Majalah Intisari edisi Juni 2013 menyebutkan dampak umum dari keberadaan papan reklame berukuran besar, yakni menghambat pandangan. Hal tersebut kemudian bisa meningkatkan potensi depresi. Otak juga dibuat stres sehingga kemampuan berpikir dan kemampuan mengambil keputusan dengan cepat berkurang. Papan reklame juga bisa meningkatkan polusi udara karena menghambat aliran udara.

Apakah anda betah melihat pemandangan seperti ini? (Foto: Jumardan Muhammad)

Apakah kamu betah melihat pemandangan seperti ini setiap hari? (Foto: Jumardan Muhammad)

***

Hanya dengan mematikan televisi, kamu tidak akan terlepas dari bujuk rayu iklan. Dia telah merasuk di semua bagian hidupmu, bahkan ruang privasi sekalipun. Apa yang kamu lihat, dengar, dan rasakan, bisa jadi adalah iklan.

Jembatan penyeberangan pun dimultifungsikan dengan menaruh reklame besar seperti ini. (Foto: Jumardan Muhammad)

Jembatan penyeberangan pun dimultifungsikan dengan menaruh reklame besar seperti ini. (Foto: Jumardan Muhammad)

M Arief Budiman, CEO Petakumpet, mendefinisikan iklan yang bagus sebagai iklan yang tidak tampak sebagai iklan. Jadi sekarang, kamu tidak bisa lari begitu saja dari iklan. Apalagi jika kamu hidup di Makassar, yang menurut Wikipedia merupakan kota terbesar di kawasan Indonesia Timur dan wilayah metropolitan terbesar kedua di luar pulau Jawa setelah kota Medan. Kota ini merupakan kota paling strategis bagi brand-brand dalam dan luar negeri membuka cabang. Kota yang sebentar lagi akan menjadi Centre Point of Indonesia.

Iklan telah merasuki di semua bagian hidupmu, bahkan ruang privasi sekalipun.  (Foto: Jumardan Muhammad)

Iklan telah merasuki di semua bagian hidupmu… (Foto: Jumardan Muhammad)

...bahkan iklan telah masuk di ruang privasi sekalipun. (Foto: Jumardan Muhammad)

…bahkan iklan telah masuk di ruang privasi sekalipun. (Foto: Jumardan Muhammad)

***

Saya tidak tahu persis kapan iklan-iklan itu menduduki ruas jalan dan ruang publik. Yang jelas, iklan luar ruang telah ada dan ramai di sekitar rumah saya di jalan Pettarani sejak 2010, awal saya menetap di kota ini. Dari tahun ke tahun, jumlahnya semakin banyak, besar dan juga berevolusi. Dari hanya iklan billboard menjadi iklan berbentuk televisi raksasa yang bisa kita tonton selama 24 jam.

“We’ve already banned cellphones in cars. You’re not allowed to watch your own personal TV screens in cars. So why would we install electronic sign on the highway? It’s just a bad idea,” Dave Meslin, Toronto Public Space Initiative.

Foto: Jumardan Muhammad

‘Godaan’ melihat papan iklan model biasa itu rasanya belum cukup oleh pembuat iklan dengan munculnya televisi raksasa ini… (Foto: Jumardan Muhammad)

Foto: Jumardan Muhammad

…padahal membawa kendaraan sambil melihat handphone saja telah dilarang. (Foto: Jumardan Muhammad)

***i

Pemerintah Kota Makassar lewat Peraturan Walikota (Perwali) Nomor 18 Tahun 2013, telah membuat larangan memasang reklame, baliho, umbul-umbul, iklan, dan semacamnya di taman jalan. Namun apa daya, hingga saat ini mereka masih terpajang, bahkan berdampingan dengan papan larangan Perwali. Media cetak di Makassar ramai menyoroti hal tersebut akhir tahun lalu, pemerintah bilang bahwa pajak reklame kota ini sedang kejar target, mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Ruang publik kota ini telah dikuasai oleh investor, yang memiliki uang yang beriklan. Kita boleh berbesar hati bahwa penyebaran iklan luar ruang tidak hanya terjadi di Makassar. Kota lain pun mengalami ‘bencana’ yang sama. Pertanyaannya kemudian, bisakah kita menolak bencana ini?

Foto: Jumardan Muhammad

Miris melihat papan larangan ini terpajang bersama umbul-umbul dan kawan-kawannya. (Foto: Jumardan Muhammad)

Foto: Jumardan Muhammad

Keberadaan papan reklame yang memotong badan jalan ini semakin banyak ditemui. Bisakah kita menolak jumlahnya atau kita hanya berdiam diri menunggu datangnya ‘bencana’? (Foto: Jumardan Muhammad)

***

Ketika kamu mengetik di Google dengan keyword ‘city without ads’, kamu akan mendapati sebuah kota bernama Sao Paulo. Kota pertama di dunia yang menolak keberadaan iklan luar ruang. Sejak 2006, pemerintah kota metropolitan terbesar keempat di dunia melarang penggunaan iklan media luar ruang, dengan istilah ‘Clean City Law’. Saya dapat membayangkan betapa banyak orang akan menolak hal ini jika diterapkan di Makassar, art director hingga penjual bambu akan mengeluh.

Foto: Jumardan Muhammad

Mendambakan kota yang bersih dari papan iklan. Apakah pemerintah siap? (Foto: Jumardan Muhammad)

Foto: Jumardan Muhammad

Jika Clean City Law diterapkan di Makassar, mungkin saja Cita Citata hanya kita temukan di layar kaca saja. (Foto: Jumardan Muhammad)

Tapi percayalah, bahwa manusia takkan pernah kehilangan akal. Lihat saja, produsen rokok. Di tengah keterbatasannya dalam mengiklankan produk di televisi, mereka justru membuat iklan-iklan yang tidak menggurui orang untuk menghisap rokoknya. Keterbatasan memicu kreativitas memang bukan istilah muluk-muluk.

Foto: Jumardan Muhammad

Terbatas untuk menjual produknya di ruang publik, tidak mematikan kreativitas produsen rokok. Lihat saja karyanya di salah satu sudut kota ini (Foto: Jumardan Muhammad)

Foto: Jumardan Muhammad

Ruang publik kota ini telah dikuasai oleh investor. Yang memiliki uang, yang beriklan. (Foto: Jumardan Muhammad)

Pemerintah mungkin saja lupa bahwa yang memilih mereka untuk mengatur tatanan kota ini adalah kita, rakyat biasa. Mereka bisa saja menjual ruang publik, namun pada kenyataannya kita adalah pemilik sah kota ini!

*Judul Kita Adalah Pemilik Sah Ruang Publik Kota Ini diplesetkan dari judul puisi Taufik Ismail, "Kita adalah Pemilih Sah Republik Ini".

Tulisan terkait dengan Ruang Publik Kota

Kita dan Kota Perlu Berteman dengan Lebih Banyak Teman

Tembok Penuh Warna

Mengapa Ruang Terbuka Hijau Sangat Penting?

Geliat Ekonomi Kreatif untuk Kota yang Lebih Baik

Kota, Musik dan Cita-Cita(ta)

Berbagi Cerita tentang Ruang Kota

Di Kotaku Tak Ada Senja Lagi

Jangan Lihat Kota Ini Hanya dari Layar Kaca