Waktu adalah sesuatu yang selalu bisa ditawar. Begitu keyakinan kami para procrastinator. Selalu ada hari esok atau satu jam lagi. Sungguh optimisme yang tangguh. “Tiba Masa, Tiba Akal” adalah mantra yang kami sakralkan karena di sanalah kepercayaan kami bermuara. Tidak pernah ada kata terlambat. Ketika waktunya tiba, segalanya akan berjalan seperti takdir dua kekasih di film komedi romantis: sekonyol-konyolnya cobaan, akhirnya akan membahagiakan. Semakin terdesak, maka semakin besar pula energi yang kami curahkan untuk menyelesaikan pekerjaan. Bahkan, beberapa dari kami menumbuhkan kepercayaan diri dari hal ini: hasil terbaik akan muncul di penghujung batas waktu.

“I never put off till tomorrow what I can do the day after.”

Ungkapan Oscar Wilde tersebut menjadi prinsip yang sangat akrab dengan para procrastinator. Begitu pula akibatnya setelah berkali-kali “the day after” terulang. Pada akhirnya benar, menunda-nunda suatu pekerjaan itu adalah salah satu sumber penyesalan-penyesalan kecil dalam keseharian. memberikan segala yang menyenangkan di awal, namun tidak menjanjikan apa-apa di akhir, selain energi berlimpah di penghujung deadline. Beruntung jika pekerjaan yang ditunda hanya berakibat pada pekerjaan itu saja. Sebaliknya, musnahlah ketenangan batin jika yang ditunda-tunda itu berhubungan dengan hal lain, kemudian mengikuti dan menciptakan hari yang berantakan.

Selama proses intens mengajukan pertanyaan kapan tulisan ini selesai kepada diri sendiri, saya menyadari satu kenyataan pahit: procrastinator sedang menjemput kehancuran mereka sendiri. Terlebih bagi mereka yang masuk dalam usia produktif. Kami sedang berjuang agar tidak tenggelam dalam kekosongan jadwal kerja bersama 70% penduduk Indonesia yang berusia produktif.

Bill Gates adalah salah satu alasan mengapa kepunahan ini menjadi momok. Suatu hari dia berkata, “I will always choose a lazy person to do hard job, because they will find an easy way to do it.” Garis bawahi bagian hard job itu. Bayangkan, sang jenius dengan IQ 160 yang setara dengan IQ milik Einstein dan Hawking itu, mengandalkan para pemalas. Maka, wajar jika mereka tidak lagi dipandang sebelah mata, karena dalam kemalasan mereka untuk tidak melakukan yang orang lain lakukan, membuka peluang bagi banyak hal lain untuk terjadi. Salah satu bukti yang paling terasa mungkin, mereka malas bekerja kantoran dengan jam yang ketat dan atasan yang (mungkin saja) sulit dihadapi. Kemalasan ini berbuah manis, karena itu memicu usaha kreatif tumbuh seperti undangan nikah di awal bulan.

Dengan kecerdikan para pemalas, maka dunia saat ini menjadi milik mereka, orang-orang yang kadang disalah-artikan sebagai procrastinator. Mereka tidak melakukan sesuatu karena menunda yang lebih penting, tapi orang-orang yang mengerahkan seluruh kreativitas untuk mencoba membelokkan hukum alam. Bahkan, ketika tidak satu pun hukum fisika yang mengizinkannya.

Kreativitas mereka bangkit dari keengganan menjalankan segala hal sesuai prosedur dan aturan karena proses yang panjang. Orang-orang yang menggunakan akalnya, sepenuhnya bekerja untuk “mengakali”. Jika beruntung, orang- orang bisa menyebutnya inovasi. Dan itu, saudara-saudaraku sekalian, menjadi pemicu setia kemajuan dunia. Teknologi dan ide-ide kreatif yang lahir pun membuat kita tidak perlu meninggalkan kenikmatan bermalas-malasan. Karena itulah, para pemalas tersebut, mampu menguasai dunia. Kemalasan mereka memaksa banyak hal yang harus berubah dari cara dunia ini bekerja. Mereka mengembangkan banyak sekali kemudahan hingga membuat alasan untuk menutupi keterlambatan akan terdengar sangat konyol.

Inilah yang para procrastinator harus tahu: di bawah kuasa para pemalas, dunia ini mulai kekurangan alasan yang bisa digunakan untuk membenarkan penundaan-penundaan. Ditambah lagi, dunia yang dikuasai para pemalas ini, digerakkan oleh orang-orang yang (merasa) tidak punya waktu, rival para Procrastinator sejak jaman huruf alfabet mulai disusun. Orang-orang tersebut menyebut teknologi sebagai alat yang mengefisiensikan banyak hal, karena mereka hidup untuk mengendalikan waktu. Berbanding terbalik dengan para procrastinator yang menjadikan waktu adalah teman baik.

“Tak Ada Rotan, Akar-pun Jadi” adalah sistem yang dipegang teguh oleh orang-orang yang (merasa) tidak punya waktu. Pada akhirnya, hal tersebut membawa kita pada kebuntuan pembenaran-pembenaran yang digunakan procrastinator. Di bawah para pemalas dan orang-orang yang (merasa) tidak punya waktu, menjadi diri sendiri adalah kehancuran bagi procrastinator. Kita semua akan sampai pada kepunahan, jika kita tidak bisa bangkit dengan kemampuan beradaptasi yang lebih baik dari kecoak. Ini adalah masa yang kejam bagi procrastinator.

Kemajuan teknologi adalah bom waktu yang suatu hari nanti meledak dalam sunyi. Menghancurkan procrastinator dalam kekalahan telak, ketika terlambat untuk memutar balik kekuasaan para pemalas. Bayangkan, menurut data demografi kependudukan, pada tahun 2014, terdapat 5.979.749 jiwa yang sedang menjalani kehidupan mereka dalam kategori usia produktif di Kota Makassar. Lalu, bandingkan dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Maka kita akan melihat sesuatu yang jelas: persaingan adalah kesengitan sehari-hari. Jadi, jika berpikir rasional, siapa yang mau mempekerjakan satu orang yang banyak alasan ketika ada 5.979.748 orang lain yang bisa mengantikannya setiap saat? Lalu dapatkah para procrastinator menghindari kepunahannya?

Dan Ariely menjelaskan dalam essaynya yang berjudul The Problem of Procrastination and Self-Control. Menurut Professor of Psychology and Behavioral Economics di Duke University ini, “The trick is to find the right behavioral antidote for each problem. By pairing something that we love with something that we dislike but that is good for us, we might be able to harness desire with outcome—and thus overcome some of the problems with self-control we face everyday”.

Sama sekali bukan semangat dukungan, justru sebuah solusi bagaimana terlepas dari jati diri procrastinator. Kemudian, adakah harapan bagi para procrastinator yang menginjak usia produktif untuk tidak perlu mengalami kepunahan di dunia milik para pemalas ini? Dan dalam perjalanan saya encari jawaban, malah bertemu dengan banyak hal yang mengisyaratkan kebalikan dari harapan untuk dapat bertahan. Pencarian saya terus menerus berujung pada penemuan-penemuan yang mengingatkan saya pada hal-hal yang harus saya kerjakan.

Dari situ, saya merasa perlu mengucapkan ungkapan belasungkawa sebesar-besarnya bagi kawan-kawan se-procrastinator (tidak) sepenanggungan. Kita sangat dekat dengan kepunahan, teman-teman! Seiring tuntutan dan resolusi yang datang mencoba saling menyelaraskan diri dalam desakan umur yang bergerak. Pesaing baru yang kapan saja bisa menyingkirkan orang-orang yang kebanyakan alasan karena punya manajemen waktu seburuk jam tidur bayi berusia tiga bulan. Mereka, orang yang merasa tidak punya waktu, akan lebih mudah terkesan pada mereka yang mengerjakan apa yang diminta tanpa alasan. Dan, tentu saja, itu tidak dimiliki oleh para procrastinator. Rest in Procrastination!