Oleh: Adin Amiruddin ( adin.afterlive )

Laneway Festival akhirnya bongkar muatan di Sydney. Tepatnya seminggu lalu, setelah memulai gelarannya di Singapura dan menyelesaikan ekspansinya di Selandia Baru. Setelah tahun lalu gagal menyambangi Laneway, tahun ini saya akhirnya berhasil meloloskan diri dari jeratan dan bayang-bayang SOLD-OUT berkat Gumtree, portal jual-beli online favorit muda-mudi, tua-tui, dan bocah-bocih Aussie.

Dengan susunan penampil tahun ini, maka tidak ada keraguan di dalamnya jika tiket untuk Melbourne dan Sydney ludes sebelum hidangannya disajikan. Chvrches, Beach House, The Internet, hingga Hermitude dan kembalinya Flume dari hibernasi sepertinya menjadi alasan sesaknya Sydney College of Art, kampus seni yang dijadikan tempat ibadah bagi para jemaah Laneway.

Laneway, selayaknya Festival dan Gigs lain yang saya kunjungi, selalu membuat saya takjub, salut, angkat gelas, dan bersulang. Australia memang punya standar tersendiri atas gelarannya. Namun, ada beberapa poin yang hilang dari mata batin saya sebagai penonton konser Makassar. Poin-poin yang entah saya rindukan, ingin saya lupakan, ataukah biarkan kita jalani saja dulu?

1. Sengketa Lahan Parkir

Ibarat rintangan pertama sebelum memasuki arena event live music di Makassar, keberadaan lahan parkir (khususnya parkiran motor) ternyata tidak saya temui di sini. Mungkin Alasannya, sepeda motor bukanlah kendaraan populer, jadi tidak ada alasan untuk menyediakan lahan parkir. Parkiran umum bertarif mahal pun terbilang jauh dari venue, mengharuskan yang empunya kendaraan untuk tetap berjalan kaki, sementara angkutan umum seperti kereta cepat dan bus telah disediakan, digratiskan, dan diarahkan cepat, tepat, hemat, dan nikmat. Hal ini menjadi faktor utama kurangnya stok helm bekas yang beredar di pasaran, berbanding terbalik dengan permintaan akan produk serupa di toko Facebook sebelah, Makassar Dagang.

2. Palukka dan Keroyokannya

Satu nama, sejuta cerita. Yah, palukka (dalam bahasa indonesia berarti pencuri) adalah sosok yang sulit saya temui di sini, di kampung orang. Sebenarnya saya tidak yakin dengan anggapan konser musik di Australia itu bebas copet. Tapi, bukankah indikasi atas eksistensi beliau adalah kemunculan ritual pemborongan, atau memborongi, alias pengeroyokan dadakan? Sebuah side-show yang sudah dua tahun tidak saya saksikan. Rindu? Hm… Tak perlu diduga.

3. Penjual Rokok

Himbauan ini berlaku bagi anda yang berniat memasuki venue festival atau konser di Australia. Jika anda adalah seorang perokok dengan status bebas-aktif, tidak dalam masa tenggang, jangan harap anda bisa membeli rokok di dalam venue. Jangan… jangan mas, jangan. Selain karena tidak adanya warung yang menjual, sejauh ini belum pernah saya menemukan sebuah festival dengan brand rokok sebagai sponsornya. Sudah di dalam dan mau keluar cuma buat beli? Ooo…tidabisaa……karena sistem No Passout berlaku di setiap festival. Keadaan ini sontak mengaktifkan fenomena sosial yang kerap ditemukan di lapangan; kedatangan orang asing ke sesama orang asing untuk meminta rokok. Bukan cuma sekadar meminjam korek selayaknya kita orang Indonesia, namun tak segan untuk meminta sebatang dulu lah. Jika anda menemukan sosok seperti yang disebut di atas dan kebetulan anda memiliki rokok berlebih, maka berikanlah, kenalanlah, ajaklah ngobrol, karena bisa saja kalian adalah keluarga. So, siapkan segala sesuatu sebelum masuk, tenangkan pikiran, dan buang jauh-jauh hasrat untuk melihat SPG rokok. Hiks.

4. Damkar Squad

Fasilitas ini, entah kenapa tidak terpikirkan oleh beberapa penyelenggara festival musik di Australia. Padahal di tengah sengatan matahari, sengitnya moshpit, dan panasnya goyangan cewek-cewek bule yang entah siapa namanya, sesungguhnya penonton membutuhkan sebuah solusi taktis dan sangat brilian dilakukan oleh penyelenggara musik tanah air: SEMPROTAN PEMADAM KEBAKARAN – semburan kuat, basah tahan lama. Cukup teriak “air” maka anda pun langsung put your hands in the air.

Sebenarnya para penyelenggara telah memberikan fasilitas water tap, sebuah fasilitas air minum gratis yang selalu dibanjiri penonton yang kehausan. Tetapi dengan posisi yang agak jauh dari crowded, sepertinya keberadaan kakak-kakak Damkar berselang sakti itu masih lebih efektif, di luar mitos akan keraguan kualitas airnya yang konon tidak aman jika tertelan. hmm… silakan diduga apa.

5. Reza Hip-Hop

……You know lah.

Begitumi kira-kira, beberapa poin yang terlintas atas dasar kerinduan akan keluarga, teman, serta rumah dan pagarnya yang setia menunggu hingga subuh.

*Foto di atas merupakan dokumentasi milik Adin Amiruddin saat Grimes tampil di Laneway Festival 2016


Baca artikel City Review lainnya

Perintis dalam Tatapan Sinis

5 Hal Unik yang Dapat Ditemukan di Taiwan

Lima Warung Bakso Paling Syahdu

Kita dan Kota Perlu Berteman dengan Lebih Banyak Taman

Kampung Melayu yang Dijaga Santo Petrus