Buruk memang menyimpan rasa iri di hati. Kian lama tumbuh tak terkendali dan berakhir menjadi benci. Tapi saya bisa apa jika belajar mencintai dengan benar tidak pernah khatam. Apalagi yang saya cintai adalah sesuatu yang milik semua orang. Sebuah kota dengan luas 175,77 km², yang dijuluki gerbangnya Indonesia Timur.

Saya suka menghabiskan waktu di Kota ini. Tidak mengenalnya sejak lahir membuat Kota ini menantang untuk terus dikenali. Salah satu usaha mengenali yang paling menyenangkan adalah memasuki daerah pemukiman dengan percabangan jalan yang jumlahnya membuat daya ingat saya mati kutu. Ini menyenangkan karena sensasi tersesat bodo’-bodo’ ini selalu diakhiri dengan perasaan ta’bangka gaul ketika berhasil menemukan jalan raya.

Kembali pada rasa iri di hati. Setelah New York dan Korea, rasa iri saya bergerak ke arah utara, yaitu Amsterdam, Belanda. As we all know, kita punya sejarah panjang dengan Negara yang punya tulip berwarna-warni ini.

Tulip warna-warni itulah yang memekarkan rasa iri di hati. Ia lekat oleh taman, seperti bunga-bunga pada umumnya.

Taman adalah salah satu hal yang selalu saya inginkan lebih di Kota ini, mengingat banyak sekali hal menyenangkan yang dapat dilakukan di sana. Lari-lari sore hingga piknik ceria. Taman Kota adalah salah satu dari 23 jenis Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan yang diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan.

Saya suka sekali pertimbangan pertama Bapak Menteri dalam menetapkan Peraturan ini pada tahun 2007 lalu. Pertimbangan pertama itu berbunyi: bahwa perkembangan dan pertumbuhan kota/perkotaan disertai dengan alih fungsi lahan yang pesat, telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang dapat menurunkan daya dukung lahan dalam menopang kehidupan masyarakat di kawasan perkotaan, sehingga perlu dilakukan upaya untuk menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan melalui penyediaan ruang terbuka hijau yang memadai.

Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan yang dimaksud dalam aturan ini adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika. Pada Bab IV pasal 9, tertulis bahwa luas ideal Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan minimal 20% dari luas kawasan perkotaan.

Sudahkah terpenuhi 20% itu, Bapak Walikota?

Pada official list di situs ini, saya mengetahui bahwa terdapat 30 taman di Amsterdam. Yang terbesar adalah  Vondelpark dengan luas 48 hektar. Ketika menanyakan taman terbesar di Makassar lewat Om Google, saya hanya mendapati link-link yang membawa saya ke artikel-artikel tentang Trans Studio Makassar.

Oh. Taman bermain Indoor? Really? Ah, tidak seru! Sudah nonton 500 Days of Summer? Bayangkan kalau adegan-adegan taman di film itu berganti ke Indoor Park Theme.

Saya bukannya tidak menyukai Taman dalam Ruangan. Tapi, sama seperti Pdf atau E-Book yang tidak punya bau khas kertas seperti buku-buku dan tidak bisa dijepiti bunga atau dedaunan di dalamnya, walaupun bisa dibaca. Seperti itu juga taman dalam ruangan ketika disandingkan dengan taman luar ruangan.

Ada keterbatasan yang terasa konyol. I mean, kenapa harus memaksakan diri untuk memasukkan hal-hal yang diciptakan untuk beradaptasi di bawah sinar matahari, ke dalam ruangan yang dirancang sedemikian rupa untuk memiliki sensasi yang sama dengan landscape luar ruangan yang ditiru? Kenapa tidak membuatnya menjadi taman luar ruangan sesungguhnya? Ada apa antara kamu, atap gedung dan sinar matahari?

Oh, technology.

Ini adalah salah satu bentuk nyata dari istilah “Burung dalam Sangkar Emas”. ( Sumber Foto: Urban Gardens )

Ada sembilan manfaat RTHKP yang disebutkan dalam Pasal 4. Delapan di antaranya mungkin bisa dipenuhi oleh Mall, cafe’-cafe’ atau tempat-tempat rekreasi indoor lainnya, tapi ada yang paling penting dan Mall tidak bisa memenuhinya, yaitu; meningkatkan cadangan oksigen di perkotaan.

Itulah mengapa penebangan satu pohon bisa menimbulkan rasa kecewa pada pihak yang berwenang terhadap itu. Belum cukup Ruang Terbuka Hijau, salah satu yang mampu mampu memenuhi kebutuhan kita akan oksigen harus tumbang.

Kita harus mulai curiga dengan penebangan pohon dan sedikitnya ruang terbuka hijau. Jangan-jangan pihak berwenang punya rencana memusnahkan kita—warganya yang diharuskan membayar pajak—dengan membunuh sumber-sumber oksigen lalu menggunakan uang yang menjadi Pendanaan penataan RTHKP Kabupaten/Kota yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten/Kota untuk menciptakan teknologi yang bisa membuat mereka bernafas tanpa oksigen. Damn!

Rasa iri kepada Amsterdam ini membawa saya ke sejarah masa lalu ketika Belanda menjajah Indonesia. Kenapa mereka sibuk membuat perjanjian dan mengambil rempah-rempah saja ketika menjajah? Kenapa mereka tidak menumbuhkan kondisi ketergantungan terhadap ruang terbuka hijau saja pada Nenek Moyang kita? Mereka lebih memilih untuk mengumpulkan orang-orang untuk kerja Rodi, daripada mengajak semua orang bekerja sama dengan semangat gotong royong lalu bertamasya akhir pekan di taman-taman Kota bersama.

Kalau saja mereka mengajak lebih banyak orang untuk secara rutin memanfaatkan taman di akhir pekan, mungkin kisah masa lalu 350 tahun masa penjajahan itu bisa sedikit manis. Walaupun tetap saja kakek-kakek kita-lah yang mengerjakan taman-taman kota itu.

Yes, untuk urusan-urusan tertentu Mall dan ruang rekreasi indoor adalah perlu. Tapi, sepertinya sudah cukuplah yang ada ini. Mungkin, ada yang bosan karena jumlah Mall yang tidak banyak. Tujuannya jalan Mall yang itu-itu lagi. Tapi, itu bosan karena Mall-nya itu-itu saja atau bosan karena jalannya ke Mall terus?

Kalau saya sih, lebih suka lihat pajak saya menjadi pohon, bunga warna-warni dan taman-taman kota (yang lebih banyak). Karena jelas sekali, saya, kamu juga dan kita semua jauh lebih membutuhkan oksigen daripada diskon akhir tahun.