Oleh: Eka Putri

Curah  hujan yang tinggi sejak awal tahun, menyisakan banjir pada sejumlah kawasan di kota besar di Indonesia, tak terkecuali di sudut-sudut kota yang konon akan menuju kota dunia, Makassar.  Air membanjiri serupa membanjirnya berita perseteruan Polri vs. KPK menyusul ahok vs haji lulung yang sukses menenggelamkan berita hot para begal. Dan, tentu saja, berita banjir.

Terhitung tujuh tahun sudah saya bermukim di kota Makassar, tepatnya di daerah Kecamatan Tamalanrea. Sebuah kawasan yang konon dijadikan sebagai kawasan pendidikan. Di daerah ini, Tak hanya banjir air yang terus meningkat dari tahun ke tahun, perumahan dan tempat hiburan pun tak mau kalah membanjiri dan terus meningkat jumlahnya tiap tahun.

Mengimbangi banjir manusia yang datang  dari berbagai daerah, dari dalam Sulawesi Selatan maupun pelosok timur Indonesia, diikuti dengan menjamurnya rumah sewa dan kos-kosan,  alam Makassar pun melampiaskan kegalauan tak terbendung lewat banjir air sebagai bentuk protes pada kekacauan tata kota yang membikin kita terkaget-kaget pada penampakan tempat karaoke, futsal, dan mall.

Pengusaha memang cerdik melihat peluang (bahkan stresski’ saja bisa jadi uang buat mereka), diciptakanlah banjir tempat hiburan yang salah tempat. Lalu, dibangun pula rumah/ kosan yang bisa disewa di daerah rawa, yang buntutnya bisa kita rasakan bersama di musim hujan. Sayangnya, kita tidak bisa menghentikan semua hanya dengan melambaikan tangan ke arah kamera.

Sikap abai pemerintah terhadap pengurusan rakyat dalam penanggulangan banjir dan datangnya banjir yang berulang-ulang setiap tahun membuat  masyarakat patah hati, gemas, dan tidak sabar untuk mengambil keputusan. Mereka tidak mau lagi di ‘PHP-in’ oleh pemerintah setempat. Maka Bermunculan ide kreatif untuk mengatisipasi banjir.

Selain ide mengungsi ke rumah kerabat, pacar, masjid, dan lain-lain, masyarakat di sini punya cara-cara kreatif lain;

Pertama:  Membangun “Rumah Smurf”

Smurf dalam film The Smurf, adalah mahluk kecil berwarna biru yang tinggal di desa antah-berantah pedalaman hutan eropa, rumahnya kecil dan bentuknya menyerupai jamur. Mereka hidup secara komunal.

Sepanjang kita berjalan-jalan di sekitar Tamalanrea. Akan kita jumpai rumah-rumah berlantai tinggi, ada yang hanya lantai teras, ada juga yang seluruh lantai rumah. Rumah berlantai semen yang ditinggikan tidak diikuti dengan peninggian kusen, jendela, dan atapnya. Sehingga, pintu masuk yang pendek membuat penghuni atau tamu harus membungkuk ketika masuk rumah. Rumah dengan bentuk seperti itu terkesan amat rendah, bentuknya sudah kecil, bertambah pula tenggelam oleh lantai yang ditinggikan. Itulah mengapa saya menyebutnya rumah smurf. Awalnya, saya heran mendapati beberapa rumah yang seperti ini, tapi setelah musim banjir tiba, saya jadi paham.

Rumah-rumah ini merupakan solusi pengentasan banjir yang dilakukan oleh masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Jika banjir berhasil menerobos ke dalam rumah, maka penghuni rumah “smurf” akan berhamburan keluar rumah untuk membersihkan selokan walau itu terjadi tengah malam. Penghuninya juga sering saling melempar senyum dan membagi sisa cabenya ke tetangga.

Kedua: Membangun “Rumah Gargamel”

Gargamel dalam film the smurf adalah seorang perjaka tua yang rakus, kejam, dan hanya memedulikan kepuasan diri sendiri. Dia hidup bersama kucingnya bernama Azrael dan tinggal di sebuah kastil yang megah dan kokoh. Gargamel adalah bayang-bayang masalah bagi desa smurf. Dia terus mengincar dan mengejar para smurf. Dia percaya bahwa Smurf adalah bahan baku untuk membuat emas dengan menggunakan kemampuan ilmu sihirnya. Azrael adalah kucing yang dia pekerjakan.

Berbeda dengan “Rumah Smurf”, “Rumah Gargamel” diikuti dengan peninggian kusen, jendela, pintu, dan atap. Bahkan, seringkali pemilik rumah juga menambahkan lantai dua dilengkapi dengan balkon. Mereka lebih menyenangi beton ketimbang tanah. Halaman mereka umumnya tidak memiliki halaman. Sehingga, mereka sering menitip parkir mobil di halaman “Rumah Smurf” atau mengambil sebagian badan jalan kompleks. Tidak hanya di dalam kompleks, penghuni rumah ini pun senang menitip parkir mobil di badan jalan raya, lalu menuding pedagang kaki lima sebagai biang kemacetan. Jika curah hujan semakin tinggi, penghuni rumah tinggal naik ke lantai dua dan pagar mereka tetap terkunci rapat. Selama itu tak mengganggu mereka, penghuni “Rumah Smurf” tidak akan keluar jika banjir menggenang. Mereka sangat kaku dan jarang tersenyum jika berpapasan dengan tetangga.

“Rumah gargamel” juga mudah kita jumpai di kawasan yang tak tersentuh banjir. Rumah-rumah tersebut biasanya merupakan solusi pengentasan banjir yang dipilih oleh masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Jika tempat tinggal mereka rawan banjir, maka tak ada salahnya meninggikan rumah ketika dibangun, begitu pikir mereka.

Ketika rumah-rumah smurf dan gargamel menjamur dan berdampingan di hampir seluruh kompleks, maka tampaklah betapa jauh perbedaan di antara kita. Jika kamu sulit untuk membayangkan, maka datanglah ke Makassar daerah Tamalanrea.

Waktu terus berlalu. Tak ada yang lebih hangat untuk dibicarakan ketika dekat lebaran selain baju baru. Demikian pula ketika musim panas betapa penjual es teler berlimpahan rezeki. Berita tentang banjir tenggelam oleh berita para politisi dan artis (lebih nge-hits baru-baru ini adalah berita #SaveHajiLulung). Toh, banjir juga sudah surut, hujan pun tak menahanmu lagi di sini.

Saya tak terlalu kaget jika kembali menemukan timbunan pasir di depan kompleks perumahan pada musim banjir tahun ini.  Toh itu terjadi tiap tahun. Bukan hanya masyarakat yang cerdas tanggap terhadap banjir. Pemerintah pun ternyata menduplikasi penanggulangan banjir ala masyarakat kota dengan “meninggikan” pembatas pintu masuk dan badan jalan yang tergenang banjir. Akhirnya yang terjadi adalah timpa-menimpa, air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Selamat datang banjir, dan sampai jumpa lagi tahun depan!?

Anjing menggonggong kafilah berlalu, kambing hitam pergi ,anjing tak menggonggong lagi. Hujan yang selalu menjadi kambing hitam penyebab banjir, reda, tak seorang pun yang membahas pengentasan banjir di layar kaca, semua sudah tak sehangat dulu lagi. Alih fungsi lahan kian tak terkendali,  seperti rindu para LDR. Dan kita tak diberi kesempatan untuk bertanya di sela waktu yang menguras banjir air mata.

Image Credit: Wallpoper