Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Pertumbuhan dan kemajuan kota Makassar terbilang sangat pesat, setidaknya itulah yang kita lihat dalam beberapa tahun terakhir ini. Ditambah lagi pertumbuhan perekonomian Kota Makassar menembus angka di atas rata-rata. Pertumbuhan ekonomi Kota Makassar pada periode 2009-2014 mengalami perkembangan dan berada di atas angka sembilan persen. Entahlah, dua atau tiga tahun ke depan Makassar akan segemerlap atau se-fancy apa. Perkembangan perekonomian juga berdampak pada pembangunan, mulai dari hotel sampai kedai-kedai kopi yang eye catchy di kota ini. hampir di sekitaran jalan-jalan Kota Makassar, kita dapat menemukan kedai kopi dengan desain yang instagram-able dan comfortable. Alias desain-desain unik dan bertema ala-ala apa saja.

Menyenangkan bisa menikmati banyak tempat dengan tampilan yang unik dan menarik di kota ini. Tapi beberapa minggu lalu, saya secara tidak sengaja menemukan tempat antik yang seketika melampaui perasaan-perasaan sudah biasa dan terbiasa dengan desain-desain instagram-able itu. Jika kita berada di sekitaran gedung kesenian atau societet de harmonie, kita akan merasakan nuansa-nuansa kota tua dan tempo dulu. Kios-kios atau pedagang pinggir jalan yang membentang hingga gerbang pecinan. Tempat ini sangat populer dan strategis. Jadi sulit untuk dilewatkan untuk masuk dalam daftar pilihan, jika kita ingin menghabiskan waktu untuk sekedar ngopi dan bercerita panjang bersama teman-teman sambil menikmati suasana kota di malam hari. Lalu, lain cerita dengan siang hari yang biasa saja dan tidak begitu banyak kios-kios kecil yang buka.

Siang hari beberapa minggu lalu, saya bersama seorang teman menyempatkan diri untuk menyusuri jalan kecil di samping Societeit de Harmonie selepas menikmati sebuah pameran seni rupa. Waktu itu sebenarnya tujuan kami hanya untuk mencari tempat untuk makan siang, tapi kami tidak begitu yakin di sekitar sana ada tempat makan yang dekat kecuali berjalan sampai Karebosi. Tepat di samping kiri Gedung Kesenian ada sebuah jalan yang menarik perhatian.

Akhirnya karena tergoda suasana jalanan yang teduh dengan adanya pohon rimbun dan gedung tua yang berjejer, kami pun menyusuri jalanan tersebut. Kini alasannya bertambah satu lagi, selain mencari makan siang, kami ingin menikmati nuansa kota tua dan gedung-gedung tua di Makassar. Kami pun menyusuri jalan paving block yang tidak terlalu luas namun cukup untuk dilewati oleh kendaraan beroda empat. Kami sibuk memperhatikan ke kiri dan ke kanan, gedung-gedung tua yang berwarna pucat dan sebagian kusam jauh terlihat bedanya dari gedung-gedung minimalis, kekinian, dan berwarna cerah yang semakin marak kita temui di kota ini. sayangnya, gedung-gedung ke-doloe-an ini lebih banyak di manfaatkan sebagai gudang penyimpanan barang, sebagian kecil yang masih dijadikan untuk tempat tinggal, terlihat penampakannya yang terawat dan tidak.

mgs 1

Salah satu rumah tempo doeloe di jalan kecil samping Societeit de Harmonie.

Satu di antara di rumah-rumah tua yang berjejer, pintunya terbuka cukup lebar, terlihat di dalam, suasana ruang tamu yang luas. Namun, ada meja makan di dekat pintu. Kemudian saya coba memperhatikan lebih lama, akhirnya saya mendapati spanduk yang tidak terlalu besar menempel di dinding meskipun tidak terlalu jelas. Tempat ini adalah rumah makan yang menjual sop ubi, sop paru, dan beberapa makanan lain. Saya memesan sop ubi dan jus jeruk waktu itu.

mgs 2

Susana tempat makan, lemari antik, dan gorden jendela bermotif bunga-bunga.

Akhirnya kami menemukan tempat untuk makan siang. lalu Inilah makan siang yang tidak sekadar makan tapi menjadi santapan yang menarik untuk mata kami. Gedung ini adalah gedung tua, terlihat dari arsitekturnya dengan ruang tamu yang sangat luas, dinding-dindingnya sebagian sudah retak dan bata merahnya kelihatan. Namun, alih-alih memperbaiki dengan mendesain ulang dinding, pemiliknya hanya mengecat dinding yang masih utuh dan menambah cat merah pada dinding yang kelihatan batanya, semakin memperjelas warna merah batanya. Alhasil, artistik dan bersih. Jendela-jendela model ketinggalan jaman juga dihias dengan gorden motif bunga-bunga yang menutupi setengah jendela.

Suasana lantai dua yang dipenuhi kursi-kursi dan barang antik lainnya dari tahun 50-an.

Suasana lantai dua yang dipenuhi kursi-kursi dan barang antik lainnya dari tahun 50-an.

Di dalam lebih menyenangkan lagi, suasana jaman dulu terasa sekali. Mulai dari kursi ruang tamu yang entah dari berapa generasi ada di situ lengkap dengan meja kayu yang tidak kalah tua, ada cermin panjang dengan ukiran di sampingnya, Tidak mau kalah, ada jejeran jam tua yang sudah kekuningan, poster-poster film populer jaman dulu, dan sebuah radio yang saya tidak tahu di mana tombol On-nya. Belakangan saya mendapat informasi, ternyata barang-barang antik di rumah ini adalah koleksi pribadi pemilik rumah dari tahun 50-an. Mengingat benda-benda ini sudah lebih dari 50 tahun maka tidak dapat disebut sebagai properti lagi, melainkan barang antik. Satu lagi, pengetahuan musik saya bertambah, karena melihat sampul piringan hitam dari tahun 50-an saya akhirnya mengenal Cliff Richard. Sebelum The Beatles ada si Cliff teryata sudah eksis duluan, dan ia juga menjadi seseorang yang menyamai Elvis Presley di tingkat lagu teratas Britania Raya. Benar-benar rumah tua dan barang-barang antik ini membawa saya ke setengah abad lalu.

Piringan hitam musisi rock n' roll 50-an Cliff Richards yang tampaknya lebih ganteng dari Elvis Presley.

Piringan hitam musisi rock n’ roll 50-an Cliff Richard yang tampaknya lebih ganteng dari Elvis Presley.

Rumah tua ini kelihatan sepi dan lengang, tapi makan siang saya kali ini serasa makan siang di rumah nenek. Sederhana dan menyenangkan, senang karena merasa menyusuri waktu. Melihat sisa-sisa kejayaan tempo dulu di tempat yang tidak disengaja. Saya juga sadar bahwa penglihatan saya selama ini teryata lelah juga dengan kemajuan kota ini. Entahlah, saya hanya merasa tempat ini tidak macam-macam, hanya sisa-sisa sederhana dari kejayaan berpuluh-puluh tahun silam, begitu saja dan tidak dibuat-buat. Banyak makna yang bisa kita temukan di tiap sudutnya hanya jika kita mau mampir sebentar dan mengamati sedikit lebih lama.

Barang antik dan radio

Barang antik dan radio di sekitar ruang makan membuat makan siang kali ini serasa makan siang di rumah nenek.

Demikian pengalaman makan siang saya dan teman saya di tempat menyenangkan yang tidak sengaja kami temukan. Ternyata di tengah pesatnya kemajuan berbagai hal di kota ini, masih ada satu mesin waktu yang dapat mengajak kita kembali melihat ke belakang, ke beberapa waktu yang silam, menemukan makna-makna lain dan melintasi peristiwa-peristiwa yang tidak bisa diulang. Saya yakin di kota ini masih banyak “mesin waktu” lainnya yang dapat kita temukan, mungkin saja di sudut jalan yang sepi, di samping rumah sendiri, atau di gudang-gudang lama milik orang tua kita. Temukanlah dan ketahui cerita-cerita lama di baliknya. Iya, ini tantangan!

N.B.: Saya menantang para pembaca lainnya untuk menemukan mesin waktunya dan menceritakan cerita di baliknya (juga berlaku bagi redaksi Revius dan guest writer yang terhormat)


Baca artikel City Review lainnya

Benteng dan Rumah Tua Kota Makassar

5 Hal Unik yang Dapat Ditemukan di Taiwan

Lima Warung Bakso Paling Syahdu

Kita dan Kota Perlu Berteman dengan Lebih Banyak Taman

Lingkaran Setan Lalu Lintas Makassar

Kampung Melayu yang Dijaga Santo Petrus

Mengapa Ruang Terbuka Hijau Sangat Penting?

Makassar Mencakar Langit

5 Tipe Kafe Gaul di Jepang

5 Hal yang Nyeleneh yang Mudah Ditemukan di Kyoto

Saya, Korea, dan AIESEC

Toko Alat dan Bahan Kriya Favorit di Makassar