Ilustrasi: Ananda Al Givari M. ( @algiivar ) | Foto: MIWF 2016 ( @makassarwriters )

Rambutnya dicukur habis. Di hidungnya menggantung anting khas India yang menarik perhatian siapa pun yang menjadi lawan bicaranya. Kulitnya gelap terlihat eksotis dengan gaun santai panjang bertali kecil yang dipakainya sore itu, serta sandal jepit casual menjadi ciri khas yang ia tampilkan selama empat hari di MIWF dan menjadi perbincangan banyak pengunjung juga. Namanya Deborah Emmanuel, seorang penulis asal Singapura yang akan membuka sandal jepitnya kapanpun ia akan tampil di depan umum, di sebuah seminar, diskusi, atau di panggung. Seperti saat kita masuk ke rumah orang, kita akan membuka sandal atau sepatu untuk menghormati rumah itu, menjaga kebersihan rumah orang lain. Beberapa orang melihat tindakan Deborah ini sangat romantis. Dan jika kalian melihat penampilan Deborah di atas panggung saat malam pembukaan MIWF 2016, kalian pasti setuju kalau dia mengagumkan.

Saat berusia 19 tahun, Deborah harus merasakan hidup dalam penjara akibat mengonsumsi obat-obatan terlarang. Dari sana, ketertarikanya akan isu sosial dan kesetaraan pun muncul. Penjara mengubah caranya melihat Singapura sebagai negara yang dilingkupi kenyamanan. Kenyataannya, masyarakatnya hidup terkotak-kotakan. Setelah bebas, ia menuangkan pemikirannya ke dalam puisi. Lewat dua bukunya; When I Giggle In My Sleep dan Rebel Rites, ia menyuarakan perasaan dan sikap kritisnya terhadap kehidupan urban, kehidupan penjara, serta harapannya atas hidup yang setara. Jadi sebenarnya bertemu dengan Deborah, seperti bertemu dengan sisi lain Singapura yang tidak begitu manis, tak selancar air yang mengalir dari mulut Merlion, atau foto-foto liburan yang sering kita temukan di Path atau Instagram teman-teman.

Sore itu di Fort Rotterdam, seusai salah satu sesi diskusinya, Deborah cukup sibuk berfoto-foto dan memberi tanda tangan pengunjung yang memintanya. Satu per satu ia ladeni dengan senyum bersahabat. Setelah para pemburu foto agak sepi, Revius kemudian mengajaknya untuk berbincang. Lagi-lagi dengan ramah, Deborah mengiakan. Tapi, terlebih dahulu harus ke kamar kecil. Sambil berjalan mencari kamar kecil dengan Deborah, kami memberi tahu bahwa interview ini tentang paham yang dianutnya, feminism. Ia jadi cukup penasaran dengan pertanyaan yang akan kami ajukan, well, kami juga pensaran dengan jawaban yang akan ia berikan.

Sesampai di sebuah toilet yang cukup jarang dipakai di sekitar Benteng Rotterdam, Deborah langsung enggan masuk dan mengajak untuk mencari toilet lain. Ternyata toilet jongkok membuatnya mengingat masa-masa yang tidak menyenangkan, saat masih tinggal dengan beberapa anggota keluarganya di sebuah flat kecil dan ketika berada dalam penjara. Satu hal yang ia kemudian ajarkan bahwa jika saat ini ia bisa hidup lebih baik, maka ia tidak mau kembali ke hal-hal yang tidak menyenangkan seperti kehidupannya dulu. Maksudnya, tidak usah menoleh ke masa lalu.

Deborah adalah sosok yang menarik diajak berbicara banyak hal karena kepribadian, pengalaman, pemahamanan, dan banyak hal dalam kepalanya. Sekembali dari toilet yang ia inginkan, kami akhirnya menemukan satu spot untuk jadi tempat kami duduk santai dan mengobrol.

Kamu menyebut dirimu seorang feminist. Mengapa?

Karena saya percaya pada kesetaraan.

Ada banyak kesetaraan, kesetaraan mana yang kamu maksud?

Saya percaya bahwa hal yang paling fundamental menyangkut kesetaraan yang kita semua sedang hadapi saat ini adalah kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki, serupa dengan kesetaraan antara yang miskin dengan yang kaya. Tapi yang menarik adalah gerakan feminist tidak hanya mencakup perjuangan kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan, melainkan mencakup segala jenis kesetaraan; Antara orang-orang dengan perbedaan orientasi seks, perbedaan agama, perbedaan status sosial-ekonomi. Saya pikir feminism itu semacam landasan pacu untuk segala jenis pertanyaan yang patut kita pertanyakan sebagai makhluk sosial. Jadi, yang mau saya katakan adalah jika kamu tertarik dengan segala jenis perubahan, perkembangan, dan kesetaraan sosial, maka kamu harus menjadi feminist. Saya tidak percaya dengan yang namanya humanist, karena jika kamu humanist, maka kamu feminist. Definisi feminism adalah berjuang untuk kesetaraan.

 Sejak kapan kamu menjadi seorang feminist?

Mmm, sepertinya sejak dua tahun lalu. Sebelum itu, saya mendidik diri saya sendiri perlahan-lahan; Saya belajar dan membaca. Waktu itu saya belum yakin bisa menyebut diri saya feminist atau membela diri jika ada orang yang ingin mendebat saya. Saya rasa, menjadi feminist adalah hal yang cukup menakutkan bagi perempuan, dan juga bagi banyak orang. Jika kamu menyebut dirimu feminist, orang-orang kerap bereaksi keras, mereka menjadi kurang nyaman, atau mereka akan berpikir kamu hanya orang gila pembenci pria. Ini sebuah sikap atau stereotip yang sangat tolol dan salah-arti, tapi nyata dan benar-benar terjadi di luar sana. Alasan mengapa saya mengatakannya seperti itu, yah karena saya pernah berpikir dan bersikap dengan cara seperti itu juga. Sebelum saya menjadi seperti sekarang, saya punya teman-teman feminist dan saya melihat mereka dengan cara-cara stereotip: saya tidak nyaman berada di sekeliling mereka, dengan diskusi mereka.

 Berarti kamu juga pernah berada di sisi mereka.

Ya, saya dulunya juga tidak percaya feminism, dan hal tersebut justru kini memungkinkan saya melakukan proyeksi. Sikap orang-orang yang tidak percaya pada feminism adalah hal yang wajar, karena saya juga pernah bersikap demikian.

Sejak kapan kamu mulai menulis dan mengapa kamu melakukannya?

Saya menulis untuk beberapa alasan. Sering kali, saya menulis karena ada hal yang sedang terjadi dan memicu respon yang kuat dalam diri saya dan saya harus mengeluarkannya, maka dengan begitu saya harus menuliskannya. Ini adalah bentuk pencarian makna bagi saya, karena saya tahu jika saya ingin memahami apa yang sedang terjadi, saya harus mampu memilahnya, dengan begitu saya bisa menemukan konklusi. Yang tadinya hanya bersifat perasaan, maka menulis akan mengubahnya jadi konklusi. Alasan kedua mengapa saya menulis adalah karena saya tahu ada sebuah kisah yang siap diceritakan, kisah tentang kematian. Ibu saya meninggal dua setengah tahun yang lalu. Sangat menyakitkan karena kami berdua begitu dekat dan saat itu muncul banyak pertanyaan tak terjawab yang dipicu oleh kepergiannya. Jadi, saya sudah biasa menulis tentang kematian semenjak dua setengah tahun terakhir ini, tapi cerita-cerita yang saya tulis selalu berubah-ubah karena perasaan, duka, dan sikap penerimaan saya juga berubah seiring waktu. Jadi, cerita asalnya datang dari masa lalu, tapi saya selalu menceritakannya dengan cara berbeda-beda. Jadi, ini bukan reaksi penolakan terhadap apa yang telah terjadi, melainkan usaha untuk merefleksikannya. Lagi-lagi, cerita ini ditulis untuk mencari makna di waktu sekarang. Alasan ketiga mengapa saya menulis adalah karena ada isu atau ide tertentu yang layak didiskusikan. Baru-baru ini saya menulis sebuah puisi berjudul Smallavication, tentang bagaimana percakapan saya dengan penonton, orang-orang, bahkan dengan pria, yang tadinya saya anggap penting tapi saya ubah menjadi kurang penting. Misalnya, ketika saya naik ke atas panggung, saya membuat lelucon terhadap apa yang baru saja saya ucapkan, atau membiarkannya menguap, atau kadang-kadang saya meminta maaf atas perkataan saya. Sangat mudah bagi saya berbicara lewat puisi, dan sangat mudah bagi saya membicarakan segala hal yang mau saya bicarakan ketika di luar persiapan. Dan ketika saya harus berbicara di luar persiapan, saat itulah saya tahu bahwa saya harus menjadi diri sendiri, dan sebenarnya itu membuat saya merasa takut. Puisi ini (Smallavication) berisi persoalan yang ingin saya alamatkan untuk semua orang, tapi yang paling utama untuk perempuan. Karena sebagai perempuan, kita kerap diajari untuk meminta maaf duluan, utamanya dalam kultur Asia. Kita diajari untuk minta maaf, kita diajari bahwa ada orang yang lebih benar, dan orang itu biasanya bukan perempuan.

 Siapa sosok feminist yang kamu idolakan? Dari golongan penulis, misalnya.

Tidak ada. Saya membaca banyak buku, tapi tidak tertarik dengan pengidolaan. Bahkan ketika ada yang bertanya siapa penyair favorit saya, saya tak punya jawabannya. Saya membaca banyak jenis buku, saya menghargai banyak seniman, tapi pada akhirnya yang saya mau adalah membuat seni saya sendiri, yang berbeda dengan seni orang lain. Jadi, saya memang tidak mengidolakan siapa-siapa, tapi percaya bahwa alasan mengapa saya bisa sampai di tempat ini adalah karena saya membaca banyak jenis buku, menjelajahi berbagi jenis gagasan yang mengiring saya menentukan mana yang mau dan tak mau saya percayai. Dari situlah saya kemudian membangun keutuhan sistem kepercayaan saya sendiri.

(Kami sedikit mengubah arah pembahasan) Apa menurutmu cinta itu?

Wah, ini pertanyaan yang cukup menjebak. Cinta bagi saya adalah perasaan. Perasaan yang matang seiring bertambahnya usia. Itu yang saya pahami baru-baru ini. Saya telah melalui banyak fase di mana dengan mudahnya saya bisa jatuh cinta. Kini, cinta yang saya pahami berbeda dengan cinta yang saya pahami ketika masih 18 tahun, tapi tetap saja itu cinta. Makanya, susah bagi saya mendefiniskannya karena saya sudah mengalami banyak jenis cinta dan spektrumnya. Bagi saya, cinta bukanlah sebuah objek. Jika saya harus memperorangkannya, saya tak tahu jenis orang apa cinta itu. Cinta sudah pasti punya banyak wajah, tapi saya tahu bahwa pada akhirnya itu adalah perasaan. Perasaan yang mengisi dada kita, yang tak bisa saya rasionalisasikan karena terhubung dengan jiwa kita.

Terakhir, apa yang ingin kamu sampaikan kepada para perempuan di negeri ini?

Kerap kali, kita diajari oleh lingkungan bahwa kelak kita akan menemukan definisi diri melalui mata seorang pria, bahwa harga diri kita ditentukan oleh pasangan, bahwa pasanganlah yang akan membuat diri kita utuh, tapi saya sepenuhnya tidak percaya dengan semua gagasan itu. Tidak peduli apa yang lingkungan atau orang-orang di sekitarmu katakan, kamu harus berusaha menjadi utuh secara independen. kamu harus menemukan dirimu sendiri, lakukan yang kamu inginkan, dan semata-mata untuk dirimu sendiri. Jika tidak, kamu tidak akan menemukan kebahagiaan. Jadi, lakukan saja yang kamu mau, dan jangan biarkan orang lain menghentikanmu.

***

Begitulah perbincangan kami tentang feminist dengan Deborah. Kami yakin banyak hal soal feminism yang dapat kita pelajari dari sosok Deborah. Bahwa ketika kita memperjuangkan kemanusiaan, kesetaraan, maka kita semua adalah feminist. Bukan hanya perempuan, siapa pun bisa menjadi feminist. Satu hal lagi, menjadi feminist bagi seorang perempuan bukan berarti tidak membutuhkan orang lain sama sekali, tapi mampu untuk menjadi mandiri. Saya jadi teringat kutipan mengenai emansipasi dari Alex Winter, kata “emansipasi”nya akan saya ganti menjadi feminism, sehingga akan menjadi “feminism adalah seni untuk berdiri di atas kaki sendiri, namun dipeluk oleh tangan orang lain”

Deborah Emmanuel di MIWF 2016.

Deborah Emmanuel di MIWF 2016.

N.B. Penulis berterima kasih kepada Brandon Hilton yang membantu dalam perekaman wawancara dan Kemal Putra untuk pengerjaan transkrip dan artikel.


Baca tulisan lainnya

MIWF 2016 Day 1: Seruan Untuk Menghentikan Pemberangusan Pengetahuan

MIWF 2016 Day 2: Tentang Perempuan hingga Musikalisasi Puisi Sapardi

MIWF 2016 Day 3: Satu Kata: Padat!

MIWF 2016 Day 4: Melampaui Dirinya Sendiri

Menolak Pemberangusan Buku

Bertanya Sebelum Kita Tenggelam

Penerjemahan adalah Kunci Menuju Literasi yang Lebih Baik

Pengalaman Maman dan Media Hari Ini

Tiga Penyair dari Tiga Negara yang Berbeda

Masyarakat Kita Ingin Membaca Diri Mereka Sendiri