Oleh: Harnita Rahman (@comradenhytha)
Judul: Aku Tak Marah | Penulis: Djokolelono | Cetakan: Juli 2014 | Penerbit: Moka Media | Jumlah Halaman: 152 Hal.
Judul: Fortunata | Penulis: Ria N Badaria | Cetakan: September 2008 | Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama | Jumlah Halaman: 176 Hal.

Dua  buku yang kubaca selama dua minggu ini adalah dua tipe buku yang dulu jarang sekali kusentuh. Kedua buku ini novel bergenre komedi.  Bukan karena tidak suka, menurutku buku seperti ini sama halnya dengan menonton serial-serial TV yang tayang di pagi dan siang hari. Ceritanya umum, alurnya apalagi, tidak menantang, tidak buat penasaran apalagi buat jantung dag-dig-dug-ser (a la “Geboy Mujair”nya Ayu Tingting 🙂 ).

Tidak bermaksud menyepelekan, namun semua orang punya selera bukan. Tapi itu dulu, saat 24 jam bisa kumiliki penuh untuk diriku. Dan sekarang, saat 24 jam-ku yang 1/3nya habis untuk tidur dan 2/3 nya untuk menjadi full time housewife, rasanya sulit memilah buku yang berat-berat untuk dikonsumsi. Dan karena membaca harus tetap dibiasakan, makanya buku-buku sejenis ini pun kulahap.

Aku Tak Marah adalah koleksi novel baru yang kami miliki. Harapannya tentu jauh dari kenyataan. Ulasan singkat dibelakang sampulnya ternyata dipersepsikan berbeda. Di situ tertulis bahwa buku ini bercerita tentang kehidupan warga miskin kota besar yang dekat sekaligus asing bagi awam. Membaca itu, saya berharap buku ini tidak hanya menyuguhkan cerita cinta biasa dengan segala melankolia sinetronnya.

Benar adanya bahwa buku ini mengambil latar kehidupan warga miskin kota di Jakarta dan Bekasi. Tentang seorang lelaki yang kedapatan selingkuh dan karena kesalahan itu ia membuat lagu yang ia nyanyikan tiba-tiba di tempat umum. Nah lagu inilah yang menjadi masalahnya, lagu ini membuatnya dikejar preman, yang mengharuskannya lari dan bersembunyi sampai harus berurusan dengan gembong penari ronggeng.

Lagu ini pula yang membuatnya dicari-cari oleh perusahaan iklan yang kliennya kebetulan mendengarnya bernyanyi dan ingin menjadikan lagu itu jingle produknya. Inilah kisah utamanya, pelarian si toko utama. Ceritanya dibuat jenaka dan sangat ringan. Buku ini ditulis oleh Djokolelono, seorang penulis cerita anak.

Beliau mencoba menjadikan buku ini sebagai bukti kalau ia tidak  hanya piawai menulis cerita anak. Tapi, menurutku, cerita anak justru lebih bernilai jika dibanding karya ini. Buku ini sangat minim pesan. Ada sih, dan standar-standar saja.

Buku kedua, Fortunata, buku karya Ria N. Badaria yang disumbangkan seorang kawan. Kisah ini tidak seringan buku sebelumnya. Cinta yang dramatik. Tentang seorang perempuan yang entah karena apa, bisa berkomunikasi dengan roh seorang pemuda yang sedang koma. Disitulah kisah cinta dimulai, kebersamaan mereka membuat mereka sama-sama saling jatuh hati.

Namun tidak ingin diakui oleh si gadis. Secara psikologis,gadis ini punya pandangan yang buruk terhadap diri dan kehidupannya. Ia selalu menilai hidupnya negatif, jalan hidupnya buruk dan tidak beruntung. Cintanya yang dikhianati berkali-kali. Kehidupan ekonominya yang jauh dibawah kaya, dan pekerjaannya yang tidak nyaman.

Di akhir kisah, seperti cerita Indonesia pada umumnya yang berakhir bahagia, ia akhirnya menyadari bahwa hidup tidak seburuk itu. Kesialan dan keberuntungan adalah dua hal yang tidak jauh terpisah, setelah kesialan bertubi, bisa saja keberuntungan akan menemani. Sama halnya dengan kesedihan dan kebahagiaan. Mereka berjalan berdampingan.

Kedua buku ini seingatku  masing-masing kuhabiskan dalam satu hari saja. Aku tak marah ataupun merasa tak beruntung membaca buku ini. Tapi, jujur saja buku ini kurekomendasikan untuk kalian baca saat antri di bank atau saat  duduk di pojok  pete-pete kampus menuju ujung Cendrawasih, atau saat berteduh di halte menunggu hujan yang entah kapan redanya. Tapi, tidak perlu membelinya, kalian boleh pilih buku lain yang lebih bagus untuk dibeli di Kedai Buku Jenny dan meminjam kedua buku ini di Malala Library.  []