“Makassar Bisa Tonji” (artinya: Makassar juga bisa) adalah judul lagu dari kelompok musik yang menyebut diri mereka “Art2Tonic”. Awal 2000-an silam, radio-radio anak muda di Makassar memainkan lagu ini sebanyak ribuan kali. Dari sisi musikalitas, lagu ini biasa saja, tapi liriknya yang satirikal dan sarkastik menjadi alasan di balik hipnya lagu ini. Sepertinya bukan cuma Rere, dkk. yang gerah kepada orang Makassar yang berlogat Betawi ketika makan Coto Nusantara.

Tujuh hari yang lalu berangkat ke Jakarte

Seminggu ki di sana, pulangnya logat tong mi

Nakana elu-gue, elu elu gue gue

Biar dengan Deng Beca’, na sikat elu gue

Saya menyukai lagu ini, sejak pertama mendengarnya sepuluh tahun lalu di radio Madama sampai beberapa menit lalu via Yucub. Lagu ini masih membuat saya tersenyum. Sindiran-sindirannya pun masih relevan.

Tapi entah kenapa, “Makassar Bisa Tonji” saat ini tidak hanya mengacu pada judul lagu. Bagi sebagian orang, “Makassar bisa tonji” adalah sebuah mindset. Sebuah prinsip yang digunakan untuk menunjukkan kebanggaan sebagai orang Makassar. Sebuah kredo untuk menepuk dada atas asal-usul.

Pada pemillihan presiden 6 tahun lalu, “Makassar bisa tonji” adalah slogan tidak resmi salah satu calon. 2 atau 3 tahun lalu, saya pernah melihat kontestan salah satu ajang pencarian bakat meminta dukungan sms dengan menggunakan slogan “Makassar bisa tonji”. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu apakah kontestan ini menang atau tidak.

Beberapa minggu lalu, saya menemukan penggemar PSM juga berkicau menggunakan “Makassar Bisa Tonji” sebagai bentuk dukungannya.

Dalam banyak pertemuan komunitas, saya juga mendengarkan “Makassar bisa tonji” diucapkan berkali-kali. Bila mendengar ini, saya tiba-tiba membutuhkan kopi.

“Makassar Bisa Tonji” sebagai sebuah lagu dan “Makassar bisa tonji” sebagai sebuah prinsip adalah dua hal yang berbeda. Saya hanya bisa menyukai lagunya. Bagi saya, “Makassar bisa tonji” adalah sebuah kredo yang berbahaya. Ibarat meminum multivitamin, yang mampu meningkatkan vitalitas secara jangka pendek, tapi berbahaya bagi kesehatan ginjal secara jangka panjang. Bila kita ingin memiliki ginjal yang sehat, ketergantungan ini harus segera diakhiri.

Lagipula, ada apa dengan sentimen kedaerahan seperti ini? Apakah Makassar sedang berperang dengan daerah lain? Tidak. Apakah situs-situs budaya Makassar terancam? Mungkin. Tapi, kita bisa menyalahkan apatisme kita sendiri untuk itu. Menepuk dada sana sini tidak akan memberi faedah apa-apa.

Kenapa kita begitu berbangga bila orang Makassar menjadi orang terkenal? Saya yakin ada yang bangga pada kiprah Jusuf Kalla, Abraham Samad, Baharuddin Lopa, B.J Habibie bahkan pada Kiki Amalia hanya karena  kampung halaman yang sama. Bila Baharuddin Lopa bernama Agus Mustopo atau Daniel Chaniago, saya skeptis banyak penggemar beratnya akan tetap mengidolakan, meski Baharuddin Lopa/AgusMustopo/Daniel Chaniago tetap memiliki integritas yang sama kokohnya.

Saya sendiri merasa risih, bila ada pendukung PSM yang menyindir saya yang lebih menyukai sepakbola Eropa. Sepertinya dia lupa, celana jeans favoritnya juga diproduksi ribuan kilometer dari Makassar.

Saya menyukai kelompok musik yang berasal dari Makassar. Theory of Discoustic, Melismatis, Myxomata dan Tabasco adalah beberapa diantaranya. Tapi menyukai mereka hanya karena kedekataan kampung halaman berarti meremehkan kualitas karya mereka. Saya, hanya satu orang dari ribuan bahkan puluhan ribu penggemar musik yang merasa tersentuh oleh karya-karya mereka. Kampung halaman tidak punya urusan secuil pun di sini.

*

“Makassar Bisa Tonji” adalah sebuah “slogan” yang catchy. Wajar bila populer. Saya pun mengerti maksud baik di balik itu. Saya juga paham slogan itu sedikit banyak mempengaruhi perubahan mindset masyarakat Makassar dalam melihat kota ini secara umum dan karya-karya yang berasal dari Makassar secara khusus. Tapi, alih-alih menunjukkan kebanggaan, saya melihat slogan ini sebagai sebuah upaya menyedihkan untuk menutupi krisis kepercayaan diri. Subconscious inferiority complex at its best.

Kepercayaan diri adalah sesuatu yang elastis. Suatu hari ia bisa serapuh kaca jendela kamar, hari lain ia bisa setangguh berlian dari Afrika. Lebih sulit meramalkan level kepercayaan diri –yang akan berdampak pada mood—ketimbang meramalkan hasil pertandingan PSM.

Meski lahir dan tumbuh di kota Makassar, saya enggan mengatakan apalagi berkoar-koar bahwa saya bangga menjadi orang Makassar. Ini tidak berarti saya membenci kota kelahiran, ataupun menganggap budaya ibu saya adalah sesuatu yang inferior. Ini juga bukan berarti saya tidak mengagumi dan menyayangi orang-orangnya. Jauh dari itu.

Keengganan ini dilatari pemahaman bahwa rasa bangga seharusnya tidak berasal dari sesuatu yang kita peroleh secara cuma-cuma atau pada sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Sama seperti saya tidak berbangga karena menghirup oksigen dan menghembuskan karbon dioksida. Saya juga tidak merasa bangga karena bisa berlari. Semua orang bisa melakukannya. Tapi apakah saya akan merasa bangga jika (seandainya) bisa berlari sejauh 10 kilometer hanya dalam tempo 20 menit? Damn sure, I would!

Seperti rasa respek, rasa bangga bukanlah hadiah. Kita memberi dan menerimanya atas dasar kepantasan.

Cheers!