Oleh: M. Aswan Pratama ( @aswan_pratama )

“Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya”

Itu kata raja dangdut Rhoma Irama menghimbau. Tapi yah, apa mau dikata, beberapa orang  mungkin sudah ditakdirkan menjadi penganut “tidur adalah soal kantuk”. Tidak ada maksud sok keren untuk keperluan update status insomnia biar dapat ucapan selamat tidur dari yang diharapkan, mereka hanya terjebak dalam keadaan ada  atau pun tidak ada keperluan, tidak akan tertidur kalau belum mengantuk, dan siap dengan segala konsekuensinya.

Banyak hal yang biasa dilakukan orang yang menanggung takdir ini. Kalau ada keperluan mungkin, mereka menunggu kantuk dengan kegiatan yang sifatnya lebih “memanfaatkan waktu” seperti mengerjakan tugas yang belum selesai,  membaca materi kuliah untuk besok, online untuk bahan-bahan presentase besok, beres-beres isi tas dan sebagainya.

Untuk yang tidak ada keperluan, biasanya mengisi dengan kegiatan yang hanya “membuang-buang waktu” sampai tubuhnya lelah, online untuk streaming video, berkeliling membuktikan eksistensi di semua media sosial, melakukan hobi, menulis blog, sketsa, mendengar musik, membuka laptop sambil melihat foto-foto, nonton anime, atau bahkan mungkin nonton film porno, karena pernah baca di suatu artikel biasanya setelah nonton film porno itu diikuti kalau bukan rasa bersalah pasti rasa lelah, atau rasa lelah setelah sibuk merasa bersalah, terserah, asal bisa mengundang kantuk.

Tapi dari semua kegiatan yang memanfaatkan atau pun membuang-buang waktu, yang paling umum dilakukan adalah menonton TV, mencari rangkuman informasi seharian ini, atau sekedar mencari hiburan. Sayangnya, fungsi “hiburan” yang ditawarkan beberapa TV justru lebih membuat khawatir daripada menyenangkan dalam menunggu kantuk. Lihat saja kalau sempat atau sedang tidak ada perlunya.

Ada acara joged india, dengan pengisi aktris dari india dan aktris dangdut Indonesia yang apa-apalah, dan host acara yang lebih banyak teriak, terus apanya yang tidak menyenangkan? Melihat barisan penontonnya, didominasi oleh remaja usia kurang lebih 12-15 tahun yang ikut serta sampai tengah malam hingga acara ini selesai, ini bisa menjadi contoh tidak baik, dan sebagai kakak yang memiliki adik sesusia mereka, jujur menjadi khawatir, harusnya KPI lebih memperhatikan dalam mengatur acara live seperti ini.

Ada juga serial tentang sejarah seorang raja, dan sempat jadi kontroversi karena dianggap melecehkan suatu agama, hingga judulnya diubah. Sebenarnya acaranya cukup menghibur, gambaran arsitektur, pakaian, kesenian, politik pada zaman itu cukup menghibur, lalu apanya yang tidak menyenangkan?

Sosok ustadz yang muncul pada tiap akhir episode, mungkin ini untuk yang awalnya protes sampai judulnya diganti, tapi ayolah ini tetap acara drama biasa dengan tujuan hiburan, jangan sampai ustadz ini mengubahnya seakan-akan ini acara religi, seakan-akan dengan tambahan ayat-ayat menonton acara ini bisa meningkatkan keimanan. Apalagi tidak semua hal yang sebenarnya rawan kontroversi ustadz itu jelaskan, ada adegan perempuan sholat hanya dengan pakaian seadanya, dengan belahan dada disensor, dan rambut terurai, make up cantik, tapi tidak dijelaskan ustadz di ending acara. Dalam hal ini KPI dan LSI mungkin lebih fokus ke hal besar, belahan dada contohnya.

Ada acara kontes bakat menyanyi dangdut, suara pesertanya sangat menghibur sebetulnya, lalu apa yang tidak menyenangkan? Waktu menyanyinya 10 menit, drama kehidupan, saling membuka aib, lelucon host, dan sebagainya yang bukan inti dari kontes menyanyi disajikan lebih dari 30 menit. Ibaratnya makan rambutan beserta dengan kulitnya, bukannya tidak bisa tapi buat apa juga? KPI mungkin, menikmati drama yang tersedia.

Ada acara berbau mistis, beberapa stasiun TV punya acara jenis ini tiap malam, apanya yang tidak menyenangkan? Acara ini tidak seperti generasi awal acara berbau uji nyali yang benar-benar seram (setidaknya untuk saya waktu masih SD) lebih seperti komedi, menjual kecantikan dan kemolekan tubuh host atau paranormal perempuan, melukis dengan mata tertutup, ayolah (siapa saja yang sudah mengerti anatomi tubuh dan latihan bisa melukis dengan mata tertutup, tinggal butuh improvisasi), kalau kesurupan mereka kadang ular, atau buaya, harimau sudah jarang mungkin bayaran merasuki aktor sinetron 7 manusia harimau lebih tinggi. KPI mungkin akan memproses ini dengan mempersiapkan Nama program yang baru kalau saja ini dicekal (lagi)

Dan ada yang memutarkan Film-film Hollywood berbagai genre, biasanya ada genre tematik tiap minggunya, ini favorit saya tiap malam, lalu apa yg tidak menyenangkan? Sensor di mana-mana: rokok, paha, dada, darah. Iklan yang bertumpuk, biasanya diikuti kuis dari produk, dan yang paling parah pemotongan adegan yang mengurangi keseruan film, contoh adegan bercinta, bayangkan jagoan dan kekasihnya berciuman dengan pakaian utuh, lalu dipotong, tiba-tiba mereka berciuman lagi tapi dalam keadaan dibalik selimut, atau adegan action, saat jagoan dikeroyok, adegan dipotong, banyak orang jatuh entah kenapa, banyak orang berdarah tiba-tiba, jagoannya menang tanpa terlihat memukul sedikitpun. Mungkin KPI dan LSI ingin menikmati keseruannya berdua, aku jadi iri.

Tapi di luar acara di atas, setidaknya masih ada beberapa yang menyenangkan, untuk sekedar mencari kantuk. Mungkin di malam selanjutnya kita ikuti saja saran Raja Dangdut Rhoma Irama, kalau tidak ada perlu kita tidur saja, toh takdir katanya bisa diubah. Kalaupun sudah pasrah dengan takdir sebagai penganut “Tidur adalah soal kantuk” yah sebisa mungkin posisikanlah menonton televisi sebagai pilihan kegiatan mencari kantuk kedua dari terakhir, kenapa kedua dari terakhir? Karena yang paling terakhir itu nonton film porno karena yang ada KPI dan LSI saja masih cukup meresahkan apalagi yang tidak ada. []

Image Credit: Telinga Mata Creative