Foto: Muhammad Muhaimin ( @kisahmata_ )

Justin Prime adalah disc jockey dan produser musik asal Belanda yang lihai memainkan berbagai style DJ seperti EDM, progressive, dan house. Di usia 15 tahun, Justin mulai memproduksi karya musik elektroniknya. Berkat kegigihannya dalam berkarya, ia akhirnya mendapat pengakuan internasional setelah Cannonball lagunya bersama Showtek, sukses di tahun 2012 dan meraih penghargaan platinum. Justin Prime kemudian bisa mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan musisi lainnya seperti Bono dari U2, Tiesto, Sydney Samson dan me-remix lagu-lagu dari Rihanna, Jennifer Lopez, David Guetta, dan lain-lain.

Saya berhasil menemui Justin di belakang panggung sebelum dan setelah dia tampil di panggung MOVE pada Sabtu kemarin. Justin mengutarakan banyak hal kepada saya, mulai tentang Makassar, kolaborasi, hal-hal yang menginspirasinya berkarya, cerita tentang merambah ke musik pop, hingga tips untuk fans-nya yang ingin menjadi DJ. C-ch-check it out, homies!

Austyn: Hey Justin, how are you?

Justin Prime: Yeah, I’m good, man.

Apakah ini pertama kalinya kamu ke Makassar?

Ya, ini untuk pertama kalinya saya ke Makassar. Saya sudah pernah bermain di berbagai kota di Indonesia, seperti Bali, Medan, Surabaya, Jakarta, tapi belum pernah di sini.

Jadi, apa yang kamu ketahui tentang Makassar sebelumnya?

Well, satu-satunya hal yang saya ketahui tentang Makassar adalah nenek saya pernah tinggal di sini selama bertahun-tahun. Dan, dia pernah bekerja di rumah sakit di kota ini. Lalu, kakek dari istri saya lahir di Makassar dan dia adalah orang Maluku. Jadi, kedua kakek nenek kami pernah tinggal dan bekerja di sini,  kemudian pergi ke Belanda.

Ternyata, kamu bersentuhan banyak hal dengan Indonesia ya. Lalu, apa persiapan kamu untuk event MOVE ini, apakah ada kolaborasi untuk malam ini?

Sayangnya, tidak ada kolaborasi untuk event ini. Tetapi, saya punya lagu baru berjudul Tomorrow Sounds yang dirilis oleh Armada Records pada 21 November nanti. Di lagu ini saya berkolaborasi bersama We Are Loud. So, that’s the coming up. Oiya, saya juga bakal berencana membawakan lagu ini sebentar (di panggung MOVE).

Saya melihat banyak kolaborasi yang kamu lakukan dari berbagai artikel di internet. Seberapa pentingkah kolaborasi menurutmu?

Well, itu (kolaborasi) tidak terlalu penting pada awalnya bagi saya. Maksud saya, sebelum melihat bahwa kolaborasi ternyata menjadi cara memadukan berbagai style permainanmu dengan orang lain. Saya sudah berkolaborasi dengan Showtek, Sydney Samson, dan yang terbaru bersama We Are Loud. Ya, bagi saya, itu adalah cara yang efisien untuk mendapat sebuah visi dalam musik serta menjadikannya sebuah lagu yang luar biasa.

Wawancara mesti terhenti sementara karena sudah waktunya Justin Prime untuk tampil di panggung MOVE. Mau tak mau, saya melanjutkan wawancaranya setelah dia tampil selama 75 menit.

Justin, bagaimana dengan vibe dari crowd di Makassar saat melihat penampilanmu tadi?

Wah, saya tidak menyangka bakal disambut dengan sangat antusias dengan penikmat musik di sini. Saya bahkan sempat berfoto dengan penonton yang ada di bibir panggung setelah tampil tadi. Sungguh menyenangkan.

Baiklah, kita melanjutkan perbicaraan tentang kolaborasi tadi. Apa boleh kamu menceritakan proses kolaborasimu yang terbaru?

Sebenarnya, lucu juga mengingat proses kolaborasi yang terbaru ini. Kedua personil We Are Loud datang ke studio dan memainkan dua lagu, lalu saya merasa ini bukan lagu yang kita cari. Kemudian, saya bilang ke mereka, lagu ini bagus, tapi rasanya tidak menyegarkan. Saya mengajak mereka untuk bersantai sejenak dan pulang ke rumah. Lalu, seorang personel We Are Loud memainkan beberapa lagu dari laptopnya. Dan, saya mendengar sebuah vokal perempuan yang sedang bernyanyi di lagu itu. “Siapa dia?” Saya bertanya kepada mereka. Mereka menjawab ini lagu baru yang sedang dikerjakan dan belum pernah dirilis. Saya bertanya lagi apakah mereka mau berkolaborasi dengan saya dan mereka langsung mengiyakan. Jadi, saya ambil bagian vokalnya dan membuat seluruh aransemen lagunya. Sama halnya dengan Tomorrow Sounds, kami berkumpul di studio dan bersama-sama mencari sound-sound yang baru. Dan dengan berkolaborasi, kami akhirnya berhasil membuat lagu bersama-sama.

Kolaborasimu dengan beragam DJ terbukti sangat sukses. Lalu, bagaimana kolaborasimu dengan penyanyi atau grup musik, seperti Bono dari U2 misalnya?

Ya, saya pernah bekerja sama dengan Bono beberapa tahun lalu. Saya memang lebih sering berkolaborasi dengan DJ, tetapi sekarang ini saya beralih dari EDM ke musik pop. Jadi, saya ingin bekerja sama dengan penyanyi musik pop dan band sejenisnya. Itulah yang saya ingin sering lakukan dalam waktu dekat.

Menurutmu, bagaimana sosok DJ yang ideal?

Saya sudah sering memainkan EDM beberapa tahun dan saya senang dengan itu. Tetapi saya sendiri sebetulnya tidak terlalu melihat diri saya sebagai DJ, karena saya lebih kepada 80% sebagai produser. Kekuatanku adalah memproduksi musik. Dan, setiap produser harus selalu berinovasi dengan dirinya, dalam artian berani mencoba hal-hal yang baru. Itulah salah satu poin seorang DJ yang ideal. Jadi, saya tidak perlu takut untuk membuat lagu pop seperti yang kamu dengarkan tadi. Saya memainkan lagu itu selama tiga menit, kemudian mash-up atau re-mix dengan lagu lain. Itu adalah hal yang biasa di tahun 2016 seperti ini, kamu bisa membuat lagu pop lalu memadukannya dengan EDM serta progressive dan tetap bermain di crowd musik elektronik.

Sebetulnya, apa teknik dan style yang sering kamu mainkan?

Saya memainkannya secara up and down. Saya memainkan seperti future house, progressive house, EDM, dan musik pop. Lalu, saya melakukan mix semuanya secara bersama-sama. DJ lainnya biasa memainkan satu atau dua style saja. Dan cara bermainku itu berhasil, apalagi jika bermain di club. Sangat, sangat berhasil.

Bagaimana proses kreatifitasmu dalam membuat sebuah lagu?

Biasanya saya sering mendengarkan berbagai lagu dan permainan dari beragam DJ, tapi tidak berusaha menirunya dan lebih terinspirasi dengan mereka, kemudian memikirkan bagaimana caranya membuat lagu seperti itu dengan visimu sendiri.  Setelah bertahun-tahun mendengarkan dan memainkan EDM, sekarang ini saya berusaha menjadi penulis lagu. Saya menulis lagu lengkap dengan liriknya. Saya mendengarkan lagu-lagu klasik dari Bach, karena ini merupakan fondasi utama dari musik, bersama dengan EDM, progressive, bahkan hip-hop dan musik pop. Jadi, sebenarnya inspirasi bermusik saya cukup luas, saya mencoba untuk mendengarkan semuanya. Di luar itu, saya sering sekali berjalan di dalam hutan di tempat saya tinggal, dan biasa saya berjalan selama satu jam di sana. Tidak ada orang di sana dan saya bisa menjernihkan pikiranku kembali dengan hanya melihat ke pepohonan dan bunga-bunga, saya bisa relax kembali. Setelah itu, inspirasi membuat lagu bisa saja tiba-tiba datang. Saya pun memikirkan tentang kehidupanku dengan apa yang saya lakukan sekarang, sehingga saya perlu menulis lagu tentang kehidupan saya. Apa saja yang sudah terjadi dalam kehidupan saya, hal-hal yang buruk pernah menimpa saya, karena setiap orang punya pengalaman yang buruk. Jadi itulah hal-hal yang berbeda dari saya lakukan daripada EDM, sungguh berbeda.

Saya mendengar kamu memainkan sepenggal lagu milik Moby tadi. Apakah dia termasuk musisi yang menginspirasimu, dan siapa saja musisi lainnya?

Seperti yang saya bilang tadi, saya mendengarkan musik-musik klasik, untuk EDM saya mendengarkan DJ Snake, Calvin Harris, Daft Punk, untuk musik pop saya mendengarkan Dua Lipa, Glenn Fredly bahkan lagu-lagu milik Justin Bieber. Juga Kill The Buzz, Nik Simon, Alvaro. Serta berbagai DJ dari Indonesia sekarang, walau saya tidak terlalu mendengarkannya, saya tahu mereka.

Kalau boleh tahu, kapan pertama kali kamu menonton pertunjukan musik, khususnya DJ?

Saya berumur 30 tahun sekarang. Dan, saya mulai bermain DJ pada waktu usia 15 tahun. Jadi sudah 15 tahun saya bermain DJ. Dan, kamu bertanya ke masa saya berumur 15 tahun. Jadi, sebenarnya ketika saya masih kecil, saya mendengarkan banyak musik hardcore dari musisi hardcore di Belanda dan juga musisi pop AS seperti Michael Jackson yang menjadi salah satu inspirasi terbesar saya. Saya juga banyak mendengarkan Fatboy Slim, The Chemical Brothers, Madonna, Backstreet Boys, Take That, Spice Girls, Justin Timberlake di masa remaja. Bahkan saya pernah menonton pertunjukan Backstreet Boys sebanyak tiga kali dan Spice Girls sekali saja (tertawa). Saya tahu itu aneh. Tapi, pada dasarnya, inspirasi saya adalah musik hardcore yang dipadukan dengan sedikit musik pop. Seperti yang kamu lihat dalam penampilan saya tadi, saya memainkan EDM dengan beat yang cadas, tetapi saya memadukannya dengan musik pop. Jadi saya punya dua wajah, dua sisi dalam bermusik.

Bagaimana dengan pertunjukan musik atau musisi sekarang yang menginspirasimu?

Untuk sekarang, saya respek terhadap Mark Ronson. Dia adalah produser musik yang luar biasa. Saya respek orang seperti dia, yang begitu artistik dan betul-betul menelusuri musik. Bukan hanya berpikir membeli mobil mewah, dan hal ini-itu yang mahal, tetapi ia sangat memikirkan seni dalam bermusik. Dia bahkan tidak terlalu peduli dengan uang jika karyanya sudah besar. Itulah mengapa saya respek terhadap Mark. Saya pun mengambil pelajaran dari kelakuan Porter Robinson. Dia sedikit sombong setelah dikenal. Tapi itu membuat saya tersadar, bila kamu terkenal, bercerminlah ke masa lalumu bahwa kamu bukan apa-apa. Karena setelah menjalani profesi ini selama bertahun-tahun, saya malah bertanya mengapa saya melakukan ini? Apakah saya melakukan ini untuk musik? Apakah saya melakukan ini untuk seni? Atau melakukannya untuk hal-hal mewah seperti mobil, misalnya. Saya telah mengendarai mobil-mobil mahal seperti Audi, tapi saya sudah menjualnya dan lebih berpikir kepada musik. Saya seperti kembali ke mana saya berasal.

Bagaimana scene EDM sekarang menurut pengamatanmu?

Saya pikir, EDM sedang turun. Tetapi, bukan di Asia ya, terutama di Makassar malam ini. Saya melihat crowd di sini sangat antusias ketika saya memainkan hard EDM. Lagu yang sebenarnya saya ciptakan empat tahun lalu, tapi penonton di sini masih saja histeris menyambutnya. Tetapi ketika saya slow down musiknya, penonton masih belum siap mendengarnya. Jadi, minat dengan EDM di Asia masih sangat bagus. Tetapi, untuk di Eropa seperti melangkah ke hal yang berikutnya seperti future bass.

Baiklah. Apa ada tips darimu untuk fans atau seorang yang ingin menjadi DJ sepertimu?

Sekarang ini lebih mudah. Kamu cukup mencari caranya di mesin pencari. Googling. Kamu sudah bisa mencari tutorial untuk mixing, mastering, dan arranging track. Tetapi ketika saya berusia belia sebagai DJ, saya pergi belajar di sekolah DJ, karena tidak ada hal seperti itu di Google waktu dulu. Saya mesti belajar bagaimana cara menciptakan lagu dan hal-hal teknis lainnya, banyak tahap yang mesti dilalui. Sekarang, sangat mudah dibanding waktu saya dulu. Namun, satu hal yang penting, kamu tetap harus punya talenta untuk musik. Contohnya, saya sudah belajar bermain piano semenjak usia lima tahun dan masih sangat berguna hingga 25 tahun kehidupan saya berikutnya. Jadi, bakat tertentu seperti itu sangat membantu saya. Kamu tidak memilih untuk menjadi DJ secara tiba-tiba, tetapi kamu harus memahami dan menghargai proses dalam bermusik. Jadi hal yang pertama ada talenta, telinga untuk mendengarkan musik, dan berikutnya baru masuk ke hal teknisnya.

Tips yang menarik. Kalau boleh tahu, bagaimana caramu memproduksi karya sebelum Google datang memudahkan segalanya?

Ketika saya memulai, seorang DJ biasanya hanya bisa merilis dua lagu dalam setahun. Jika kamu merilis dua lagu, kamu sudah terbilang bagus. Sekarang, kamu mesti merilis sepuluh lagu dalam setahun. Jika kamu tidak melakukannya, maka kamu bakal tertinggal. Jadi, tekanannya bertambah lima kali lipat lebih sulit. Jadi mental bekerjamu harus lebih baik daripada saat memulainya di awal. Mental itu yang diperlukan agar karyamu dikenal luas di seluruh dunia. Dan, jangan lupa, musisi generasi sekarang punya talenta yang luar biasa. Padahal, pada waktu saya memulai, mungkin hanya ada sekitar 20 produser.  Tetapi sekarang, ada sekitar 50.000 produser yang bisa melakukan hal yang sama denganmu! Jadi, kamu mesti bekerja sangat, sangat keras dan menjadi orisinil. Kamu harus punya lagu sendiri. Bekerja selama delapan jam sehari, kalau perlu delapan hari dalam seminggu.

Wow, hahaha. Jadi, apa proyek musik kamu berikutnya selain lagu-lagu yang kamu sebutkan di atas? Boleh diceritakan sedikit?

Ketika saya di pesawat, saat penerbangan ke Indonesia dua hari yang lalu, saya bermain di Surabaya, lalu ke Makassar. Ketika lampu pesawat mulai temaram dan orang-orang banyak yang tertidur, saya hanya melihat ke atas kabin. Tiba-tiba, sebuah lagu terlintas di kepalaku, dan itu sebuah lagu tentang hidupku, apa yang saya rasakan, dan hal-hal yang saya pernah lihat di kehidupanku, seperti orang pernah mencoba membunuhku, dan itu rencananya akan masuk di projek saya berikutnya. Saya sebetulnya tidak mau membicarakannya, tetapi karena saya sedang menulis lagu seperti yang kita obrolkan. Tapi saya tidak mau membahas lagu itu lebih jauh, biarlah orang mendengarkannya. Saya tidak ingin orang bertanya ini-itu dan lebih memilih mendengarkan laguku.

Apa arti kata MOVE dan DECIDE YOUR FLOW dari versimu?

Menurut saya, kita mesti terus bergerak maju, seperti hal yang juga memotivasi saya semenjak setahun lalu. Saya menyempatkan untuk bercermin dan saya melihat diriku lalu bertanya,”Justin, siapa dirimu sebagai manusia dan, apa yang ingin kamu lakukan?” Saya sudah memainkan EDM selama 4 tahun, itu merupakan waktu yang menyenangkan. Namun, saya punya firasat untuk menceritakan kepada orang banyak sebuah cerita, saya ingin mengubah sound permainanku. Jadi, saya mesti terus belajar terutama menulis lagu dan decide your flow to making a new style of your music. Supaya saya bisa bercerita beragam hal kepada banyak orang yang mendengarkan musik saya.

Alright. Thank you so much, Justin. This is a great talk with you.

Yeah, you’re welcome, Austyn.