Oleh: M. Fadlan L Nasurung ( @fadlanasurung )

Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Makassar tumbuh dengan geliat event yang hadir hampir tiap pekan. Beberapa tahun ini, ada kecenderungan yang sama yang hampir ada di tiap event. Semakin kokohnya semangat kolaboratif yang menopang kegiatan atau acara yang terjadi di kota ini. Baru-baru ini, Makassar International Writers Festival 2016 menjadi contoh paling baik untuk menunjukkan hal tersebut.

Selain keterlibatan Volunteer yang memang tiap tahun menjadi pondasi terlaksananya MIWF, juga ada komunitas dan pihak kampus. Dua yang terakhir menjadi menarik untuk dibahas. Sebab, keduanya acapkali setujuan meski kadang tak sejalan. Bahkan beberapa kasus harus berseberangan. Dan, salut untuk MIWF yang mampu menggandeng kedua pihak untuk terlibat dalam satu event literasi.

Komunitas Literasi

Dari sekian pihak yang turut terlibat, komunitas literasi menjadi satu bagian khusus yang menarik. Mereka hadir meramaikan setiap sudut lokasi perhelatan MIWF. Geliat literasi sepertinya akan tumbuh justru bukan dari jantung-jantung lembaga pendidikan, tetapi dari komunitas-komunitas kultur yang terus bergerak tanpa tendensi apa-apa.

Semangat literasi idealnya memang dimulai dari lingkungan terdekat sedari dini: keluarga, dan lembaga pendidikan paling rendah (TK/SD/SMP). Namun, idealitas itu tentu sulit terwujud, karena kenyataannya, kebanyakan keluarga dan sekolah juga tak melek literasi, ditambah kurangnya infrastruktur dan suprastruktur yang menunjang.

Hidupnya berbagai komunitas literasi, menjadi sebuah jaring agar generasi yang tak sempat mengalami geliat literasi di lingkungan keluarga dan sekolah, bisa perlahan belajar menjadi penggiat literasi lewat komunitas-komunitas yang ada. Generasi muda yang menghabiskan separuh usia mudanya dengan bergiat di komunitas literasi, tak sedikit yang telah menjadi esais, cerpenis, hingga menjadi praktisi literasi. Bahkan, turut pula menjadi praktisi pendidikan. Nah, mereka inilah yang diharapkan dapat menyebarkan semangat literasi di tengah-tengah masyarakat luas, baik melalui jalur keluarga (literasi parenting), lembaga-lembaga pendidikan, bahkan bisa merambah ke kelompok pegiat dunia usaha (bisnis).

Tentu menghidupkan literasi melalui perjuangan komunitas akan lebih efektif dari sekadar perjuangan individu, karena mengajak orang untuk mencintai buku dan segala hal yang terkait dengannya bukanlah hal yang mudah, apalagi era di mana dunia dan kehidupan dibingkai dan dicitrakan lewat media audio-visual (televisi dan internet) hari ini. Dalam sejarahnya, bangsa kita (pasca penjajahan) memang belum sama sekali menjadikan literasi sebagai bagian penting yang harus turut mengisi kehidupan. Sejak era belajar baca-tulis aksara latin, era radio, era televisi, hingga era internet dengan kecanggihan smartphone, dunia literasi berjalan pelan dan tertatih di sudut-sudut peradaban, walaupun sebenarnya ialah yang menjadi instrumen peradaban, lewat transformasi ilmu pengetahuan.

Komunitas literasi semoga terus bergerak menjadi sub-kultur yang memberi pengaruh dominan terhadap pembentukan kerangka pikir publik, dari domain media informasi yang menjadi referensi publik selama ini.

Peran Kampus

Beberapa kegiatan perhelatan MIWF tahun ini, kembali diadakan di berbagai kampus. Hal tersebut adalah sebuah isyarat bahwa para inisiator MIWF sedang berusaha membawa virus literasi masuk ke ruang konservatorium manusia-manusia terpelajar. Mungkin dikarenakan literasi kampus (khususnya di Makassar) terasa begitu sepi, kalaupun ada, ia justru bergeliat lewat komunitas-komunitas kultur yang telah penulis uraikan di atas, atau paling tidak ia digerakkan oleh lembaga pers kampus, karena itulah tujuan utama lembaga itu didirikan.

Sedang pada level kesadaran masyarakat kampus, literasi masih menjadi tradisi yang tidak populer, bahkan ia masuk dalam kategori aktivitas paling membosankan, literasi hanya menjadi little tradition milik segolongan orang yang sepi peminat, padahal idealnya kehidupan literasi harus bermula dari kampus, di mana ide, pemikiran, dan teori-teori ilmu pengetahuan dikaji, didiskusikan, hingga diperdebatkan. Bagaimana mungkin sebuah kampus dapat hidup tanpa literasi? Sedang literasi adalah urat nadi kebudayaan dan peradaban kampus. Atau bisa jadi benar pendapat AG.H. Sanusi Baco, “Saat ini kampus tengah kehilangan suasana keilmuan.” Sehingga jangankan untuk menghidupkan tradisi literasi, mendiskusikan hal yang terkait dengan ilmu pengetahuan pun menjadi sesuatu yang semakin ditinggalkan, itu ketika ilmu pengetahuan hanya menjadi tema-tema demi kepentingan formalitas kelembagaan, ia tidak lagi hadir sebagai budaya berkampus, sebagaimana sejatinya sebuah lembaga pendidikan.

Di luar itu, kampus perlu–bahkan butuh–menggandeng berbagai komunitas literasi untuk menghidupkan tradisi literasi di lingkungan masyarakat kampus. Jika kampus dapat mengadakan sejumlah seminar dengan biaya yang tidak murah, saya yakin, untuk menyelenggarakan kegiatan pelatihan literasi secara rutin, tak akan membutuhkan biaya selangit. Di Makassar terdapat puluhan komunitas literasi yang aktif, dari sekadar diskusi, publikasi (tulisan/buku) hingga aksi, bahkan mereka merespon isu-isu aktual seputar sosial kemasyarakatan. Banyak komunitas yang saya kenal menanamkan prinsip kesederhanaan dalam lingkungan komunitasnya, sehingga tak perlu ragu mengundang mereka untuk sekadar berbagi dan berdiskusi, mereka tentu tak terlalu peduli soal nominal. Karena dunia literasi adalah dunia yang banyak mengajarkan soal kearifan, yang tentu jauh dari kecenderungan pragmatisme-materialisme.

*Penulis merupakan Koordinator Jaringan GUSDURian Makassar


Baca tulisan lainnya

Isu Budaya Membaca Harus Menjadi Obrolan Nasional

#Barrumembaca: Budaya Literasi dan Kebangkitan Gerakan Positif Anak Muda

Membaca Konsumerisme

Membaca Rumah Baca

Terbebas dari Konsumtif, Orang Tua adalah Kunci

Berapa Buku yang Sudah Kamu Baca Tahun ini?