Bertentangan dengan pandangan umum, melamun bukanlah pekerjaan sia-sia. Kita hidup di jaman ketika kreatifitas menjadi nilai tambah seorang individu, dan melamun, adalah cara termudah (dan termurah) dalam mendorong kreatifitas manusia. Kelas Melamun adalah program diskusi bulanan yang diprakarsai oleh Ketjil Bergerak di Yogyakarta. Bekerja sama dengan Kedai Buku Jenny, 26 april lalu Kelas Melamun dengan tema “Teater & Kota” turut dihelat di Makassar secara sederhana, berikut laporan Abdullah Fikri Ashri. (foto: KBJ)

Kelas Melamun e-poster

 J arum jam menunjukkan pukul 15.00 WITA, kami bergegas menuju pusat kota Makassar. Sore itu masih terasa layaknya siang hari dimana terik matahari masih sangat menyengat. Ya, kota ini rasanya begitu panas dengan kemacetan lalu lintas, polusi, dan tentu saja pohon-pohon yang semakin menjauh. Namun, sore itu adalah sore yang kami nantikan untuk memulai Kelas Melamun yang diadakan Kedai Buku Jenny bersama Ketjil Bergerak.

Sebelumnya beberapa kawan penasaran di media sosial maupun lewat pesan singkat, menanyakan apa dan bagaimanakah Kelas Melamun itu. Setelah berkendara menerjang padatnya jalan raya yang sudah mulai tidak manusiawi, tibalah kami di Societiet de Harmoni Makassar, satu dari sedikit wadah berkumpul dan berkarya di kota ini. Gedung tua itu (masih) mengalami renovasi yang entah sudah berapa tahun tak terselesaikan. Meski begitu, gedung itu tetap menjadi tempat berkumpul, dan salah satu ruangan di gedung itu merupakan rumah KALA Teater. Dan di sanalah kami mengadakan kelas melamun bersama Sutradara Kala Teater, Shinta Febriany.

“Kota seharusnya paham akan posisi kesenian dalam membangun masyarakat, Salah satu kesenian tersebut adalah teater. Melalui teater kita bisa mengasah kepekaan antarmanusia. Jika kita memiliki kepekaan maka masyarakat akan terbangun”

Senyum hangat dan bersemangat dari teman-teman KALA Teater menyambut kami. Ruangan yang penuh dengan buku-buku, poster-poster, dan dokumentasi penampilan Kala Teater semakin memanjakan mata kami. Beberapa teman mulai berdatangan, dan dimulailah Kelas Melamun yang pertama kali di Makassar. Shinta Febriany mulai berbagi cerita dan pengalamannya mengenai Teater dan Kota. “Kota seharusnya paham akan posisi kesenian dalam membangun masyarakat, Salah satu kesenian tersebut adalah teater. Melalui teater kita bisa mengasah kepekaan antarmanusia. Jika kita memiliki kepekaan maka masyarakat akan terbangun” cerita kak Shinta.

Kelas Melamun (9)

 

Ia menambahkan bahwa kota yang serba menitik beratkan pada pembangunan, citra, dan melupakan kesenian harus diinterupsi. Kita harus mengingatkan bahwa kota seharusnya dibangun juga oleh kesenian. Oleh karena itu, kita harus tetap mengeluh mengingatkan pentingnya kesenian, tetapi kita mesti make something, dan seni teater ada untuk mengingatkan itu. “Teater kini tidak lagi hanya untuk menceritakan realitas yang ada di masyarakat, tetapi lebih dari itu teater ada untuk merefleksikan sesuatu” tambah Shinta.

Kelas Melamun (4)

Beberapa teman kemudian ikut bercerita dan bertanya seputar teater dan kota. Ruangan yang dipenuhi sekitar belasan pemuda pemudi semakin ramai dengan tawa dan cerita. Tak terasa maghrib telah menjemput dan menandakan kelas melamun bulan April telah usai. Meski masih ada teman yang masih ingin bertanya dan bercerita, apa daya tangan tak sampai memutar waktu.

Shinta pun menutup sesi melamun bersama tersebut dengan harapan bahwa kota dan masyarakatnya dapat memberi apresiasi lebih layak pada kesenian dan kita harus terus berkarya dan membuat sesuatu untuk kota. Shinta juga mengungkapkan kebahagiaannya karena telah diajak melamun dan berharap kita tetap melamun karena kelas melamun merupakan wadah berbagi pengetahuan dan pengalaman. Kelas Melamun edisi april pun ditutup dengan ucapan bahagia dan terima kasih dan tentu saja, foto bareng.

Kelas Melamun (1)

Selama belum dilarang, mari melamun bersama, sampai ketemu di Kelas Melamun berikutnya.