Ilustrasi: Ananda Al Givari M. ( @algiivar ) | Foto: MIWF 2016 ( @makassarwriters )

Industri kreatif akan selalu melahirkan bakat-bakat muda lebih cepat. Orang-orang dengan ide segar dan penuh hal-hal baru. Dari dunia film, dua tahun terakhir memunculkan nama Mohammad Irfan Ramly, seorang penulis skenario. Ipank, begitu ia biasa disapa, telah terlibat sebagai penulis skenario dalam dua film, Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2014) dan Surat dari Praha (2016). Meski sejak 2012 telah biasa menulis naskah panggung bagi kegiatan berbasis komunitas di Maluku, Ipank (begitu ia biasa disapa) sebenarnya memulai karir kepenulisannya sebagai seorang penulis puisi. Tahun 2011, dia mewakili Maluku dalam Temu Sastrawan Indonesia (TSI) ke-4, di Ternate Provinsi Maluku Utara. Juga di tahun yang sama, turut terlibat dalam pementasan Konser Cinta Beta Maluku di Taman Ismail Marzuki.

Script saya pilih karena kerja kolaborasi, melibatkan lebih banyak orang. Karena tidak disiplin sih lebih tepatnya. Kalau novel, yang kerjanya sama editor, jatuhnya lebih lambat. Sementara script kalau tidak deliver, pekerjaan lain tidak jalan. Intinya, Tekanannya lebih tinggi jadi bisa lebih disiplin,” ujar Ipank mengemukakan alasan memilih penulisan skenario daripada jenis penulisan yang lain.

Mengenai keputusannya tersebut, sejauh ini, penulisan skenario dia anggap pilihan yang paling ideal. Sifat pengerjaan dalam film yang melibatkan banyak orang, menjadi alasan lain Ipank untuk bertahan, “Kalau berhenti, saya akan dianggap gila.” Meskipun, ia juga mengaku masih memiliki cita-cita untuk menerbitkan karya yang lain. Entah itu buku foto, prosa, atau apa saja.

Melihat usianya yang masih muda dengan pengalaman dan prestasi yang telah diraih, menarik untuk mengetahui hal-hal yang menginspirasi penulis skenario yang mengaku sering membuka-buka situs berita dibanding situs lain ini. Ditemui di sela-sela partisipasinya sebagai  pembicara di Makassar International Writers Festival 2016 baru-baru ini, Revius berhasil mengulik Buku, Musik, dan Film yang turut memengaruhinya dalam berkarya. Berikut penuturan M. Irfan Ramly:

Buku

Prinsipnya elementer. Kalau baca buku bagus mau menulis bagus, kalau menonton yang bagus mau bikin film bagus. Jadi hal-hal yang sifatnya stimulan. Kalau spesifik buku kegemaran, terutama dari luar, saya termasuk suka Murakami dan Amerika Latin kayak Gabriel Garcia Marquez. Saya terbayang-bayangi juga sama penulis dari Rusia. Buku-buku yang jadi pemantik, buku yang awal-awal dikenal pasca reformasi. Setelah sekian lama tidak boleh beredar, hal tersebut yang justru membuatnya menarik. Model-model semacam Gorky dan Dostoyevsky saya suka.

Kalau di Indonesia, tentu Pramoedya Ananta Toer, belakangan ada Eka Kurniawan apalagi bertemu dan ngobrol langsung. Itu jadi lebih menginspirasilah supaya terus bikin sesuatu yang baru.

Musik

Saya mencintai segala jenis musik, terutama lagu yang sedang atau biasa didengar orang. Tapi kalau menyebut musisi yang kau sebut sebagai “punyamu”, bolehlah saya menyebut Nirvana, karena saya suka Kurt Cobain. Tapi sebenarnya jatuh hati sama RHCP, juga Cranberries dan musik 90-an awal karena tumbuh di tahun-tahun itu. Tapi secara umum, orang tua saya suka sekali Iwan Fals. Saya tumbuh besar dengan lagu-lagu Iwan Fals, hampir semua liriknya saya hafal.

Film

Saya awalnya bukan penonton film dan tidak punya film favorit. Saya menulis film karena keadaan, ditempatkan sebagai penulis film, diminta untuk belajar dan akhirnya film jadi kebutuhan. Belakangan, setelah enam hingga tujuh tahun berproses, saya mulai memiliki banyak film favorit. Saya suka film-film dari Eropa. Terutama Jean Pierre Dardenne dari Perancis. Saya juga suka film Iran. Saya tidak suka film Hollywood, industri sekali. Saya suka film-film kosong namun kaya akan interpretasi. Film-film Iran juga saya suka, apalagi setelah Asghar Farhadi menang kompetisi. Dari film-film tersebut saya mulai merasa bahwa sinema tidak lagi sekadar sinema, bukan lagi untuk sekadar mendapat pengalaman visual, namun, untuk menyampaikan apa yang terjadi di dalam masyarakatnya.


Baca tulisan lainnya

MIWF 2016 Day 1: Seruan Untuk Menghentikan Pemberangusan Pengetahuan

MIWF 2016 Day 2: Tentang Perempuan hingga Musikalisasi Puisi Sapardi

MIWF 2016 Day 3: Satu Kata: Padat!

MIWF 2016 Day 4: Melampaui Dirinya Sendiri

Menolak Pemberangusan Buku

Bertanya Sebelum Kita Tenggelam

Penerjemahan adalah Kunci Menuju Literasi yang Lebih Baik

Pengalaman Maman dan Media Hari Ini

Tiga Penyair dari Tiga Negara yang Berbeda

Masyarakat Kita Ingin Membaca Diri Mereka Sendiri