Nak, maafkan mama yang lama tak menulis untukmu. Jangan salah sangka, Mama tentu tidak melupakanmu. Mama hanya harus bekerja ekstra untuk menyesuaikan diri dengan harga BBM yang sudah dua kali naik.

Kamu apa kabar di sana? Mama tak sabar ingin menemuimu enam tahun lagi. Asal kamu tahu, di alam yang sekarang mama tempati, setiap enam tahun manusia akan menaiki satu tangga kehidupan sosialnya. Kamu belum tahu apa itu kehidupan sosial? Jangan khawatir, nak. Kalau kamu sudah berada di alam sini, kamu akan tahu tentang keharusan menemui orang-orang yang kamu suka atau pun tidak.

Enam tahun dari sekarang, mama akan menemukanmu terbaring di tempat tidur bayi sebuah rumah sakit. Di sana, dokter membantumu menembus kulit mama. Enam tahun kemudian, mama akan menemukanmu menggunakan seragam sekolah dasar. Enam tahun berikutnya, kamu akan mulai merasakan beberapa bagian tubuhmu dipenuhi bulu yang menggelikan. Enam tahun selanjutnya, Enam tahun ketiga, saat kamu mungkin membaca surat ini, kamu merasa tak harus meminta izin mama untuk berbagai hal. Enam tahun berikutnya lagi, kamu akan memutuskan memilih seseorang yang akan hidup bersamamu, menggantikan peran mama. Begitu seterusnya.

Mama sebenarnya tak ingin bercerita banyak tentang enam tahun di kehidupan manusia. Mama merasa perlu menulis surat ini untukmu karena peristiwa minggu lalu. Waktu itu, menjelang magrib di Perpustakaan Katakerja. Mama yang baru datang kemudian menemukan Teh Yani dan Kak Dandi bersama anak mereka Maniang sedang asik mengobrol dengan Kak Aan. Kak Dandi adalah seorang peneliti tersohor di kota Makassar. Selain meneliti, beliau juga menulis beberapa buku dan menerjemahkan buku berbahasa asing. Sedangkan Teh Yani adalah gadis Bandung yang dipersunting kak Dandi. Ia adalah seorang jurnalis. Kalau soal kak Aan, mama janji akan membelikanmu buku puisi terbarunya yang berjudul “Melihat Api Bekerja”.

Tapi, ini bukan tentang tiga orang dewasa brilian yang mama jelaskan di atas. Ini tentang Maniang.

Maniang adalah anak berusia empat tahun yang sejak awal pertemuan kami kurang lebih satu tahun lalu, telah membuat mama menjadi penggemarnya. Bukan karena ia telah menulis buku, mewawancarai orang atau menjadi penerjemah, tapi karena pemikirannya yang sangat bebas dan rangkaian pertanyaannya yang selalu diawali dengan “karena apa?”.

Karena merasa aku mah apa atuh di antara orang-orang hebat yang sedang ngobrol, mama memutuskan untuk langsung masuk ke ruang tengah Perpustakaan Katakerja. Dengan dekorasi baru, ruangan tengah menjadi tempat favorit mama ketika sedang berada di katakerja. Namun karena pendengaran mama yang masih terbilang baik, samar-samar mama mendengar isi obrolan mereka yang membicarakan tentang pengalaman Maniang selama dua hari bersekolah di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Kata Teh Yani, “Maniang kan sekarang sekolah mi. jadi ketemu sama evan itu kalau sore pi” (Karena sekarang maniang sudah sekolah, jadi ketemu evan–tetangga mereka–itu kalau sudah sore)

Dilanjutkan Kak Dandi, “Baru lucu toh, karena kan dia di sekolah sering dibilangi jangan nakal nanti masuk neraka, sedangkan kalau di rumah itu dia ditegur jangan begini atau begitu pasti saya jelaskan akibatnya, jadi pas kemarin dia bertanya begini, ‘Ibu, kalau ke neraka orang naik apa?’”

Tawa berhamburan dari ruang depan katakerja. Mama pun ikut tertawa. Di dunia ini, neraka sering menjadi ancaman bagi anak-anak. Mama janji tidak akan mengancammu dengan neraka, hantu, atau pun pak polisi. Menyambutmu dengan ancaman tidak lantas membuatmu mengerti apa akibat perbuatanmu. Setuju nak?

Karena tidak tahan, mama pun ikut bergabung bersama mereka, masih tetap dengan perasaan aku mah apa atuh. Pembicaraan kemudian berlanjut ke makanan yang dibawa oleh para siswa PAUD di sekolah baru Maniang. Teh Yani yang baru saja menyekolahkan anak untuk pertama kalinya itu menyiapkan bekal berupa nasi telur untuk Maniang. Setibanya di sekolah, ternyata teman-teman maniang tidak ada yang membawa bekal berupa makanan berat. Semuanya membawa snack. Di situlah maniang bersabda “Ibu guru, kenapa mereka makan MSG. kan itu tidak baik untuk kesehatan?”.

Nak, di zaman sekarang, anak umur empat tahun yang bersekolah di PAUD itu tidak banyak yang tahu apa itu MSG. Dan di suasana istirahat yang damai, Maniang datang dengan membawa nama besar MSG yang selama ini jadi penopang rasa utama di sajian kuliner nusantara.

Teh Yani menceritakan hal tersebut sambil tertawa tak tertahankan. Ia juga bilang bahwa sesampainya di rumah, Maniang bilang ke ibunya kalau ia ingin makan banyak MSG karena ternyata MSG itu enak. Menanggapi hal itu, Teh Yani harus lebih menjelaskan kerugian mengkonsumsi MSG agar Maniang mengurungkan niatnya untuk mengkonsumsi MSG.

“aku senang bersekolah. Aku bisa main perosotan, banyak teman” begitu kata Maniang.

“terus ada ji Ibu gurumu?” (terus, ibu gurunya ada?) Tanya Kak Aan.

“Ada tapi tidak suka ditanya-tanya” Jawabnya sambil menyusun huruf alfabet menjadi sebuah sungai.

Mama merasa senang bertemu Maniang malam itu. Mama merasa harus lebih giat lagi belajar agar layak menjadi perantaramu menuju dunia ini. Mama ingin menjadi teman yang bisa belajar bersamamu. Tapi mama khawatir, nak. katanya, biaya pendidikan formal makin mahal. Dengan kehidupan mama hari ini, mama belum bisa membiayaimu agar bisa bersekolah. Semoga ayahmu nanti adalah seorang pekerja keras yang bertanggung jawab. Amin. []

Image Credit: @hurufkecil