“There’s no such things as a free lunch!”

Kami tidak tahu pasti apakah memang tidak ada makan siang yang gratis di muka bumi ini, tapi kami percaya masih ada buku yang gratis. Salah satunya adalah buku terbaru Bernard Batubara, Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (dan Cerita-cerita Lainnya) yang tiba di meja redaksi Revius pada akhir desember lalu, dikirimkan langsung oleh penerbit GagasMedia yang baik hati. Terharu dengan kemurahan hati tersebut, Novidia, Chairiza (@cacairiza) dan Barzak (@barzak_) pun bersepakat untuk “membayar” budi baik itu dengan menuliskan pendapat kami tentang buku ini di sini.

catatan:  buku ini kemungkinan besar tidak gratis untuk anda, Revius’ friends.


Novidia

Cover-nya ungu! Ini yang menarik perhatian awal saya pada buku ini, ditambah judulnya yang sedikit ‘seram’ dan berwarna kuning. Pemilihan warna yang kontras dan judul yang membawa dua topik yang juga berlawanan; ‘jatuh cinta’ dan ‘bunuh diri’, setidaknya dalam pemahaman saya terhadap dua hal tersebut.

Saya mendapat jatah lima cerita pendek dari lima belas cerita yang ditulis oleh Bernard Batubara ini. Lima cerpen tersebut adalah Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah, Nyanyian Kuntilanak, Seorang Perempuan di Loftus Road, Hujan Sudah Berhenti dan Bayi di Tepi Sungai Are. Tapi, saya membaca enam cerita pendek dari buku ini. Cerita keenam adalah Seribu Matahari untuk Ariyani.

Judul buku ini menjadi pengantar yang berperan cukup penting dalam membaca buku ini. Ia seperti kacamata yang membentuk cara saya menyimpulkan cerita-cerita di dalamnya, seperti perumpamaan kacamata merah filsafatnya Kant. Saya tidak bisa menjadi netral ketika memahami cerita. Selalu ada ‘sentuhan’ rasa-rasa gelap ‘bunuh diri’ yang membayangi. Terlebih cerita pendek yang menjadi pemula, adalah Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah.

Seperti judul bukunya, cinta dalam lima potong cerpen yang saya baca tersebut sangat berbeda dari jenis-jenis cinta adem ayem, semanis gula yang biasa menjadi ide cerita FTV. Konflik dan jalan ceritanya dilatar belakangi oleh hal-hal yang biasa kita temui di keseharian, seperti dongeng tentang kuntilanak atau mitos tentang kunang-kunang.

Tapi cerita-cerita ini dibungkus dengan ide yang ‘kemana-mana’, dan si Penulis nampaknya benar-benar tidak mau keluar dari rasa suram dari judul buku di sampulnya, sehingga saya hanya menemukan dua rasa selama membaca cerita-cerita pendeknya. Jika bukan tegang, maka itu sedih. Bahasanya ringan dan mengalir santai, sehingga untuk memusatkan perhatian pada keseluruhan isi cerita tidak perlu harus membolak-balik halaman buku untuk mengulang membaca bukunya.

Cerita pendek yang paling saya suka adalah Seribu Matahari untuk Ariyani, karena saya mendapatkan kesan berbeda setelah membacanya, yaitu marah. Terlalu banyak ketegaan yang dibiarkan ada dalam cerita itu.


Chairiza

Di buku ini, Menjelang Kematian Mustafa adalah satu dari beberapa judul yang menarik perhatian saya. Mungkin karena terlalu sering membaca buku bertema “cinta” saya ingin mencoba membaca cerita dari angle  yang berbeda, “kematian”.

Mengapa kematian?

Beberapa minggu terakhir media sedang gencar-gencarnya memberitakan evakuasi jenazah korban pesawat Air Asia. Tak lama berselang, berita tentang hukuman mati para narapidana kasus narkoba. Begitu penuhnya pikiran saya akan “kematian”.

Membaca cerita Menjelang Kematian Mustafa sedikit banyak memberikan saya gambaran akan hukuman mati. Cara bertutur Bernard yang detail membuat saya merasa seakan menonton film dalam buku. Tak heran, ekspresi “wah”. “ih”, hmm” tanpa sengaja saya lontarkan saat membaca cerpen ini.

Kalimat-kalimat yang menggambarkan “buruk”-nya negeri ini juga Bernard tuliskan dengan cukup rapi dan tersirat. “Ia ingin punya banyak sekali uang agar ia bisa melemparkan uang itu ke wajah petugas pembagi sembako atau orang-orang partai yang membagikan amplop dan kaus lima tahun sekali” begitu salah satu potongan kalimat yang saya suka.

Sekilas tentang cerpen Menjelang Kematian Mustafa yang saya baca.

Mustafa adalah seorang pembunuh bayaran. Meski tak ingin menjadi seorang pembunuh, himpitan ekonomi memaksanya untuk melakukannya. Diumurnya yang masih berusia 15tahun ia harus melakukan profesi barunya ini. Hingga waktu berlalu begitu cepat sehingga ia berada di sebuah ruangan yang tak lama lagi akan merenggut nyawanya. Seseorang yang akan merenggut nyawanya bukanlah seorang malaikat. Namun….

Ya begitulah singkat cerpen ini. Saya tidak akan menjelaskan detail atau membuka akhir ceritanya. Yang menjadi inti, jatuh cinta di detik-detik kematian membuat kita berpikir untuk membenci atau merelakan.


Barzak

Saya senang menjelaskan kenapa saya menyukai (dan tidak menyukai sesuatu). Dan bila anda tertarik, berikut ini beberapa hal yang saya temukan (dan sukai) ketika membaca kumpulan cerita pendek “Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri ”

1. Alur maju-mundur yang seru.

Beberapa cerita pendek yang saya baca di sini memberi saya sensasi yang hampir sama ketika saya menonton film-film Christopher Nolan. Bukan, bukan Batman Trilogy, Interstellar, ataupun Inception. Following dan Memento-lah yang saya maksud. Mungkin penulis buku ini juga menyukai film-film tadi.

2. Karakter-karakter yang misterius.

Satu hal yang membuat kita terus membaca sebuah cerita–baik itu cerpen maupun novel–adalah ketika ada unsur misteri di dalamnya. Rasa penasaran yang disisipkan oleh penulis ke kepala kita. Ada penulis yang brutal (atau gagal), menyisipkan misteri di dalam ceritanya tapi hingga akhir tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Syukurlah penulis buku ini tidak masuk kategori penulis seperti itu.

3. Dialog-dialog yang menggelitik, soliloquy dan narasi yang sarat refleksi.

Maaf, saya tidak bisa memberikan penjelasan lebih lanjut untuk poin ini selain dengan memberikan contoh (dan mengomentarinya)

“Lima puluh tahun lalu, kisah hidup Mustafa bin Meksum bermula dari uang. Semuanya selalu bermula dari uang. Kalau kau tak percaya, buanglah uang dari kehidupanmu dan saksikan sendiri apa yang terjadi” (apa ini terinspirasi dari Mario Teguh, mz Bernard?)

atau

“Bukankah semua calon mertua membenci ketidakpastian” (whoaa!!)

Tidak setiap hari saya membaca cerita pendek tentang kuntilanak yang jatuh cinta, perempuan yang berubah menjadi pohon karena menanti pria yang tak kunjung datang, malaikat yang ingin menjadi manusia (kalau ini sih jadi teringat film Wings of Desire dan City of Angels), atau tentang lelaki yang memiliki mantan seorang teroris (ini namanya horor porsi dobel). Saya tidak ingin terdengar terlalu kagum pada penulis buku ini, tapi setelah membaca “Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (dan Cerita-cerita Lainnya)”  saya berjanji pada diri saya untuk mencari bukunya yang lain.