Ilustrasi: Andi Wirangga L. ( @andiwirangga )

Kok belum nikah-nikah juga, mbak?

Kapan nikahnya, kak?

Kapan nih calonnya mau mau dikenalin?

Pertanyaan-pertanyaan yang paling sering dilontarkan tante, oom, bahkan keponakan sampai sepupu-sepupu. Tentu saja orang tua juga termasuk namun di situasi yang lebih privat seperti saat makan malam bersama atau saat lagi asyik nonton televisi. Tidak di saat arisan atau acara kondangan keluarga seperti yang lain yang membuat kita jadi mau lari sembunyi di bawah meja katering karena gerah mendengarnya.

Padahal sebenarnya yang bikin kita tidak ijab kabul sampai sekarang, ya karena mereka yang bertanya terus itu. Kita sih mau mau saja nikah dengan sederhana (setelah akad yang hikmat, silaturahmi keluarga sambil makan seadanya yang tidak makan biaya yang bisa buat uang muka rumah plus beli mobil baru). Tapi memangnya pihak keluarga akan terima?

Honestly, pamor kita wanita-wanita suku Bugis yang kece-kece ini jadi turun karena kebiasaan menikah yang, katanya, over-budget, tidak seperti orang Jawa yang modal KTP aja, katanya, bisa nikah. Atau orang Padang yang memberi uang ke pihak laki-laki. Kenapa harus repot sebenarnya, padahal kan dalam agama sudah di atur, negara juga sudah punya aturan. Cukup dipenuhi saja syarat beserta berkasnya. But why???

Silaturahmi, katanya.

Namanya Upid, masih mahasiswa. Tidur dan makan di kampus. Suatu hari, karena sindiran tajam dari orang tuanya, Upid membulatkan tekad untuk menghadiri resepsi sepupunya yang diadakan di sebuah ballroom hotel bintang lima. Upid akhirnya mengendarai sepeda motor dari kampus menuju hotel dengan baju seadanya. Setibanya di resepsi, Upid langsung menyantap makanan dengan lahap. Namun setelah makan, Upid sadar tidak menemukan sosok yang dikenalinya. Alhasil Upid duduk di pelataran parkir, berharap tidak lama lagi sosok yang dikenalinya muncul seraya menyumpahi hapenya yang lowbat terlalu cepat.

Pernahkah kalian hadir di pernikahan keluarga, yang notabene keluarga dekat entah kakak sepupu atau om tante, tapi jarang sekali bertemu dengan orang yang dikenal?

Sudah menjadi kebiasaan orang Sulawesi, khususnya suku bugis, kalau semua orang bisa menjadi saudara. Entah itu tetangga yang tinggal lima blok dari rumah, ataupun sepupu dari sepupu nenek iparnya, bahkan teman dari teman oomnya. Ikatan inilah yang menjadikan sebuah resepsi pernikahan adat bugis selalu dikatakan besar-besaran karena undangan yang tersebar jumlahnya sangat mencengangkan. Angka 500 adalah jumlah undangan yang cukup sedikit untuk pernikahan di tanah Sulawesi. Katanya semakin banyak yang diundang, semakin banyak rejekinya.

Menurut survey dan pengalaman pribadi, jumlah undangan yang hadir paling banyak enam puluh persen dari undangan yang tersebar. Dibuktikan dengan rumus menghitung catering yang tidak bisa dijelaskan di sini. Tapi apa yang bisa kita lakukan dengan adat yang menurut tetua itu tidak ada salahnya?

Adab sopan santun, katanya.

Seorang tukang pos itu bernama Uki. Uki baru saja dipindah tugaskan dari Jakarta ke Makassar. Pagi itu Uki tengah memilah-milah alamat undangan sebuah resepsi pernikahan untuk diantarkan sesuai dengan jalurya. Ukipun berangkat dengan undangan yang memenuhi kantong-kantong di atas motornya dan tiba di sebuah rumah bercat putih yang terlihat cukup tua. Dipencetnya bel. Sekali, dua kali, tiga kali hingga langkah seseorang terdengar tergopoh-gopoh menuju pintu. Seorang wanita berdaster  dengan sebuah songkok kain di kepalanya membuka pintu dan menerima undangan yang di bawa Uki. Namun sebelum Uki sempat melangkahkan kaki keluar pagar, wanita itu berteriak memanggilnya.

“Beritahu ini orang untuk membawa undangannya sendiri. Undangan pernikahan kok diantar pakai pos. tidak sopan sekali anak muda jaman sekarang.” katanya sinis sambil mengembalikan undangan ke tangan Uki.

Sudah menjadi kebiasaan untuk pengantaran undangan pernikahan bugis biasanya dilakukan oleh keluarga entah oom-tante, bahkan kadang hingga orang tua calon mempelai harus ikut turun tangan. Selain itu undangan tidak harus diantarkan begitu saja, biasanya si pengantar harus menggunakan bosara kecil untuk undangan bahkan menggunakan baju bodo sebagai dresscode-nya. Belum lagi para tetua di luar kota yang harus dibawakan langsung undangannya. Bisa dibayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk pengantaran undangan saja, dengan jumlah undangan minimal 500 exemplar, mulai dari transportasi sampai akomodasi.

Zaman sekarang, acap kali kemudahan dan teknologi dianggap mengesampingkan sopan santun oleh segelintir orang. Seperti pengantaran surat atau undangan via email yang dicap sebagai suatu kemalasan. Padahal sebenarnya untuk apa teknologi itu ada selain untuk memudahkan kehidupan manusia. Tapi apakah lalu kita bisa menafikan wejangan tetua yang hidup sudah jauh lebih lama dari kita, untuk memudahkan hidup kita pribadi?

Rangkaian acara yang harus ada, katanya.

Usup tengah sibuk berdebat dengan orang tuanya akibat budget pernikahannya yang membengak, “Bu, ini kenapa buat persiapan pergi lamaran saja harus pasang tenda terus sewa catering 200 porsi? Ini kan hanya lamaran saja, bukannya tunangan. Di rumah Uut juga pasti di sediakan makan siang, kan?”

“Iya ibu tau, Sup. Tapi kan yang pergi lamaran banyak. Saudara ibu, saudara bapak, terus beberapa sepupu ibu dan sepupu bapak, ibu sama bapak mu kan juga punya teman-teman dekat, belum lagi tante dan oom-oom bapak dan ibu pasti diundang juga, kalau tidak mereka bakal tersinggung. Habis itu sepupu kamu kan banyak juga. Masa mereka tidak sarapan dulu sebelum ke rumah Uut, Sup ?”

Kepala Usup semakin pusing mendengar ibunya, Usup Cuma bisa geleng-geleng kepala tidak tahu harus bagaimana lagi. Dibukanya kembali catatan pengeluaran sang ibu untuk pernikahannya yang berhasil membuatnya menyerah dengan rencananya menyisihkan uang muka rumah di tabungannya.

Seperti yang kita ketahui dalam melaksanakan sebuah pernikahan ada banyak sekali rangkaian acara yang harus dilaksanakan, seperti yang dilansir oleh Chairiza dalam tulisannya Appabottinge ri Tana Ugi: Pernikahan Adat Bugis yang Penuh Makna. Mungkin akan sah sah saja dengan rangkaian acara itu, dan semua adat pernikahan di daerah manapun sama banyak rangkaian acaranya. Namun yang membuatnya berbeda adalah jumlah katering yang harus disediakan, jumlah kursi yang harus disewa, lebar tenda yang harus dibangun, dan sebanyak apa seragam yang harus dibeli.

Overall, saya cinta kepada kedua orang tua

“Uya, kamu kan ngerti agama, tapi kenapa penawaran uang belanja kamu setinggi itu? Saya kan juga punya resepsi yang harus dibiayai.”

“Iya, saya tahu, yang. Tapi orang tua saya kan sudah tua dan sudah pada pensiun. Terus saya anak perempuan mereka satu-satunya. Aset bapak dan ibu sudah habis terjual buat membantu pernikahan tiga kakak laki-laki sebelumnya. Masa saya harus menyusahkan mereka juga? Saya punya tabungan buat tambahan, tapi tidak seberapa. Bukannya saya tidak mengerti kalau sebaik-baiknya perempuan itu yang rendah maharnya, tapi saya juga paham anak yang baik itu yang tidak menyusahkan orang tuanya. Saya cuma bisa pasrah ikutin yang bapak dan ibu mau, apalah saya tanpa mereka, yang.”

***

Begitulah kisah-kisah yang bisa terjadi di dalam mempersiapkan pernikahan dengan adat Bugis. Segala hal yang suci maknanya, tiada yang mudah diraih. Termasuk di dalamnya urusan menyatukan jalinan cinta ke dalam ikatan yang resmi. Namun dalam kultur Bugis yang sudah dimodernisasi, kerumitannya mengkerucut ke ranah materi dan kemampuan ekonomi. Maksud hati ingin menikah, namun apa daya adatnya posesif. []


Baca Artikel lainnya terkait tulisan ini

Appabottingeng ri Tana Ugi

Undangan dan Tulisan yang Terlalu Bagus

Ada Apa dengan Gelar Bangsawan?

Tingkah Lelaki Kajang Dalam

Apalah Bercurah Hati, Jika Friendzone