Teks: Kemal Putra | Foto: Barru Membaca

Kota Makassar mungkin sudah bisa dianggap mapan-literasi karena telah memiliki festival literasi-nya sendiri, berlevel internasional pula. Mungkin Makassar International Writers Festival juga menjadi satu-satunya perayaan literasi yang pernah saya kunjungi dan terlibat di dalamnya. Saya bukan dari komunitas literasi, walau membaca adalah salah satu hobi saya. Saya datang dari komunitas penggiat film. Hari itu ketika diajak menghadiri sebuah perayaan literasi di luar Makassar, bukan karena ia adalah perayaan literasi, tapi karena berlokasi di sebuah pulau. Mungkin ketika menerima ajakan itu adalah karena saya ingin bertamasya. Sebuah niat yang buruk, tentu saja. Tapi sebagai masyarakat yang tinggal di kota dengan hasrat kelas menengah kekinian, saya merasa ini pilihan yang wajar. Mungkin film dan buku tidak selalu ampuh bagi saya sebagai ajang rekreasi.

Berangkatlah saya siang itu dari Makassar menuju Kabupaten Barru. Jaraknya sekitar dua setengah jam menggunakan mobil, melewati dua kota kecil lainnya, Maros dan Pangkep (Pangkajene Kepulauan). Setiba di Barru, saya harus naik kapal motor untuk mencapai pulau yang berjarak tempuh cuma lima menit. Sayang sekali, padahal saya masih ingin berlama-lama di kapal, berharap pulau yang saya tuju jauh dari daratan Barru. Pulaunya bernama Pulau Dutungan. Konon, pulau ini milik pribadi yang kemudian dijadikan lokasi wisata. Pantainya tampak masih indah, cukup bersih, pasirnya putih. Tak jauh dari pantai kita bisa menemukan palung, dan yang paling penting, pulaunya sejuk karena dipenuhi pepohonan dan taman. Tepat sekali jika tujuan saya ingin bertamasya. Sayangnya, karena saya datang sebagai reporter juga, saya harus banyak-banyak mengobservasi, menghafal, mencatat, dan tinggal selama tiga hari.

Perjalanan menuju Pulau Dutungan seperti Ta’aruf. Cepat sampai.

Perayaan literasi yang saya hadiri ini diselenggarakan oleh Barru Membaca, sebuah komunitas literasi yang berdiri secara independen. Awalnya, mereka digerakkan pemuda-pemudi berjumlah 10 orang. Komunitas ini sudah berumur dua tahun, kini anggotanya mencapai lebih dari 20 orang. Dalam sebuah percakapan saya dengan salah seorang anggotanya Andy, ia mengungkapkan bahwa perayaan literasi yang saya hadiri ini adalah perayaan tahunan Barru Membaca, dikenal dengan nama Book Camp. Ini adalah kali kedua mereka menggelarnya. Book Camp (tahun ini namanya menjadi lebih panjang, Literacy Weekend & Book Camp) kali ini mengundang 4 perwakilan dari 16 komunitas literasi di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat untuk hadir bersama-sama membuat forum diskusi dan berbagi pengalaman juga saran dan kritik. Jadi, kegiatan ini mungkin jadi bisa disebut FGD komunitas literasi, tapi dalam format yang lebih santai and rekreatif. Hadir dengan tema “Literasi dari Desa untuk Indonesia” menurut Anhar Dana Putra, selaku ketua panitia dalam sambutannya, berharap para perwakilan ini sekembalinya dari Book Camp bisa menjadi agen literasi yang lebih baik dan efektif bagi kemajuan literasi di daerah mereka masing-masing, utamanya dalam hal minat baca.

Salah satu sesi yang paling saya sukai dari kegiatan ini adalah sesi pengenalan profil komunitas yang digelar tepat di malam pertama. Di sesi ini para komunitas yang telah diundang berkesempatan mempresentasikan profil dan kegiatan komunitas mereka masing-masing, kemudian diakhiri dengan tanya-jawab antar peserta atau seringkali juga berbagi saran dan kritik. Di sesi inilah akhirnya saya paham betapa canggih dan mandirinya komunitas literasi di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dan jika di Sulawesi saja sudah seperti ini, bagaimana jika mencakup seluruh Indonesia?

Sebagian besar dari komunitas ini punya program yang mirip, seperti pengadaan pop-up library secara berkala di tempat-tempat umum atau terpencil. Tujuan utamanya paling sering untuk menarik perhatian anak-anak. Ada yang menggelarnya di kompleks perumahan mereka sendiri, atau di lapangan, atau di warung kopi. Ada juga yang menggelarnya di teras rumah mereka sendiri, seperti yang dilakukan Pare-Pare Menulis. Komunitas ini tidak hanya mengajak anak-anak, tapi juga keterlibatan orang tua mereka. Ini penting, karena bukankah perilaku anak-anak berkembang karena mencontoh? Terutama sekali mencontoh perilaku/sikap orang tua mereka sendiri. Orang tua yang rajin membaca cenderung menularkan kebiasaan ini kepada anak-anaknya.

Sebagian dari komunitas ini juga melakukan kunjungan sembari membawa buku-buku ke sekolah-sekolah di daerah terpencil, di bawah kaki gunung misalnya, seperti yang dilakukan Wajo Membaca. Tapi, ada komunitas yang tidak cuma memikirkan bagaimana agar anak-anak dan orang tua tertarik membaca, tapi memikirkan bagaimana agar anak-anak yang gagal melek huruf dan angka bisa pandai membaca dan pandai berhitung seperti yang dilakukan oleh Ruang Abstrak Literasi dari Makassar. Setiap minggu sore, mereka membuka kelas baca-tulis untuk anak-anak yang putus sekolah hingga yang masih sekolah di kawasan pesisir Pantai Marbo, Tallo. Lalu, selain itu ada juga komunitas yang salah satu program mereka adalah giat mengunjungi sekolah-sekolah dasar guna mengajarkan Bahasa Inggris, seperti yang dilakukan Pangkep Initiative.

Wakil dari setiap komunitas bergantian berbagi pengalaman mereka

Di tingkat yang lebih tinggi akan kepekaan pentingnya literasi di daerah mereka masing-masing, ada komunitas yang sampai melakukan riset sederhana untuk mengukur jumlah peminat bacaan di daerah mereka, seperti yang dilakukan Barru Membaca. Beruntunglah komunitas ini memiliki ketua komunitas lulusan Magister Psikologi sehingga memiliki kepekaan tinggi akan pentingnya penelitian. Pada 2016, mereka mengumpulkan responden sebanyak 52 orang melalui media sosial. 45 responden dinyatakan lolos karena mengisi survei hingga tuntas, lalu ditemukan bahwa 45% dari mereka ini menghabiskan waktu 15 menit hingga 1 jam membaca per hari. Hasil penelitian ini sebuah langkah yang baik, dan tentu saja ini masih perlu penelitian lanjutan, mengingat di tahun yang sama jumlah masyarakat Kab. Barru sebanyak 165.983 jiwa. Selain itu, juga ada komunitas yang memahami bahwa membaca saja tidak cukup, anak-anak juga perlu mengembangkan minat dan bakat. The Floating School, komunitas asal Pangkep ini mengunjungi tiga pulau di Pangkep yang tertinggal secara pendidikan yakni Pulau Saugi, Satando, dan Sapuli. Di ketiga pulau inilah mereka membuat program kerja dalam rentang waktu enam bulan guna membuka kelas bakat sesuai yang anak-anak minati atau cocok bagi mereka, termasuk kelas musik, menggambar, komputer, hingga fotografi.

Di tingkat yang lebih tinggi lagi, ada komunitas yang bahkan melakukan kerja-kerja advokasi membantu masyarakat marginal melawan kuasa pemerintah seperti yang dilakukan Stigma, komunitas literasi asal Makassar yang mengadvokasi warga Bara-barayya yang terancam gusur oleh Kodam di awal tahun ini.

Hal-hal tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa kita layak prihatin ketika UNESCO pada 2016 lalu merilis hasil penelitian bahwa rasio minat baca masyarakat Indonesia hanya 1 dari setiap 1000 orang. Karena membaca berguna menumbuhkan kesadaran sosial dan membangun sikap kritis. Meningkatkan minat baca masyarakat berarti meningkatkan kesadaran sosial dan sikap kritis mereka. Sebaliknya, jika masyarakat semakin malas membaca, sikap abai dan kurangnya toleransi kemungkinan juga makin tinggi. Kerja-kerja advokasi yang dilakukan oleh Stigma misalnya, adalah berkat kecintaan mereka terhadap bacaan. Ia tidak saja dianggap sebagai hobi, tapi juga budaya. Serupa dengan pernyataan penulis Maman Suherman yang mengisi acara bincang-bincang di hari kedua, bahwa bacaan harusnya jadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan membaca haruslah dibutuhkan seperti tubuh butuh makan-minum. “Bukankah wahyu pertama yang diturunkan Tuhan kepada Nabi Mummad adalah ‘Iqra’ (Bacalah)? Malulah kita jika hidup di negara bermayoritas muslim seperti Indonesia ini tapi kurang dalam minat baca sesuai perintah Tuhan,” ungkap penulis novel peREmpuan ini.

Maman Suherman turut hadir untuk berbagi di Literacy Weekend and Book Camp 2017

Datang sebagai reporter amatiran yang telah lima tahun melibatkan diri di komunitas film membuat saya menyadari bahwa komunitas film, di Makassar, belumlah apa-apa jika dibandingkan dengan komunitas-komunitas literasi ini. Mereka memahami makna gerakan dan menciptakannya. Mereka bergerombol, tersebar, sistematis, dan mengerti kebutuhan warga di lingkungan mereka. Mereka juga bekerja secara independen. Bahkan sebagian secara keras menolak bekerjasama dengan pemerintah. Salah satu kisah sedih datang dari Simba. Awalnya Gerakan Sidrap Membaca menjadi nama mereka. Namun begitu mereka terjun ke masyarakat mengkampanyekan program mereka, nama mereka justru diklaim oleh pemerintah setempat. Komunitas yang tadinya bernama Gerakan Sidrap Membaca ini akhirnya mengubah nama menjadi lebih sederhana, Simba (Sidrap Membaca). Pemerintah yang harusnya menggandeng komunitas-komunitas ini agar punya lebih banyak energi untuk bekerja, justru kadang diperlakukan sebagai saingan. Padahal pemerintah mestinya sadar bahwa gerakan seperti ini tercipta karena kegagalan mereka peduli terhadap pentingnya literasi bagi masyarakatnya sendiri.

Pegiat Pustaka Bergerak, Ridwan Alimuddin, berbagi pengalaman di Literacy weekend and Book camp 2017

Semangat kerja komunitas-komunitas ini juga membuat saya berpikir lebih keras. Apa yang bisa film lakukan bagi masyarakat? Bisakah film menjadi sepenting literasi di tengah masyarakat? Pedulikah UNESCO jika rasio minat menonton film masyarakat Indonesia cuma 1 dari setiap 10000 orang? Ridwan Alimuddin yang juga hadir berbagi pengalamannya menggiatkan Pustaka Bergerak sempat berujar, “Jika kalian baru pertama kali mengunjungi sebuah daerah atau pulau, yang pertama-tama kalian pikirkan jangan ‘perubahan apa yang bisa saya berikan terhadap warga di sini’, melainkan yang paling utama adalah pikirkanlah perubahan apa yang terjadi dalam diri saya setelah terlibat dengan warga di sini”. Persis seperti itulah pengalaman saya di Book Camp selama tiga hari. Saya yang tadinya melihat kegiatan ini sebagai objek, justru sayalah yang menjadi objeknya. Masyarakat kini membutuhkan komunitas komunitas literasi untuk terus bertumbuh, entah kapan masyarakat juga membutuhkan komunitas penggiat film hadir di tengah-tengah mereka.

Sampai jumpa di Book Camp Tahun Depan!