Foto: Reiko Yamada ( @MtReiko )

Saya berkenalan dengan Reiko Yamada dua tahun lalu, ketika itu dia menjadi penonton dan saya menjadi panitia screening film Weekend Kino Club di Rumata’ Artspace. Reiko berasal dari Jepang. Ketertarikannya dengan isu lingkungan hidup dan pengembangan kualitas hidup di negara-negara berkembang, membuat dirinya memutuskan bergabung secara sukarela di JICA (The Japan International Cooperation Agency), yang kemudian membawanya ke Makassar untuk bekerja di sekolah-sekolah dasar, memberi penyuluhan kepada siswa-siswi tentang pentingnya pelestarian lingkungan hidup di sekitar tempat mereka tinggal, sambil sesekali juga menjadi pengajar. Kesempatan ini kemudian dimanfaatkan Reiko untuk mengalakkan lagi program bank sampah yang dulu menjadi kebijakan pemerintah namun tidak konsisten. Dibantu LSM dan dukungan guru-guru, mereka pun menjalankan program bank sampah di 22 sekolah dasar, yang menurut pengakuannya diikuti siswa-siswi dengan sangat antusias.

Reiko tidak bermodal nekat untuk terjun dalam dunia lingkungan hidup. Ia menghabiskan jenjang S1 untuk jurusan Lingkungan Hidup di Kyoto Institute of Technology, dan di tahun 2006 ia berangkat ke Australia untuk melanjutkan gelar master-nya di University of Melbourne. Dengan Reiko, saya bisa membahas apa saja terutama yang berkaitan dengan isu lingkungan, sampai saya ingat pernah diajak Reiko ikut serta dalam kegiatan long march oleh Earth Hour Makassar di Pantai Losari sebagai bagian dari dukungan pelaksanaan Konferensi COP21. Kedekatan saya dengan Reiko dan ketertarikannya untuk datang ke Makassar menyumbangkan idenya untuk sekolah-sekolah dasar yang ia kunjungi membuat saya tertarik mengajaknya bercerita mengenai kesan yang ia dapat di kota Makassar.

Sebelum menginjakkan kaki ke Makassar, Reiko punya kesan bahwa orang Indonesia pastilah menyenangkan. “Waktu masih di Melbourne, jauh sebelum saya berencana ke Makassar, saya pernah diundang oleh teman sejawat asal Indonesia untuk menghadiri gathering, yang kalau tidak salah ingat adalah gathering Lebaran. Saya hadir di sana dan takjub melihat semua orang-orang ini tertawa bahagia tapi tak ada satu pun di antara mereka yang minum (minuman keras).” Padahal di Jepang, menurut Reiko, ketika para pemuda berkumpul, mereka harus minum dulu baru bisa tertawa. “Tapi ketika akan ke sini pun, salah seorang teman saya yang pernah ke Makassar mengatakan bahwa Makassar adalah kota yang macet, so, macet adalah hal yang sudah saya antisipasi”. Menariknya, Reiko mengaku bahwa walaupun kemacetan tersebut sudah ia antisipasi, ia tetap saja dibuat terkejut. “Saya terkejut bahwa saya takkan bisa naik sepeda di sini, bahkan untuk menuju ke kantor tempat saya bekerja pun tidak bisa. Karena macet dan panas, terlalu banyak polusi”.

Sambil tertawa Reiko mengenang bahwa awalnya ia sempat ketakutan polusi di Makassar akan membuatnya terkena kanker. “Saya datang dari salah satu kota paling liveable dan lovable di dunia, Melbourne. Di sana ada banyak taman, keamanannya terjamin dengan transportasi publik yang nyaman. Saya tak menemukan itu di sini, terutama taman yang bisa saya kunjungi kapan saja ketika saya butuh ketenangan, jauh dari bunyi mesin kendaraan”. Kini, setelah hampir 2 tahun di Makassar, Reiko sudah paham bahwa ada banyak tempat wisata di luar Makassar yang menyenangkan untuk ia kunjungi. Tapi kembali dalam konteks perkotaan Makassar, ketika saya menanyakan apa yang paling ia rindukan, Reiko menjawab “Saya merindukan galeri seni dan arena musik indie atau underground, karena dulu di Melbourne saya senang berkunjung ke banyak banyak eksibisi, pergelaran musik dan berbagai festival film di sana. Juga pasar organik. Itu semua sulit saya temukan di sini”. Menurutnya, menyaksikan kegiatan seperti itu ibarat memberikan nutrisi bagi pikirannya, menginspirasinya melakukan sesuatu yang baru. Ketika saya memberitahukan bahwa di Makassar pun biasa digelar kegiatan serupa, “Mungkin karena keterbatasan informasi yang saya terima dan bahasa yang saya punya, jadi saya tak begitu tahu soal itu. Tapi Rumata’ Artspace jadi tempat favorite saya di sini, setidaknya event yang mereka adakan mampu mengobati rasa kangen saya”, balasnya.

Mengingat kedatangannya ke Makassar adalah untuk berpartisipasi melalui sekolah-sekolah dasar untuk mengampanyekan pentingnya menjaga lingkungan dari sampah, Reiko lalu menceritakan kekhawatirannya mengenai sampah di Makassar, “Kebanyakan masyarakat berpola pikir seperti ini; mereka membuang sampah di sembarang tempat karena akan ada petugas sampah, pemulung atau bujang sekolah yang akan memungutnya, padahal pada kenyataannya tidak selalu demikian.” Indonesia jadi negara penghasil sampah terbesar ke-dua di dunia, alasan utamanya karena populasi. Populasi ini yang menurutnya tidak sepadan dengan fasilitas pemungutan dan pengolahan sampah yang disediakan bagi pemerintah untuk masyarakatnya yang padat. “Bahkan petugas sampah yang disediakan pemerintah di sini tidak semua bisa menjangkau rumah-rumah warga. Belum lagi pengolahan TPA-nya juga sangat buruk karena digunakan cuma untuk menumpuk sampah semata. Berbeda dengan Surabaya yang memiliki fasilitas daur ulang sampah”. Menurut Reiko, pemerintah di sini sangat lamban dalam hal mengolah sampah dengan baik, “Makassar adalah Jepang 20-30 tahun yang lalu dalam hal mengolah sampah. Dan saya tak mau menyalahkan masyarakatnya dengan menuduh mereka kurang sadar. Tugas pemerintahlah yang harusnya lebih banyak bergerak.”

Reiko Yamada (@MtReiko) siswa-siswi SD Negeri Tanggul Patompo II & Earth Hour Makassar, November 2015_2Revius

Tempat Pembuangan Sampah Non-Organik dari wadah sederhana yang tersedia di SD Negeri Tanggul Patompo II, salah satu SD dimana Reiko mengajar.

Suasana menimbang sampah non-organik di SD Negeri Tanggul Patompo II.

Suasana penimbangan sampah non-organik di SD Negeri Tanggul Patompo II.

Terlepas dari segala permasalahan polusi dan sampah serta kemacetan di Makassar, Reiko mengaku orang-orang Makassar membuat ia menyukai kota ini. “Orang-orang di sini sangat ramah dan sangat membantu. Di sekolah misalnya, orang-orang yang saya temui selalu berusaha membuat saya merasa nyaman.” Ketika saya menanyakan tentang keramahan orang Jepang, Reiko mengungkapkan bahwa masyarakat Jepang pun ramah terhadap orang-orang asing, “Tapi mereka tidak begitu memaksa. Di Makassar, jika kita disuguhi makanan, kita dipaksa untuk menambah lagi dan lagi walaupun kita sudah bilang tidak. Di Jepang mereka cuma menawari sekali dan sudah.” Meskipun keramahan orang Makassar bagi Reiko terasa overwhelming, ia sama sekali tidak terganggu, karena ia paham niat tersebut adalah baik.

Selain persoalan lingkungan, kami juga biasa membahas persoalan diskriminasi yang kerap jadi bahasan media online. Ketika saya menanyakan adakah diskriminasi yang ia temukan di Makassar, Reiko menjawab, “Diskriminasi terhadap orang berkulit gelap seperti yang asalnya Flores misalnya, orang cacat, atau berpenyakit kulit sangat mengejutkan di sini. Di Jepang juga ada diskriminasi tapi mereka tidak ekspresif. Di sini, orang-orang bisa sangat terus-terang mengekspresikan diskriminasi atau ejekan terhadap mereka, and that’s not cool.

Pertengahan tahun ini, Reiko akan meninggalkan Makassar, memutuskan mencari pekerjaan di Australia dengan harapan menemukan yang berkaitan dengan lingkungan hidup atau tenaga bantu bagi para imigran. “Jika kelak kamu punya kesempatan untuk kembali ke Makassar, apa yang ingin kamu lihat?” Tanya saya. “Tentu saya berharap melihat wajah Makassar yang berbeda dari yang saya lihat sekarang, saya percaya Makassar bisa, karena pertama kali menginjakkan kaki di sini sampai sekarang, saya melihat ada perubahan dari kota ini. Saya juga kagum dengan semangat anak muda Makassar yang rajin membentuk komunitas secara sukarela tanpa dibayar, yang keberadaan mereka untuk kepentingan masyarakat luas. Ini merupakan hal yang sangat positif. Ada banyak komunitas sukarela di sini, berbeda dengan di Jepang atau Australia yang semuanya disokong pemerintah, jadi yang berpartisipasi di dalamnya mendapat gaji.” Generasi muda, menurut Reiko, menjadi harapan kota ini untuk lebih baik. []


Baca artikel City Review lainnya

Verona, Kota Penuh Kebohongan

Laneway Music Festival dan Fenomena Kampung Sebelah

Perintis dalam Tatapan Sinis

5 Hal Unik yang Dapat Ditemukan di Taiwan

Lima Warung Bakso Paling Syahdu

Kita dan Kota Perlu Berteman dengan Lebih Banyak Taman

Kampung Melayu yang Dijaga Santo Petrus