Pada mula adalah rawa dan hutan pandan. Lalu datang seorang raja. Raja yang sering mengeluh sakit di lehernya itu memerintahkan membuka lahan dan membangun beberapa benteng dari tanah liat. Dermaga pun dibangun. Orang-orang mulai berdatangan dengan membawa dagangan masing-masing. Kota baru tumbuh.

Raja baru bertahta. Budak kerajaan bekerja siang dan malam. Bukit-bukit karst di sebelah utara “ditebang”. Dibentuk kotak. Benteng yang awalnya tanah liat diganti menjadi batu. Orang-orang baru berdatangan. Mereka berasal dari barat, utara, timur, selatan, dan tenggara. Orang-orang kulit putih membangun kantor dagang di sekitar benteng. Penduduk bertambah menjadi ratusan ribu. Melebihi kota besar dari salah satu negara orang kulit putih.

Seabad kemudian. Agama baru datang menggantikan kepercayaan lama. Penduduk hidup rukun. Interaksi terjalin antara Raja-Ningrat-Rakyat-Pedagang. Mereka membentuk sebuah komunitas kota. Pada saat yang sama, hadir seorang ningrat yang haus pengetahuan. Ia melahap matematika dan astronomi. Buku-buku langka dari negera seberang didatangkan. Perpustakaan besar didirikan. Kota tumbuh menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan terkemuka.

Raja berganti. Menentang penguasaan oleh satu pihak. Perang terjadi. Perusahaan orang kulit putih beraliansi dengan pribumi memerangi kerajaan. Kota tunduk pada sebuah perjanjian. Benteng-benteng dihancurkan. Tersisa satu benteng yang beralih nama. Saudagar dan pedagang hijrah mencari tempat baru. Dermaga sepi. Penduduk berkurang menjadi 5000-an orang. Separuhnya budak. Kota mulai terlupakan. Kota hampir mati.

Orang kulit kuning datang kembali. Mencari hasil tangkapan teripang dan hasil laut. Nelayan yang tinggal di pulau sekitaran kota bekerja mencari hasil laut. Mereka bahu-membahu meramaikan dermaga. Orang-orang dari selatan, utara, barat, timur, dan tenggara membangun kampung di sekitar benteng. Kota kompeni seakan hidup kembali.

Beratus tahun kemudian. Seorang berpakaian putih-putih dengan topi mirip polisi datang. Sesuai dengan namanya, ia berniat meletakkan kota ini di puncak. Ia memerintahkan perluasan wilayah kota di sebelah timur, selatan, dan barat. Berbekal ijazah setingkat sekolah menengah pertama dan pengetahuan militer, ia menata kota. Membagi-bagi kota ke dalam beberapa kawasan. Membangun pusat pendidikan terbesar di kawasan timur. Ia juga membuat “kitab sakti pedoman pembangunan kota.” Kota tumbuh secara luar biasa.

Orang berpakaian putih-putih dengan topi mirip polisi lainnya datang satu persatu. Membangun taman di sudut-sudut kota. Menanam rimbunan pepohonan di sepanjang jalan. Melunasi utang-utang akibat pembangunan. Memperbaiki fasilitas olahraga. Memperbanyak lampu dan membuat kota terang-benderang pada malam hari. Ia menghidupkan kota 24 jam.

Tiga pesulap menggantungkan otaknya ke langit-langit. Saling berganti tongkat estafet. Kepercayaan baru pun muncul, menggantikan agama lama. Pembangunan tanpa arah. Modernitas asal jadi. Pasar dengan budaya berdagang hamparan diubah menjadi bertingkat. Taman-taman diganti bangunan entah apa. Ruko tumbuh di sepanjang tepi jalan. Kota bukan lagi milik warga. Perusahaan beraliansi dengan raja telah menguasainya. Kitab sakti pedoman pembangunan kota diendapkan. Orang-orang kulit kuning menutup diri. Mereka tidak lagi berbaur akibat trauma pembumi-hangusan rumah-rumah mereka. Ruang publik berubah menjadi kamar pribadi. Tidak ada lagi percakapan penting di dalamnya. Karst dari sebelah timur kembali ditebang untuk menimbun hektaran laut tempat berdiri istana-istana mewah entah untuk siapa. Nelayan yang bermukim di pulau sekitaran kota dipindahkan. “Kawasan ini hanya untuk kaum elit,” kata mereka. Tindak kejahatan di jalan raya meningkat. Malam hari hidup dalam kecemasan. Jalanan ditinggikan untuk menghindari banjir. Tidak ada drainase.

Kota bergerak tergesa-gesa. Kota digerakkan kapital dengan etos ekonomi. Warga seakan tidak memiliki pilihan lain selain mengumpulkan kapital. Hal ini menyebabkan hilangnya beberapa ruang dalam kehidupan masyarakat. Waktu senggang untuk keluarga ditarik keluar rumah. Kafe, mall, warung kopi, salon, dan lain-lain. Di ruang-ruang tersebut hampir tidak ada pembicaraan yang bersifat komunal. Kota menjadi semakin individual. Masyarakat mencari suaka atas diri mereka. Masyarakat kota mencoba menciptakan zona nyaman sendiri melalui konsumsi-konsumsi yang dinarasikan ke dalam lifestyle.

Kota tumbuh dalam depresi. Ketakutan, cemas berlebihan, dan klakson bersahutan. Kesabaran dan kebesaran hati entah ke mana bersembunyi. Seperti ramalan seorang ningrat yang haus pengetahuan beratus tahun silam, kota ini telah memenuhi syarat untuk membunuh dirinya sendiri.

*

Foto: M. Aan Mansyur (@hurufkecil)