Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

“I don’t believe in teaching. Nobody can teach you anything, really. You have to teach yourself..” pesan dari seorang Bob Ostertag, seorang musisi eksperimentalis yang pernah bekerja sama dengan John Zorn dan Mike Patton dari Faith No More serta membuat komposisi musik dari rekaman suara seorang anak kecil di El Salvador yang mengubur ayahnya sendiri. Pesan ini disampaikannya saat wawancara bersama Achmad Nirwan selepas menghipnotis para penonton di acara Berdikari Vol.2 lalu.

Pertama, bagaimana anda bisa sampai ke Indonesia?

Saya sedang menjalani tur satu tahun. Berawal dari bulan Maret tahun lalu. Niatnya memang ingin menghabiskan dua belas bulan dalam sebuah perjalanan yang dikendalikan oleh musik saya. Kemana dia mau membawa diri saya, terserah. Dan kalau bisa, ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Begitulah yang saya katakan pada semua orang ketika memulai tur ini. Honorarium bukanlah prioritas. Jika venue atau acaranya besar, saya minta besar. Jika venue dan acaranya kecil, saya minta honor yang kecil. Sederhananya, jika kamu mengundang saya untuk main di acaramu, berapa fee terkecil yang diterima oleh performer lain di acara itu, segitu juga yang saya minta darimu. Walaupun itu berarti hanya sepuluh ribu rupiah, tidak masalah (tertawa).

Lalu bagaimana anda membiayai tur dari satu negara ke negara lain kalau sistem finansialnya seperti itu?

Jadi… Sepanjang tur ini saya melakoni berbagai jenis konser. Ada yang membayar tinggi, ada yang membayar rendah. Semua saling menutupi. Di samping itu, saya juga bekerja sebagai profesor di sebuah perguruan tinggi, yang berarti saya memiliki gaji. Walaupun untuk standar Amerika Serikat jumlah gaji saya tidak seberapa, namun bagi saya sendiri jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan masih bersisa untuk memastikan tur saya tetap berjalan dari segi pembiayaan.

Negara-negara mana yang telah anda datangi sejauh ini?

Sepanjang karir bermusik saya, Amerika, Canada, Eropa, sampai Jepang sudah pernah saya datangi. Jadi untuk tur kali ini saya ingin ke tempat-tempat baru. Setidaknya di negara sendiri, saya belum pernah ke Detroit. Di luar itu saya akan ke Mexico City, Beirut, Cina, Taiwan, Thailand, Filipina, dan masih banyak lagi. Setelah Indonesia, saya menuju Uruguay, Peru, Buenos Aires (Argentina), kemudian pulang. Walaupun sebenarnya saya tidak ingin pulang (tertawa). It’s been a wonderful experience.

Adakah perbedaan suasana antara Indonesia dengan tempat-tempat lain yang pernah didatangi?

Hmm.. Kita sedang hidup di masa yang tidak terlalu baik. Global warming dan aneka rupa kerusakan lingkungan hidup, terorisme, perang, adalah beberapa contohnya. Sebagai pembanding, saat ini tampaknya Amerika Serikat sedang dalam keadaan yang tidak pasti. Tidak satupun yang bisa menjamin kalau masa depan akan lebih baik dibanding masa lalu. Apa yang dilakukan George Bush bertahun-tahun yang lalu, efeknya masih bergulir sampai hari ini, terutama perang. Tak ada yang menginginkan perang, bukan? Berbanding terbalik dengan apa yang saya lihat di sini, di Indonesia. Ada optimisme dan harapan besar di negeri ini. I like the sense of possibility in Indonesia right now. Secara musikal, saya telah melihat anak-anak muda yang bisa merakit sendiri perangkat synthesizer mereka. That’s so interesting. Sudah banyak komunitas yang terbentuk di berbagai kota, walaupun masih kelihatan kecil dan amatir untuk saat ini, namun siapa yang bisa menebak sebesar apa kontribusi mereka di masa yang akan datang? Plus, makanan Indonesia sungguh lezat.

Saat kami bertanya pada para penonton, ternyata banyak di antara mereka yang sepertinya terkesan lambat dalam menangkap musik yang ada mainkan. Mungkin noise based music belum terlalu lancar dicerna oleh penikmat musik di Makassar. Namun komposisi terakhir anda, yang audionya diambil dari rekaman suara cangkul, tanah, tangisan, dan ratapan seorang anak di El Salvador yang sedang menggali kubur ayahnya sendiri (note: komposisi ini sampai membuat Fami Redwan, Editor in Chief Revius, melarikan diri dari venue dengan alasan tidak sanggup mendengarnya -red) terasa sangat kuat daya hipnotisnya, dan memiliki pesan kemanusiaan yang tajam. Bisa dijelaskan sedikit perihal lagu itu?

Salah satu fase penting dalam hidup saya adalah tahun-tahun saat saya hidup dan tinggal di El Salvador, di masa negara itu sedang mengalami pergolakan politik yang menelan begitu banyak korban jiwa. Dan rekaman itu, rekaman seorang anak yang sedang mengubur jasad ayahnya sendiri yang mati terbunuh akibat konflik, adalah bukti nyata dari pelajaran berharga yang saya temukan selama hidup di sana, yang kemudian saya jadikan sebuah komposisi musik. Dan bagi saya, lagu itu bernilai lebih dari sekadar komposisi. Menjadi ritual sedih yang saya mainkan untuk mengucapkan selamat tinggal ketika harus meninggalkan El Salvador. Setelah itu tidak pernah lagi saya mainkan, hingga dua puluh tahun lamanya. Sampai pada bulan Juli tahun lalu saya diundang kembali ke sana, untuk konser di pegunungan yang pada masa saya hidup di sana, adalah salah satu lokasi utama dalam pergolakan politik waktu itu. Dan selain saya, konser itu juga diisi oleh satu unit band rock beranggotakan anak-anak muda yang usianya sepantar dengan anak kecil yang suaranya saya rekam dulu. Beberapa dari anggota band tersebut juga mengalami nasib yang sama, pernah mengubur sendiri ayah mereka yang tewas akibat revolusi. Bedanya adalah, yang dulu pemberontak, sekarang telah jadi penguasa. Namun yang telah tewas tidak menjadi hidup kembali, bukan? Mungkin itulah kenapa lagu itu terasa sangat kuat, setidaknya bagi diri saya sendiri. Sepanjang tur yang sedang saya jalani, komposisi itu saya mainkan beberapa kali. Hanya beberapa kali saja.

Kenapa?

Karena komposisi itu terlalu menyedihkan bagi saya. Kalau saya memainkannya terlalu sering, atau memainkannya pada setiap konser, maka maknanya bisa berkurang. Saya memainkannya tadi, karena menurut saya Indonesia juga memiliki sejarah kemanusiaan yang sama kelamnya dengan El Salvador. Sebelum di sini, saya memainkannya di Phnom Penh, Kamboja. Saya akan memainkannya satu-dua kali lagi di Amerika Selatan nanti, lalu berhenti. Stop. Mungkin untuk selama dua puluh tahun lagi.

Permainan Bob Ostertag dengan gamepad dan laptopnya membawa saya mendengar Kraftwerk, Yellow Magic Orchestra dan suara latar permainan Mario Bros secara bersamaan.

Permainan Bob Ostertag di Berdikari Vol. II dengan gamepad dan laptopnya membawa saya mendengar Kraftwerk, Yellow Magic Orchestra dan suara latar permainan Mario Bros secara bersamaan.

Dari Wikipedia saya mendapat informasi kalau anda pernah berkolaborasi dengan John Zorn, Mike Patton, dan nama-nama tenar lainnya? Benarkah?

Tidak semua yang kamu baca di Wikipedia itu benar. Namun ya, saya pernah bermain bersama John Zorn di era 70-an. Saya sering berkolaborasi bersama dia. Mulai dari jamming-jamming di apartemen milik kekasihnya, hingga konser-konser besar yang tiketnya sold-out. Dengan Mike Patton juga pernah, bahkan dengan banyak musisi-musisi besar lainnya pun pernah. Namun yang paling sering ditanyakan adalah John dan Mike. Mungkin karena mereka sangat-sangat terkenal (tertawa). Setiap kali melihat ke belakang, menatap kembali perjalanan musik yang telah saya lewati, dengan siapa saja saya pernah bekerja sama dan berkolaborasi, selalu membuat saya merasa beruntung. Salah satu rahasia untuk menjadi pemusik yang bagus adalah seringlah bermain dengan mereka yang lebih baik darimu, dan bisa membuatmu terlihat bagus (tertawa). Karena itulah terjadi pada saya. Bermain dengan pemusik yang menurutmu lebih baik darimu, akan membentukmu. Bekerja sama dengan nama-nama seperti Anthony Braxton dan Fred Frith sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan karakter saya sebagai pemusik.

Selain orang-orang yang pernah berkolaborasi dengan anda, siapa musisi yang paling influental?

John Cage. Saya pernah berjumpa dengan Cage beberapa kali. Walaupun tidak pernah berkolaborasi, namun berada di dekatnya saja sudah menjadi influence yang sangat besar bagi diri saya, bahkan lebih besar dari musiknya sendiri. Selain itu ada seorang seniman bernama Jim McGee. Lalu masa-masa kehidupan di era revolusi El Savador tentu saja berpengaruh besar pada musik saya. The poor people movement is always a creative movement, you know? Berkesenian di bawah tekanan, tanpa memiliki pendidikan formal, di mana semuanya harus dipelajari secara otodidak dan dilakukan dalam begitu banyak keterbatasan, dengan nyawa sebagai taruhannya apabila ada yang ‘salah’, mengasah bahkan menuntut daya kreasi yang luar biasa.

Ada influence dari dunia maya? Website atau blog yang bisa anda rekomendasikan?

Saya tidak yakin pernah mengambil atau mendapat pengaruh dalam bermusik dari internet. Dunia maya adalah dunia yang menyebalkan buat saya (tertawa).

How about books?

Nah kalau itu, banyak. Saya tidak bisa katakan buku-buku apa yang mempengaruhi musik saya, tapi saya bisa sebutkan buku apa saja yang saya suka. Saat ini saya sedang membaca The Gay Archipelago yang ditulis oleh seorang antropologis berkebangsaan Amerika yang sangat tertarik pada studi tentang alternative sexuality di Indonesia. Selain itu saya juga sedang penasaran dengan negeri Cina, jadi saya banyak membaca buku-buku tentang Cina. Saya pernah beberapa kali konser di sana, dan menurut saya: China is such a dystopian science-fiction disaster. Jadi saya ingin mempelajarinya secara mendalam.

Apakah tur panjang ini akan berpengaruh pada pekerjaan anda? Pada nominal gaji, barangkali?

(Tertawa) Well, saya juga tidak menyangka bisa memiliki pekerjaan ini. Saya diminta untuk mengirim lamaran, lalu semuanya terjadi begitu saja. Saya tidak pernah punya niatan untuk menjadi seorang pengajar, dan juga saya tidak pernah merasa menjadi pengajar yang baik, karena selalu muncul pikiran untuk berhenti (tertawa). Bahkan saya sering menganjurkan agar mereka berhenti kuliah (tertawa). Seringkali saya memprovokasi mahasiswa-mahasiwi saya untuk pergi ke tempat-tempat yang baru dan melakukan hal-hal yang baru. Daripada tetap memaksakan diri untuk tetap menyelesaikan kuliah, menghabiskan waktu mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak diminati. Karena dari awal pun saya sudah curiga kalau universitas di mana saya mengajar sepertinya bukan institusi pendidikan yang cukup bonafid (tertawa). Makin sering saya pikirkan, semakin sia-sia semua ini terasa, baik itu bagi mahasiswa, maupun untuk professornya. Memang, tidak tertutup kemungkinan kalau justru pikiran saya yang salah. Karena sepanjang hidup, saya adalah seorang freelancer. Ini adalah pekerjaan tetap saya yang pertama. Namun pada dasarnya, I don’t believe in teaching. Nobody can teach you anything, really. You have to teach yourself. Jadi untuk pekerjaan ini, yang saya lakukan lebih layak disebut sebagai memberi stimulasi agar mereka belajar sendiri dengan rasa penasaran dan intelektualitas masing-masing, sekaligus menjadi contoh bagaimana seseorang sebaiknya memilah hal-hal yang ia minati, lalu fokus dan total di dalamnya. Hanya itu saja. Dan sepertinya metode itu berhasil. Untuk sebagian mahasiswa saya (tertawa).

Kembali ke konser anda tadi, apakah komposisi-komposisi yang anda mainkan adalah spontanitas, improvisasi, atau sudah disiapkan secara detail sebelumnya?

It’s a funny question. Tampaknya kamu merasakan perbedaan antara dua lagu yang tadi saya mainkan. Lagu yang pertama adalah murni improvisasi, berlapis-lapis soundwave yang saya aduk-aduk menjadi sebuah komposisi spontan. Dan lagu berikutnya, seperti yang sudah saya ceritakan kisahnya panjang lebar tadi, adalah komposisi yang sudah saya siapkan sebelumnya. Walaupun pada saat memainkannya saya juga melakukan improvisasi, namun spontanitas yang diaplikasikan dalam di lagu itu tidak akan keluar jauh atau meninggalkan aura dan suasana yang saya inginkan, seperti kali pertama saya menggubahnya. Sesuai dengan tema.

Bisa ceritakan spesifikasi alat-alat yang anda gunakan sepanjang tur tahun ini?

Yang saya bawa hanyalah laptop, gamepad, dan iPad. Karena saya akan berkeliling selama setahun penuh, maka aturan pertama yang saya terapkan adalah: hanya bisa membawa peralatan yang bisa saya masukkan dalam tas yang sama dengan pakaian saya, dan ikut bersama saya naik ke dalam kabin pesawat. Saya benci harus berlama-lama menunggu bagasi (tertawa).

That is an inspiring advice to me, as a musician. Thank you for the time, Bob.

You’re welcome, Nirwan.

Bob Ostertag selepas tampil di Berdikari Vol. II (Foto: M. Ifan Adhitya)

Bob Ostertag selepas tampil di Berdikari Vol. II, 31 Januari 2016. ( Foto: M. Ifan Adhitya )

P.S. : Wawancara ini berlangsung dalam Bahasa Inggris dan telah diterjemahkan oleh Fami Redwan.


Baca artikel lainnya dari The Awesomer

Penyegaran untuk Karya yang Terbaru

Musik adalah Pertemanan

Berbahas-Bahasan dengan Barasuara

Gaung dari Ruang-ruang Pikiran Sigmun

Di Balik Beranda Banda Neira

Melanjutkan Perjalanan untuk Kisah Langit yang Tersanggah

Merajut Inspirasi Berkarya Sajama Cut