Pesta Komunitas Makassar kurang dari sepekan lagi!

Menjelang Pesta Komunitas Makassar 2015 dan PKM Awards yang diadakan saat gelaran berlangsung, Tim Redaksi Revius juga ingin berpartisipasi dengan memilih masing-masing satu dari komunitas yang paling sinergi, harmoni, aksi di Pesta Komunitas Makassar 2015 berikut ini.


 

Achmad Nirwan

Kedai Buku Jenny

kbj_rgb

 

 

Salah satu komunitas yang paling bersinergi, harmoni dan juga memiliki aksi nyata menurut saya adalah Kedai Buku Jenny. Sejak berkenalan dengan mereka di tahun 2013, saya banyak mendapatkan pengalaman baru setelah sering bercengkrama, berbagi informasi dan kisah serta ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang mereka buat secara kolektif tanpa mengandalkan profit semata.

Dengan tagline andalan mereka “Bahagia itu Sederhana”, Kedai Buku Jenny telah aktif berkegiatan dan bersosialisasi sejak tahun 2011. Kegiatan yang dilakukan biasanya bekerjasama dengan banyak pihak seperti komunitas sastra dan literasi, musisi bahkan buruh tani dan akademisi yang digelar secara rutin sampai saat ini  seperti KBJamming, Sajakkan Saja, Bukan Ujian Meja, Kelas Mengaji Pram, Album Minggu Kita, Pekan Depan serta bekerjasama dengan PechaKucha Global untuk mengadakan PechaKuchaNight di Makassar.

kbjammingvol1711

Kedai Buku Jenny ketika menggelar KBJamming Vol. 17: Seni Lawan Korupsi bersama Bengkel Seni Dewi Keadilan Fak. Hukum, Universitas Hasanuddin. (Foto: M. Ifan Adhitya)

Zulkhair Burhan, Sawing Baharuddin, Harnita Rahman serta Asy’ari Mukrim adalah empat awak Kedai Buku Jenny yang seringkali saya temui ketika berkunjung ke kedainya. Menurut para awak KBJ, singkatan akrab Kedai Buku Jenny, nama Jenny dipilih karena sangat terinspirasi oleh ben-benan asal Jogja yang bernama sama, Jenny. Ben-benan yang telah berganti nama menjadi FSTVLST dan memilih “mengistirahatkan” nama Jenny di altar yang paling istimewa.

Oiya, Kedai Buku Jenny telah tiga kali berpindah tempat. Menurut Bobhy, sapaan akrab Zulkhair Burhan, KBJ pertama kali hadir di BTN Wesabbe, kemudian pindah di Jl. Ance Dg. Ngoyo di tahun 2012, lalu bermukim di kompleks Budi Daya Permai sepanjang tahun 2013 sampai 2014 sebelum terakhir kali pindah ke Kompleks Pesona Kampus Blok E6/11 Perintis Kemerdekaan 7 Tamalanrea, Makassar dari awal tahun 2015 hingga detik ini.

Sebelum tulisan ini lebih panjang lagi, informasi tentang Kedai Buku Jenny lebih lengkapnya lagi silahkan berkunjung langsung ke kedainya atau follow Twitter dan Instagram mereka @KedaiBukuJenny. Jangan sungkan untuk bercengkerama dengan mereka.


Ifan Adhitya

Taman Indie Makassar

Taman Indie_rgb

Komunitas menurut saya adalah salah satu wadah untuk individu yang ingin bersosialisasi, melakukan aksi dan bersinergi dalam sekelompok komunitas kreatif.

StageID adalah salah satu komunitas tempat saya menuangkan beberapa pola fikir dalam berkarya sebagai fotografer yang konsen di Stage dan Musik. Namun karena StageID tidak ikut berpartisipasi di Pesta Komunitas Makassar tahun ini, Taman Indie menjadi salah satu komunitas yang sering bersinergi bersama saya bersama StageID. Taman Indie Makassar merupakan tempat saling berbagi para musisi-musisi Makassar dengan komunitas lainnya.

Newyearcoustic, salah satu event yang dibuat oleh Taman Indie Makassar yang dibuat awal tahun ini, tepatnya 4 Januari 2015 bersama Musick Bus.

Newyearcoustic, salah satu event yang dibuat oleh Taman Indie Makassar yang dibuat awal tahun ini, tepatnya 4 Januari 2015 bersama Musick Bus. ( Sumber Foto: Musick Bus )

RSD 3

Taman Indie berkerjasama dengan Musick Bus menggelar Record Store Day Makassar pada 26 April 2015 lalu. (Foto: M. Ifan Adhitya )

Saya akhirnya banyak mengikuti dan memotret gig-gig lokal sampai menjadi fotografer ofisial dari band-band keren Makassar berkat informasi dari Taman Indie Makassar  🙂


 

Andi Chairiza Bahrun

Indonesian Future Leaders Chapter Sulawesi Selatan

indonesian future leaders_rgb

Memilih satu komunitas yang paling bersinergi dari puluhan komunitas yang yang akan hadir di #PKM2015 bukan perkara mudah. Saya sendiri tidak menyangka bahwa Makassar memiliki kekayaan minat dan bakat dalam bentuk komunitas yang begitu beragam dan unik.

Namun, jika harus memilih satu, pilihan saya jatuh pada komunitas IFL Chapter Sul-Sel. Alasan saya sederhana, saya pernah aktif dan cukup paham akan komunitas ini. Komunitas yang dibentuk tahun 2009 ini bergerak dibidang kepemudaan. Initiate, Share, Act, Inspire kemudian menjadi tagline IFL.

Beberapa social-project dari IFL membuat saya menyadari kebenaran sebuah pepatah Sherry Anderson yang mengatakan bahwa “Volunteers don’t get paid, not because they’re worthless. But because they’re priceless.

 


Arkil Akis

Berbagi Nasi Makassar

berbagi nasi_rgb

Ada tiga hal yang menjadi poin dalam Revius Editor kali ini : Sinergi, Harmoni, dan Aksi. Berdasarkan  ketiga poin tersebut, saya dengan tekad bulat (tadi maunya dengan pacar, tapi…ah.. sudahlah) memilih Komunitas Berbagi Nasi Makassar sebagai Komunitas Paling Sinergi, Harmoni, dan Aksi.

-Sinergi

Setelah membuka KBBI, saya akhirnya mengerti arti sinergi adalah kegiatan atau operasi bersama. Intinya adalah kebersamaan. Hal yang tentu sulit dirasakan oleh jomblo seperti  bapak Chief Editor Revius. Berbagi Nasi Makassar mampu mewujudkan kebersamaan tersebut. Terlihat dari kegiatan yang selalu dilakukan oleh banyak anggota, ramai, dan berasal dari berbagai kalangan.

-Harmoni

Gerakan berbagi nasi sejalan dengan kemiskinan yang menjadi ciri khas negeri ini. Membagikan nasi kepada mereka yang tidak mampu adalah wujud kepedulian terhadap kemiskinan. Bukan hanya dalam bentuk memberi-diberi, tapi harmoni ini terwujud ke dalam diri para “pejuang nasi”. Hal tersebut tampak dari euforia yang dibagikan di media sosial, sungguh keikhlasan yang patut diteladani!

-Aksi

Inilah poin utama saya memilih Berbagi Nasi Makassar ke dalam tulisan ini. Tak ada aksi yang lebih baik dari berbagi. Tidak hanya di dunia nyata, aksi yang mereka lakukan bahkan sampai ke dalam dunia maya. Aksi yang sejalan dengan perkembangan zaman tentu saja. Potret tukang becak yang disodori nasi bungkus oleh “pejuang nasi” yang tersenyum, sungguh salah satu potret yang mampu menginspirasi kita bahwa berbagi adalah berbahagia. Lebay? Ah, apa sih yang tidak lebay di dunia ini. Salam nasi sayang!

55 pejuang nasi, 130 bungkus Nasi, 100 bingkisan dan 8 dus air mineral ketika  #SehariBersamaLansia pada Minggu, 31 Mei  2015 lalu.

55 pejuang nasi, 130 bungkus Nasi, 100 bingkisan dan 8 dus air mineral ketika
#SehariBersamaLansia pada Minggu, 31 Mei 2015 lalu.

 


 

Barzak

Sebelum saya memberi tahu komunitas sinergi pilihan saya. Ijinkan saya bercerita sedikit tentang jumlah komunitas yang akan meramaikan Pesta Komunitas Makassar (PKM) 2015.

130 komunitas! this might sounds lebay, tapi saya sempat speechless ketika mendengar kabar ini (kalau tidak salah, dapat dari twitter). Saya sungguh dibuat kaget dengan begitu banyaknya jumlah komunitas yang ada di kota ini. “komunitas-komunitas apakah gerangan sehingga bisa sebanyak itu?” tanya saya dalam hati (tapi dengan logat Makassar, tentu saja).

Penasaran, saya pun mencoba menggali informasi lebih lanjut. Situs web komunitasmakassar.org, saya intip sesekali. Dari pertama kali saya cek hingga tulisan ini saya buat, submenu “Profil Komunitas” komunitasmakassar.org tidak memberi informasi memadai tentang profil 130 komunitas yang akan ikut unjuk gigi di PKM 2015. Entah karena admin-nya sedang sibuk atau galau karena ditinggal kekasih–seperti salah satu anggota redaksi Revius berinisal AA, saya tidak tahu. Untungnya masih ada akun twitter @KomunitasMks yang dengan rajin memberi update tentang persiapan hingga pre-event PKM 2015.

Ketika sang ketua pelaksana, Anshari Wijaya (@Alexandria_Ari), mengunjungi ruang redaksi Revius dua minggu lalu, saya pun sempat menanyakan hal ini. Menurut Ari, panggilan akrabnya, panitia pun sempat terheran-heran sekaligus kagum dengan antusiasme komunitas-komunitas di Makassar pada event yang memasuki tahun keduanya ini. “Menurut data kami, jumlah komunitas yang akan hadir (di PKM 2015, red.) nanti lebih dari 130, yang berasal dari kategori traveling, sosial, olahraga, lingkungan, hobi, seni, desain, fotografi, edukasi, profesi, budaya, literasi, dan sebagainya.”

Pada sore itu, Ari membawakan saya “oleh-oleh” berupa proposal kegiatan PKM 2015. Setelah membaca proposal itu dan melihat daftar lengkap komunitas, saya tidak hanya melihat angka 130, sebagai jawaban atas rasa penasaran saya, saya juga melihat betapa besarnya semangat anak-anak muda (dan orang-orang tua berjiwa muda) di kota ini untuk berkumpul dan berkreasi demi mencapai sinergi, harmoni, dan aksi! Nice tagline by the way. If I meet the mayor, I suggest him to talk to you guys.

Terkait komunitas sinergi, pilihan saya jatuh pada Kedai Buku Jenny (KBJ). Alasannya banyak dan panjang. Versi singkatnya: kesanggupan dan keseriusan oom Zulkhair Burhan/Bobhy (@comradebobhy), Sawing Baharuddin (@sawingbahar), Harnita Rahman (@comradenhytha), Asy’ari Mukrim (@asyarimukrim) dan gaes-gaes KBJ yang lain dalam menjalankan perpustakaan (Malala Library), record store, gig organizer (KBJamming, Album Minggu), sekaligus membuka banyak ruang diskusi (Kelas Mengaji Pram, Sajakkan Saja, dan PechaKucha Night), serta menjadi penerbit (The Extraordinary Case of Detective Buran). Oiya, teman-teman dari Kedai Buku Jenny juga rajin menulis di sini. Terima kasih!

Tidak “hanya” beraksi di wilayah kota dan ranah online, gaes-gaes KBJ pada Ahad lalu (31/5) juga bertandang ke Desa Soga, Kabupaten Soppeng untuk melakukan ini. Kalau apa yang mereka lakukan ini bukan bentuk sinergi, saya tidak tahu lagi apa arti kata sinergi.


Artikel lainnya dari Revius’ Editors

Mengingat Kembali Karaeng Pattingalloang

Orang-Orang yang Harus Kami Temui di MIWF 2015

The Most Memorable Events

Akun Instagram Favorit

Mari Melihat Api Bekerja

Film Makassar In Cinema 2015 Pilihan Kami

Musisi Indie Makassar Favorit

Mitos-Mitos yang tidak Masuk Akal

Tempat Makan Favorit Kami

Selamat Hari Film Nasional!

Situs-Situs Web Favorit Kami

Video Musik Pilihan Kami untuk Kamu

Kuntilanak Jatuh Cinta (dan Cerita-Cerita Lainnya)

Apa Itu Hari Valentine

10 Seniman Mengartikulasikan Kota di PechaKuchaNight Makassar Vol.6

Alasan Orang-Orang ke Sepiring Culinary Festival