Foto: Kolektif Betina ( @kolektifbetina )

Bhinneka Tunggal Ika, menjadi lucu rasanya jika mempertanyakan artinya. Namun apakah setelah mengetahui dan mengingat di luar kepala bahwa bangsa ini terbentuk oleh begitu banyak keragaman kemudian semua bisa menerimanya? Tidak. Tidak ada ruang bebas untuk orang-orang yang berbeda di Indonesia. Apalagi bagi perempuan.

Beberapa tahun belakangan, saya mengenal dan mengagumi beberapa perempuan hebat dengan segala hal yang mereka lakukan di bidang yang mereka geluti. Salah satu dampak baik dari media sosial. Sehingga, saya bisa menangkap energi positif dari segala kegiatan dan pemikirian yang mereka bagikan. Mereka memiliki bakat dan latar belakang berbeda, artis, musisi, crafter, gender aktivis, fotografer,  ilustrator, dan sebagian besar dari mereka juga seorang ibu. Pada suatu kesempatan saya memperlihatkan karya ilustrasi kepada seorang teman ilustrator laki-laki dan komentarnya, “Gila, bagusnya. Detail banget. Serius ini yang bikin cewek?” Line terakhir itu menguatkan ketidakpercayaan kepada apa yang bisa dan telah dicapai oleh perempuan. Kemampuan mereka masih dipertanyakan.

Beberapa perempuan hebat dengan bakat yang berbeda, masing-masing menjalani pilihan hidup mereka. Sekecil apapun hal yang mereka lakukan segalanya penting untuk dibagi dan diceritakan. Berawal dari keinginan untuk bertemu dan melakukan aktivitas bersama, beberapa perempuan yang tergabung dalam Kolektif Betina menginisiasi Lady Fast. Karena selama ini mereka saling menguatkan dan berbagi semangat hanya melalui media sosial.

Lady Fast dilaksanakan pada 2-3 April 2016 di Yogyakarta. Di hari pertama, lewat akun Instagram Kolektif Betina dan beberapa teman perempuan yang hadir menimbulkan rasa sedih karena tidak bisa bergabung dan bertemu dengan teman perempuan dari beberapa daerah yang datang khusus ke Jogjakarta untuk acara ini. Selain lapakan craft dan zine, setidaknya ada tiga workshop yang dilaksanakan di hari pertama; workshop kolase “Kata untuk Perempuan”, workshop zine bertema LGBTQ, dan workshop “self defense”. Ada juga sharing session bertema gender based violence, screening dokumenter, dan diskusi film.

Meskipun dinamai Lady Fast, acara ini tidak hanya diperuntukkan bagi perempuan. Beberapa perempuan dari Kolektif Betina juga membawa serta anak-anak mereka. Sesuatu yang mungkin merepotkan bagi seorang ibu mengikutkan anak di sebuah acara kumpul dan bersenang-senang namun penting untuk mendidik mereka dengan memperlihatkan keberagaman sejak dini. Lady Fast senantiasa menghadirkan ruang yang aman dan nyaman bagi perempuan dan anak, child friendly area.

Beberapa perempuan dari Kolektif Betina juga membawa serta anak-anak mereka.

Beberapa perempuan dari Kolektif Betina juga membawa serta anak-anak mereka. Lady Fast senantiasa menghadirkan ruang yang aman dan nyaman bagi perempuan dan anak.

Sayang sekali keceriaan Lady Fast di hari pertama diusik oleh sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah Ormas di saat menjelang penghujung acara. Dalam kronologi yang dikeluarkan Kolektif Betina di Fanpage Facebook mereka menyebutkan bahwa pada pukul 10 malam, sekitar 15 orang meminta acara dibubarkan. Karena penjelasan oleh panitia dan pemilik tempat tidak direspon dengan ramah maka adu argumen terjadi. Mereka memaki, mengintimidasi, dan memberikan tuduhan komunis. Lebih dari sekadar bentakan, seorang kawan perempuan diserang secara fisik oleh seorang anggota kelompok tersebut. Mereka melakukan kekerasan fisik dan verbal. Pada malam itu juga terdengar satu tembakan ke udara oleh seorang polisi yang berpakaian sipil. Bersama polisi, kelompok tersebut memaksa masuk ke dalam rumah tempat pelaksanaan di mana ada 10 orang yang terkunci dari luar. Setelah berhasil masuk, mereka merekam video dan mengambil gambar wajah mereka yang berada di dalam rumah. Dan empat orang dari mereka kemudian dibawa ke Polsek Kasihan untuk dimintai keterangan.

Seketika pemberitaan menjadi ramai di media tentang bagaimana Lady Fast dihentikan. Selain dukungan untuk Kolektif Betina, hujatan juga tentu datang beriringan. Namun hal yang mungkin tidak diberitakan adalah segenting apapun situasi pada malam itu, semangat perempuan di Kolektif Betina sama sekali tidak surut. Pembubaran paksa acara Lady Fast tidak menghilangkan tawa mereka. Agenda hari kedua tidak berjalan sesuai rencana karena teman-teman Kolektif Betina disibukkan dengan urusan klarifikasi dan menyelesaikan masalah pembubaran hingga konferensi pers yang dilaksanakan kemarin (4/4/2016) di kantor LBH Yogyakarta. Di tengah keruwetan atas pelarangan pelaksanaan acara, beberapa agenda tetap dilaksanakan seperti workshop clay dan yoga. Semua dijalani tetap dengan tawa.

Konferensi pers oleh forum Solidaritas Jogja Damai. di LBH Yogyakarta terkait pembubaran paksa acara ‪#‎LadyFast‬.

Konferensi pers oleh forum Solidaritas Jogja Damai di LBH Yogyakarta terkait pembubaran paksa acara ‪#‎LadyFast‬.

Yoga di Senin pagi yang dipandu oleh Sheni, kawan Kolektif Betina dari Bandung,

Yoga di Senin pagi yang dipandu oleh Sheni, kawan Kolektif Betina dari Bandung.

Tetap semangat teman-teman! Tak ada yang lebih hebat dari perempuan yang tahu apa yang mereka inginkan dan tetap kokoh berdiri menghadapi segala yang menghalau jalannya. Semoga jarak tidak memendekkan jangkauan lenganku memeluk kalian. []