Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Di era globalisasi, kota Makassar dipersiapkan sedemikian ‘cantik’ rupanya oleh pemerintah. Banyak investor asing maupun domestik mulai tertarik untuk menanamkan modal untuk memacu perkembangan kota dalam sektor ekonomi. Sayangnya, kemasan luar kota yang semakin modern membuat ada banyak hal-hal yang harus dikorbankan dan menimbulkan masalah-masalah sosial.

Problema kota yang sempat dirasakan oleh redaksi Revius belakangan ini diungkapkan dalam tulisan berikut ini yang juga menghadirkan harapan dan mimpi tim redaksi Revius akan Makassar di masa depan.


Nurul Fadhillah S.

Sedikit Cerita Dari Dia Yang Masih Kecil

Bercerita tentang Makassar serupa bercerita tentang kenangan. Saya rasa memang tidak akan pernah ada habisnya. Tinggal di Pelita Raya mengharuskan saya membuka mata dengan baik. Masyarakat di sini sepertinya memiliki toleransi satu sama lain. Toleransi dari kios kecil kepada hotel berbintang yang berdampingan. Mereka hidup dan berkembang di tempat yang sama.

Hingga suatu hari, sepulang saya dari membeli beberapa kebutuhan, motor saya tampak tidak ada yang mengerumuni. Biasanya akan banyak anak kecil yang meminta uang parkir. Seorang anak perempuan duduk dengan kapur di tangannya yang entah dia dapat dari mana. Dia memandangi saya dengan lusuh dan wajah yang lelah. Seakan hidup terlalu berat untuk dia lewati seorang diri. Saya memberinya uang dan dia menolak. Saya heran dan dia menunjuk sebuah papan kayu, kemudian berkata; “Janganmi kasika uang kakak, ajarka saja menulis atau menggambar”. Kata-katanya menghujam jantung saya seketika.

Uang 500 rupiah atau 1000 rupiah terkadang tidak pernah bisa membeli mimpi dari anak yang dipaksa bekerja demi tuntutan hidup untuk makan keesokan hari. Saya berharap suatu hari akan ada orang yang mau sedikit menundukkan kepalanya melihat mereka yang punya cita-cita tinggi namun sukar untuk diwujudkan.

0 0 0 4

 

Aswan Pratama

Transportasi di Makassar

Makassar dalam jalannya menuju “Kota Dunia” pasti akan menghadapi masalah transportasi. Makin banyaknya kendaraan pribadi, tidak diimbangi perkembangan infrastruktur jalan sehingga dikhawatirkan jalan-jalan di Makassar macet.

Di Makassar jumlah kendaraan roda dua meningkat 13-14 persen per tahun dan roda 4 meningkat 8-10 persen per tahun. Sementara pertumbuhan jalan hanya 0,001 persen per tahun. Sehubungan hal itu banyak himbauan tentang penggunaan transportasi umum, namun ada beberapa masalah yang menurut saya nampaknya masih perlu dibicarakan.

Pete-pete (angkot) ongkosnya menyentuh Rp.5000 bisa dibilang sebuah masalah yang dibiarkan, saat itu harga bbm yang fluktuatif, saat naik menyebabkan para supir mengambil kesepakatan untuk menaikkan ongkos, dan pada saat harga bbm kembali turun dan cenderung stabil angkanya, mereka bahkan tidak mempertimbangkan untuk kembali mengubah ongkosnya. Padahal Rp.5000 itu bisa sangat mempengaruhi kehidupan dalam sehari terutama para pelajar (kebanyakan SMP dan SD) yang sering menjadi korban tatapan kesal saat membayar kurang dari ongkosnya. Makin banyak taksi liar dan tidak mempunyai markas resmi yang beroperasi, keamanannya pun patut dipertanyakan. Bus Mamminasata bukti jelas betapa tidak siap dan kurang terencananya Pemkot dalam merealisasikannya, jadwal keberangkatan bus yang belum jelas, halte yang terlihat terbengkalai, membuat bus ini tidak menjadi pilihan utama.

0 0 0 1

Kepadatan transportasi di Makassar yang didominasi oleh kesembrawutan pengemudi pete-pete.

Dalam masalah ini terlihat PR besar bagi pemkot untuk melakukan perencanaan, pendekatan, dan pengawasan yang lebih baik lagi. Baik dalam pengelolaan angkutan umumnya agar ramah dan aman bagi semua pihak, ataupun peningkatan infrastruktur jalan, jangan hanya memperbanyak izin untuk bangunan yang mayoritas lahan parkirnya memakai bahu jalan. Apalagi transportasi umum menjadi bagian penting dalam penggerak roda ekonomi di Kota Makassar.

Apabila ini semua tercapai, gantian tugas masyarakatlah, mengapresiasi transportasi umum yang disediakan. Gunakanlah, agar masalah kemacetan dan sebagainya bisa teratasi. Yah, semua pihak dibutuhkan dalam membuat Makassar lebih baik.

 

Achmad Nirwan

Panggung-Panggung Musik di Makassar

Melihat para penikmat  musik di Makassar mulai sering menikmati panggung-panggung musik mungkin sekitar lima tahun belakangan ini baik dari skala kecil hingga besar, membuat saya cukup salut melihat semangat yang luar biasa seperti ini.  Sayangnya, kehadiran gig-gig seperti ini tidak diimbangi oleh kehadiran tempat-tempat yang memadai untuk diadakan pertunjukkan musik. Lihat saja frekuensi tempat-tempat ruang publik seperti Anjungan Losari malah dipaksakan eksistensinya untuk mengelar pertunjukkan musik dalam skala besar dan komersil oleh pemerintah maupun event organizer yang hanya melihat profitnya.

0 0 0 6

Anjungan Pantai Losari yang kerap dipakai untuk menggelar pertunjukan seperti ini masih pantaskah dialihfungsikan dari peruntukkan aslinya?

Tetapi tidak demikian dengan gig dengan skala kecil yang digerakkan oleh musisi independen Makassar yang mulai membuka mata dan telinganya untuk menghadirkan gig kolektif  dan non-profit hingga berbelas-belas edisi bahkan edisi tahunan, di antaranya Grindhouse Fest, Raw Is Rawa Rawa, No Control, Fight The War, KBJamming di Kedai Buku Jenny serta Menyimak di Katakerja. Walaupun jumlah penikmat tidak mencapai ribuan, pergerakan secara kasat mata ini diharapkan akan memajukan pola fikir otonom dalam bermusik di kota Makassar dan menjadi pemicu musisi lainnya untuk menghadirkan hal yang sama pada tahun-tahun berikutnya.

Saya berharap keberadaan ruang-ruang alternatif seperti gig-gig kecil ini tetap tumbuh secara kualitas dan kuantitasnya tiap tahun, agar memberi tamparan keras untuk gelaran musik kompetisi dan event musik komersil dukungan pemerintah yang alih-alih mendukung industri musik Makassar, namun pada pencapaiannya, memberi harapan palsu pada musisi-musisi di kota ini.

Semangat mempetisi rasa ini seharusnya bisa menjadi jejak percontohan untuk komunitas musik lainnya yang ada di kota Makassar, sekaligus menjunjung tinggi nilai kolektifitas dan tidak sekedar termakan oleh buaian para pemilik modal yang hanya menjalankan naluri bisnisnya semata tanpa mengindahkan potensi besar para musisi di kota ini.

Hardy Zhu

Andai Potensi Setiap Orang Bersinar dengan Liar

Setiap orang punya impian yang diharapkan akan terwujud di masa depan. Impian itupun tergantung dari masing-masing pemilik. Ada yang untuk dirinya sendiri, atau lebih baik lagi berefek untuk orang lain. Ada yang bertanya pada saya, apa impian atau harapanmu untuk Makassar ke depannya? Harapan untuk kota kelahiran saya di masa depan? Jelas ini pertanyaan yang sangat saya suka. Di sinilah saatnya saya mengutarakan apa yang tertahan di dalam dada dan saatnya dituangkan melalui jemari dalam bentuk kata.

Makassar akan jadi sangat istimewa jika orang-orang di dalamnya ikut membuat diri mereka tidak biasa. Jika tiap hari seseorang mempunyai rutinitas bangun pagi, berangkat lalu bekerja sampai sore, pulang istirahat, sesekali nongkrong-nongkrong manja, dan berputar seperti itu terus. Tidak ada yang spesial, tidak ada yang wah bin wow!

Sebenarnya ada banyak potensi, bakat, dan skill yang tertanam di diri masing-masing orang. Tapi yang kadang menjadi kendala adalah wadah dan dukungan orang sekitar. Mau tidak mau akan membatasi potensi yang semestinya tidak boleh dibatasi. Potensi akan liar bersinar jika dimerdekakan. Dan potensi tiap diri warga Makassar pastinya akan terlihat jika ada wadah yang menampungnya, yang mengasah sesuatu yang spesial tersebut.

0 0 0 8

Makassar dengan banyak potensi istimewa yang bersinar dengan bebas. Wadah bakat yang tidak susah lagi ditemukan, itu Utopia Makassar versi saya.

 

Hafsani H. Latief

Pada suatu malam sepulang kerja di jalan Botolempangan, sekitar pukul 11 saya harus berjalan kaki mencari angkot. Keterbatasan uang cash dan ATM terdekat yang rusak membuat taksi tidak menjadi pilihan. Saya berjalan menuju jalan Ince Nurdin dan kemudian singgah di jalan Hasanuddin untuk menunggu pete-pete. Sekitar 10 menit menunggu dan tak juga ada. Saya memutuskan berjalan kaki menuju MTC untuk mendapatkan pete-pete ke arah Tamalanrea. Saat berjalan di trotoar, sebuah mobil berjalan pelan mengikuti dan membunyikan klakson. Awalnya saya tidak menghiraukan hingga bunyi klaksonnya mulai membuat saya jengkel. Seorang lelaki memanggil saya dari mobil. Saya terus berjalan dan lelaki tersebut masih mengikuti sambil meneriaki saya dengan kata-kata yang tidak sopan. Sontak sekelompok lelaki yang sedang nongkrong di depan Monumen Mandala ikut meneriaki. Meskipun sepanjang perjalanan saya terus berdumel, saya baru lega setelah tiba di rumah.

Satu hal yang paling saya harapkan adalah saya tidak lagi mengalami hal tersebut dua kali. Dan semoga perempuan lainnya juga tidak mengalami hal yang serupa. Saya tidak meminta pemerintah kota mengurus dan mengatur moral masyarakatnya, tapi saya kira hal tersebut bisa dicegah dengan memberikan pengajaran untuk tidak menjadikan perempuan korban diskriminasi dan kekerasan seperti tadi. Pendidikan tidak hanya dilakukan di sekolah, yang terpenting adalah di lingkungan keluarga. Karena masyarakat tidak mungkin membatasi perempuan bekerja hingga malam untuk kelangsungan hidupnya. Dan berhenti menjadikan perempuan sebagai alasan utama penyebab terjadinya pelecehan. Ibarat warung makan yang buka di bulan puasa, jika kamu memikirkan ibadahmu jagalah agar puasamu tidak sampai batal. Tidak perlu mengomentari orang yang mencari rejeki dengan tetap membuka warung makannya.

0 0 0 2

 

Arkil Akis

Beberapa hari yang lalu, Makassar menjadi tuan rumah Asean Mayor Forum 2015. Sebuah ajang ngobrol, ngalor, ngidul walikota-walikota Asean (kalau ini butuh didebat, tolong traktir saya minum kopi) Selain tentu saja, saling memamerkan kemewahan kota masing-masing. Makassar, sebagai tuan rumah, memilih memamerkan gedung-gedung barunya, sebutlah, gedung phinisi juga Landmark andalannya, anjungan dengan tulisan “City of Makassar”. Pameran tersebut disertai dengan perintah menutup penjual-penjual tradisional seperti kios-kios di sepanjang jalan AP. Pettarani, juga gerobak-gerobak pisang epe di sekitar Pantai Losari. Kepalsuan ini sebenarnya sudah berlangsung lama, terutama saat ada event atau kedatangan tamu internasional. Sebagai penduduk kota, tentu saja saya merasa malu. Bagaimanapun, menjadi palsu adalah sebuah kekurangan.

0 0 0 0

Penjual Roti Keliling merupakan salahsatu dari sekian banyak bentuk “Ekonomi Trotoar”.

Harapan saya, ayolah pak walikota yang Insya Allah asli sejak dari senyuman. Tularkanlah keaslian tersebut. Tunjukkanlah kepada dunia, wajah Makassar dari para pelaku usaha kecil menengah, dari pelaku “Ekonomi Trotoar”, sebab bagaimanapun, mereka adalah bagian dari ekonomi real di kota ini. Dukunglah mereka, biar kita punya banyak angkringan. Konon, salah satu bukti kota yang penuh kehangatan, adalah kota yang punya banyak angkringan. Sebab mungkin saja, kota ini juga seperti kita, ingin dicintai apa adanya dengan cara sederhana. Bukan kemewahan penuh kepalsuan.

 

Andi Chairiza

Mungkin  benar, manusia memang tidak pernah benar-benar merasa puas. Begitu pula dengan saya dan orang-orang lainnya yang masih menyimpan harapan besar untuk kota ini. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau. Harapan saya akan kota ini semakin menjadi-jadi setelah saya mengikuti akun instagram seorang walikota berinisial R-K.

Awalnya, saya ingin fokus membahas tentang perpustakaan, namun sudah beberapa bulan saya tidak mengunjungi pepustakaan kota lagi. Karena memang, perpustakaan alternatif selalu lebih menarik dan menyenangkan. Peningkatan fasilitas umum kota untuk kenyamanan  masyarakat adalah salah satu hal yang saya harapkan. Bagaimana ruang-ruang terbuka bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Tidak ada salahnya mencontohi hal-hal positif. Steal like an artist!. Seperti kota B, ruang-ruang terbuka dimanfaatkan untuk taman-taman insipiratif. Taman film, taman jomblo atau taman fitness.

0 0 0 7

Seperti kata Soekarno, kata-kata penting untuk mengilhami tindakan. Semoga kata-kata kami dalam tulisan ini bisa mengilhami tindakan pemangku kebijakan demi kota Makassar yang jauh lebih nyaman.

Aisyah Azalya

Makassar mungkin sedang dalam tahap pembangunan besar-besaran. Tapi menurut saya, menjadi kota dunia tidak melulu mengenai gedung yang tinggi. Kota yang ideal adalah kota yang memenuhi kebutuhan penduduknya dan nyaman untuk ditinggali.

Dengan iklim yang super-duper-mega-tropis-beberapa-level-dibawah-padang-mahsyar, saya rasa pemerintah harus cerdas dalam menyamankan kota ini. Ketropisan kota ini harusnya bukan dijadikan sebagai “masalah yang diterima”–ah, sudahlah, cuacanya memang begini, mau diapain lagi?. Tetapi sebagai cambukan untuk mengasrikan kota ini.

Area bermain di Taman Segitiga di Jl. Sultan Hasanuddin ini selalu terlihat sepi.

Cukuplah dengan jalan-jalan yang asri, dan pencanangan satu rumah satu pohon. Akan lebih bagus lagi–dan saya sangat mendukung–kalau taman kota lebih banyak dan lebih luas.

Sebagai seorang pembaca yang senang menghabiskan waktu dengan buku (ya iyalah). Saya selalu bermimpi bahwa kita memiliki lahan luas dengan rumput hijau yang bersih, pohon-pohon besar yang meneduhkan, ditambah dengan angin sepoi-sepoi. Saya akan duduk dibawah pohon, melahap beberapa buku, bahkan menggambar atau sekedar tidur-tidur sembari melihat langit biru. Lengkap sudah, sebuah surga duniawi telah tercipta.

Suatu kali, saya beruntung mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Sydney. Gedung-gedung tinggi, opera house, dan pertunjukan kembang api setiap minggu memang menjadi daya tarik tersendiri but only for the sake of your instagram feed.

I miss Sydney because of its park. Hyde Park yang luasnya lebih besar dari Karebosi, dengan  pohon-pohon rindang, dan rumput hijau sejauh mata memandang. Tidak ada yang lebih membuatku jatuh cinta dari kenyataan bahwa tempat publik ini lebih nyaman dari rumahmu. Kenyamanan itu bisa terlihat dari banyaknya orang yang menghabiskan waktu mereka menikmati hijaunya taman dan birunya langit. Believe me, I’ve spent almost a big amount of time on there , and I won’t ever get bored.

Menurut saya, kecintaan saya pada kota bukanlah dari landmark-landmark terkenalnya ataupun dari seberapa tinggi gedungnya. Tetapi dari lahan-lahan luas yang didedikasikan untuk alam dan betapa dengan cermat dikombinasikan dengan hiruk pikuk kota.

Saya pun yakin, orang-orang tidak akan selalu mengunjungi landmark-landmark kota, but they will always coming to the park.

We can have our tall building and monument to fill our pride, but we will always need a park to find our solitude.

A city always needs a park.


Baca Artikel Lainnya dari Revius’ Editors

Lomba-Lomba yang Dirindukan

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Produk-Produk Lokal yang Patut Dilirik

Oh, The Masjids You’ll Go!

Tempat “Ngabuburit” dan Berbuka Puasa

Tips Berpuasa di Bulan Ramadhan

Komunitas Sinergi, Harmoni, Aksi!

Mengingat Kembali Karaeng Pattingalloang

Orang-Orang yang Harus Kami Temui di MIWF 2015

The Most Memorable Events

Akun Instagram Favorit

Mari Melihat Api Bekerja

Film Makassar In Cinema 2015 Pilihan Kami

Musisi Indie Makassar Favorit

Mitos-Mitos yang tidak Masuk Akal

Tempat Makan Favorit Kami

Selamat Hari Film Nasional!

Situs-Situs Web Favorit Kami

Video Musik Pilihan Kami untuk Kamu

Kuntilanak Jatuh Cinta (dan Cerita-Cerita Lainnya)

Apa Itu Hari Valentine

10 Seniman Mengartikulasikan Kota di PechaKuchaNight Makassar Vol.6

Alasan Orang-Orang ke Sepiring Culinary Festival