Bagaimana kalau suatu hari nanti—mungkin tidak lama dari sekarang—kita  akan sangat jarang “bersentuhan” dengan Matahari? Bukan karena dibangunnya atap selebar luas Kota ini, tapi karena belok kanan maupun kiri, kita akan menuju jalan layang yang banyak sekali.

Tidak ada kota yang tidak mengusahakan pertumbuhan. Dengan berbagai cara, pemerintah, pengusaha, dan warga sendiri saling dan terus memberikan pengaruh dalam pertumbuhan sebuah Kota. Kodratnya Kota adalah selalu berkembang. Kota selalu penuh dengan harapan, kesempatan, dan cerita gila. Kegilaannya kadang terasa terlalu berlebihan, menjadi salah satu daya tarik yang sulit diabaikan.

Sebagai tempat di mana kesempatan selalu terbuka bagi orang-orang yang mau mencari.  Kota memang harus selalu menjadi lebih baik, lebih terbuka, lebih lapang dan lebih fleksibel untuk selalu siap pada perubahan yang datang dari mana saja. Dari sektor sosial, pendidikan, kebijakan-kebijakan pemerintah, (ini mungkin yang paling penting) sektor ekonomi, perkembangan masyarakat, fashion, musik, budaya populer, jumlah penduduk, dan berbagai sektor yang lain.

Salah satu cara untuk menjadi terbuka adalah dengan terus menerima segala kemungkinan dan tidak membatasi diri pada hal-hal tertentu. Sayangnya, kota di bagian dunia mana pun selalu terbatas pada luas wilayah. Untuk memperluas wilayah, membuat urusan menjadi panjang dan mungkin saja berakhir pada perang. Sedangkan orang-orang terus berdatangan dari berbagai penjuru.

Wilayah kota sudah ditentukan sejak dahulu kala. Kebijakan pemerintah untuk mengembangkan kota terbatas pada wilayah di mana pemerintah memiliki wewenang atas kota itu saja. Kota tidak bisa berkembang dengan melebarkan diri, ia harus terus meninggi. Daratan selalu punya batasan, sedangkan Langit sepertinya selalu terbuka untuk siapa saja. Maka, pembangunan harus terus ke atas, terus meninggi. Agar kita selalu punya ruang dan semuanya merasa cukup.

Salah satu hal yang terus tumbuh adalah jumlah kendaraan bermotor.

Kendaraan dan Jalanan, Pasangan Mesra yang Punya Banyak Masalah (Photo by Jung Muhammad)

Sayangnya, jalanan tidak memiliki kesempatan yang sama seperti kendaraan bermotor dalam pertumbuhannya. Banyaknya kendaraan dan jalanan yang selalu selebar-itu-saja membuat keduanya menjadi tidak seimbang. Jalanan akan padat oleh kendaraan dengan segala urusannya masing-masing. Dan sangat menyebalkan jika semua orang dengan segala urusan mereka harus terus menunggu kemacetan usai atau berputar-putar terlalu jauh untuk sampai di tujuan.

Jalanan, salah satu hal yang paling penting dalam menghubungkan orang-orang kepada tujuan-tujuan mereka. Beberapa urusan kadang harus cepat untuk berhasil, sehingga jalanan harus menjadi pendukung yang baik dalam hal ini.

Dengan banyaknya gedung-gedung permanen, jalanan kesulitan melebarkan diri. Maka, untuk mengimbangi dengan jumlah kendaraan, harus ada solusi yang mungkin.

Merobohkan gedung-gedung sepertinya sedikit sulit. Manusia juga belum menciptakan teleporterblablaba dan menggunakannya secara umum, atau membuat kendaraan terbang yang tidak serumit pesawat terbang. Jadi, pilihannya adalah memperbanyak transportasi umum yang nyaman dan aman atau membuat jalan layang.

Sayangnya, transportasi umum juga membutuhkan jalan.

Semakin banyak orang-orang yang datang, semakin banyak orang-orang memperoleh kesempatan, semakin seru daya tarik, semakin beragam kebutuhan, semakin menyebalkan keluhan, dan semakin ramai kreativitas mereka. Artinya, semakin banyak ruang yang harus ada. Kota sebagai tempat untuk banyak orang, ide-ide, juga berbagai perubahan, harus mampu menjadi tempat yang cukup jika tidak ingin ditinggalkan.

Bagaimanapun, jalanan akan selalu menjadi penting. Menguranginya berarti menambah masalah.

Jika nanti begitu banyak jalan layang, kita semua harus bersiap untuk perubahan-perubahan. Misalnya, perubahan atau penambahan jalur pete-pete, daerah kumuh di bawah jalan layang, coretan-coretan tidak lucu seperti “aco cinta bunga” atau “Talekang Racing Team”, banyaknya remaja nongkrong “lihat-lihat lampu,” dan lain-lain.

Apapun itu, bagaimanapun nantinya, setiap perubahan selalu membawa dampak yang harus dihadapi. Menerima atau menolak tergantung bagaimana kita memandang perubahan tersebut. Kalau kota selalu terbuka pada perubahan, maka sebagai warga, kita harus selalu siap pada perubahan. Besar kecilnya juga adalah pengaruh yang kita ciptakan dan ujung-ujungnya juga akan berbalik memengaruhi kita.

Apakah jalan layang yang banyak akan mampu menjadi solusi? Akankah lebih baik atau lebih menyebalkan kalau banyak jalan layang? Atau ada solusi yang lebih tepat?

Bagaimanapun jawaban dan bayangan kita tentang itu, kita selalu punya pilihan. Apakah menyambut perubahan itu (atau perubahan apa saja yang mungkin terjadi), atau menghalanginya dengan (tentu saja) menghadirkan solusi yang lebih tepat.