Waktu kecil, ibu selalu mengingatkan saya bahwa saat berbicara dan menggunakan partikel –ki itu adalah bentuk kesopan dan penghargaan kita terhadap orang yang lebih dewasa. Sedangkan penggunaan partikel –ko menunjukkan kekurangajaran kita terhadap lawan bicara.

Senada dengan hal tersebut, salah satu budaya tutur di Makassar-Bugis adalah penggunakan kata “kita” saat berbicara. Kita dianggap sopan jika berbicara menggunakan “kita” sebagai kata ganti kamu. Padahal arti kata kita dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, pronominal persona pertama jamak, yang berbicara bersama dengan orang lain, termasuk yang diajak bicara.

Jamak menunjukkan bahwa kata kita berarti untuk orang yang lebih dari satu. Sayapun sampai sekarang masih sering menggunakan kata ganti kita saat berbicara dengan orang lain. Ini mungkin karena pengaruh kebiasaan.

Hal tersebut mungkin disebabkan oleh bahasa daerah. Di Makassar misalnya, untuk menyebut kamu terdapat dua kata yang berbeda namun berarti sama, katte dan kau. Di Bugis sendiri, ada kata idi’ dan iko yang berarti kamu. Kata katte dan idi’ dianggap lebih sopan dari kau dan iko.

Namun akhir-akhir ini saya merasa resah dengan kesopanan tersebut. Kesopanan yang berubah kesan menjadi bentuk rasa takut ataupun segan yang berlebihan kepada orang lain. Sopan dan rendah hati itu baik, tapi merendahkan diri sendiri itu bukanlah bentuk kesopanan terhadap diri sendiri.

Keresahan itu terjadi saat saya melihat seorang mahasiswa baru yang berbicara dengan salah satu senior di kampus. Mahasiswa baru itu tunduk, melipat satu tangannya, dan menggunakan kalimat yang terlalu berlebihan. Sialnya, senior tersebut terkesan senang jika juniornya tunduk dan patuh terhadap dia.

Meskipun terlihat sopan, tapi apakah kita rela membiarkan generasi baru bertingkah seperti budak dihadapan majikan? Dan dengan enteng kita bahkan menikmati hal-hal seperti itu. Sampai kapan kita akan menganggap –ki itu lebih sopan dari –ko atau kata kamu itu terdengar kurang ajar dari kata kita.

Dalam banyak hal, kita memang senang menilai seseorang dari sikap tubuh dan bahasa tutur yang ia gunakan. Tapi bukankah nilai kesopanan tidak dapat ditakar hanya melalui tingkah tubuh dan bahasa tutur?

***

Saat menonton kartun One Piece. Ada episode yang menarik tentang bagaimana kesopanan itu sebaiknya dipandang. Saat bajak laut Topi Jerami berlayar menuju pulau duyung yang terletak 10.000 meter dari permukaan laut, saya terkesan dengan sikap Monkey D. Luffi. Saat bertemu dan bercakap dengan Raja Neptune. Ia dan beberapa temannya diundang langsung ke istana kerajaan, Luffi tidak menggunakan istilah baginda, tuan, raja, ataupun kata yang dianggap sopan. Luffi dengan santainya justru memilih menggunakan kata kakek untuk menyapa raja tersebut.

Sikap Luffi ini membuat teman-temannya heran. Bintang laut – teman Luffi, yang dapat berbicara justru memarahinya karena dianggap tidak sopan di hadapan raja. Ia tidak berhenti sampai di situ, dengan nada bercanda, Luffi bahkan menertawai lagu yang raja nyanyikan dalam perjalanan ke istana, “sedang apa kamu, itu terdengar aneh dan bodoh sekali.” Dengan mimik wajah yang takut, bintang laut itu kembali menegur Luffi yang dianggap tidak sopan dan kurang ajar. Namun raja tidak marah atau merasa dihina, ia hanya tertawa dan melanjutkan lagunya.

Meskipun umur Luffi masih muda, sikap ini membuat ia cepat akrab dengan Raja Neptune. Luffi mencoba lepas dari tuntutan budaya. Ia membangun kesopanan dengan menjalin jarak yang akrab, tanpa batas, namun tetap saling menghargai.

Cara Luffi bergaul dan menghargai orang lain tidak lagi dapat dinilai dari bahasa apa yang ia gunakan. Lebih dari itu, ia melakukan suatu hal yang seharusnya kita juga lakukan. Menunjukkan rasa sopan dari sikap yang kita perlihatkan.

***

Kesopanan dicipakan agar manusia saling menghargai. Cara Luffi bertutur menjadi gambaran bahwa menggunakan kata yang dianggap sopan tidak menjamin orang lain akan menghargai kita. Tapi dengan sikap yang kita tunjukkan dan bagaimana kita memperlakukan orang lain dapat membangun harmonisasi dalam kehidupan.

Neptune juga menunjukkan sikap yang luar biasa. Meskipun raja, ia tidak marah jika dipanggil kakek dan ditertawai oleh Luffi. Sebuah sikap yang terbuka dan tak menilai orang hanya dari cara ia bertutur.

Tapi budaya, pendidikan, dan agama memang telah menyimpan sebuah takaran kesopanan. Takaran yang mendogma dan tidak bisa diganggu apa lagi digugat. Bahasa kemudian berpeluang menjadi sistem sosial yang memberikan kekuasan besar terhadap orang yang dianggap punya pengaruh.

Tapi nyatanya dengan kuatnya akar budaya, pendidikan, dan agama tidak menjamin bahwa hidup ini damai. Justru hal sederhanalah yang dapat menyatukan kita; saling menghargai.