“Manusia lebih mudah melupakan kematian ayahnya daripada kehilangan harta warisannya.”

Itulah ungkapan dari tokoh politik Machiavelli. Hal itu tentunya tidak datang begitu saja. Machiavelli yang mengawali karirnya sebagai penasehat politik kota Florence, tentu mengalami banyak perenungan sehingga bisa mengeluarkan pendapat tersebut.

Warisan adalah harta yang diberikan atau ditinggalkan oleh pewaris kepada yang diwariskan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “harta yang paling berharga adalah keluarga”. Pepatah itu tentu juga bukan ungkapan yang tak beralasan. Saya akan menceritakan kisah kakak-beradik yang menganggap saudari mereka sebagai harta yang paling berharga.

Jauh sebelum Machiavelli lahir, terdapat dua anak kembar yang saling membunuh karena “warisan” orang tua mereka berupa saudara yang cantik bernama Iqlima. Iqlima diperebutkan untuk mereka jadikan sebagai istri. Adalah Qabil dan Habil dua anak adam yang selalu ada namanya dalam setiap buku cetak agama kelas tiga sekolah dasar. Di dalam buku cetak tersebut memang tersurat bahwa perbuatan membunuh adalah sesuatu yang buruk. Namun hal yang tersiratpun tak bisa dipungkiri bahwa manusia akan berbuat apapun dan “tak pandang bulu” untuk mendapatkan warisan yang mereka inginkan.

Kita tarik mundur cerita ini ke waktu sebelum Qabil dan Habil lahir. Tuhan menciptakan manusia pertama bernama Adam yang diberikan tempat tinggal berupa taman surga. Di dalam taman surga segala hal merasa cukup, kecuali keingintahuan. Setelah Adam tinggal di taman surga beberapa waktu, Tuhan memberikan ia teman bermain bernama Hawa. Ketika Adam dan Hawa saling bertemu dan bermain di taman, keingintahuan mulai bekerja. Mereka dibawa oleh keingintahuan sampai ke bagian yang dilarang Tuhan untuk diketahui, buah khuldi.

Akibat keingintahuan mereka yang melanggar larangan Tuhan, akhirnya Adam dan Hawa induk semua manusia diturunkan ke bumi. Berdasarkan proses penciptaan yang telah kita ketahui, bahwa Bumi diciptakan langsung oleh Tuhan, begitupula pasangan Adam dan Hawa. Dengan demikian, Adam dan hawa bersaudara dengan Bumi karena berasal dari “orang tua” yang sama, Tuhan.

Manusia hari ini tak lain adalah jelmaan Qabil dan Habil yang menganggap saudara mereka (bumi) harus diperebutkan kemudian dimiliki. Lebih dari memperebutkan untuk memiliki, perebutan warisan Tuhan ini juga bertujuan agar bisa menjual kepada sesama manusia.

Qabil dan Habil mungkin saja beruntung karena lahir di masa mereka tak harus membeli sebidang tanah untuk mereka tinggali bersama istri dan anak mereka, atau minum air kemasan yang harus dibeli dengan nilai tertentu. Namun manusia hari ini, adalah Qabil dan Habil yang lahir di zaman segala hal telah terjual dan harus berusaha membeli itu kembali agar tetap hidup.

Kita pasti pernah mendengar tentang sejarah manusia yang berpindah-pindah (nomaden) hingga mulai menetap di satu tempat. Saat manusia mulai menetap, manusia mulai membuat batasan-batasan wilayah tempat tinggal. Manusia mulai merasa memiliki bumi dan isinya. Untuk mengukuhkan kepemilikan dan hak jual, manusia mulai membentuk kelompok kepentingan dan meresmikannya menjadi sebuah institusi. Institusi besar di dunia yang menangani masalah hajat hidup manusia adalah Negara. Setelah membuat Negara, manusia kembali membuat institusi dibawahnya yang menangani fokus masing-masing. Tanah, pendidikan, kesehatan, makanan dan hal lainnya yang menunjang kehidupan manusia.

Institusi-institusi yang dibuat diatas kemudian berguna untuk menerbitkan kertas simbol kepemilikan. Ijazah melambangkan kepemilikan akan pengetahuan, akta tanah melambangkan kepemilikan untuk tanah, surat nikah sebagai tanda kepemilikan untuk manusia dan berbagai jenis kertas lainnya yang menyimbolkan kepemilikan. Kertas-kertas kepemilikan itulah yang akan menjadi kekuatan manusia hari ini untuk menguasai sesuatu yang mereka anggap warisan mereka.

Kita yang lahir kemudian, terjebak dalam sistem bernama “menjual saudara kandung” dan tak bisa berbuat apa-apa. Tak hanya menjual saudara kandung, manusia juga sangat senang mendandani bumi dengan hal-hal yang membuat bumi makin tersakiti. Sampah plastik dimana-mana, limbah kimia dibuang tak beraturan, belum lagi galian-galian tambang yang membuat bumi berlubang dimana-mana.

Manusia perlahan tapi pasti berevolusi menjadi saudara kandung yang jahat. Tega menganiaya saudara kandung yang berasal dari orang tua tunggal bernama Tuhan. Sambil menyelesaikan tulisan ini, saya menjadi ragu bahwa ibu tiri itu jahat. Nyatanya, semua manusia ternyata jahat.

 

Image Credit: Genius


Baca lagi tulisan lainnya dari Viny:

Media Massa, Media Maksa

Kala Teater di Kala Malam

Untuk Anak-Anakku

Skenario Drama Kota

Pidi Baiq, Si Manusia Selundupan