Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Terakhir kali saya berkunjung ke Peeplecoffee shop sekaligus working space yang letaknya di jalan Singa–, itu sekitar November tahun lalu. Biasanya saya berkunjung ke sana karena urusan pekerjaan dan sejenisnya. Semalam saya kembali berkunjung tetapi dengan agenda lain. Bukan saja sebagai reporter, tetapi juga sebagai penonton untuk sebuah kegiatan nonton film bareng bernama The Layar Tancap, sesuatu yang belum pernah saya lakukan di Peeple. Kegiatan screening filmnya belum dimulai ketika saya sampai di sana sekitar pukul tujuh. Ada beberapa orang yang sudah mengisi meja-meja di depan layar, tetapi saya kesulitan membedakan mana orang-orang yang hadir untuk menonton dan mana yang hadir karena memang ingin hang-out. Saya menyempatkan diri bertanya ke salah satu pegawainya mengenai sudah pernah atau belum pemutaran film digelar di sini, si pegawai menjawab bahwa ini yang pertama kalinya.

30 menit kemudian, The Layar Tancap ini dibuka dengan sepatah kata dari Saddam Syukri, salah seorang pelaksana dari kegiatan ini. Ia mengungkapkan bahwa ini merupakan kegiatan screening film perdana di Peeple atas kerja sama dengan Cinema Appreciator Makassar, sebuah komunitas penggiat screening film. The Layar Tancap tentu saja bermakna harfiah karena filmnya sendiri diputar melalui layar proyektor. Saddam menambahkan bahwa The Artist (2011) menjadi film yang dipilih sebagai film pembuka karena alasan untuk menyambut pesta perfilman terbesar di dunia, Academy Awards yang akan digelar tanggal 28 Februari mendatang. The Artist merupakan film peraih best picture di Academy Awards 2012, juga memenangi kategori best director, best actor, best costume design, dan best original score. Tidak hanya screening, kegiatan ini juga diikuti diskusi ringan setelahnya.

The Layar Tancap2_Peeple_Revius

Setelah Saddam memberikan sambutan tentang kegiatan The Layar Tancap, saya sempat memberikan pengantar sekilas tentang The Artist sebelum filmnya dimulai.

The Artist yang ber-set akhir 1920 hingga awal 1930-an di Hollywood ini, mengisahkan seorang aktor termahsyur film bisu, George Valentin yang karirnya terpuruk ketika film wicara mulai ditemukan dan ia tak mampu menerima perubahan tersebut. Walau menangkap sejarah perfilman di Amerika, The Artist sendiri bukanlah film produksi Amerika melainkan Prancis. Disutradarai oleh sutradara Prancis, Michael Hazanavicius. Dan dua aktor utamanya, Jean Dujardin dan Berenice Bejo juga aktor Prancis. Menjadikan film ini sebagai satu-satunya film Prancis yang paling banyak memenangkan penghargaan. Saya pernah menonton The Artist sebelumnya, jadi sudah tahu bahwa film ini dibuat dalam format klasik, bisu/hitam putih, sesuai zaman yang ditampilkan, tapi saya sangat menyukainya karena saya memang pecinta film klasik, bisu/hitam putih. Tapi saya ragu bahwa ketika film ini diputar di depan khayalak ramai, peminatnya bakal banyak. Karena The Artist juga pernah ditayangkan di bioskop, tapi hanya bisa bertahan beberapa hari saja. Saat ini, ketika teknologi visual lebih maju dan 3D sudah ditemukan, tidak banyak generasi yang tersisa yang mau menikmati film-film bisu/hitam-putih, saya bahkan ragu bahwa banyak di antara mereka yang tahu bahwa film serupa ini pernah cemerlang di awal tahun 1920-an.

Pemutaran pun dimulai, saya yang duduknya paling di depan beberapa kali harus menengok ke belakang untuk melihat berapa banyak pengunjung yang hadir di sini tertarik mengarahkan mata mereka sepenuhnya ke depan layar dan jumlah yang saya temukan hanya sekitar sepuluh pasang mata saja. Menariknya, ketika film ini selesai, percakapan dan komentar yang bermunculan dari para penonton terasa sangat antusias.

Salah seorang penonton, Rahmat Hidayat (23) mengungkapkan bahwa ia tadinya berkunjung ke Peeple untuk hang out, dan ternyata ada pemutaran film buatnya adalah sebuah kejutan. Sebagai orang yang baru pertama kali menonton film bisu/hitam putih, menyaksikan The Artist menurutnya seperti dipaksa (dengan cara yang menyenangkan) untuk menerima dan mengenal budaya baru tapi dalam medium yang sangat klasik. Pengunjung lain, Muh. Fadhlullah (27) mengungkapkan bahwa film tersebut memang layak menerima penghargaan best picture di Academy Awards kala itu karena berhasil menangkap salah satu esensi sejarah perfilman di Amerika, yaitu film bisu dan ditemukannya film wicara. Ia terpesona dengan keunggulan production design dan costume-nya yang ia bayangkan sebagai detail klasik yang pasti sulit untuk diciptakan kembali. Ditambah visual dan music score-nya, semuanya menjadi kesatuan yang membangkitkan suasana film klasik yang sesungguhnya. Sementara Ayra (26) mengomentari kisah cinta kedua tokoh utamanya: George Valentin dan Peppy Miller yang begitu romantis dan berhasil memperlihatkan arti dari cinta yang murni. Pendapat menarik lainnya datang dari manager Peeple, mengungkapkan bahwa walau The Artist diusung secara sangat “zaman dulu” tapi pesan moralnya begitu terhubung dengan kondisi sosial masa kini. George Valentin, si karakter utama, ia komentari sebagai karakter yang susah menerima kemajuan teknologi dan akhirnya terpuruk seorang diri, seperti itu pulalah kebanyakan orang saat ini yang jika tidak mau membuka diri atas kemajuan teknologi akan tertinggal.

“The Layar Tancap yang rencananya akan berlangsung rutin setiap bulan dengan tema yang berbeda ini diharapkan tidak hanya menghibur tetapi bisa mengedukasi siapapun yang menyaksikannya,” Ungkap Saddam. Pendapat lain diungkapkan Muh. Asrul (24), “Nongkrong di Peeple sambil nonton film membuat nongkong terasa lebih berisi, bukan cuma sekadar duduk-duduk kosong”. Dua pendapat yang turut membenarkan bahwa The Layar Tancap mampu menambah kegiatan screening film yang ada di Makassar (Lebih lanjut baca artikel Lima ‘Bioskop’ Alternatif di Makassar oleh Chairiza), menjadi ruang tonton bagi masyarakat untuk mendapat tontonan yang menyenangkan, tidak sekadar bisa ditemukan di bioskop dalam mall. []


Baca tulisan lainnya dari terkait artikel ini

Lima ‘Bioskop’ Alternatif di Makassar

5 Film Terbaik 2015 yang Gagal Kamu Saksikan di Bioskop

Melihat Sisi Lain Negeri Panzer dari Festival Sinema

Sinema Jerman Tidak Melulu tentang Nazi

Menyibak Rahasia Gemerlap Ibu Kota