Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Sebenarnya, saya agak ragu untuk menuliskan ini.

Ragu karena membayangkan kemungkinan saya diteror oleh para Vegetarian segala level karena suka memakan daging. Dicap predator dan pemangsa binatang berhati dingin. Tapi, saya memilih untuk berpikiran positif saja kalau orang yang suka makan sayur itu baik hati. Selain itu, ketidaktegaan saya makan sate kelinci bisa dianggap sebagai sebuah bukti bahwa hati saya tidak dingin, mungkin hangat.

Ragu yang kedua adalah membayangkan saya dianggap memilih jalan yang salah dalam persoalan mengistimewakan sapi oleh para pemeluk agama Hindu. Mereka mengistimewakan sapi untuk alasan yang mulia dan saya tersentuh dengan alasan tersebut. Saya juga sebenarnya mengistimewakan sapi, kalau dilihat dari sisi yang berbeda.

Ragu yang ketiga karena harus menjelaskan perasaan saya terhadap bakso-bakso di dunia yang penuh dengan keragaman selera. Kalau saya bilang tidak enak pada bakso yang kamu suka, nanti kamu tersinggung. Padahal saya tidak berniat seperti itu. Saya tidak berusaha menjatuhkan selera atau memaksakan selera saya ke kamu. Saya hanya berusaha jujur, karena kamu mungkin tidak suka dibohongi.

Kecintaan saya pada bakso dan tuntutan Editor membuat saya memutuskan untuk menghapuskan segala keraguan yang ada dan mengelompokkan bakso-bakso tersebut ke dalam kategori yang diambil dari judul lagu dangdut, karena saya dan bakso memiliki kisah yang syahdu.

Eh, tapi sebelum kamu mulai, ketahuilah saya agak buta masalah bumbu dapur dan lidah saya hanya bisa mengenali rasa asin, kecut, manis, pedas, pahit, dan hambar. Kamu tidak akan menemukan penjelasan mendalam persoalan bumbu. Bagi saya, bakso hanya punya tiga rasa: Enak Tak Berbekas, Enak Harus Coba Lagi, dan Enak Yakin Sekali Mi.

Kamu tidak keberatan dong? Sudah, baca aja.

1. Warung Budi Luhur (Mas Bro)

Budi Luhur1

Singgahki, Mas Bro

Awal perkenalan dengan bakso Mas Bro, ketika saya sedang dalam perjalanan pulang ke kost teman saya, Wana. Waktu itu belum terlalu larut, tapi sudah memasuki jam-tidak-masuk-akal untuk menginginkan bakso. Tapi, kami sama-sama yakin (atau ngotot) kalau masih ada harapan hari kami akan diakhiri dengan semangkuk bakso.

Berjalanlah kami di atas kedua kaki kami sendiri setelah turun dari pete’-pete’ trayek J menuju ke arah UNM Pendidikan sambil membicarakan bakso. Ketika sampai di perempatan Tamalate dan Tidung, jalanlah terus menuju Jalan Skarda 1. Kalau kamu dari arah UNM Pendidikan, maka warung bakso ini ada di sebelah kanan.

Pada saat itulah Warung Budi Luhur menyelamatkan kami dari rasa lapar dan lidah yang menuntut. Masuklah kami ke warung itu dengan tenang dan senang. Makanan selalu bisa membuat kami senang, begitulah.

Pada pertemuan pertama itu, saya ingat pada saat itu saya bersyukur betapa warung ini dekat dari rumah, saya bisa ke sini sering-sering. Ya, seperti itu enaknya bakso Rp.8000 Warung Budi Luhur.

Lalu, di suatu hari yang random, dalam perjalanan ke kampus bersama teman saya yang lain, Mutia. Saya kembali ke warung ini. Itulah hari di mana saya percaya bahwa rasa lapar memang dapat memengaruhi cara lidah mengecap rasa. Hm, mungkin karena selama ini makanan yang saya makan selalu terasa enak. Saya selalu kelaparan.

Budi Luhur2

Jenis bakso: Cintaku Tergusur – Rano Karno

Mungkin sudah takdir cintaku tergusur
Rela tidak rela aku harus rela
Aku hanya orang kampung

2. Bakso Podomoro

Podomoro1

Kalau kamu jalan-jalan ke kantor, kita bisa dapat layanan delivery.

Siang itu saya sedang di kantor, kelaparan. Joem, teman sekantor saya menyarankan Bakso Podomoro. Hanya 20 meter dari kantor kami yang berlokasi di jalan Adiyaksa Baru. Bakso ini mangkal dari pagi jam 10 hingga jam 4 sore. Pas sekali untuk perut lapar, selera lidah, dan kemalasan kaki berjalan. Joem menyarankan saya untuk memesan mie ayam juga. Tapi, karena bakso selalu bisa memenangkan hati saya, saya memutuskan untuk memesan bakso.

Saya tidak kecewa. Bakso tidak pernah mengecewakan. Syahdu sekali.

Namun, itu semua berubah sejak pertama kali saya memesan mie ayam yang juga Rp. 8000 itu. Mie ayam Mas Anom (kebetulan kami sudah berkenalan) lebih enak daripada baksonya. Entahlah, saya tidak bisa menemukan zona nyaman saya dengan kuah bakso Podomoro. Tapi, saya tidak bisa bilang “tidak” kepada baksonya. Makanya, setiap memesan mie ayam saya selalu mengucapkan kalimat ini; “tambah bakso ta’ tiga ribu nah, Mas”.

Podomoro2

Jenis bakso: Cinta Rahasia – Elvy Sukaesih

Tak pernah terucapkan kata kata cinta
Tapi sinar matanya membuka rahasia
Terasa terasa sungguh sangat terasa

3. Bakso Granat Arema

Arema1

Walaupun nyempil, kamu tidak akan tersesat kok.

Tempatnya agak tersembunyi. Kalau malam, daerah di sekitarnya agak gelap. Tapi, pengalaman menahun pulang lewat jalanan itu membuat saya yakin untuk menjamin bahwa tidak ada geng motor tukang busur yang main ke sana. Masuk lewat jalan Raya Pendidikan, lalu perempatan pertama pertama belok kanan, di situlah ia bersemayam.

Bakso Granat Arema memikat saya lewat namanya. Membayangkan memakan bakso yang kenikmatannya meledak-ledak dalam perut. Saya memutuskan untuk singgah ke sana pada suatu siang.

Warung itu memiliki banyak jenis bakso. Saya memesan bakso urat dengan harga Rp. 8.500, mencoba menguji opini seorang teman, Kak Langgo yang pernah berkata: “itu bakso, kalau enak bakso uratnya, berarti enak mi itu”.

Tapi, setelah sampai di suapan terakhir saya menyimpulkan bahwa saya harus datang lagi nanti. Bakso uratnya enak, tapi belum nendang. Jenis bakso yang oke untuk dimakan, tapi tidak akan terlalu dirindukan. Saya bukan satu-satunya orang yang suka rindu sama bakso, kan?

Mungkin hal itu terjadi karena saya mengkhianati niatan awal untuk makan bakso granat dengan malah memesan bakso urat. Sepertinya, orang bijak benar ketika berkata kita harus mengikuti kata hati.

Saya harus datang lagi nanti, untuk menebus dosa.

Arema2

Jenis Bakso: Suara Hati – Manis Manja

Ku tak akan bersuara
Walau dirimu kekurangan
Hanya setiamu
Itu yang kuharapkan

4. Bakso HW

HW1

Gerimis mengundang, mengundang makan bakso.

Lokasinya di BTN Hamzy. Saya sedang di rumah teman sore itu. Sedang gerimis dan saya belum makan sejak pagi. Saya tidak berniat untuk makan di warung HW, sebenarnya. Ada penjual bakso lain andalan saya yang sering mangkal di Hamzy, tapi di sore gerimis itu Mas baksonya tidak mangkal. Saya kecewa.

Maka, saya menuju warung Bakso HW yang berada di jalan utama BTN Hamzy, sekitar 50 meter dari jalan Raya Perintis, demi menghindari headline koran esok hari; “Seorang Perempuan Mati Kelaparan di Tengah Hujan”. Itu headline yang sedih sekali.

Tidak banyak yang bisa diceritakan selain sebuah pengalaman mencoba bakso baru. Saya memesan bakso tenes yang  Rp.9000, bersama pengunjung lain tenang dalam hujan.

HW2

Jenis bakso: Teman Biasa – Evie Tamala

Mulai sekarang kau anggaplah,
diriku ini teman saja
Tak mungkin ku paksakan, untuk
mencintai kamu

5. Bakso Simpati

Simpati1

Maju mundur cantik di BTP.

Save the best for the last. Bakso Simpati juga adalah saran dari teman saya, Upay. Kala itu, kami sedang tinggal bersama mencoba menjalani kehidupan rumah tangga yang mesra. Pagi pertama saya bangun tidur, saya merasa lapar. Upay bilang, saya lebih baik menunggu bakso gerobak yang akan lewat tidak lama lagi. Saya menurut, karena kebetulan hari itu tidak ada kuliah jadi saya tidak buru-buru ke kampus. Selain itu, testimoni Upay benar-benar meyakinkan. Mengingat Upay juga adalah salah satu dari perempuan penyuka bakso, saya memilih untuk percaya dan menunggu.

Keputusan saya tepat. Baksonya enak. Upay cocok jadi brand ambassador Bakso Simpati.

Beberapa teman saya memiliki pendapat sendiri mengenai bakso yang enak. Ada kelompok yang percaya bahwa jika kuahnya enak maka enaklah bakso tersebut. Ada juga yang percaya bahwa kuah itu hanya pendukung, bakso adalah elemen paling penting di setiap mangkuknya.

Bakso Simpati adalah bakso yang dapat menyatukan dua kelompok itu dalam damai. Semuanya enak. Kuah, bakso telur, bakso urat, bahkan sebagai seorang yang tidak begitu suka tahu, saya jarang melewatkan tahu jika saya memesan bakso Simpati.

Selama berdomisili di BTP, saya akan dengan rela lapar sepanjang pagi untuk menunggu bunyi ketukan bambu yang menjadi tanda kehadiran bakso gerobak yang berkeliaran di Permukiman Bumi Tamalanrea Permai tersebut. Mas-mas penjual bakso biasa mulai berkeliaran mulai dari tengah hari hingga sore. Tapi, karena mereka berkeliling, jadi agak sulit memastikan kapan mereka muncul. Untungnya pasukan bakso Simpati tidak sedikit, jadi penantian tidak akan mengecewakan.

Satu hal lain yang membuat bakso Simpati menjadi salah satu bakso favorit saya adalah sesuai namanya Ia sangat bersimpati pada selera dan keungan umat. Kita bisa pilih suka-suka isi mangkok dan bisa membeli dari harga Rp.7000 sampai tak terhingga.

Tunggu saja bunyi ketukan bambu dari senin sampai sabtu di BTP. Khusus untuk hari minggu, bersiap untuk cari makan siang yang lain. Mereka libur.

Simpati2

Jenis bakso: Salam Sayang – Cucu Cahyati

Janganlah kau lupa
Ceritakanlah padanya
Badanku kurus karna memikirkan dia

Sudah. Apa menurut kamu ada yang hilang dari daftar di atas? Jangan sungkan untuk menyarankan saya ke mana lagi harus melangkah dan mengunyah. Siapa tahu tulisan ini bisa punya sequel, begitu.

*sendawa*