Teks: Nurul Fadhillah | Foto: Tim Media MIWF 2017

Banyak hal baru di Makassar International Writers Festival 2017. Salah satunya, penerbitan buku yang merupakan antologi dari para Emerging Writers MIWF dari tahun ke tahun. Peluncuran ini salah satu rangkaian acara di hari pertama Makassar Writers Festival 2017. Dalam acara tersebut, hadir Lily Yulianti Farid dan pihak dari Gramedia juga Shinta Febriany sebagai moderator. Acara kemudian berlanjut dengan penyerahan buku kepada para emerging witers yang berkesempatan hadir pada a cara tersebut; yaitu Erni Aladjai (Emerging Writers 2011), Emil Amir (Emerging Writers 2012), Faisal Oddang (Emerging Writers 2015) dan Ibe S Palogai (Emerging Writers 2016). Shinta kemudian mengantar ke pembahasan memahami mengapa buku ini akhirnya diterbitkan. Penyair sekaligus sutradara teater tersebut mengatakan bahwa terbitnya sebuah buku yang kemudian di dalamnya menghimpun tulisan-tulisan dari para emerging writers, merupakan cita-cita yang telah lama terpendam. Cita-cita yang akhirnya bisa diwujudkan di MIWF tahun ini. Shinta juga menuturkan bahwa di dalam buku ini, terdapat cerpen dan puisi dan lima di antaranya ditulis oleh perempuan. Sesuatu yang membanggakan melihat betapa maskulin dunia sastra Indonesia dan lebih khusus di Kota Makassar sendiri.

Buku Dari Timur ini merupakan cita-cita lama dari MIWF untuk diwujudkan

Setelah selesai melakukan pengenalan lebih dulu, akhirnya para penulis mulai membedah proses kreatif yang mereka lakukan dan hal yang melatarbelakangi ditulisnya cerpen atau puisi yang dimuat dalam buku Dari Timur tersebut.

“Saya menulis sesuatu yang tidak jauh dari kehidupan saya. Karena saya percaya bahwa seorang penulis yang baik tidak akan menulis sesuatu yang jauh dari dari dirinya. Di buku Dari Timur ini, cerpen saya mengisahkan tentang bagaimana kekhawatiran orang-orang di daerah tertentu yang dekat dengan saya yang akhirnya dipaksa untuk menganut atau memilih agama-agama yang diakui oleh pemerintah. Bagaimana mereka menolaknya dan bagaimana yang terjadi setelah itu. Cerpen saya ini juga pernah dimuat di harian Kompas.” Pendapat Faisal Oddang yang kemudian dipertegas oleh Emil Amir, “Jadi cerpen saya secara garis besar menceritakan tentang pernikahan bugis dan cinta segiempat di dalamnya. Kemudian yang saya tulis ini merupakan hasil observasi dan obsesi. Karena menurut saya, menyambung dari jawaban Faisal Oddang tadi, meskipun menulis sesuatu yang dekat dengan kehidupan kita, kita juga harus tetap melakukan observasi. Jadi, kalau kalian mau mengetahui selera kurator dalam memilih para emerging writers tahun depan, bacalah buku ini.”

Kedekatan yang bukan berarti sekadar hal-hal yang dialami. Namun, bisa jadi inspirasi menulis tersebut berasal dari masa yang telah jauh berlalu. Seperti yang dikatakan Ibe S. Palogai, “Di buku Dari Timur ini, saya menulis sebuah puisi. Sebenarnya kalau berbicara mengenai proses kreatif, saya dari dulu selalu berusaha menulis tentang perang Makassar di tahun 1600-an. Karena saya merasa bahwa saya berada di masa yang sama sekali jauh dari perang tersebut. Saya berusaha menerjemahkan bagaimana perang Makassar itu sendiri. Saya rasa tema ini cukup besar untuk diterjemahkan ke dalam puisi. Kemudian saya memilih tema kecil saja; bagaimana orang Sulawesi Selatan menyikapi sebuah kekalahan. Saya tidak mau meninggal dengan tidak melakukan apa-apa. Makanya saya menulis tentang ini. Sebab di tradisi kita, kita tidak pernah dilatih bagaimana caranya menghadapi sebuah kekalahan. Padahal di dunia ini kita seringkali menghadapinya. Dimulai dari kekalahan-kekalahan kecil dan tak jarang kekalahan-kekalahan besar. Lalu pada akhirnya kita menyerah. Menyerah dan berubah menjadi orang yang lain, orang yang bukan diri kita lagi.”

“Diri kita adalah apa yang kita tulis” – Faisal Oddang

Hal berbeda diungkapkan oleh Erni Aladjai. Jika Emerging lain berangkat dari tema yang cukup luas, Erni justru menemukan tema tulisannya dari apa yang dialaminya sendiri, “Saya awalnya adalah seorang jurnalis. Saya kemudian gemar menulis sesuatu. Dalam buku ini, saya menulis sebuah cerpen berjudul Air. Mungkin agak berbeda dari teman-teman yang lain, yang mengangkat tema-tema ketimuran mereka. Saya menulis cerpen sederhana ini dengan sebuah pengalaman yang melatarbelakangi saya. Saya pernah mencari air saat berada di Bandara Taiwan. Saya dengan mudahnya menemukan air-air yang bisa diakses oleh publik di sana. Saya kemudian membandingkannya dengan di Indonesia, yang mana kita ketika berada di ruang-ruang publik seperti bandara, sangat kesulitan mendapatkan air minum gratis. Ketika kita haus, kita harus membeli air botolan. Padahal di Sulawesi Barat sana, sumber mata air bisa dimanfaatkan.”

Setelah membongkar bagaimana proses kreatif yang dilalui oleh emerging writers ini, Shinta kemudian mulai membuka sesi tanya jawab. Salah satu peserta yaitu Pak Matsui lalu mempertanyakan bagaimana mereka mengidentifikasi ketimuran yang mereka miliki. Pembahasan yang memang sesuai jika melihat tema dari diskusi dan buku ini. Erni Aladjai mulai menjawabnya terlebih dahulu, “Saya menulis dan menjadi seorang peneliti dari kepulauan. Saya menulis fiksi yang bertemakan bahari. Kenapa? Karena saya merasa miris. Di kepulauan, tempat saya tinggal, yang hanya dihuni oleh 300 orang, di sana mereka bahkan awam dengan tong sampah. Ketika kita datang dan mencari tong sampah, mereka hanya akan tertawa dan berkata ‘buang saja sampahnya ke laut!’ Jadi saya rasa untuk mewakili ketimuran saya, saya akhirnya menulis tentang bahari. Saya menamakannya sastra laut.”

Hal paling alami dan asali dijelaskan oleh Emil Amir, “Saya adalah orang yang tidak mau melupakan bahasa ibu saya. Saya mau membawa itu dalam menulis cerita-cerita saya.” Dilanjutkan oleh Ibe yang melihat dari sisi konflik, “Saya mengangkat perang karena itu ada di mana-mana. Juga di Makassar.”

Penjelasan-penjelasan yang menemui simpulnya dari pendapat Faisal Oddang, “Ketika berbicara mengenai ketimuran, saya rasa apa yang saya tulis adalah diri saya sendiri, yang disebut timur. Diri kita adalah apa yang kita tulis.”

Setelah menjawab tentang berbagai pertanyaan lain, acara berakhir dengan meriah. Semua orang yang hadir di dalam ruangan bisa pulang dengan membawa oleh-oleh penting bagi diri mereka sendiri; bahwa menuliskan apa yang dekat dengan kita bisa dimulai dengan hal-hal yang sederhana, dari identitas hingga hal-hal yang dialami dan dirasakan diri sendiri.

Makassar International Writers Festival 2017 sendiri masih akan menyuguhkan ragam acara menarik di hari kedua ini hingga 20 mei 2017 nanti. Dari penerbitan buku, diskusi, hingga hiburan. Mari rayakan!