh lapisan masyarakatnya. Ada satu adegan yang begitu menarik dalam Serpong, ketika pasangan suami-istri tadi membicarakan masa depan anak-anak mereka kelak sembari buang air besar di depan lokasi pembangunan mall–ternyata jamban mereka terus saja mampet hingga berhari-hari. Si istri berandai-andai jika anak mereka nanti perempuan, semoga bisa mendapat pekerjaan di mall yang sedang dibangun di depan mata mereka. Lalu, si suami menimpali secara lebih detail. Jika anaknya perempuan, semoga bisa jadi SPG (Sales Promotion Girl), jika laki-laki, semoga bisa jadi security. Bagi saya ini adegan yang sangat menyedihkan, menyaksikan calon orang tua mendoakan anak-anak mereka dengan cita-cita yang begitu sederhana. Kenapa bukan mendoakan menjadi insiyur? Atau dokter? Atau artis? Mungkin mereka terlalu putus asa sebagai orang miskin, dan harapan mereka satu-satunya adalah bergantung pada kemurahan orang-orang kaya penyedia lapangan kerja.

Lalu, ada juga adegan menggelitik lainnya. Ketika si istri menyaksikan sebuah acara infotainment di televisi yang sedang menampilkan salah satu anggota DPR beristri tiga. Keputusannya berpoligami karena setelah ia pikir-pikir, berpoligami lebih banyak manfaatnya ketimbang mudaratnya. Ternyata, di Indonesia, ada juga kelompok orang-orang kaya yang jika kebingungan menghabiskan uangnya, memilih untuk menghabiskannya dengan menambah jumlah istri dan keturunan.

Pada akhirnya, semakin kita menyaksikan Serpong, semakin kita paham tak ada jalan keluar yang Lucky Kuswandi ingin berikan kepada kita untuk menumpas kemiskinan di bumi pertiwi, tapi secara halus, ia mengajak kita untuk sama-sama berpikir dan mencari cara untuk mengakhirinya.

Simak potongan Serpong dalam trailer antologi Fragment dari Asian Film Archive berikut ini.

Serpong_poster_ReviusSerpong | Sutradara: Lucky Kuswandi | Tahun: 2015| Genre: Komedi, Drama| Negara: Indonesia | Rating : 3.5 / 4 Bintang

Baca tulisan lainnya

Lima Film Berwajah Islam Layak Tonton di Bulan Ramadan

Kisah Laila yang Belum Pernah Diceritakan

Perlawanan Seorang Sastrawan Sosialita

Komedi yang Dibatasi Konklusi Sendiri

Kisah Pemuda yang Berpikir Dirinya Berasal dari Bira

Pulau Buru Tanah Air Beta, Ketika Monumen Memori Berkisah

Melihat Transgender dengan Lebih Baik

5 Film Paling Dinanti yang Bakal Gagal Kamu Saksikan di Bioskop Tahun 2016