Oleh: Radillah Khaerany ( @dhilakyo )

Setelah berbulan-bulan merasa bersalah dengan seorang teman, yang dengan tiada kenal lelah menagih tulisan di segala lini media sosial secara simultan, akhirnya saya bertekad meluangkan satu hari dari rangkaian minggu malas-malasan saya untuk benar-benar menulis. Permintaan tulisan dari teman saya, Achmad Nirwan ini sebenarnya tulisan berupa ulasan tentang kota Leeds, kota tempat saya tinggal 6 bulan belakangan ini.

Saat awal menyanggupi permintaan tersebut saya berpikir, ah ini pekerjaan mudah, saya hanya perlu menulis tentang kota yang bersih dan teratur, transportasi umum yang bisa diandalkan, serta kampus yang inklusif dan sangat mendukung budaya belajar. Nyatanya ketika saya mulai menulis tentang hal-hal di atas, rasanya tidak menyenangkan, klise, membosankan, dan, yang menjadi masalah utama, saya sulit menentukan angle.

Saya mencoba beberapa kali menulis kembali dengan angle yang saya rasa lebih menarik. Nihil. Sampai akhirnya ketika saya menghabiskan tiga hari belakangan sendirian karena teman flat saya sedang ke luar kota untuk berlibur. Kampus pun sedang libur paskah dan Leeds menjadi sangat sepi hingga saya hampir mati bosan di rumah. Saya kemudian berusaha mencari aktivitas untuk mengisi hari Minggu, Senin, dan Selasa, dan saya pikir: Hey, kenapa tidak saya jadikan tulisan saja? Dan itulah latar belakang kurang penting dari tulisan ini. Saya harap cerita tentang aktivitas saya tiga hari terakhir bisa memberi sedikit gambaran tentang Leeds.

Minggu, 3 April 2016

Di hari pertama saya kesulitan menentukan akan melakukan apa. Pilihan saya ada dua, melukis keramik di studio Jack Rabbit Pottery atau ke pasar barang loak mingguan di Otley, desa kecil sekitar 30 menit perjalanan menggunakan bus dari Leeds. Kebetulan hari itu sedang cerah, hal yang jarang terjadi di Leeds –atau Britania Raya pada umumnya- yang default cuacanya mendung dan berangin. Bermaksud memanfaatkan cuaca yang sedang bagus akhirnya saya memutuskan untuk ke Otley. Otley car boot pada dasarnya adalah pasar barang bekas –atau versi kerennya, prelove- yang diadakan di Wharfedale Farmers Auction Mart setiap hari minggu dari jam 12 siang sampai pukul 4 sore. Penjual bisa datang dari mana saja asalkan membawa kendaraan, karena tarif lapakan ditentukan dari jenis kendaraan (mobil £14, van £16, dan trailer £4) dan lokasi berjualan disesuaikan dengan tempat parkir. Pembeli pun dikenakan tarif £1 untuk orang dewasa dan gratis untuk anak-anak.

Leeds_City Review_Radillah Khaerany_Revius7

Sumber: http://fattyunbound.blogspot.co.uk/

Karena sifatnya pasar terbuka, barang yang dijual di car boot ini sangat beragam. Mulai dari pakaian, alat pertukangan, buku, peralatan dapur, mainan anak-anak, pernak-pernik, benda-benda koleksi, sampai foto-foto jadul British royal family. Juga ada yang berjualan kue buatan rumah, buah, permen, dan truk makanan yang berjualan fish and chips. Yang tidak ada hanya penampilan DJ dari ibu kota yang menghentak seperti lazimnya secondhand market masa kini. Buat saya, yang paling menyenangkan, dan paling penting, adalah harga dari barang-barang yang dijual di sini. Umumnya semua barang dijual dengan harga super murah dan masih bisa ditawar. Misal, printer bekas yang masih bekerja baik dijual dengan harga £5, lampu belajar seharga £1, atau 3 buah novel yang juga bisa ditebus dengan harga £1.

Leeds_City Review_Radillah Khaerany_Revius1

Salah satu lapak di Car Boot. Foto: Radillah Khaerany

Saat saya ke pasar loak ini hari Minggu kemarin, saya tidak punya target barang tertentu untuk dibeli. Pada dasarnya saya hanya ingin melihat-lihat, mengamati kesibukan orang-orang –yang kebanyakan keluarga atau pasangan lansia unyu, it pretty much explain why it less party like-, dan membeli es krim jika sedang mood. Tapi pada akhirnya saya pulang membawa 2 buah novel, 3 tea towel, dan beberapa buah kartu pos tua. Total saya menghabiskan 3 poundsterling saja, lebih murah dari ongkos bus saya dari Leeds. Selain pasar barang loak yang super murah, perjalanan ke Otley sendiri sangat menghibur mata bagi saya. Saya selalu memilih duduk di sisi kanan bus, karena bisa dengan leluasa melihat gerombolan domba-domba gendut yang sedang merumput di padang yang hijau.

Senin, 4 April 2016

Di hari Senin saya sedang mood berjalan kaki karena kebetulan sepagian itu cuaca masih cerah. Pilihan tujuan saya jika sedang ingin jalan kaki adalah Trinity Mall, Morrison Supermarket, atau Kirkgate Market yang seluruhnya adalah area perbelanjaan walaupun dengan karakteristik dan target konsumen yang berbeda. Mungkin karena sedang rindu rumah, juga pasar di dekat rumah, saya akhirnya memilih untuk ke Kirkgate Market yang penampakannya sebenarnya sangat jauh dari pasar Karuwisi yang amigos alias agak minggir got sedikit. Saya pun mulai menyusun rencana yang cukup ambisius: beli kepiting dan memasak kepiting saos padang! Saya cukup yakin bisa menemukan semua bahan-bahan yang dibutuhkan di pasar walaupun akan sedikit menguras kantong.

Kirkgate Market adalah salah satu pasar tradisional –yang jauh dari kesan tradisional- terbesar di Eropa yang didirikan pada tahun 1857. Pasar ini didesain dalam sebuah kompleks bangunan yang luas, terang, dan bersih di mana penjual dan pembeli bisa bertransaksi dengan nyaman. Selain area indoor, juga terdapat area outdoor di bagian belakang tempat berjualan sayuran segar dan ragam rupa barang, baru maupun bekas. Di bagian indoor barang yang dijual cukup beragam. Mulai dari furniture, pakaian, mainan, sayuran dan buah segar, bunga, ikan, daging, hingga makanan seperti samosa, Turkish delight, dan makanan khas Inggris seperti fish and chips dan English breakfast. Di Kirkgate Market ini juga terdapat kios kerajaan retail Marks & Spencer, the Penny Bazaar Stall, yang didirikan untuk mengenang tempat pertama Michael Marks membuka kiosnya pada tahun 1884.

Leeds_City Review_Radillah Khaerany_Revius5

Suasana di Leeds Kirkgate Market. (Sumber: www.northleedslifegroup.com)

Kebiasaan jika ke pasar, saya akan ke bagian belakang dulu membeli sayur dan buah yang murah, setelah itu melihat-lihat barang yang di lapak-lapak sekitar, baru kemudian saya melihat-lihat di bagian dalam sambil melengkapi belanjaan saya dengan bahan-bahan kurang umum yang biasanya dijual di kios-kios bahan masakan Afrika. Di kios-kios Afrika ini kita bisa menemukan terong hijau, singkong, ubi rambat atau ubi jalar, pisang raja, buah asam, hingga penemuan saya yang paling terbaru kemarin: kelor atau moringa lengkap dengan buahnya! Saya, yang seketika makin rindu rumah, akhirnya membatalkan niat ambisius memasak kepiting dan beralih ke pallumara atau ikan masak kuning.

Leeds_City Review_Radillah Khaerany_Revius6

Kios Marks & Spencer pertama di Kirkgate Market (Sumber: www.meetinleeds.co.uk)

Pulang ke rumah dengan membawa asam jawa dan ikan sea bass, sebagai pengganti ikan bandeng, saya mulai memasak pallumara dan bahagia sebahagia-bahagianya saat akhirnya bisa makan malam nasi dan pallumara. Masakan yang di rumah muncul setiap minggu dan bahkan bikin bosan karena terlalu sering dimasak mamak. Saya sedikit menyesal karena tidak jadi membeli daun kelor dan terong hijau untuk sayur. Kalau pake sayur kelor sepertinya akan semakin afdal, apalagi kalau selesai makan ada penjual putu menangis lewat depan flat naik sepeda.

Selasa, 5 April 2016

Di hari Selasa,mood saya untuk beraktivitas di pagi dan siang hari saya menguap entah ke mana. Seharian saya hanya tiduran, main game, makan ikan pallumara yang dipanaskan berkali-kali, dan nonton The Big Bang Theory. Saya hanya berencana akan jalan sore keliling Hyde Park di belakang flat. Sampai notifikasi event dari Facebook saya muncul dan ternyata sore ini ada pemutaran film dokumenter This Is Exile dan diskusi tentang pengungsi di Hyde Park Picture House.

Leeds_City Review_Radillah Khaerany_Revius3

Hyde Park Picture House ( Sumber: www.tripadvisor.co.uk )

Mau tidak mau saya teringat pemutaran film gratis maupun berbayar yang sering diadakan di Rumata’ Art Space, Societit de Harmonie, dan Benteng Rotterdam yang biasanya mengisi akhir pekan di Makassar. Lagi-lagi dalam pengaruh rindu akut ke kebiasaan-kebiasaan selama di Makassar, saya mantap untuk ikut pemutaran film sore itu walau tanpa teman. Film akan dimulai pukul 18.30 sore dengan durasi satu jam. Karena matahari baru mulai terbenam pukul 8 malam, jadi rasa-rasanya masih aman jika saya harus jalan kaki sendirian saat pulang melintasi Hyde Park yang merupakan daerah rawan saat gelap.

Leeds_City Review_Radillah Khaerany_Revius8

Program Book Hyde Park Picture House untuk 18 Maret-12 Mei 2016. Foto: Radillah Khaerany

Hyde Park Picture House sendiri merupakan sebuah bioskop tua yang hanya memiliki satu teater. Bioskop ini dibuka pertama kali tahun 1914 dan terus bertahan hingga hari ini meskipun telah melewati dua perang dunia dan harus berkompetisi dengan perkembangan jaman seperti munculnya televisi, bioskop yang lebih besar dan modern, serta VCR, CD, dan DVD. Salah satu faktor yang mendukung keberlangsungan bioskop ini kemungkinan adalah pengambilalihan kepemilikan yang dilakukan Leeds City Council pada tahun 1989. Ya, bioskop ini milik kota Leeds dan dijaga sebagai salah satu situs budaya yang signifikan bagi kota. Maka tidak heran jika bioskop ini menjual souvenir seperti mug, tote bag, dan kartu pos. Karena pada dasarnya Hyde Park Picture House tidak hanya bioskop, tapi juga bangunan bersejarah kota Leeds.

Mug Souvenir (Sumber: www.hydeparkpicturehouse.co.uk)

Mug Souvenir (Sumber: www.hydeparkpicturehouse.co.uk)

Teater yang hanya satu-satunya di bioskop ini masih dipertahankan keasliannya lengkap dengan tempat duduk di balkon dan tirai merah yang akan terbuka saat film akan dimulai. Tidak ada ruang tunggu tempat remaja-remaja tanggung biasa duduk-duduk di lantai sambil pegangan tangan dan numpang mengecas handphone. Tidak ada loket, hanya ada satu ticket box di luar bangunan bioskop. Film yang akan ditayangkan juga tidak ditampilkan secara elektronik di sebuah layar melainkan di sebuah signing board yang diletakkan di trotoar depan. Film-film yang diputar tidak selalu yang terbaru. Setiap dua bulan Hyde Park Picture House akan mengeluarkan semacam panduan program yang berisi film apa saja yang akan ditayangkan dan kegiatan yang akan diadakan setiap minggu. Kadang mereka melaksanakan classic night dan memutar film-film klasik hitam putih atau film dokumenter pemenang penghargaan. Juga ada family day bahkan bring your own babies di mana pengunjung boleh membawa anak bayi mereka dan disediakan fasilitas seperti ruang ganti popok dan pemanas botol susu.

Kunjungan ke Hyde Park Picture House kemarin merupakan kunjungan pertama, dan saya berjanji akan berkunjung lagi setelah ini. Saya suka bioskop ini bukan hanya karena lebih murah dan dekat dengan rumah. Tapi juga karena saat nonton di tempat ini saya merasa seperti menjadi bagian dari suatu komunitas yang tidak melulu berusaha mengejar jaman. Tidak ada desakan untuk ikut dengan arus modernitas dan tidak terdikte dengan tuntutan untuk menayangkan film-film box office. Film This Is Exile yang diputar sukses buat saya menahan air mata, dan gagal, seperti penonton-penonton yang lain, selama satu jam. Diskusi setelahnya juga berjalan menarik dengan menghadirkan blogger asal Suriah dan perwakilan NGO yang bekerja dengan anak-anak pengungsi. Pada kegiatan ini pengunjung tidak dikenai biaya tetap. Setiap orang bebas membayar berapa saja yang mereka inginkan dan pada akhirnya dana yang terkumpul, sekitar 576.85 poundsterling menurut penyelenggara, akan disumbangkan untuk Save the Children dan Amnesty International.

***

Jika merujuk kembali ke kegiatan-kegiatan serupa yang diadakan di Makassar, saya merasa yang berbeda hanya masalah publikasi. Jika di Makassar kita banyak mengandalkan poster-poster digital dan publikasi media sosial melalui twitter dan instagram, di sini saya lebih sering menemui undangan event melalui Facebook. Pada laman undangan ini juga akan tercantum narasi kegiatan serta detail mengenai tempat, waktu, serta keterangan terkait pendaftaran atau harga tiket jika ada. Saya hanya perlu meng-klik “going” atau “interested” dan segala informasi terkait kegiatan serta pengingat akan otomatis terkirim ke akun saya. Publikasi yang cukup efisien menurut saya dan gratis pula! Mengingat Makassar, sejauh pengetahuan saya, tidak memiliki situs web khusus dimana kita bisa mengecek kegiatan apa saja yang berlangsung setiap minggu atau bulan, saya selalu kesulitan mencari informasi terkait event yang akan berlangsung.

Leeds pada umumnya terasa sangat Makassar bagi saya walaupun minus warung-warung coto yang saya rindukan dan bentor-bentor penguasa jalan yang tidak saya rindukan. Well, mungkin sedikit saya rindukan, sedikit. Bagi teman flat saya yang berasal dari Bandung, Leeds entah kenapa terasa seperti Bandung bagi dia. Kota ini memang tidak semodern dan sehidup Liverpool yang sangat touristy, tapi karena ketidak-touristy-annya itulah Leeds menurut saya lebih terasa seperti rumah.

Masih seperti Makassar, Leeds juga dipenuhi komunitas-komunitas independen yang asyik. Gig-gig kecil bertebaran di pub-pub lokal setiap minggunya dan pasar-pasar Etsy atau produk buatan tangan diadakan secara berkala oleh komunitas dan pemerintah kota. Semoga lain kali saya bisa lebih banyak bercerita tentang kehidupan komunitas kreatif dan mandiri di Leeds. Atau tentang klub sepakbolanya yang terasa sedang menuju senjakala. Atau tentang kampus-kampus yang inklusif di mana yang satu mengadakan Islamic week di saat yang lain sedang LGBT month. Doakan saya tidak jadi pemalas lagi dan Nirwan selalu diberi kesehatan untuk tagih tulisan saya yang biasa-biasa saja ini, hehe. Tabe’! []


Baca artikel City Review lainnya

Makassar adalah Jepang 30 Tahun yang Lalu

Laneway Music Festival dan Fenomena Kampung Sebelah

Perintis dalam Tatapan Sinis

5 Hal Unik yang Dapat Ditemukan di Taiwan

Lima Warung Bakso Paling Syahdu

Kita dan Kota Perlu Berteman dengan Lebih Banyak Taman

Kampung Melayu yang Dijaga Santo Petrus