Urbanized (2011) adalah salah satu dari trilogi film dokumenter arahan Gary Hutswit yang mengkaji desain dan kaitannya dengan kehidupan manusia. Setelah Helvetica (2007)  dan Art & Copy (2009) yang membahas typeface dan industri periklanan, Urbanized berfokus pada tema desain yang lebih luas, urban design dan pengaruhnya pada kehidupan masyarakat kota dilihat dari aspek sosial ekonomi, kesehatan, keamanan, budaya, dan lingkungan. Di tulisan ini, saya tidak akan mengulas film ini secara utuh, tapi akan fokus pada satu bagian yang mengilustrasikan bagaimana desain tata kota yang baik dan empatik dapat mengurangi masalah kriminalitas di sebuah kota di Afrika Selatan.

+++

KHAYELITSHA. Bukan, itu bukan nama anak salah seorang pejabat pemerintahan di Makassar. Bukan pula nama mantan kekasih siapa pun. Khayelitsha adalah nama sebuah kota kecil di Afrika Selatan. Kota tersebut dibangun pada era Apartheid khusus sebagai daerah residensial. Tujuannya: meminggirkan warga kulit hitam dari pusat kegiatan ekonomi dan politik.

Tidak ada basis kegiatan ekonomi riil di kota kecil yang terletak 35 kilometer dari Cape Town tersebut. Warga Khayelitsha yang ingin mendapatkan pekerjaan untuk bertahan hidup harus pergi ke area lain. Sistem transportasi publik sangat buruk, membuat penduduk Khayelitsha malas berangkat kerja. Akibatnya, banyak warga yang memilih untuk tinggal di rumah dan menjadi penjahat.

Maling, perampok, penjambret, bahkan gangster merajalela di Khayelitsha. Para warga harus mengunci pintu rumah mereka dengan rapat. Jalanan tidak aman. Dan, karena itu, anak-anak tidak berani keluar rumah. Niat untuk berwirausaha berkurang. Tukang cukur, pedagang kaki lima, atau pemilik warung kopi satu demi satu gulung tikar. Ekonomi terpuruk. Angka pengangguran dan tingkat kriminalitas bertambah tinggi. Lingkaran setan.

Pada 1994, sembilan tahun setelah Khayelitsha berdiri, politik Apartheid dihapuskan. Sistem pemerintahan yang lebih adil dan terbuka untuk semua warga Afrika Selatan pun dimulai. Bagi warga Khayetlisha yang hidup tidak nyaman dan aman, hal tersebut merupakan angin segar. Ada sesuatu yang harus berubah.

Setiap kota, tentu saja, menghadapi berbagai macam tindakan krimininal dengan akar persoalannya masing-masing. Persoalan ekonomi merupakan hulu dari seluruh kejahatan yang mengancam warga Khayetlisha. Tetapi, mendorong investasi yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan bukan hal yang mudah, apalagi dalam situasi keamanan yang buruk.

Sebagai solusi, pemerintah Khayelitsha memilih untuk fokus memberikan rasa aman kepada warganya melalui Violence Prevention through Urban Upgrading atau VPUU. Program tersebut dirancang untuk meminimalisir angka kriminalitas lewat pembangunan wilayah urban. VPUU melakukan hal-hal sederhana tetapi penting, seperti memasang lampu-lampu penerangan jalan, memperbaiki jalur untuk pejalan kaki (warga Khayetlisha terlalu miskin untuk membeli kendaraan), dan membenahi jalur transportasi ke kota lain untuk mendorong para warga mencari sumber penghasilan yang legal.

Hal yang paling menarik dari program VPUU adalah bangunan yang mereka sebut active box. Untuk setiap 500 meter jalur pejalan kaki, dibangun 1 active box yang beroperasi selama 24 jam setiap hari. Selain berfungsi sebagai lookout tower (menara pengawas), active box adalah tempat di mana warga melapor dan menyelamatkan diri jika mereka merasa terancam saat berjalan kaki.

“Part of the whole strategic plan, was to create a series of these active boxes, specifically along the pedestrian walkway, to provide places of safety. So, if for instance you’re walking along that pedestrian route and you feel unsafe for any reason,  you can always see where the next active box is and you know that you can go there and be safe” –Jacqueline James, Arsitek VPUU Active Boxes.

Masing-masing active box dibangun berlantai 3 dengan cat berwarna merah mencolok dan penerangan yang sangat terang. Hal itu, tentu saja, dimaksudkan agar para pejalan kaki mudah melihat letaknya, baik pada siang maupun malam hari. Secara psikologis, desain semacam itu memberikan rasa aman kepada warga Khayetlisha.

“The murder rate has come down by approximately 40% since VPUU started in this Area” – Alastair Graham, VPUU Project Manager.

Sekilas, konsep active boxes ini mirip dengan pos polisi di mana kita bisa melaporkan tindak kejahatan yang kita alami atau saksikan. Tetapi, active boxes tidak hanya berurusan dengan perkara keamanan dan tindak kejahatan. Bangunan-bangunan tersebut juga memberi kenyamanan bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Active boxes juga berfungsi sebagai area terbuka. Ruang publik. Anak-anak yang ramai bermain bola, bermain ayunan, atau sekadar bermain kelereng adalah pemandangan yang familier pada siang dan sore hari. Para orang tua tidak perlu lagi mengkhawatirkan anak-anak mereka. There’s a happy and playful generation have saved there.

Program VPUU berhasil mengatasi persoalan-persoalan mendasar dan penting di Khayelitsha. Selain itu, program tersebut juga menambah tingkat keamanan dan kenyamanan hidup warga. Dalam penerapan program tersebut, pemerintah melibatkan partisipasi aktif warga. Kesuksesan program VPUU menunjukkan salah satu hasil terbaik dari kolaborasi.

“Your communities, you empower them. It’s not imposition, but it’s engagement. It’s what we call negotiated development. It’s not top down, it’s bottom up” – Sicelo Nkohla, Community Particitation Coordinator of VPUU Project

“The communites said that they wanted safe pedestrian routes. What makes spaces unsafe, in Khayelitsha–or anywhere–at night, is when there’s no good lighting, and where the surface isn’t smooth and easy to walk on. You can easily trip or someone can easily hide” – Tarna Klitzner, VPUU Project Landscape Architect.

Sejak dimulai pada 2006, VPUU Project memberikan banyak hal kepada warga Khayetlitsha melalui metode yang elegan urban planning dan design. Warga Khayelitsha sangat menghargai hal tersebut.

“It’s like a sun lighting in a dark place. And eventhough there’s still a lot of things that VPUU needs to put in Khayelitsha. the stride that they’ve taken, gives the Khayelitsha people a hope of life.” – Mr. Big, Khayetlitsha resident.

“Parents now are starting to see that their kids are safer now because there’s a place for them where they come and play. The kids are playing and the kids are safe” –Sicelo Nkohla, Community Particitation Coordinator of VPUU Project

+++

KRIMINALITAS hanyalah satu dari banyak persoalan sosial yang senantiasa mengintai setiap kota. Lewat tulisan ini, saya tidak bermaksud menyederhanakan masalah kriminalitas di Makassar dengan menganggapnya semata-mata didorong oleh faktor ekonomi seperti yang terjadi di Khayelitsha.

Saya juga tidak berniat untuk memberikan usul kepada siapa pun yang memiliki uang dan kekuasaan untuk membangun active boxes di Jalan Veteran, Maccini, Toddopuli, Bumi Tamalanrea Permai, Abdullah Dg. Sirua, Batua Raya, dan area-area minim lampu jalan lainnya. Karena itu, tulisan ini bukan bentuk persetujuan jika Walikota Makassar atau siapa pun hendak pergi studi banding ke Afrika Selatan.

Perbedaan karakteristik kota membutuhkan identifikasi masalah yang berbeda pula. Apa yang terjadi di sebuah kota kecil di Afrika Selatan dengan penduduk 300.000 jiwa, tentu saja, berbeda dengan yang terjadi di kota terbesar di Indonesia Timur dengan populasi sekitar 2 juta jiwa.

Melalui tulisan ini, saya cuma mau mengingatkan bahwa ada banyak cara lain untuk mengatasi masalah kriminalitas kota tanpa melibatkan penembak jitu.

Cheers.

 

 

Catatan:

Saya tidak keberatan jika ada di antara pembaca yang hendak menggunakan Khayelitsha sebagai nama anak atau panggilan sayang untuk kekasih.