Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Aan Mansyur, seorang penyair  yang juga seringkali mengirimkan tulisannya di sini, telah meluncurkan buku puisi terbarunya yang berjudul Melihat Api Bekerja baru pada 15 April kemarin di Edwin’s Gallery Kemang. Untuk pertama kalinya pula di bukunya ini, dia berkolaborasi dengan ilustrator Muhammad Taufiq yang akrab dikenal Emte. 

Dua hari sebelum peluncuran, Aan Mansyur memberikan kesempatan kepada Tim Redaksi Revius untuk bisa membaca Melihat Api Bekerja lebih awal. Tentu saja ini merupakan kesempatan yang tidak boleh dilewatkan, sama halnya dengan kesempatan yang diperoleh teman-teman Buruan.co yang ada di Bandung, yang lebih dulu mewawancarai sang penyair.

Kami dari Tim Redaksi Revius punya impresi masing-masing dengan puisi dan ilustrasi dari buku ini. Ada yang menyimak sepintas bahkan sampai menghayatinya secara mendalam. Daripada berlama-lama lagi, mari Melihat Api Bekerja dari sudut pandang kami.


Rieski Kurniasari
Menilai karya sastra seseorang yang pakar di bidangnya bagi saya adalah berat. Pertama, saya yakin karyanya sudah nyata-nyata bagus. Apalagi di mata saya yang ter-awam di antara para awam, pasti yakinlah karya tersebut bagus.
Kedua, saya bukan penikmat puisi. Jadi, bila orang lain bilang puisi si Fulan bagus, menyentuh, menyentil, atau apa pun itu tetap saja akan beda efeknya dengan saya. Saya tidak tahu bagaimana harus mengagumi puisi. Maafkan saya.

Namun, saat diminta untuk memilih “puisi favorit” di Revius Editor kali ini. Saya pikir mampuslah saya yang tidak tahu apa-apa tentang perpuisian. Tiba-tiba melintas memori saya tentang nilai C di mata kuliah wajib Bahasa Indonesia. Entah mengapa.

Saya coba-coba melihat daftar isi “Melihat Api Bekerja” dan.. nah! Ada puisi yang membuat saya merasa ter-mention. Letaknya ada di akhir buku. Judulnya “Sajak Buat Seseorang yang Tak Punya Waktu Membaca Sajak”.

Tapi ternyata saya tidak merasa sebagai orang yang disinggung si penulis. Karena saya tidak paham maksudnya apa. Lalu saya berpindah ke puisi-puisi lain hingga sampai ke “Surat Pendek Buat Ibu di Kampung.” Barulah saya membatin “Oh.. akhirnya ada yang saya mengerti.”

Bukan berarti membaca “Melihat Api Bekerja” adalah siksaan bagi saya. Kalaupun iya, saya selalu bisa “istirahat” sejenak di laman-laman ilustrasi cat air Muhammad Taufiq.


Achmad Nirwan

Sebelum membaca buku puisi Aan Mansyur yang ini, saya pernah membaca–walaupun sepintas–buku karya Aan Mansyur sebelumnya, Aku Hendak Pindah Rumah. Kebetulan pula, buku itu merupakan peninggalan almarhum teman saya yang tidak sempat dikembalikan kepada beliau. Saat ini buku tersebut sekarang berada di rak buku. Memberi kesan sentimentil bila dipegang dan dibuka lagi. Daripada larut dalam kesedihan, baiknya saya fokus membahas sedikit tentang Melihat Api Bekerja.

Tentang buku puisi ini, saya melihatnya sebagai kolaborasi yang asyik sekali dari Aan Mansyur dan Muhammad Taufiq “Emte”. Untuk isinya, saya tidak meragukan lagi sajak-sajak Aan Mansyur yang sederhana–bila dilihat dari pemilihan kata-katanya–tetapi memiliki makna yang mendalam. Favorit saya adalah “Menikmati Akhir Pekan”, karena saya sedang berada di antara “orang-orang yang sedang patah hati”. He he he.

Saya ucapkan salut dan selamat untuk buku ini. A luta continua!


Aisyah Azalya

Saya termasuk awam dengan dunia puisi. Hal terdekat yang pernah terjadi antara saya dan puisi hanya terjadi saat menjadi peserta lomba Bahasa Indonesia yang diadakan jurusan Sastra suatu universitas dan terpesona menonton manusia saling berbisik dan meraung dalam membacakan puisi terkenal penyair Indonesia.

Saya terpesona.

Mengenai “Melihat Api Bekerja” kolaborasi Aan Mansyur dan Muhammad Taufiq, saya hanya dapat berkomentar bahwa kak Aan dapat memilih kata-kata berima untuk menceritakan sebuah cerita yang panjang (Ini ngomong apa? anggaplah mengerti ya) sedangkan Muhammad Taufiq (or Emte, you would prefer) telah memberikan sebuah ilustrasi yang setiap penikmat watercolor termasuk saya untuk berkata takjub, “Ini gimana buatnya, Ya Tuhan?! Saya iri! Mau belajar!”, sebuah teknik yang hanya bisa dicapai dalam latihan bertahun-tahun.

Puisi favorit saya berjudul “Menyeberang Jembatan” terlebih karena puisi tersebut merupakan satu that i can relate to. Bahwa ibu-lah yang menjadi wanita pertama dan terakhir untuk kebahagiaan ini tertuju.

 Saya cukup tersanjung karena bisa diberikan kesempatan untuk menilik isi buku mahakarya kedua seniman ini bahkan sebelum buku tersebut rilis di toko buku. And i must say, a must have! Terima kasih! :’)


Barzak

02

Membaca puisi itu sulit, mereka yang mengatakan sebaliknya adalah pembohong atau mereka yang tidak benar-benar membacanya.

Membaca puisi mengajak kita untuk melangkah lebih lambat dari degup jantung orang yang sedang terlelap, bukan perkara mudah ketika semua hal bergerak penuh gesa. Membaca puisi membutuhkan kebesaran jiwa dan ketangguhan emosi untuk menerima kenyataan: kita tidak bisa memahami dan memastikan semua hal. Membaca puisi adalah berpetualang, berjalan-jalan tanpa tujuan, tanpa harapan, selain untuk menemukan kecelakaan dan keberuntungan di tengah jalan. Membaca puisi adalah bermukim di alam ketidakpastian, pohon bisa berubah menjadi perempuan yang bisa berubah menjadi rumah tak berdinding, nothing is really what it seems.

Membaca puisi adalah menikmati kesendirian, tanpa perlu merasa sendiri.

Membaca puisi adalah bercermin, kadang membuat bangga, kadang mengungkap aib, hari ini mengganjar sukaria, di hari lain menghadiahi derita. Membaca puisi adalah bercermin, kita menemukan apa yang kita cari dan mengabaikan sisanya.

Bagi saya, membutuhkan energi yang luar biasa untuk mengangkat dan membolak-balik setiap halaman buku kumpulan puisi. Meski bersahabat dengan penulisnya, “Melihat Api Bekerja” bukanlah pengecualian. “Melihat Api Bekerja” bukan untuk semua orang, seperti rasa pedas yang tidak cocok untuk semua lidah. Menikmati “Melihat Api Bekerja” itu sulit, tapi tentu saja tidak semua orang menyukai kemudahan.

*

Saya berusaha menikmati buku ini secara utuh, mulai dari kata pengantar dari Sapardi Djoko Damono yang sangat edukatif, ilustrasi-ilustrasi Muhammad Taufiq yang komplementer, hingga 2 lembar kosong di bagian akhir yang membuat saya penasaran.

Awalnya saya menduga akan “terganggu” dengan ilustrasi-ilustrasi yang menyertai setiap puisi. Saya khawatir ilustrasi-ilustrasi menawan itu akan “mencemari” interpretasi saya terhadap puisi-puisi yang saya baca, atau setidaknya memecah konsentrasi ketika berusaha mencelupkan diri ke alam buatan Aan Mansyur, dan justru terperosok ke dunia milik Muhammad Taufiq. Ternyata itu hanya kekhawatiran yang berlebihan. Pada banyak kesempatan, saya benar-benar tidak memperhatikan apapun selain goresan-goresan metafora Aan Mansyur. Ini sesuatu yang aneh dan mengherankan bagi orang yang sangat visual oriented dan mengidap short attention span seperti saya.

Saya membaca semua puisi di buku ini, tapi beberapa yang saya baca berkali-kali adalah “Belajar Berenang”, “Menenangkan Rindu”, “Catatan Seorang Pedagang di Pasar Terong Makassar”, “Jalan yang Berkali-kali Kau Tempuh”, “Menjadi Kemacetan”, “Ada Anak Kecil Kesepian di Tubuh Ayahmu” dan “Pulang ke Dapur Ibu”. Saya harus mentraktir Aan Mansyur kopi yang enak.

Cheers, kak Aan!


Chairiza 

Puisi kak Aan memiliki ciri khas tersendiri. Berbicara soal makna, saya sering kali menemukan diri saya kebingungan dengan kata-kata dalam puisinya.

Ilustrasi dari buku Melihat Api Bekerja ini juga menarik perhatian saya. Sosok Emte mengilustrasikan sempurna setiap bait dari puisi kak Aan.


Arkil Akis

Menyebut nama Aan Mansyur, kita akan sepakat bahwa dia adalah salah satu dari sedikit penyair terbaik generasi kini (kalimat ini butuh kopi). Kota Makassar boleh dibilang beruntung memiliki seorang penduduk yang mencintai kotanya lebih dari sekadar #hestek dan jumlah followers twitter. Itu bisa dilihat dari tema buku puisinya kali ini, “Melihat Api Bekerja”. Tema perkotaan yang disajikannya berisi kritik dan keresahannya terhadap masalah-masalah di kota ini. Dan, saya percaya bahwa seringkali solusi nomor satu dari suatu masalah adalah kritik dan keresahan.

Sebagai penggemar puisi, “Melihat Api Bekerja” sejujurnya bukan favorit saya jika dibandingkan dengan karya Aan sebelumnya. Tapi, berhubung saya hidup di Revius dan hidup tentu saja berarti memilih, saya memilih “Menyunting Sajak Untukmu” dan “Sajak Buat Seseorang Yang Tak Punya Waktu Membaca Sajak”. Keduanya adalah panduan menulis yang baik!

Saya tidak pandai mengapresiasi gambar. Tapi favorit saya, ilustrasi ciptaan Muhammad Taufiq dari dan untuk puisi “Mengunjungi museum”. Alasannya sederhana, gambar perempuan dengan jempol kaki terluka mengingatkan saya kepada pacar saya yang tidak tahu suka menggunakan sepatu berhak tinggi -_-”


Artikel lainnya dari Revius’ Editors

Musisi Indie Makassar Favorit

Mitos-Mitos yang tidak Masuk Akal

Tempat Makan Favorit Kami

Selamat Hari Film Nasional!

Situs-Situs Web Favorit Kami

Video Musik Pilihan Kami untuk Kamu

Kuntilanak Jatuh Cinta (dan Cerita-Cerita Lainnya)

Apa Itu Hari Valentine

10 Seniman Mengartikulasikan Kota di PechaKuchaNight Makassar Vol.6

Alasan Orang-Orang ke Sepiring Culinary Festival