Kerap di-bully” teman-temannya yang berasal dari luar Makassar, membuat Muhammad Ahlul Amri Buana alias Louie Buana tergerak untuk berbuat sesuatu. Louie berusaha mematahkan stereotip “Makassar-itu-kasar” dengan jalannya sendiri. Bersama sahabatnya yang lain, mereka menjalankan proyek konservasi budaya La Galigo for Nusantara (Lontara Project) sejak 2011 hingga sekarang.

Pemuda berusia 24 tahun ini sekarang bekerja di Fakultas Hukum, Universitas Gajah Mada. Sambil mengasisteni kelas International Environmental Law, Louie mengerjakan La Galigo Music Project dan mempersiapkan World Heritage Day 2014 di Yogyakarta. Dalam waktu dekat ini, Louie akan menempuh studi S2-nya di dua universitas Belanda sekaligus. Iya, anda tidak salah baca, dua universitas tersebut adalah Erasmus University, Rotterdam dan Leiden University, Leiden.

Kalau bertemu langsung dengannya, Louie akan sangat antusias jika diajak ngobrol soal budaya, sejarah, dan antropologi. Pengetahuannya yang luas tentang hal-hal tersebut, tersalurkan di novel karangannya The Extraordinary Cases of Detective Buran.

Louie, anak muda peduli budaya dan sarat karya, merupakan karakter yang langka. Alasan Revius memperkenalkannya lewat #RememberTheName.

Kru Lontara Project (Setia Negara B. Tjaru, Maharani Budi, Fitria Sudirman, Louie Buana)

Kru Lontara Project (Setia Negara B. Tjaru, Maharani Budi, Fitria Sudirman, Louie Buana)

Berusaha membangun cultural awareness kami yakin itu sulit. Seberapa sulitkah tantangan yang dihadapi ketika memulai Lontara Project, terutama di kampung halaman sendiri?

Aduh! tantangannya besar sekali. Saya berhadapan dengan dua generasi: generasi yang sama sekali tidak peduli dan generasi yang merasa sangat memiliki. Generasi yang sama sekali tidak peduli, kebanyakan anggotanya adalah pemuda-pemudi Makassar saat ini. Mereka seakan-akan mengalami “buta budaya” tidak mengenali betapa kerennya tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang mereka dahulu. Tantangan ketika berhadapan dengan mereka adalah bagaimana caranya agar La Galigo tidak terlihat boring, kemasannya tidak ketinggalan zaman, serta sesuai selera masa kini. Sementara, tantangan dari generasi yang amat sangat merasa memiliki, kebalikannya. Ini adalah generasi orang-orang tua yang kolot dan keras, menuduh kami menghujat kesakralan La Galigo ketika dijadikan komik atau bait-baitnya kami jadikan lagu dengan irama rock and roll. Generasi ini cenderung merasa tahu akan budaya serta terlanjur memandang yang muda kekurangan ilmu. Nah, untuk berhadapan dengan mereka, kami mempersenjatai diri dengan referensi-referensi yang kuat dari literatur maupun wawancara dengan para pakar.

Lontara Project akan memasuki usainya yang ke tiga tahun ini. Perubahan terbesar apa yang dirasakan Louie sendiri semenjak proyek ini berjalan?

Saya amat bersyukur bahwa Lontara Project telah berkontribusi dalam membersihkan nama Makassar dan Sulawesi Selatan, setidaknya secara bertahap di lingkungan sekitar kami. Saat ini ketika mendengar kata Bugis atau kota Makassar, teman-teman saya pasti akan langsung teringat akan La Galigo ketimbang aksi brutal mahasiswa di jalanan. Lontara Project juga telah menjadi wadah kreatifitas teman-teman yang ingin menyalurkan bakatnya di berbagai bidang, mulai dari seni hingga IT. Kami merasa tersanjung akan banyaknya tawaran kerjasama dari komunitas-komunitas pemuda lainnya. Harapan kami, Lontara Project dapat terus memperkenalkan khazanah kebudayaan Sulawesi Selatan sekaligus memicu kreatifitas generasi muda untuk mengonservasi kebudayaannya di era modern ini.

 

logo lontara Project

Ketertarikan Louie terhadap sejarah dan budaya itu terlihat dari tulisan-tulisan di blog. Sejak kapan mulai tertarik tentang sejarah dan budaya? adakah kekhawatiran mendapat label ‘kuno’ dari orang lain?

Saya mulai tertarik dengan hal-hal kuno mungkin sejak kecil. Saat masih SD saya pernah tinggal di Bali dan entah kenapa suka sekali mendengar kisah-kisah tentang Mahabharata dan Ramayana. Sejak saat itu saya hobi mengumpulkan buku-buku cerita rakyat Nusantara. Ketertarikan saya pada sejarah ini bisa jadi karena dari dulu saya suka dongeng. Sejarah yang isinya tentang kisah raja-raja, peperangan, kemajuan peradaban, dan lain sebagainya. Bagi saya, amat menarik bagaikan cerita di film-film atau di manga-manga Jepang. Saya tidak takut dicap kuno atau “hidup dalam bayang-bayang masa lalu” karena pada kenyataannya kita memerlukan sejarah sebagai inspirasi sekaligus evaluasi dalam menjalani masa kini dan menghadapi masa depan.

Cultural project, studying, teaching, writing, and singing. Sepertinya Louie bisa dalam segala bidang ya.. He he. Bagaimana resep menjalani semua itu, tanpa ada yang ‘terbengkalai’?

Pada umumnya orang menyamakan banyak kegiatan = repot, ribet. Padahal, apabila kita menyenangi apa yang kita lakukan dan memahami betul manfaat dari kegiatan tersebut, niscaya tidak akan ada satupun kegiatan yang menjadi beban. Intinya adalah bijaksana dalam membagi waktu, kapan harus bekerja, berkreasi, dan beristirahat. Kita juga harus maksimal dan fokus di setiap kegiatan, paham konsekuensi dari aktivitas yang kita ikuti, jangan sampai menyusahkan orang lain hanya karena malas.

Di antara aktivitas yang kami sebutkan sebelumnya, which one that you’re truly passionate about?

Saya kira semuanya. Saya berusaha membawa kegemaran saya di dunia tulis-menulis, olah vokal dan bersosialisasi ke dalam cultural project. Demikian pula, saya berusaha menularkan semangat akan kesadaran berbudaya yang digadang-gadangkan oleh cultural project tersebut saat sedang mengajar ataupun berdiskusi dengan orang lain.

Siapa-siapa saja pihak yang mendukung Louie untuk terus berkarya seperti sekarang? Selain itu adakah figur istimewa yang Louie jadikan sebagai role model?

Pihak-pihak yang mendukung saya selama ini ada banyak sekali. Salah satu tokoh yang paling berjasa dalam memperkenalkan saya dengan La Galigo dan kebudayaan Sulsel ialah Prof. Nurhayati Rahman. Bagi saya, beliau tidak hanya seorang guru namun juga sosok ibu yang tegas namun murah hati dalam berbagi ilmu. Adapun role model saya dalam berkarya ada dua: Karaeng Pattingalloang dan Arung Pancana Toa Retna Kencana Colliq Pujie Matinroe ri Tucae. Yang pertama ialah seorang pembesar kerajaan Gowa yang dijuluki sebagai Manusia Renaissance Nusantara. Ia berpikir melampaui zamannya, kreatif, dan inovatif. Karaeng Pattingalloang inilah yang membuka Makassar tidak hanya sebagai bandar dagang internasional namun menyuburkan intelektualitas melalui buku-buku dan peta-peta koleksinya. Sedangkan Colliq Pujie, sebagai penyalin naskah La Galigo yang saat ini disimpan di Leiden, saya banyak mengambil inspirasi mengenai kegigihan dalam berkarya. Bayangkan, meskipun hidup di pengasingan yang bentuknya seperti kandang, ia tetap menunjukkan martabatnya sebagai seorang ratu yang membela rakyatnya dengan menolak patuh pada Belanda. Keadaan yang serba tidak memadai justru bukan menjadi penghalang bagi Colliq Pujie untuk terus melestarikan budaya leluhur serta menjalin kerjasama dengan kalangan intelektual dari berbagai bangsa, salah satunya ialah Benjamin Matthes asal Belanda.

Oh iya, satu lagi tokoh yang selalu setia memberi dukungan ialah Prof. Gene Ammarell dari Ohio University. Beliau ialah orang Amerika yang menulis buku berjudul Bugis Navigation, buku pertama dan satu-satunya yang merekam kemahiran pelaut Bugis tradisional. Saya pertama kali bertemu Pak Gene saat AFS di Ohio dan sejak saat itu Pak Gene tak berhenti menginspirasi serta mendukung saya.

Sekarang soal buku Detective Buran yang dibuat bersama Maharani Budi sejak SMA. Apakah pada saat itu memang sudah ada obsesi untuk menerbitkannya secara luas seperti sekarang ini atau hanya berawal dari keisengan belaka?

Awalnya kami tidak pernah memimpikan karya ini akan dijadikan novel dan dibaca oleh khalayak umum karena kebanyakan isinya adalah inside joke. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dan semakin seriusnya riset yang kami lakukan, akhirnya kami memutuskan, “hey, kenapa tidak?” Berbagi cerita adalah sebuah hal yang menyenangkan, apalagi jika datang dari buku yang kami tulis sendiri. Maka bekerjasama dengan Kedai Buku Jenny, novel The Extraordinary Cases of Detective Buran pun lahir.

The Extraordinary Cases of Detective Buran

The Extraordinary Cases of Detective Buran bisa didapatkan di Kedai Buku Jenny

Apa yang menginspirasi Louie sehingga lahirlah si Detektif Buran?

Inspirasi Buran ini datang dari keisengan saya dan rekan Maharani Budi untuk saling mengolok-olok namun dengan cara yang elegan dan kreatif. Sejak SMA kami telah sering mengadakan perang tulisan dengan membuat tokoh yang diolok sebagai karakter antagonisnya. Eh, ternyata kebablasan jadi novel. Secara pribadi, inspirasi saya untuk menulis kisah detektif dan misteri datang dari buku-buku petualangannya Enyd Blyton juga karya-karya Dan Brown.

Pengetahuan soal budaya dan sejarah yang Louie kuasai mampu ditransformasikan dalam cerita fiksi seperti Detektif Buran. Apakah ada rencana menulis buku seperti ini lagi atau membuat sekuel Detektif Buran?

Ya, tentu saja! Akan ada sekuel untuk novel Detektif Buran. Di samping itu, masih berkolaborasi dengan Ran, kami sedang menggodok sebuah buku mengenai petualangan tim Lontara Project saat berkunjung ke negeri Belanda untuk melihat naskah asli La Galigo serta menampilkan pertunjukan seni La Galigo Music Project di KBRI The Hague. Secara pribadi, saat ini saya juga sedang menulis sebuah novel fiksi tentang kerajaan-kerajaan kuno di Sulsel. Saya senang sekali apabila ada anak muda yang tertarik terhadap sejarah dan budaya dari karya-karya yang kami hasilkan. Belajar sejarah itu bisa mengasyikkan, semudah membaca novel serta melestarikan budaya juga seru, seseru menulis cerita.

Anyway, bagaimana asal muasal nama ‘Louie’ hingga menjadi pen name?

Louie itu nama yang saya dapat dari teman-teman di Amerika saat jadi siswa pertukaran pelajar AFS di Athens, Ohio. Nama itu mereka berikan karena kesusahan memanggil nama asli saya “Ahlul”. Saya pikir nama itu unik dan juga lucu, jadi saya adopsi saja sebagai nama pena. Saat ini pun di UGM banyak teman-teman yang memanggil saya dengan nama Louie, dan saya pun tidak keberatan.

Ada prinsip tersendiri atau motto hidup?

Motto hidup saya adalah “Do it first, do it fast, do it your way”. Maksudnya, dalam berkarya jadilah orang pertama yang melakukan gebrakan untuk menginspirasi orang lain. Jadilah inisiator yang bertanggungjawab, jangan cuma ikut-ikutan dan kemudian ditinggal lari. Lakukan apa yang kamu sukai dengan efektif, cepat, serta sempurna. Yang paling penting, lakukan itu dengan caramu sendiri, berikan warna tersendiri yang orisinil. Tidak usah takut dengan komentar negatif orang lain karena toh mereka belum tentu bisa mencapai atau menghadapi apa yang telah kita alami.

Pesan buat pembaca Revius?

Pembaca Revius yang baik, jangan takut untuk mencoba. Berlayarlah, tantang arus perubahan zaman dengan kreatifitasmu. Ingatlah untuk selalu terbuka atas ide-ide baru serta bertanggungjawab atas kegiatan yang kita lakukan. Sesuai pepatah leluhur kita “Kuallea tallanga natoalia”, tidak ada yang tak mungkin selama memang teguh sumangeq dan ininnawa.