Ilustrasi: Aisyah Azalya (@syhzly)

Semarak Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, selalu dipenuhi dengan berbagai perayaan. Termasuk lomba-lomba dan berbagai pertandingan yang mengikutinya. Panjat pinang, Gerak jalan, ataupun lomba makan kerupuk. Mulai dari tingkat lorong hingga lapangan bola, dari RT hingga tingkat provinsi. Namun, semakin tahun semakin berkurang, bukan hanya jenis lomba, tapi juga perayaan itu sendiri. Rubrik ‘Revius Editor’ kali ini, akan berbagi seputar lomba-lomba yang dirindukan dari perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. 

________

Hafsani H. Latief

Lomba Gerak Jalan

Lomba yang paling saya rindukan dari perayaan kemerdekaan adalah lomba gerak jalan. Beberapa hari menjelang tanggal 17, perlombaan gerak jalan biasanya dilaksanakan. Sekitar 20-an anak tergabung dalam satu grup yang mewakili sekolah. Pada hari perlombaan sejak pagi buta, mereka sudah berada di lapangan. Rute yang ditempuh sekitar 20 km. Orang tua dan kerabat biasanya menyoraki di pinggir jalan memberi semangat. Namun tak sedikit juga orang tua yang ikut berjalan di belakang barisan anak mereka.

Setelah tinggal di Makassar tak sekali pun saya menyaksikan lomba gerak jalan. Saya pikir tidak mungkin juga jalan-jalan di Makassar macet dan dipenuhi ibu-ibu karena lomba gerak jalan. Yang saya rindukan bukan kenangan berpanas-panasan berpuluh kilometer. Atau pernah membanggakan keluarga karena pernah menjadi pembawa bendera saat Paskibraka karena berpengalaman dengan baris berbaris dan gerak jalan sejak kelas 3 SD.

Beberapa tahun sebelum menjadi murid sekolah dasar, saya menyakasikan lomba gerak jalan dari teras rumah panggung nenek saya. Nenek saya cerewet. Giginya sudah banyak yang rontok. Dia punya satu gigi atas yang menggantung tanggung dan nyaris tanggal. Dengan ingatan masa kecil saya yang payah, saya suka mencuri-lihat gigi nenek yang bergoyang ketika dia berbicara. “Ini anak saya kira orang gerak jalan dia lihat. Ternyat gigiku pale”, Kira-kira seperti itu dia menegur saya saat ketahuan saya memerhatikan giginya. Dan hari itu adalah lomba gerak jalan terakhir yang kami saksikan bersama.

 

Achmad Nirwan

Lomba Memasukkan Pensil/Paku ke Dalam Botol

Lomba 17 Agustus-an selalu melemparkan ingatan saya ke masa kecil saat bisa memenangkan lomba memasukkan pensil ke dalam botol waktu masih kelas 3 SD. Hahaha. Kemenangan tersebut menjadi motivasi saya untuk mengikuti seluruh perlombaan 17 Agustus-an. Tapi karena nafsu besar tenaga kurang, ternyata hanya lomba itu yang bisa saya menangkan sejauh ini.

Di usia sekolah yang masih sangat belia tersebut serta dibarengi dengan mulai mengenal namanya cinta monyet, memenangkan lomba 17 Agustus-an menjadi semacam pembuktian menurut saya bahwasanya kamu adalah jagoan di mata cewek-cewek teman kelasmu. (Hah! apa-apaan, Hahaha).  Memasuki usia yang ke-17 ini–masih berharap dianggap dalam usia ini–saya lebih memilih menonton orang ikut lomba 17 Agustus-an saja setelah peristiwa bersejarah dalam hidup saya itu.

 

Barzak

Lomba Masak Nasi Goreng

03-Nasi-Goreng

Di antara lomba 17-an yang kebanyakan mengedepankan ketangkasan dan daya atletis, lomba masak nasi goreng hadir dengan rasa yang berbeda (no pun intended). Pada ajang yang menurut saya lebih seru dari ajang MasterChef ini, Ibu-ibu yang sehari-harinya merupakan kolega bergosip, untuk beberapa saat harus menjadi rival. Semua demi mengharumkan RT masing-masing. Ada yang menggunakan daun kemangi, seledri, sampai saus tiram.

Saya merindukan lomba ini tentu saja bukan sebagai peserta, apalagi sebagai juri–saya tahu apa tentang masak-memasak. Saya rindu menonton ibu saya (dan ibu-ibu teman kecil saya) beraksi memainkan kompor, wajan, dan spatula; dengan diiringi sorakan dari Daeng Rani, Nenek, Andi, Tajul, tante Sana’, dan puluhan penggembira lainnya.

Keriuhan penuh aroma tersebut berlangsung selama 30-40 menit. Momen ketika dewan juri (yang khusus didatangkan dari kelurahan sebelah) mencicipi dan memberikan penilaian merupakan momen penentu. Momen penentu bagi para kontestan, siapa yang akan menjadi jawara. Juga momen penentu bagi kami, para penonton, kapan dibolehkan melahap nasi goreng hasil lomba.

Meski ada yang keasinan, tak ada nasi goreng yang tersisa. Meski tidak semua kontestan menjadi juara, semua orang bersuka ria.

 

M. Ifan Adhitya

Lomba Makan Kerupuk

04-Makan-Kerupuk

Lomba 17 Agustus-an selalu menjadi momen favorit saya semasa usia belia (5-15 tahun), Dari beragam perlombaan mulai dari lomba lari hingga silariang [kawin lari] Haha (gak ada hubungannya keleus. Red). Lomba makan kerupuk selalu jadi kesukaan saya yang tidak pernah terlewatkan, karena itu merupakan satu-satunya Perlombaan yang kita bisa makan gratis, biasanya sih teman saya (kata ganti saya sendiri, Red) memanfaatkan lomba makan kerupuk jadi santapan siang (makan kerupuk + bekal nasi kecap dari rumah).

Makan Gir Motor_Revius

Sumber Foto: Mbah Gugel

*nb: tidak dianjurkan meniru adegan lomba makan kerupuk di atas.

 

Langgo Farid

Lomba Panjat Pinang

05-Panjat-Pinang

 

 

Joem R. Pelenkahu

Lomba Lari Kelereng

01-Lari-Kelereng

Kelereng adalah salah satu mainan masa kecil yang paling saya sukai, sampai sampai saya pernah (lebih dari sekali) ikut lomba lari kelereng dengan tujuan bawa pulang kelereng milik panitia, Hahaha. Lari kelereng bersama teman teman semasa kecil adalah Lomba 17 Agustus-an yang paling saya rindukan :’)

 

Herman Pawellangi

Semua Lomba! (Karena Modus)

Saya suka semua lomba, karena kalau ada acara di lapangan dekat rumah, saya pasti ke sana lewat depan rumah mantan. Jadi saya senang kalau ada acara di lapangan.

 

Muhammad Aswan Pratama

Lomba Tarik Tambang

02-tarik-tambang

Perlombaan 17 Agustus yang paling memorable dan satu-satunya lomba 17-an yang pernah diikuti, itu Tarik Tambang, waktu SMA yang dirangkaikan dalam kegiatan PORSENI antar kelas.

Memorable karena melewati final alot, dan ditengah proses saling tarik menarik, saya yang berdiri paling belakang dalam formasi, jatuh dengan tangan masih memegang tali, dengan seisi sekolah memperhatikan. Ada dialog ala film perang dari teman kelasku, “Lepasmi dulu, biar kita tahan!”

Akhirnya, setelah saya berdiri, dan memperbaiki celana, dan merapikan baju, dan melilit lagi tali, saya dan rekan setim mengerahkan semua tenaga yang tersisia untuk melakukan tarikan pamungkas. Beberapa detik kemudian, semua anggota tim lawan tersungkur ke tanah. Kami menang! Saya dan rekan setim saling berpelukan, penonton pun bersorak. Kami juara!

Yah seperti kata orang, berhentilah saat kau berada di puncak. Setelah kemenangan dramatis tersebut, saya memilih pensiun dari dunia lomba 17-an dan tidak berencana untuk kembali.

 

Andi Chairiza Bahrun

Lomba Mencabut Koin dari Buah

Berada di lingkungan perkotaan yang cenderung apatis, membuat saya sudah lebih dari lima tahun tidak merasakan euforia dari semarak hari kemerdekaan Republik Indonesia. Ditambah dengan lahan kosong yang biasanya dijadikan lapangan perlombaan, satu demi satu berubah menjadi rumah megah.

Satu dari puluhan lomba 17-an yang saya sukai dan gemari dulu adalah lomba mencabut koin dari buah yang dilumuri kasumba.
unnamed

Sumber foto : https://zona284.wordpress.com/2014/08/17/permainan-permainan-saat-perayaan-17-agustus-an/

Lomba ini paling seru dibanding lomba-lomba lainnya. Menguji kesabaran dan berusaha menjauhkan rasa jijik dari kasumba. Dan untuk kalian generasi yang lahir di era sekarang, saya harap kalian masih sempat merasakan euforia perlombaan 17-an yang hampir punah. Salam Merdeka!

 

Arkil Akis

Lomba Main Catur

Lomba yang paling sering saya ikuti adalah Gerak Jalan, mulai dari kelas 4 SD hingga SMP. Tapi saya tidak merindukannya. Selain karena kerinduan saya lebih kepada hal lain, saya juga sejujurnya membenci baris-berbaris. Entah kenapa, saya sering membenci sesuatu jika simetris, rapi, dan seragam.

Saya sebenarnya ingin mengikuti perlombaan lain. Misalnya, panjat pinang, karena tergiur oleh hadiahnya. Tapi apa daya, saya takut ketinggian dan satu-satunya yang bisa saya panjatkan hanyalah doa kepada yang maha kuasa. Saya juga pernah berniat mengikuti lomba memasukkan benang ke dalam jarum, tapi saya sering gemetar kalau ditonton banyak orang. Hal-hal tersebut akhirnya memaksa saya sering berakhir di bangku penonton.

Semenjak hijrah ke Makassar sekitar sepuluh tahun yang lalu, saya sering ikut perlombaan 17-an antar lorong. Dan jenis lomba atau tepatnya pertandingan yang saya pilih adalah catur. Kegiatan yang beberapa tahun ini saya rindukan setiap 17-an. Selain untuk terlihat cerdas, juga untuk menutupi kelemahan-kelemahan 17-an masa lalu . Sebab bagaimanapun, namanya hidup selalu butuh proses dan progress. ‘sikeh!

________

Berbagai lomba 17-an tentu saja menjadi salah satu ciri dari semarak perayaan kemerdekaan republik ini. Kegiatan-kegiatan yang seharusnya tetap dijaga kelangsungannya, melihat perkembangan zaman yang memaksa kita tumbuh menjadi makhluk yang individualis. Di dalam perlombaan-perlombaan kemerdekaan kita mampu menjalin silaturahmi, mengenal tetangga-tetangga yang mungkin selama ini kita abaikan, berbaurnya masyarakat dari berbagai tingkat ekonomi dan profesi, dibungkus dengan sapa dan tawa. Sebab di sanalah, merdeka seharusnya bermula. Semoga ‘Revius Editor’ kali ini mampu mengembalikan kenangan teman-teman tentang memaknai hari kemerdekaan. Merdeka!


Baca Artikel lainnya dari Revius’ Editors

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Produk-Produk Lokal yang Patut Dilirik

Oh, The Masjids You’ll Go!

Tempat “Ngabuburit” dan Berbuka Puasa

Tips Berpuasa di Bulan Ramadhan

Komunitas Sinergi, Harmoni, Aksi!

Mengingat Kembali Karaeng Pattingalloang

Orang-Orang yang Harus Kami Temui di MIWF 2015

The Most Memorable Events

Akun Instagram Favorit

Mari Melihat Api Bekerja

Film Makassar In Cinema 2015 Pilihan Kami

Musisi Indie Makassar Favorit

Mitos-Mitos yang tidak Masuk Akal

Tempat Makan Favorit Kami

Selamat Hari Film Nasional!

Situs-Situs Web Favorit Kami

Video Musik Pilihan Kami untuk Kamu

Kuntilanak Jatuh Cinta (dan Cerita-Cerita Lainnya)

Apa Itu Hari Valentine

10 Seniman Mengartikulasikan Kota di PechaKuchaNight Makassar Vol.6

Alasan Orang-Orang ke Sepiring Culinary Festival