Oleh: Saleh Hariwibowo* ( @alengaseng )

Seperti air, musik punya alirannya masing-masing. Setiap aliran akan membawa kita ke muara yang sama. Ketenangan.

Di masa kecil, saya menganggap semua bunyi adalah musik yang menenangkan. Saat itu, di lingkungan saya, banyak benda yang terbuat dari bunyi gesekan ranting-ranting pohon yang diterpa angin, bunyi ketukan kaki-kaki sapi yang menarik bajak, Bunyi metronom rintik-rintik hujan yang teratur, dan bunyi-bunyian indah lainnya yang bersenandung di desa.

Desa adalah komponis yang hebat. Desa mampu menghasilkan musik yang lebih harmonis dari karya Bach, Beethoven, maupun Mozart. Karya-karyanya sangat realis dan mampu membuat pendengarnya betah hidup di sana. Kedamaian adalah tema besarnya. Tegur sapa adalah instrumen utamanya. Saya bangga pernah menyimak pertunjukannya secara langsung!

***

Dampak polusi suara terhadap masyarakat tidak boleh disepelekan. Kebisingan akan membuat manusia terganggu secara emosional dalam bentuk kejengkelan dan kebingungan.

Seseorang yang berada di tempat-tempat keramaian dan penuh kebisingan, tekanan darahnya dapat meningkat hingga 30%, menurut DR. Luther Terry.

Dalam penelitiannya, ia juga menyimpulkan bahwa pencemaran suara dapat mengakibatkan: gangguan pendengaran dan peredaran darah, kontruksi jantung, peningkatan kerja hati dan pernafasan, menghambat penyerapan kulit dan tekanan kerangka otot, merubah sistem pencernaan, merusak keseimbangan efek perasa, mengganggu perkembangan janin, dan aktivitas yang berhubungan dengan kelenjar yang memberi pertanda pada zat-zat kimia dalam tubuh –termasuk darah dan air seni.

Masih banyak lagi dampak yang lain jika kita coba telusuri artikel-artikel kesehatan di internet. Setelah membaca beberapa artikel, kita pasti akan berfikir bahwa bertempat tinggal di daerah bising, adalah suatu hal menyeramkan.

Di Makassar sendiri, salah satu tempat yang paling bising adalah jalanan. Itu tidak lepas dari pengaruh kemacetan yang terjadi setiap hari. Jumlah kendaraan di Makassar tiap tahun makin mengalami peningkatan. Di tahun 2014, menurut data SAMSAT, kendaraan di Makassar sudah mencapai delapan sampai sepuluh ribu unit.

Pertumbuhan tersebut tidak seimbang dengan perluasan jalanan yang ada. Akibatnya, pengendara dan pengemudi harus rela bertemu dengan gemuruh knalpot, suara klakson, dan suara bising lainnya di tengah sesak kemacetan.

Jika hal tersebut tidak segera diatasi, saya membayangkan Makassar beberapa tahun ke depan akan dihuni oleh orang-orang yang terganggu pendengarannya. Tiap hari mungkin akan terjadi perkelahiaan di jalanan, tiap detik mungkin akan ada orang yang terkena serangan jantung di sudut-sudut kota. Dan mungkin, Makassar akan lumpuh!

***

Menata kota tidak ada bedanya dengan kerja-kerja kesenian. Saya membayangkannya seperti konduktor yang sedang memimpin orkestra, menjalankan program kerja layaknya memainkan partitur dalam suatu pertunjukan musik.

Sebagai pencinta musik, tidak ada salahnya saya bercita-cita menjadi walikota Makassar. Sudah saatnya kota ini, menurut saya, dipimpin oleh musisi.

Seandainya terpilih, mula-mula saya akan membuat peraturan tentang klakson kendaraan.

“Kendaraan di Kota Makassar harus memiliki suara klakson berlabel SKN (Standar Ketenangan Nasional)”, begitulah kira-kira aturan yang akan saya terapkan.

Suara klakson harus merdu. Suara klakson tidak boleh dijadikan bahasa kasar oleh pengemudi yang tidak sabar. Suara klakson tidak boleh dijadikan tegur sapa yang kurang ajar. Suara klakson tidak boleh mengagetkan orang-orang yang lelap beristirahat.

Bahkan, saya berniat untuk memodifikasi bunyi klakson kendaraan. Dalam hal ini, muatan lokal dapat masukkan. Misalnya, klakson yang dulunya berbunyi “piiipp” akan berubah menjadi “tabeee”.

Setelah itu, saya akan menjalin kerjasama dengan industri otomotif untuk memproduksi knalpot racing yang dilengkapi perangkat headset. Ini merupakan solusi bagi para pengendara yang ingin suara motor mereka bergemuruh, mereka bisa mendengarkan lewat headset suara knalpot mereka sendiri.

Dengan begitu, bunyi-bunyian yang rentan mengganggu, harus dinikmati sendiri-sendiri. Karena kita tahu, bahwa perbedaan selera musik, dapat memicu konflik.

Pendengaran adalah prioritas utama. Masyarakat harus menjadi orang-orang yang dapat mendengar aturan dengan baik, sebelum menyetujui maupun melawannya. Sudah terlalu banyak orang memprotes suatu hal yang tidak benar-benar mereka pahami.

Maka dari itu, fungsi indera pendengaran harus ditingkatkan. Salah satu caranya adalah menerapkan aturan-aturan seperti di atas. Selain itu, kita juga bisa meminta saran pada pedangdut tenar yang namanya tercantum di judul tulisan ini. Mungkin dia lebih banyak tahu dari saya. Saya mah apa atuh, hanya suara klakson dari aki motor yang soak di lampu merah flyover. Atau, mungkin saja kita harus bertanya kepada Cita Citata yang diartikan dalam konteks Makassar, sebagai masyarakat kota yang mencintai ketenangan, “Apakah cita-cita saya sepakat dengan cita-cita ta’?”

*Penulis adalah pustakawan di katakerja dan gitaris dari grup folk akustik Ruang Baca

Image Credit: Harry Venning