Ilustrasi: Andi Wirangga L. ( @andiwirangga )

Sekitar empat, lima tahun yang lalu, orang-orang yang mengenal saya sebagai penikmat film, juga mencap saya sebagai penonton anti-film Indonesia, ketika kenyataannya tidaklah demikian. Pada tahun-tahun tersebut, banyak yag tidak mengetahui bahwa di sela-sela kegemaran saya menyaksikan film asing, saya juga memiliki beberapa daftar film Indonesia favorite; Banyu Biru (2005), Tiga Hari untuk Selamanya (2007), Jermal (2008), Jakarta Maghrib (2010) adalah beberapa di antaranya. Harus saya akui, saat itu, saya memang jarang menyaksikan film-buatan dalam negeri, semata-mata karena saya kesulitan menemukan film Indonesia dengan cerita yang menarik.

Seiring bergantinya tahun, entah mengapa, saya tidak lagi dicap demikian. Saya rasa, mungkin karena seiring berjalannya waktu sampai sekarang, walau Indonesia bukanlah negara yang ramah menghasilkan film, tapi kualitas film yang ditawarkan semakin baik dan variatif, sehingga memberi saya kesempatan dan semangat untuk menyaksikan lebih banyak film Indonesia. Banyak dari film-film ini tidak lagi digunakan sebatas entertainment, tapi juga berbicara mengenai hal-hal yang tabu atau isu sosial yang layak diperhatikan dan berhasil menarik perhatian festival film dunia. Biasanya film-film seperti ini diproduksi secara independen, sebut saja What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013), Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2014), Selamat Pagi, Malam (2014), Siti (2015), A Copy of My Mind (2015), dan lainnya.

Di Hari Film Nasional tahun ini, saya ingin berbicara mengenai sutradara-sutradara yang karyanya saya anggap sebagai pembaharu, menjadi alternatif bagi warna perfilman Indonesia, yang karya-karya mereka selanjutnya selalu layak dinanti. Sutradara-sutradara yang berhasil membuat saya selalu percaya dengan kualitas film Indonesia. Kini, ada banyak sutradara Indonesia yang saya sukai karyanya, namun ke-lima sutradara berikut adalah yang saya harapkan bisa muncul lagi dengan karya terbaiknya.

1. Nia Dinata

Sumber foto; Muvila.com

Sumber Foto: Muvila.com

Ketertarikan saya terhadap film Indonesia mungkin diawali dari Berbagi Suami (2006). Waktu itu saya terpesona melihat film yang bisa begitu lucu tapi juga kritis. Sangat dekat dengan gaya hidup di Indonesia di mana poligami adalah hal yang diizinkan, tapi bukan berarti diterima dengan lapang dada oleh semua kalangan, apalagi perempuan. Film ini tidak hanya menyentuh golongan asli Indonesia, tapi juga golongan pendatang seperti warga Tiong-hoa, membuat Berbagi Suami tampak sangat kultural. Berbagi Suami kemudian menggiring saya untuk menyaksikan karya terdahulu Nia berjudul Arisan! (2003). Film yang masih mengusung ide sesensitif Berbagi Suami, tentang istri-istri bersuami kaya yang haus perhatian, ditambah dua karakter homo. Lagi-lagi temanya yang kritikal namun dinarasikan dengan komedi, menggelitik lebih tepatnya.

Kepiawaian Nia melihat fenomena sosial, utamanya yang dialami oleh perempuan, lalu menceritakannya dengan penuh pengertian tanpa pernah membuatnya menjadi getir, malahan lucu, membuat saya rindu untuk melihat ia kembali menghadirkan tontonan baru.

2. Teddy Soeriaatmadja

Teddy hadir membawa warna baru ke dalam perfilman Indonesia melalui Lovely Man (2011), Something in the Way (2013) dan About a Woman (2014). Tiga film yang sensasional karena berbicara seks, namun kontroversial karena berlatarkan agama. Padahal dalam lingkungan sehari-hari, apa yang kita saksikan di ke-tiga film ini bukanlah hal yang baru. Masyarakat mungkin hanya terlalu munafik untuk mengakuinya.

Kritikus film, Hikmah Darmawan dalam sebuah wawancara dengan Cinema Poetica beberapa waktu lalu memberi pandangan terhadap perkembangan film Islam di Indonesia. Menurutnya, watak film Islam Indonesia kebanyakan bersifat dakwah yang mendoktrin. Kalau di Iran, terdapat propaganda untuk menumbangkan kedzaliman, di Indonesia, film dakwahnya lebih menekankan pada keselamatan pribadi. Islam yang berkembang dalam film Indonesia lebih sebagai solusi kemiskinan yang bukan untuk membuat orang adil, tetapi lebih membuat individu menjadi kaya.

Propaganda untuk menumbangkan kedzaliman, seperti itulah saya melihat ke-tiga film Teddy tersebut. Saya selalu melihatnya sebagai film Islam yang bukannya berbicara tentang kemaslahatan seperti kebanyakan film-film Islam Indoensia yang kerap tayang di bioskop, melainkan film Islam yang menantang mindset sosial yang selalu melihat Islam semata-mata sebagai simbol. Bahwa apa yang nampak berarti bisa diukur, padahal kepribadian manusia melebihi apa yang bisa dilihat. Jika nanti Teddy muncul kembali dengan karya yang baru, tentu saya berharap ia hadir lagi dengan sebuah tantangan.

3. Edwin

Sumber Foto: arkipel.org

Sumber Foto: arkipel.org

Jika ditanya apa film Indonesia favorite saya sepanjang masa, mungkin saya akan menjawab Babi Buta Yang Ingin Terbang (2008). Bukannya menggunakan narasi lurus yang kerap ditemukan di film-film Indoensia kala itu, Babi Buta justru hadir dengan narasi yang bergerak bebas, scene-scene yang dihadirkan adalah gabungan antara potongan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan secara tumpang tindih tanpa usaha menjelaskannya secara rinci ke penonton. Di luar keeksentrikan narasinya, Babi Buta mengangkat isu yang telah lama didiamkan. Diskriminasi bagi kelompok minoritas yang tumbuh di masa pemerintahan Soeharto, menjadi korban sebuah peristiwa yang bagi kelompok mayoritas adalah masa lalu, tapi bagi mereka adalah trauma.

Edwin merupakan salah satu sutradara Indonesia yang saya harap lebih dikenal secara luas oleh penonton Indonesia itu sendiri. Seingat saya, tak satu pun film-filmnya pernah ditemukan di bioskop konvensional, bahkan ketika film terakhirnya menggunakan aktor tenar Nicholas Saputra dan Mariana Renata dalam Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband (2013). Menyaksikan karya-karya Edwin mungkin jauh dari kata menghibur, tapi begitu dekat dengan makna experience.

4. Andri Cung

Jika Nia Dinata memberi suara bagi perempuan untuk didengarkan, lewat The Sun, the Moon and the Hurricane (2014), Andri memberi suara bagi kaum homoseksual untuk dipahami. Lewat The Sun, Andri memperlihatkan bahwa kaum homo juga punya permasalahan yang sama layaknya kaum straight,  bahwa pencarian cinta dan rasa sakit hati adalah persoalan universal. Ironisnya mereka kerap dipandang sebagai kaum yang spesial, padahal image tersebut hadir karena mereka adalah korban diskriminasi. Walau tidak tayang di bioskop karena dianggap akan mengundang kontroversi, saya rasa film ini sebenarnya hadir untuk menjembatani perbedaan pandangan yang terjadi di lingkungan sosial mengenai kaum homo.

The Sun dibuat ketika penolakan terhadap kaum LGBT di Indonesia belum sekeras sekarang. Menariknya, seolah menantang penolakan, beberapa waktu lalu film ini diputar di Semarang diikuti diskusi terbuka bersama Andri. Saya melihat ini sebagai sebuah tindakan yang berani dari Andri, menghadapi publik tepat ketika tema yang ia singgung sedang bergejolak. Saya tidak ingin Andri hanya akan dikenang sebagai sutradara one hit wonder. Semoga di masa yang akan datang, Andri hadir kembali dengan cerita yang selama ini tabu diperbincangkan di masyarakat.

5. Aditya Ahmad

aditya ahmad_Revius

Sumber Foto: shespeaksmovies.com

Sepatu Baru (2014) adalah tipikal film Makassar, berbau mitos dan kebiasaan. Bedanya, Sepatu Baru adalah jenis film yang akan dibicarakan setelah disaksikan, karena tidak semua penonton paham dengan motif si anak gadis dalam film ini. Sepatu Baru memiliki visual striking yang didominasi warna biru, serta dinarasikan ibarat listrik, menyetrum. Semuanya tergantung dari bahasa tubuh si pemain, karena hampir tak ada dialog di dalamnya. Inilah jenis narasi yang membuat kita tetap menikmati filmnya walau tak tahu tujuan dari ceritanya. Mitos, di beberapa film Makassar, selalu identik dengan ketertinggalan yang dibenturkan dengan pengetahuan yang lebih maju. Di Sepatu Baru, Aditya tidak membenturkan mitosnya dengan gagasan yang lebih modern, sehingga tidak ada unsur ironis di dalamnya. Diceritakan melalui keluguan seorang gadis kecil, keluguan inilah, bukan mitosnya, yang membuat ceritanya menjadi jenaka.

Pasca kesuksesan Sepatu Baru yang menggema hingga Berlin Film Festival 2014, saya berharap Aditya mendapat kesempatan untuk berkarya dalam platform yang lebih besar, film panjang. Dengan bakat penyutradaraan yang ia miliki, tentu kita berharap Aditya tidak dikenal selama-lamanya hanya dengan Sepatu Baru.


Baca artikel lainnya dari Kemal Putra

Perempuan Selalu Hidup di Perfilman Indonesia

SEAscreen Academy 2016: Persiapan Sebuah Feature Film Melawan Mainstream

Hukuman dan Perubahan di Penghujung Musim

The Layar Tancap: Satu Lagi Bioskop Alternatif di Makassar

Surat Cinta dari Joko Anwar

5 Film Paling Dinanti yang Bakal Gagal Kamu Saksikan di Bioskop Tahun 2016