Oleh: Muhammad Aswan Pratama ( @aswan_pratama ) | Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Menjadi penikmat angkutan umum di kota ini, menyenangkan. Bisa bertemu banyak orang baru tiap harinya, mendengar pengalaman hidup supirnya, bisa belajar rute jalan, dan yang paling utama bisa melihat adik-adik SMA, kakak-kakak karyawan, dan rekan-rekan mahasiswi yang manis-manis…hahahaha.

Tapi yang menyedihkan, kita bisa mendengar gosip yang tidak penting, orang yang mencari perhatian dengan mengeraskan suara ketika membahas sesuatu—apalagi bila itu mengenai kelebihan dirinya—, dan  yang paling utama fenomena yang saya sebut Lingkaran Setan Lalu Lintas Makassar (Lisan Liar)….hihihiks.

Lisan Liar adalah proses saling menyalahkan yang tidak berujung. Saya pernah naik ojek dari dekat ex-adipura menuju rumah teman saya di BTP, tidak terlalu jauh tapi termasuk pengalaman menegangkan, lambung (Salip) kiri-kanan dilakukan agar cepat sampai. Dan yang paling memorable, ketika me-rem mendadak karena ada Pete-pete yang tiba-tiba berbelok untuk menurunkan penumpang. Tukang ojeknya mengeluh “Mentong ini Pete-pete sudah bikin macet, bahaya lagi suka ‘kiri’ tiba-tiba!” yep, ungkapan menyalahkan!

Pulang-pergi kampus, saya naik Pete-pete. Dalam perjalanan, saya suka melihat tumpukan uang di dekat setir atau rem tangan. Karena jumlah uang di sana berkorelasi dengan mood supirnya (kebetulan waktu itu jumlah uangnya masih sedikit), “untuk makan belum cukup”, katanya. Lalu, sesuai “teori mood supir Pete-Pete” tadi, maka supir Pete-Pete akan selalu mencari alasan untuk marah, “Ah! ini motor suka nda liat sein main lambung saja”, “Ah! ini taksi lamanya, dia enak dingin dan banyak bayarannya”, atau “Ah! ini mentang-mentang mobil pribadi lambasa’na (lambat), malla’ki (penakut), jabena (manja)!” ungkapan menyalahkan lainnya.

Saya menuju ke TSM naik taksi. AC yang dingin ternyata tidak menjamin supirnya akan selalu punya mood yang stabil, “Ah! ini jalanan banyaknya rusak, sudah ada juga keluhan, apa dia bikin ini pemerintah!”, “Ah! ini bus, nda ada ji penumpangnya jangan mi itu jalan, bikin macet saja!”, “Betul-betul ini motor, belok nda pake weser!” ungkapan menyalahkan, sekali lagi.

Ngomong-ngomong tentang bus di Makassar, saya baru naik bus empat kali, dua kali untuk perjalanan ke daerah, satu kali naik bus bandara,  dan satu kali naik Bus Mamminasata dari Mall Panakukkang. Apa persamaan dari kebanyakan Supir kendaraan umum? Kita bertanya atau berbasa-basi singkat, mereka akan berbicara cukup panjang “Sepi ini, lebih banyak pake taksi orang padahal lebih murah jeki, ini juga pemerintah buat proyek bus, tapi nda siap pi haltenya. Jangankan haltenya, jalurnya saja nda ada, kena meki macet. Ini lagi Pete-pete sama motor suka belok tiba-tiba,” Ungkapan menyalahkan yang lagi-lagi serupa

Hari Minggu, hari yang diberikan tanggung jawab oleh sebagian manusia untuk membuat tenang, agar lebih segar untuk mempersiapkan diri bertemu Senin. Saya duduk depan TV sambil makan mie instan, mencari-mencari tontonan menarik, entah kenapa semua stasiun TV nasional juga terlihat lebih santai. Saking santainya, hampir semuanya menyajikan iklan disaat bersamaan.

Akhirnya, saya berhenti di salah satu channel TV lokal yang saat itu menayangkan aparat pemerintah sedang diwawancarai  mengenai peraturan penguncian ban dan derek bagi parkir liar, “Itu sebenarnya sudah dilakukan, tapi jumlah pelanggar daripada petugas lebih banyak sehingga kami kesulitan. Untuk ketertiban lalu lintas juga, pemerintah sudah banyak menghimbau, tapi masih banyak pengendara yang tidak mengikuti, sehingga hal-hal seperti kecelakaan dan sebagainya masih banyak terjadi,” ungkapan menyalahkan di hari Minggu yang (seharusnya) santai

*sigh* Lisan Liar masih ada bahkan saat saya sedang duduk santai di rumah. Di situ kadang saya merasa lebih baik lanjut untuk tidur atau apapun daripada menonton TV.

Hari terik di kota Makassar, matahari tertawa puas. Hitungan mundur traffic light terasa sangat lama, amarah memuncak. Jika hari sedang sejuk,  hujan kadangkala menyapa. Hitungan mundur traffic light juga akan terasa sangat lama, amarah memuncak. Ya, pada akhirnya manusia di kota ini selalu menemukan alasan untuk merasa kesal. Bagaimana pun indahnya malam atau cerianya pagi mereka, sepertinya semua pengendara seperti sudah wajib untuk mempersiapkan diri untuk marah kapan saja. Ya, Kita belum mampu memberikan solusi pasti,  hanya mampu berkata, “Mari saling mengerti, mencintai, dan menghormati supaya setan tidak bikin lingkaran lagi.” []