Co-writer: Rachmat Hidayat Mustamin ( @rachmathidayaat )

Ngabuburit-lah dengan membaca Qur’an, saran para ustadz. So, jika ada di antara kalian yang kelak ngabuburit sambil menyaksikan film-film berikut, well, setidaknya sudah kami peringati.

Menyaksikan film-film ini tidak akan membuat kalian makin rajin shalat, makin rajin puasa–bagi yang suka bolong–, apalagi makin rajin tarawih, dan di atas semua itu, tidak akan membuat kalian masuk surga. Karena film-film ini bukan film religi, melainkan film-film yang berasal dari negara-negara Islam atau mayoritas muslim yang membicarakan ketimpangan sosial dalam tatanan masyarakatnya akibat aturan ketat para penguasa yang mengatas-namakan syariat Islam sebagai dasar aturan. Namun, jika ada secercah kecil harapan penulis–semoga bisa menjadi amalan shaleh–bagi para pembaca yang tertarik mau menontonnya, semoga film-film ini bisa memunculkan sebuah pertanyaan dalam kepala kita, benarkah kita sudah menjadi muslim yang baik bagi sesama? Sudah tepatkah cara kita menilai seseorang?

Ada kecenderungan menjadi sombong jika kita menjadi muslim, karena sejak kecil kita akan mendengar para penceramah di masjid-masjid atau di berbagai jenis media menyatakan bahwa Islam adalah agama yang paling benar dan mulia. Maka, setiap kali kita melakukan tindakan yang kita pikir atas nama agama, “benar dan mulia” itulah yang kita gunakan untuk menjustifikasinya, sadar atau pun tidak. Saya sebenarnya juga percaya Islam adalah agama paling benar dan mulia–sama halnya orang-orang non-muslim juga percaya agama mereka yang paling benar dan mulia–tapi apakah para penganutnya sudah melakukan kebenaran dan kemuliaan ketika menyangkut hubungan antar sesama? Itu merupakan pertanyaan paling mainstream yang akan coba dijawab oleh film-film berikut.

 1. TIMBUKTU (Mauritius, 2014)

 Film ini dibuka dengan adegan seekor rusa tengah diburu oleh sekawanan orang bersenjata di atas mobil pickup. Rusa yang murung, di tengah hamparan padang pasir yang merah, ia berlari menghindari ajalnya. Suara-suara senjata meraung-raung. Di scene selanjutnya, patung-patung kayu terhempas, jatuh dan terlempar, sebagai simbol terhadap pemberhentian penyembahan berhala, seolah berkata, “tidak ada tuhan yang patut disembah selain Allah.” Titik. Tidak ada dialog, tidak ada diskusi, yang terdengar hanya iringan musik yang sendu.

Menyaksikan film ini seakan membawa kita kepada satu pertanyaan getir, “Betulkah Islam adalah agama yang damai?” Sekelompok orang yang mengaku jihadist digambarkan secara detail telah merampas kebebasan masyarakat Timbuktu. Orang-orang itu, dengan senjata AK-47s, setiap hari melakukan patroli, menyebarkan informasi dan aturan-aturan baru. Larangan-larangan terhadap musik, merokok, bahkan sampai dengan tata cara berpakaian sekalipun. Lalu, apakah Islam adalah agama pemaksaan?

Abderrahmane Sissako sebagai sutradara berhasil menampakkan orang-orang yang hidup di kawasan itu telah dipenuhi dengan kecemasan, ketakutan dan ketidakberdayaan. Padang pasir yang luas, namun tidak ada jalan keluar sama sekali selain mengikuti perintah dan sempitnya pikiran sang jihadist.

Anak-anak berkumpul di lapangan lengkap dengan sepatu bola dan kaos kaki kemudian bermain bola dengan imajinasi mereka sendiri. Di menit 65, ada seorang wanita diberi hukuman cambuk karena menyanyi. Belasan pasang mata hanya bisa memandang dan menyaksikan tanpa berbuat apa-apa. Sambil berkali-kali punggungnya dihantam cambukan, wanita itu terus menyanyi seakan menghibur dirinya sendiri. Di titik ini, sutradara mengusik kesadaran kita, pantaskah menghukum seseorang atas nama Tuhan dan agama?

Timbuktu memiliki kekuatan persuasif yang mengagumkan. Dialog-dialog yang pas dan memang secara sadar dibuat dengan sangat hati-hati. Penggunaan kamera yang lebih banyak statis saya kira tidak hanya untuk membuat emosi penonton tetap konsisten, tetapi juga agar penonton dapat mengikuti alur ceritanya sambil ikut berpikir tentang agamanya sendiri, tentang keislamannya sendiri, juga tentang posisinya sebagai manusia.

Bila merujuk Indonesia, juga ada kelompok yang ingin menjalankan aturan Islam sesuai syariat. Di Ramadhan seperti ini, kelompok itu bisa berpakaian apa saja dan bisa berada di mana saja. Warung-warung makan yang buka di siang hari, dirazia seperti tidak memiliki hak sama sekali. Di manakah Tuhan saat kejadian seperti ini terjadi? Apakah surga yang mereka cari di setiap razia? Jika benar iya, sepertinya mereka salah sangka dan sok tahu tentang surga.

Di Indonesia, hampir semua orang memeluk agama. Namun persoalannya adalah apakah orang-orang tersebut juga telah dipeluk oleh agama? Tak bisakah orang-orang hanya diberi kebebasan untuk meyakini apa yang mereka pilih.

Film ini menarik disaksikan di Ramadan seperti ini agar kita bisa berjihad dengan kepala, bukan dengan dan karena senjata. Sebab kita bukan rusa––seperti di awal adegan film ini––yang rela dikejar dan ditodong senjata, hanya untuk terlihat baik di hadapan Tuhan.

Di padang pasir itu, Tuhan seakan ditutupi debu, abu dan kabut. Orang-orang hanya menerka-nerka dan diserang kesimpulan-kesimpulan. (Rachmat Hidayat M.)

2. A SEPARATION (Iran, 2011)

Kita adalah penentu bagi diri kita sendiri. Penonton, atau kita, sejak dari awal film ini, diminta memutuskan siapa yang bersalah dan siapa yang benar. Sepasang suami istri duduk di depan meja hakim sambil berdebat untuk mengambil perhatian penonton. Ya, penonton diminta secara aktif untuk ikut serta menentukan siapa yang mesti dibela.

Tetapi film A Separation (2011) yang disutradarai oleh Asghar Farhadi ini tidak hanya bercerita tentang perceraian. Film ini ingin menelisik kembali makna dari kejujuran dan persepsi masyarakat tentang konstruk sosial perihal jilbab.

Iran sebagai latar belakang, tentu juga sangat dekat dengan penggunaan jilbab atau cadar. Begitu pula dengan Indonesia. Tahun 1992, ketika cadar mulai marak dipakai di Indonesia, Quraish Shibab juga ikut berkomentar di majalah Panji Masyarakat edisi Desember, “..saya tidak ingin mengatakan bahwa wanita yang mengenakan cadar itu semata-mata ukuran ketaatan beragama, seperti juga saya tidak ingin mengatakan bahwa mereka yang tidak bercadar berarti tidak taat pada agama.” Meskipun jelas saja jika jilbab dan cadar adalah dua hal yang berbeda.

Kejujuran tidak terletak dari busana apa yang melilit di tubuh seseorang. Semua orang memiliki maksud dan tujuan. Kejujuran bisa jadi adalah hal yang mahal kita dapati sekarang, melihat tingkat kepentingan tiap orang berbeda-beda. Seolah-olah kejujuran memang hanya diketahui oleh manusia dengan Tuhannya sendiri, hampir beda tipis dengan keikhlasan. Maka sangat jeli penggunaan kamera di film ini, yang memaksa penonton tidak hanya agar adil sejak dalam pikiran, tetapi kamera juga banyak menggunakan hand held, mungkin ingin menunjukkan emosi para pemainnya yang tidak menentu, goyah dan rapuh.

Kerumitan yang terkemas di dalam film ini, sama halnya ketika kita menyaksikan film Asghar Farhadi yang lain, The Past (2013). Selalu berangkat dari hal atau cerita sederhana, menciptakan masalah karakternya sendiri, sampai pada satu titik ia lalu membohongi dirinya sendiri, kemudian dikejutkan pula oleh plotnya sendiri.

Film A Separation (2011) menjadi salah satu film yang direkomendasikan di bulan Ramadan bukan hanya karena isu perceraian dan kemiskinan, tetapi perihal kejujuran dalam melakukan sesuatu. Jujur berpuasa karena menginginkan ridho Tuhan, jujur memakai jilbab karena memang pilihannya sendiri bukan karena cibiran dan ingin terlihat baik di hadapan orang lain, jujur dengan diri sendiri, apakah kita melakukan ibadah karena mencintai Tuhan, atau hanya karena takut dengan kabar neraka? (Rachmat Hidayat M.)

3. MENCARI HILAL (Indonesia, 2015)

Persoalan agama adalah persoalan batin. Situasi dan kondisi Indonesia dewasa ini masih melihat perbedaan sebagai sesuatu yang sakral. Sementara perbedaan-perbedaanlah yang mengiringi kita kepada kebenaran yang lebih benar. Mencari Hilal berhasil membuka dan membuat ruang dialog atas perbedaan-perbedaan itu. Tidak hanya dalam cakupan yang lebih luas, tetapi lebih intim dari itu semua, dialog antara pribadi dan keluarga, antara Ayah dan anak, bahkan dialog kepada diri sendiri. Saya kira menyaksikan film ini, akan timbul suara-suara yang kemudian meyakinkan hati kecil kita, sebetulnya wajah islam adalah wajah damai dan santun.

Wajah Islam yang tidak menggurui, tidak mendikte tentang apa yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim, atau sebagai seorang yang beragama. Tetapi mengajak kita ‘sadar’ kepada diri sendiri bahwa sebagai seorang yang beriman, kita harus terus belajar mengenai sikap yang ‘patut’ dan yang benar-benar patut dilakukan. Islam yang kemudian kita kenal adalah uluran-uluran tangan yang siap menerima perbedaan secara utuh dan total. Toleransi pada akhirnya tidak hanya dipahami lagi sebagai definisi, tetapi secara praktikal yang efisien.

Diperankan oleh Deddy Sutomo sebagai Mahmud, dan Oka Antara sebagai Heli, anaknya. film ini mengajak kita berjalan-jalan tentang proses pencarian. Meskipun ‘menemukan’ bukan berarti harus diawali oleh pencarian. Setelah menonton film ini, saya sebagai pribadi diingatkan kembali bahwa sesuatu yang besar, selalu diawali dengan hal-hal yang sederhana. Menancapkan kesan mendalam kepada penonton tidak harus dengan pendekatan akting dan sinematografi yang ‘teriak’, tetapi cukup dengan dialog yang jujur, cukup, pas, dan apa adanya.

Saya kira film ini adalah refleksi kenyataan. Bagi saya, salah satu hal yang mengasyikkan ketika menonton film adalah kita bisa membayangkan, melihat, dan menyimak ‘sesuatu’ yang tidak tampil dalam layar. Kita bisa melihat keluarga kita sendiri, Ayah kita, atau siapa saja yang dekat dengan kita, juga kita melihat diri kita sendiri di dalam sana. Tidak sedikit orang yang merasa kurang sependapat dengan Ayahnya sendiri. Kadang kita merasa marah dengan Ayah sendiri, namun hal-hal itu kemudian tak terungkapkan karena jurang pemisah itu begitu luas. Maka tidak sedikit hubungan antara Ayah dan anak menjadi renggang karena tak adanya ruang dialog dan diskusi mengenai perbedaan itu. Tetapi meskipun begitu, perbedaan-perbedaan yang timbul di dalam rumah––apapun yang Anda sebut sebagai rumah––pasti akan diakhiri dengan keterbukaan dan penerimaan.

Sehingga pada akhirnya, sebagai seorang muslim sejati, penerimaan dan toleransi keragaman umat adalah titik penting yang tidak boleh diganggu-gugat. Saya percaya, film ini adalah titik temu perbedaan-perbedaan itu semua, bagaimana masyarakat antara masyarakat, antara kelompok dan kelompok, antara individu dan individu bisa saling mengisi dan saling mengerti tanpa saling mencaci.

Dalam suasana Ramadan ini, kiranya baik untuk menyaksikan film Ismail Basbeth ini. Sebagai sutradara “Mencari Hilal”, ia telah berhasil menyebarkan prinsip-prinsip dan cita-cita islam dengan cara yang baik sekali. Saya menginterpretasi Ismail hanya ingin menyebarkan ‘kebenaran’ yang bebas dari emosi, juga terlepas dari tirai tebal hawa nafsu. Maka mungkin saja Anda, terutama saya sendiri, bisa mendapatkan ‘hilal’ tanpa slogan-slogan yang dapat menimbulkan perpecahan umat. Sebab hanya dengan jalan seperti itulah kita dapat membuat pertimbangan-pertimbangan yang wajar. (Rachmat Hidayat M.)

4. TAXI (Iran, 2015)

Sejak 2010, Jafar Panahi, sutradara kenamaan Iran ini dilarang oleh negaranya untuk membuat film. Hukuman ini berlaku selama 20 tahun. Panahi dimusuhi negaranya karena kerap membuat film yang dianggap propaganda. Film-film Panahi umumnya bercerita tentang kemiskinan di Iran, kesulitan yang kerap menimpa anak-anak dan perempuan di sana berkat kebijakan atau aturan ketat yang diberlakukan oleh pemerintah Iran yang merupakan Repubik Islam. Sejak 2010 juga, larangan pemerintah tersebut tidak membuat Panahi gentar. Hingga kini ia telah membuat 3 film, baik dokumenter maupun semi-dokumenter, yang ia buat tanpa sepengetahuan atau harus meminta persetujuan pemerintah. Baginya, tak ada yang bisa menghalanginya mengekspresikan ide-idenya.

2015 lalu, Taxi menjadi film terbarunya. Panahi menjadi aktor utama di film ini, di mana ia berpura-pura menjadi sopir taksi sembari mengelilingi ibukota Teheran mencari penumpang. Namun hampir semua penumpang mengenalinya, yah, berarti memang Panahi populer di sana. Perjalanan Panahi mencari penumpang kemudian menggiring kita untuk lebih dekat melihat wajah Teheran melalui penumpang-penumpang yang naik-turun. Kita akan bertemu seorang penumpang laki-laki dan perempuan yang mendebatkan efek berlakunya hukuman mati di Iran, kita juga akan bertemu dua orang nenek yang masih begitu percaya kekuatan mistis, kita akan bertemu ponakan kecil Panahi yang mendapat tugas dari gurunya membuat film yang hanya boleh memperlihatkan kebaikan, bukan kejahatan. Perjalanannya juga menyinggung problem kemiskinan dan maraknya pembajakan film di Iran berkat aturan sensor yang begitu ketat yang diberlakukan negara mereka.

Hikmat Darmawan, salah seorang kritikus film kenamaan Indonesia, pernah membagi pandangannya akan perkembangan film Islam di Indonesia melalui cinemapoetica.com. Menurutnya, watak film Islam Indonesia kebanyakan bersifat dakwah yang mendoktrin. Kalau di Iran, terdapat propaganda untuk menumbangkan kezaliman. Di Indonesia, film dakwah lebih menekankan pada keselamatan pribadi. Islam yang berkembang dalam film Indonesia lebih sebagai solusi kemiskinan yang bukan untuk membuat orang adil, tetapi lebih membuat individu menjadi kaya.

Taxi memang bukan film religius, tapi berhasil memotret kegelisahan orang-orang yang hidup di negara Islam. Sebuah film yang dibuat guna membangun kesadaran kolektif masyarakatnya yang tidak hidup dalam kekangan, bukan untuk membuat mereka justru berpuas diri semata-mata karena mereka sudah menjadi muslim. Panahi tak berniat menceramahi, tapi ia ingin menunjukkan fenomena tersebut dan mengembalikannya ke penonton, sekiranya mereka mempertimbangkan. Mungkin inilah yang Hikmat Darmawan maksud, mayoritas sineas di Iran dikenal oleh dunia intenasional karena kepekaan mereka terhadap lingkungan sosial dan cara kerja pemerintahannya. Bayangkan para sineas ini tinggal di negara Islam tapi mereka tidak pernah membicarakan keselamatan dan kesejahteraan pribadi lewat jalan agama melalui film-filmnya, karena mereka tahu ketidakadilan dan ketimpangan hak asasi masih terjadi di sekitar mereka di bawah aturan ketat pemerintah yang dianggap sesuai syariat agama. Tantangan yang Iran hadapi kini boleh menjadi renungan bagi Indonesia di mana Islam juga mempunyai andil yang cukup besar dalam mengontrol perilaku masyarakatnya. Iran boleh jadi disebut negara Islam, tapi apakah dengan menjadi negara Islam kini masyarakatnya menjadi makmur? (Kemal Putra)

5. WADJDA (Arab Saudi, 2012)

Ketika Wadjda pertama kali dirilis di Venice Film Festival 2012, banyak yang terperangah. Tak pernah ada yang menyangka bahwa Arab Saudi, negara di mana industri filmnya sangat ketinggalan dan bioskop dilarang, di mana perempuan tidak boleh membuka akun rekening di bank kecuali atas izin suami dan tidak boleh menyetir mobil kecuali mendapat izin keluarga, menghasilkan sebuah film yang di-shoot sepenuhnya di Arab Saudi dan disutradarai perempuan, ini belum pernah terjadi sebelumnya di sana.

Arab Saudi kini mencoba bersikap liberal terhadap perempuan, tapi keadaan belum sepenuhnya baik, tentu saja karena pandangan konservatif masih berpengaruh. Jadi, ketika Haifaa al-Mansour, sang sutradara memutuskan membuat film ini, tujuannya tidak lain adalah untuk memberikan suara bagi kaumnya, perempuan, yang kerap menjadi manusia nomor dua di Arab.

Wadjda adalah nama gadis cilik pelaku utama dalam film ini. Ia memberanikan diri mengikuti lomba mengaji di sekolahnya dengan harapan hadiah uang yang akan ia dapatkan bisa ia belikan sepeda. Wadjda menginginkannya untuk balapan dengan Abdullah, tetangganya yang sering menjahilinya menggunakan sepeda. Wadjda sebenarnya berasal dari keluarga kelas sosial menengah-atas, namun orang tuanya tak mau membelikannya karena di sana perempuan terhormat dilarang bersepeda.

Harapan Wadjda bisa memiliki sepeda adalah simbol dari harapan al-Mansour agar perempuan juga mendapatkan kebebasan dan kesetaraan di negaranya. Melalui Wadjda, al-Mansour akan menggiring kita ke dalam dunia perempuan Arab saat ini, yang mungkin sutradara laki-laki tak sanggup lakukan. Kita akan diperlihatkan pahit manis yang dirasakan perempuan-perempuan ini menggunakan burqa, dan bagaimana burqa membentuk pola pikir mereka. Juga diperlihatkan kondisi perempuan yang miris dalam pernikahan. Mereka takkan pernah tahu akan menjadi istri ke berapa, sewaktu-waktu suami mereka bisa saja menikah lagi, salah satu alasannya adalah jika si istri tidak bisa memberikan keturunan laki-laki, seperti yang menimpa Ibu Wadjda. Juga intimidasi terhadap perempuan bukan sekedar datang dari kaum laki-laki, tapi bahkan dari sesama kaum perempuan. Dan melalui si tokoh utama, kita belajar bahwa pola pikir patriarki sudah direcoki dalam kepala mereka sejak kecil.

Arab Saudi bisa dibilang jadi salah satu negara paling penting bagi Indonesia. Indonesia negara bermayoritas muslim kerap mengunjungi Arab Saudi guna melaksanakan salah satu rukun Islam, yakni melaksanakan haji. Selain itu cara berpakaian dan berpenampilan kaum muslim Indonesia juga cukup dipengaruhi cara Arab. Nah, sekarang melihat sebuah kasus pemerkosaan yang baru-baru ini menyita banyak perhatian, beberapa pandangan beranggapan bahwa “salah si perempuan” karena berpakaian tidak tertutup, maka mengundang birahi. Namun jauh sebelum kasus perkosaan ini menyeruak dan menghebohkan, sejak dulu perempuan Indonesia memang kerap disalahkan setiap kali mereka jadi korban pemerkosaan. Tontonlah Wadjda dan perhatikan, apakah kondisi perempuan di sana menjadi lebih baik karena mereka memakai hijab? Dan apakah sikap laki-laki di sana menjadi lebih lembut dan toleran karena perempuan memakai hijab? (Kemal Putra)


Baca tulisan lainnya

Kisah Laila yang Belum Pernah Diceritakan

Perlawanan Seorang Sastrawan Sosialita

Komedi yang Dibatasi Konklusi Sendiri

Kisah Pemuda yang Berpikir Dirinya Berasal dari Bira

Pulau Buru Tanah Air Beta, Ketika Monumen Memori Berkisah

Melihat Transgender dengan Lebih Baik

5 Film Paling Dinanti yang Bakal Gagal Kamu Saksikan di Bioskop Tahun 2016