Berawal dari kegembiraan menyusun mixtape untuk Musik Hutan 2016, tim divisi musik Revius berinisiatif untuk memperkenalkan Music Mixtape, rubrik baru yang anda baca sekarang. Untuk edisi perdana, kami pilih lima dari seluruh lagu yang sampai di meja redaksi Revius. Lima lagu ini merupakan rilisan terbaru dari masing-masing musisi terpilih, mulai dari November hingga awal Desember 2016.

Kami berharap Music Mixtape edisi pertama ini bisa menjadi representasi segar untuk pilihan playlist tiap bulan Desember–yang mungkin selalu memilih Desember-nya Efek Rumah Kaca. Mixtape ini secara tersirat pula bisa menjadi musik-tema atas letusan, perasaan, ketulusan, bahkan penyalahgunaan kekuasaan dari berbagai rangkaian peristiwa yang telah dan mungkin akan terjadi selama Desember 2016. Bersama mixtape ini, kami menyertakan ulasan singkat masing-masing lagu.

Selamat menikmati.

1. Letusan – Akbar Mandela (Makassar)
Dipilih oleh: Dhihram Tenrisau

Awal perkenalan saya dengan Akbar Mandela terjadi pada 2012. Dia, saat itu, merupakan salah satu awak dari kelompok jazz-folk Adi Duri. Kami beberapa kali bertemu di backstage.  Gaya panggungnya identik dengan kacamata, dasi kupu-kupu, dan gitar akustik yang serta merta mengingatkan saya kepada sosok Yusmario Farabi dari WSATCC dan Jarwo dari Naif. Awalnya, saya pikir dia akan “gantung gitar”, nyatanya tidak. Dia mampu menciptakan racikan musik folk dengan nuansa ambience pada Letusan yang berdurasi cukup panjang ini.

Akbar Mandela dengan kostum kebesarannya (Foto: dok. pribadi Akbar Mandela)

Akbar Mandela dengan kostum kebesarannya (Foto: dok. pribadi Akbar Mandela)

Letusan yang mengingatkan saya kepada komposisi The Trees and The Wild dan Bon Iver, juga beberapa pola akustik Tiga Pagi di album Roekmana’s Repertoire ini, seharusnya dapat digarap lebih maksimal. Lirik yang sedikit surealis dan puitik–biasanya menjadi pakem dari musik folk. Letusan mendeskripsikan, dengan sedikit berkhotbah, bagaimana letusan telah terjadi hari ini: mulai dari tragedi bom Samarinda hingga terakhir gempa di Aceh. Tuhan telah marah kepada kesombongan manusia. Hal itu juga diakui dalam wawancaranya bersama Achmad Nirwan. Sampel-sampel di lagu ini sebenarnya sudah cukup apik disertai dengan reverb vokal, namun mixing-nya masih kurang seimbang dan mengurangi nuansa khidmat di telinga. Lagu ini cukup berbeda dari beberapa tembang folk yang diproduksi para kelompok-kelompok folk di Makassar lainnya. Cocok jadi score film.

Ternyata Akbar telah merilis mini albumnya berjudul Negative Slope, dan lagu ini menjadi trek pembuka. Dan, tampaknya, Akbar Mandela perlu promo yang menarik untuk albumnya, mengingat tema yang diangkat Akbar cukup berbeda, khususnya dari perspektifnya sebagai anak yang memahami pergulatan dunia ekonomi. Hal ini semakin diperkuat dengan latar pendidikannya sebagai sarjana Fakultas Ekonomi yang sebentar lagi meraih gelar magister. Akbar Mandela mampu mendaraskan gagasan Muhammad Yunus dan Joseph E. Stiglitz ke dalam perihal yang lebih populer, metode pendidikan kritis atau alternatif yang baik. Hal menarik lainnya: Akbar Mandela menampilkan lagu-lagu dalam Negative Slope di atas panggung bersama Letus, sebuah band yang dibentuk bersama tiga sahabatnya.

Mari kembali ke Letusan. Lagu ini cukup menarik didengarkan pada malam hari saat mata hampir terlelap dan tubuh kelelahan. Dalam wawancaranya juga, Akbar mengakui lagu ini adalah sebuah proyek iseng dan “berlaba-laba”. Namun, sangat sayang jika lagu ini hanya menjadi seperti itu.

N.B. : Silakan mengunduh EP Negative Slope dari Akbar Mandela di sini.

2. Freja – Crimson Diary (Malang)
Dipilih oleh: Acoh Wahab

Saya sedang menidurkan bayi saat pertama kali mendengarkan lagu ini. Saya, dengan komposisi gerakan mengayun di tangan kiri dan menggerayangi laptop di tangan kanan, sesekali menilik tidur si buah hati. Apakah dia masih setia dengan mimik terlelapnya ataukah telah berontak karena terbangun. Lagu terputar dan dia sesekali tersenyum. Seolah pada saat bersamaan dia menikmati alur track ini. Padahal saya sedang menggunakan headphone. Setelah membaca press release, ternyata track ini, memang didedikasikan untuk buah hati salah satu personil Crimson Diary.

Senyuman anak saya tadi bak empati kepada sesama anak dari ayah pecandu musik.

Diawali dengan intro gitar yang tak berlebihan, verse lagu kemudian datang membuai, mengingatkan saya kepada sensasi yang sama ketika pertama kali mendengarkan Touch milik Dave Grohl dan Louise Post. Ada keringkihan dan ketulusan di nyanyian dan nada pengiringnya. Kita selanjutnya digiring memasuki refrain yang pengantarnya seperti dipengaruhi oleh A Design for Life-nya Manic Street Preachers. Tetapi, eksekusi nada setelah reff-nya berbeda. Crimson Diary seperti membawa kita ke suatu tempat di semesta yang bebas dari polusi gas karbon dan kebencian.

Crimson Diary, kuartet rock asal Malang. (foto: Hendisgorge)

Crimson Diary, kuartet alternative rock asal Malang. (foto: Hendisgorge)

Verse dan reff kemudian berulang. Diteruskan interlude, atau outro untuk lagu ini. Bagi siapa saja yang terbiasa dengan struktur lagu pop, termasuk saya, rasanya akan sangat tanggung ketika harus membiarkan lagu ini berakhir. Crimson Diary telah menyempurnakannya di detik ke 9 menit ke 4. Tanpa harus menggurui untuk harus ber-sing along di reff terakhir yang dibuatnya tak bersisa.

Dan, bayi saya bangun.

Saya lalu mendengarkan kembali track ini. Kali ini tanpa headphone dan dengan ditemani bayi saya. Dalam hatinya, saya bayangkan, dia berdoa untuk juga dibuatkan lagu sesyahdu ini oleh papanya.

3. Superfine – Skandal (Yogyakarta) 
Dipilih oleh: Achmad Nirwan

Saya menyarankan bagi teman-teman yang bisa memainkan alat musik untuk menyanyikan lagu ini di depan ibunda, kekasih, atau gebetan. Lagu ini sangat cocok menyampaikan perasaan tentang kekaguman dan rasa cinta terhadap perempuan yang banyak memberi banyak arti terhadap kehidupan, terutama ibu. Semakin terasa istimewa, bila bisa menyanyikannya untuk ibu saat tanggal 22 Desember nanti. Mungkin terasa berlebihan, tetapi begitulah adanya yang saya rasa dari lagu ini.

Saat mendengarkan Superfine, saya sekejap membayangkan bisa terlibat di dalam adegan film Singles. Seolah beradu akting sebagai pemeran lelaki yang berjuang menjalin kisah asmaranya. Atau terbawa bersama mesin waktu menonton komedi situasi F.R.I.E.N.D.S sambil bersenda gurau dengan Rachel Green, tokoh yang diperankan Jennifer Aniston.

Superfine merupakan single terbaru dari Skandal, kuartet alternative pop/indie rock asal Yogyakata yang dibentuk tahun 2011. Patut disimak, lagu yang secara cuma-cuma dilepas dan bisa didengarkan melalui kanal Soundcloud serta Youtube sejak hari Rabu, 30 November 2016. Lagu ini bisa dibilang menandai berakhirnya puasa rilisan dari band asal Yogyakarta tersebut selama kurang lebih 5 tahun terakhir. Dalam periode lima tahun itu, Skandal dengan personil terkini yaitu Yogha Prasiddhamukti (vocals, tambourine), Rheza Ibrahim (guitars), Robertus Febrian Valentino (guitars, vocals), dan Argha Mahendra (drums), juga sempat mengalami beberapa kali bongkar-pasang personel dan sepakat dengan situasi berjauhan jarak dengan vokalisnya yang tinggal di kota lain hingga saat ini.

Skandal asal Yogyakarta. (Foto: Mikael P. Pramasatya)

Skandal asal Yogyakarta. (Foto: Mikael P. Pramasatya)

Lagu ini menjadi satu dari sedikit materi yang baru-baru ini ditulis oleh Skandal. Superfine adalah single pertama dari debut mini album mereka bertitel: Sugar. Mini album yang juga akan segera resmi dirilis lewat dua label dan format yang berbeda. Pertama, pada 30 Desember tahun 2016 ini dalam format cakram padat melalui Yellow Records, label rekaman asal kota yang sama. Lalu yang kedua, format kaset dalam jumlah terbatas via label independen gurem baru asal Jakarta, Winona Tapes, pada awal tahun mendatang. Untuk urusan artwork, pengerjaannya dilakukan sendiri oleh gitaris dan vokalis Skandal, yang juga merupakan seniman visual muda potensial, Robertus Febrian Valentino.

Superfine sendiri oleh Skandal dianggap bisa mewakili arah kreasi musikal mereka sekarang. Mencoba mengeksplorasi estetika, sentimentalitas, kelugasan, kenaifan, melodi, dan hook dari musik dan lirik yang dihasilkan oleh para punggawa pop alternatif, power pop, rock malas, dan indie rock Amerika dan Britania dua dekade silam. Tentunya dengan sedikit twist dan sensibilitas yang dicomot dari vibrasi era band-band pop Indonesia pertengahan 90-an hingga jelang milenium.

Satu hal yang membuat saya takjub dari lagu ini adalah suara sang vokalis yang akrab dipanggil Sida. Sungguh menyatu dalam menyuarakan lirik serta impresinya. Saya tidak menyangka ia bisa bernyanyi merdu mengingat Sida juga bergabung dengan Dental Surf Combat, kuartet HC/punk asal Jakarta, tempat ia menyalak di microphone seperti Ian MacKaye. Ditambah lagi, saya pun mengenalnya sebagai reporter ketika bertemu saat meliput di sebuah festival musik rock tahunan pada tahun 2013.  Talenta yang dimiliki Sida membawa saya sepintas berimajinasi, ia merupakan pertautan antara Lester Bangs dan Mike Patton  yang sedang jamming.

Melalui rilis albumnya nanti, saya berharap Skandal bisa semakin memantik semangat dalam melakukan promo tour di beberapa kota di Indonesia. Jujur saja, lagu seperti Superfine sangat dirindukan untuk bisa disimak langsung di panggung-panggung musik, terkhusus di Makassar, kota tempat saya berdomisili. Mari sama-sama mendoakan momen itu segera terjadi. Aamiin!

4. Greedy Man – ROAR (Gowa )
Dipilih oleh: Brandon Hilton

Semakin dekat dengan Natal, hawa liburan berbalut malas mulai terasa. Kenangan masa kecil yang terselamatkan pada waktu Natal juga mulai berlalu-lalang dalam ingatan berkedok kenangan. Selain kenangan masa kecil yang terselamatkan, pengalaman saya bisa menyaksikan The Living Legend Of Indonesian Rock Band, The One And Only, Godbless, untuk pertama kali, turut menyelamatkan Desember saya tahun ini.

Kiriman email dari teman, mengetuk keheningan di tengah kekosongan. Kiriman email berisi press release dari Roar, unit Rock n’ Roll asal Sungguminasa, Gowa. Band tersebut diperkuat oleh Ikmal Firdaus (Gitar, Vocal), Sul Bahtiar (Bass, Backing Vocal), Eko Prasetyo (Gitar), dan Rama Natsir (Drum). Mereka merilis lagu Greedy Man tepat di Hari Anti Korupsi pada 9 Desember 2016 lalu. Dari press release yang saya baca, band ini berusaha menciptakan musik rock bernuansa era 70/80’an.

Roar, unit rock asal Sungguminasa, Gowa. (Foto: ROAR)

ROAR, kawanan rock asal Sungguminasa, Gowa. (Foto: ROAR)

Untuk ukuran band Rock n’ Roll atau Rock (bahkan Hard Rock n’ Roll?), band ini mempunyai drummer yang cukup terdengar metal. Atau mungkin senang berimprovisasi. Sayangnya, hal tersebut terlalu banyak. Jenis sound yang dipilih band ini juga terdengar sangat modern jika ingin menciptakan nuansa Rock 70/80-an. Band ini juga menghemat kata, Lirik yang (sangat) singkat dan reff yang terdiri hanya dari tiga kalimat saja. “Greedy Man” terselamatkan oleh part melodi di menit ke 1:50 sampai menit ke 2:36 yang terdengar pas sesuai dasar falsafah band ini terbentuk.

Saya rasa semua orang mahir mendefinisikan apa itu korupsi, apalagi koruptor. Di luar komposisi musik mereka yang warna-warni, sang vokalis harus memperbanyak latihan pengucapan dalam berbahasa Inggris. Beberapa kali dia sering terdengar kaku menyanyikan lirik di bagian-bagian tertentu. Namun, band ini, tetap berpotensi untuk lebih matang lagi jika memang terlebih dahulu mematangkan niat dan tekad untuk menjadi band Rock n’ Roll yang matang.

Oiya, ROAR bakal tampil di Musick Bus Fest #4 pada 18 Desember 2016 nanti. Dan, saya mesti menyimak penampilan mereka dalam melantunkan Greedy Man dan berharap lagu tersebut bisa lebih baik saat mereka menampilkannya di atas panggung.

5. Berita Sampah – Ujung Titik (Kendari) 
Dipilih oleh: Brandon Hilton

Belum semenit terbangun dari istirahat siang, saya menerima notifikasi e-mail dari Achmad Nirwan. Dia mengajak saya membuat review untuk lagu yang berjudul Berita Sampah dari Ujung Titik, unit alternative rock asal Kendari yang berdomisili di Malang. Band tersebut diisi oleh Riqar Manaba (vocal) dan Adhen Asharie (guitar & arranger). Lagu yang mereka yang rilis seperti peluru andalan untuk menarik telinga penikmat musik arus utama dan mengarahkan perhatian ke arah mereka yang sedang on fire.

Sebuah nilai tambah untuk lagu ini adalah liriknya yang mudah tinggal lama dalam otak. Dibalut musik rock yang bernuansa easy listening. Di luar masalah teknis internal mereka terkait posisi drum dihuni drummer loop atau tidak, saya berpendapat band ini punya kesempatan menunjukkan warna musiknya lebih pekat dan lebih matang lagi. Mereka berhasil membuat lagu ini untuk dimainkan tidak cukup hanya dua atau tiga kali sehari.

dari ki-ka: Adhen Asharie (guitar & arranger) dan Riqar Manaba (vocal) yang memperkuat Ujung Titik.

Adhen Asharie (guitar & arranger) dan Riqar Manaba (vocal) yang memperkuat Ujung Titik.

Seolah menjadi band ‘Anti-Mainstream’ yang memberikan pandangan satir atau kritik kepada band-band yang mengangkat tema cinta nan menye-menye, pada lagu ini saya justru menemukan ke-mainstream-an tanpa bisa menemukan tema yang pasti pada pendengaran pertama, kedua, dan berkali-kali. Apa yang mereka maksud dengan berita sampah? Apakah berita sampah seputar pembodohan dan penyesatan massal? Jika iya, pada lagu ini tidak terdapat sama sekali maksud atau arti dari judul yang mereka angkat.

Di luar keragu-raguan saya yang terlanjur menjadi hantu, sepertinya saya butuh mendengar keseluruhan album ini agar mendapatkan esensi ‘Anti-Mainstream’ di era Mainstreamnya Anti-mainstream. Juga esensi dari pandangan satir dan kritik mereka yang membedakan gebrakan band ini dengan band-band dengan tema cinta nan menye-menye kebanyakan. Pada akhirnya, saya membutuhkan esensi-esensi tersebut demi mengistirahatkan hantu yang bergentayangan setelah hampir tidak mendapatkan apa-apa dari lagu Berita Sampah ini. []