Oleh: Asyari Mukrim ( @asyarimukrim )|Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Munir telah menjadi milik bangsa Indonesia dan milik mereka yang mempercayai bahwa bersikap adil terhadap sesama adalah sebuah keniscayaan. Sebelas tahun sejak kepergiannya setalah racun Arsenic yang ditemukan di tubuhnya dalam dosis yang tinggi saat menumpangi pesawat Garuda menuju Belanda untuk melanjutkan studi telah merenggut nyawanya. Sejak tanggal 7 September 2004, tanggal Munir wafat, hingga hari ini adalah waktu yang cukup panjang untuk mematikan ingatan kita terhadap sosok dan pemikiran yang masih saja relevan dengan situasi bangsa dan negara kita dewasa ini.

Hingga hari ini, peristiwa ini masih melekat betul dibenak teman-teman dan juga mungkin saja bagi musuhnya. Negara ini tampaknya tidak bersungguh-sungguh menyelesaikan kasus ini dan malah dijadikan sebagai titik sejarah yang sudah harus ditutupi dan dlupakan begitu saja. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengatakan bahwa Munir adalah test of our history, ujian sejarah yang tampaknya belum dilulusi.

Merawat Ingatan, Menolak Lupa, Menafiskan Lewat Karya

Pelataran Baruga Pettarani Universitas Hasanuddin tampak berbeda dari biasanya pada hari Senin (5/10) lalu. Berbagai sudutnya dipajang sejumlah karya seni rupa dari sebelas perupa Makassar. Tiang-tiangnya dihiasi lembaran kain dan yang bertuliskan kalimat agitasi. Sebuah panggung landai terpasang dengan latar belakang gambar Munir terpajang mejuntai kebawah. tersebut adalah rangkaian dari kegiatan 11 Tahun Melawan Lupa.

Kegiatan kampanye 11 Tahun Melawan Lupa diinisiasi oleh Kontras Sulawesi, Kedai Buku Jenny, dan BEM FISIP UNHAS. Didukung oleh pihak Omah Munir dan Seni Lawan Korupsi, program ini dirancang untuk mengkampanyekan kembali gagasan dan cita-cita Munir: sebagai pejuang HAM bagi masyarakat hari ini serta sebagai bentuk solidaritas terhadap upaya penuntasan serangkaian aksi pelanggaran HAM masa lalu yang hingga hari ini belum terselesaikan. Dengan melibatkan masyarakat luas, terutama kalangan mahasiswa, untuk kembali menemukan semangat dan pembelajaran yang diberikan oleh Munir melalui interpretasi karya dan cipta yang diinisiasi oleh masyarakat luas secara umum dan anak muda secara khusus.

Kegiatan ini dirancang dengan beberapa format kegiatan yaitu antara lain “Merawat Ingatan” sebagai format kegiatan untuk memberi ruang bagi pelaku seni dan komunitas. Untuk membaca, mendiskusikan, dan menerjemahkan ulang Munir melalui karya seni kreatif. Sebelas perupa, musisi, dan pelakon serta berbagai komunitas lainnya di Makassar yang berasal dari berbagai latar belakang profesi dan aktivitas kesehariannya diajak untuk menjadi bagian dari upaya kita bersama mengenang dan membumikan kembali gagasan dan cita-cita Munir bagi bangsa ini. Asumsinya sederhana saja, semua orang bisa menginterpretasikan Munir melalui karya-karya kreatif mereka.

Dalam kegiatan ini pula ada pertunjukan kolaboratif yang melibatkan sebelas musisi dan pelakon yang akan menampilkan karya dan tafsiran mereka tentang situasi HAM di Indonesia hari ini. Hasil karya sebelas perupa dalam berbagai bentuk kemudian dipajang di pelataran Baruga Pettarani, tempat pameran karya dan data terkait kasus Munir dan pelanggaran HAM masa lalu lainnya dipajang. Ina Waloni, Saiful Irawan, Arie Ardiansyah, Anisa Shabrina, Swatantra dan Fandy bin Mahmud adalah enam dari sebelas perupa dari berbagai bidang yang menginterpretasikan makna HAM dalam karya mereka. Karakter Munir tampak dominan dalam beberapa karya perupa Makassar ini.

Salah satu karya dari sebelas perupa tentang Melawan Lupa yang dipajang dalam kegiatan 11 tahun mengenang Munir.

Salah satu karya dari Alulaguliga dari sebelas perupa tentang Melawan Lupa yang dipajang dalam kegiatan 11 tahun mengenang Munir.

Minorbebas, Dunce Dance, Next Delay, Wildhorse, Speed Instinct, Fami Redwan, Bakudapa’ Band, Klan Senju, Ruang Baca, Spasi dan HITS menjadi musisi-musisi yang turut menambah keriuhan acara 11 Tahun Melawan Lupa yang dihelat selama dua hari tersebut. Sebelas grup musik dan musisi ini memberikan perspektif melawan lupa versi mereka secara lugas maupun tersirat dalam lagu-lagu yang mereka bawakan.

Speed Instinct, band alternative hip rock asal Makassar ini menjadi salah satu dari sebelas penampil panggung 11 tahun mengenang kematian Munir.

Speed Instinct, band alternative hip rock asal Makassar ini menjadi salah satu dari sebelas penampil panggung 11 tahun mengenang kematian Munir pada hari kedua.

Radit, sang vokalis merangkap gitaris dari Minorbebas juga berpendapat tentang makna Melawan Lupa dalam kegiatan ini. Menurutnya, upaya yang kreatif dalam merawat ingatan-ingatan lama soal pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. HAM itu semacam nilai dasar manusia yang sejatinya tidak boleh dan tidak akan dirubah, direnggut, dirampas, atau dihancurkan karena HAM adalah manusia itu sendiri dan atas nama hakikat manusialah kita seharusnya bertindak. “Penting untuk kita menjadi bagian-bagian dari peringatan pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan yang akan terus kita jaga untuk masa yang akan datang,” ujarnya mantap.

Arie Ardiansyah, salah satu perupa yang ikut ambil bagian dalam pameran karya, juga mengamini hal yang sama dikatakan Radhit. Hanya saja, Arie mengganggap untuk melanjutkan perjuangan Munir bakal lebih berat lagi di saat sekarang ini, karena kita dihadapkan untuk melawan kepura-puraan pada lupa. Mungkin mereka ingat, tidak lupa. Tapi kebanyakan dari ‘mereka’ pura-pura lupa akan peristiwa ini. Itu lebih bahaya,” menurutnya.

Salah satu karya ilustrasi tentang Munir yang dibuat oleh Arie Ardiansyah (papan coklat) yang berdampingan dengan karya handlettering dari Cautsar Kahvy di atas kertas putih.

Salah satu karya ilustrasi tentang Munir yang dibuat oleh Arie Ardiansyah (papan coklat) yang berdampingan dengan karya handlettering dari Anisa Shabrina di atas kertas putih.

Kegiatan ini tentunya tidak lengkap tanpa aksi teatrikal dan pembacaan puisi tentang HAM. Sebelas pelakon menampilkan naskah drama dan musikalisasi puisi mereka tentang nilai kemanusiaan secara luas. Teater Ketjil tampil sebagai pelakon pembuka dengan cerita perlawanan mereka untuk tidak melupakan dan terus merawat ingatan mereka apda korban-korban kejahatan kemanusiaan yang belum mendapatkan keadilan dan dipulihkan haknya secara utuh. Kegiatan ini dikemas dalam format acara “Altar Menolak Bungkam”.

Teater Kampus Unhas yang menampilkan aksi teatrikal pada hari kedua.

Teater Kampus Unhas yang menampilkan aksi teatrikal pada hari kedua.

Selain pameran karya dan data, juga diadakan diskusi terbuka yang mengangkat tema terkait kegiatan tersebut. Pada hari pertama, mengangkat tema Seni dan HAM. Menghadirkan Saleh Hariwibowo ( Gitaris RuangBaca) dan Asy’ari Mukrim (Kontras Sulawesi). Keduanya memaparkan bagaimana relasi seni dan upaya penegakan HAM di Indonesia. Dengan menarik sejarah hingga perkembangannya dewasa ini, penggunaan media keseniaan untuk menyampaikan gagasan dipandang cukup efektif, selain itu, sebagaimana mengutip Saleh Hariwibowo, bahwa seni idealnya adalah media dokumentasi yang baik bagi proses perjalanan sejarah suatu bangsa.

Pada hari kedua, diskusi mengangkat tema Bangsa yang Mencintai Kekerasan: Melacak Genealogi Kekerasan dan Bentuk Perampasan Hak Dasar Manusia. Tema ini diharapkan mampu memberikan penjelasan yang utuh terkait perilaku kekerasan yang masih terus kita jumpai. Dr. Alwy Rachman (Akademisi Unhas), Haswandy Andi Mas (Wakil Direktur LBH Makassar), serta Fajar Deni Bayu (Direktur LAW Unhas) dan dimoderasi oleh Nasrullah mampu menarik perhatian peserta diskusi dengan berbagai pandangan dan analisa terkait situasi kekerasan dan aktivitas kejahatan kemanusiaan yang masih dilakukan oleh negara maupun masyarakat itu sendiri. Fajar Deni Bayu secara berbeda memberikan analisa dan gambaran terkait bentuk-bentuk kekerasan akademik yang masih terus terjadi, semisal pelarangan mahasiswa gondrong masuk perpustakaan yang sempat dibicarakan secara masif di UNHAS.

Fami Redwan menjadi penampil yang menutup Panggung 11 tahun Mengenang Kematian Munir.

Fami Redwan menjadi penampil yang menutup Panggung 11 tahun Mengenang Kematian Munir.

Merancang Model Kampanye Kolaboratif

KontraS Sulawesi, Kedai Buku Jenny, dan BEM FISIP UNHAS serasa hendak membuktikan bahwa upaya mereka untuk untuk menjadi bagian dari kampanye HAM di masyarakat luas. Berawal dari pendiskusian yang sifatnya terbatas, kegiatan ini kemudian diinisiasi dengan terus mengajak berbagai pihak untuk terlibat. Pada konteks ini, Kegiatan tersebut mendudukkan persoalan solidaritas dan aksi kolaboratif sebagai modal untuk merancang sebuah aktivitas kampanye yang ideal dan strategis.

Aktivitas kampanye masih dianggap penting untuk dilakukan mengingat rezim kekuasaan yang terus berganti hendaknya bisa selalu diingatkan bahwa ada banyak orang yang menjaga kewarasannya untuk menolak lupa dan terus menuntut proses penyelesaian secara adil dan terbuka. Maka dari itu seruan “Menolak Lupa” akan terus bergema mempertanyakan pemerintah yang tidak kunjung membuka mata terhadap kasus berdarah yang membasahi tanah air mereka sampai hari ini.

Salah satu karya potret Munir dalam bentuk mural di atas kaca yang dipajang dalam kegiatan dua hari ini.

Salah satu karya potret Munir dalam bentuk mural di atas kaca yang dipajang dalam kegiatan dua hari ini.

Dengan melibatkan masyarakat luas untuk kembali menemukan semangat dan pembelajaran yang diberikan oleh Munir melalui interpretasi karya dan cipta, kegiatan 11 Tahun Melawan Lupa percaya bahwa ini hanyalah satu langkah kecil untuk tetap memastikan warisan praktik kekerasan rezim otoriter terus dilawan, bukan mundur melupakan.

Kedepannya diharapkan pula bahwa, melalui kerja kolaboartif yang semakin massif, akan muncul beragam aktivitas seni dan kampanye yang lebih segar dengan metode yang semakin beragam tetapi tetap tidak miskin subtansi seperti harapan Efek Rumah Kaca dalam lirik Pasar Bisa Diciptakan-nya. []


Baca tulisan lainnya dari Kedai Buku Jenny

Sepiring Piknik Musik di Akhir Pekan

Perempuan dalam Juangnya

Efek Placebo dan Pemerintahan Baru

Senja di Ibukota

Ilustrasi Suka-Suka di Kedai Buku Mungil

Memahami Cinta dari Sudut Pandang yang Beragam

Komedi Satir dan Cinta Dramatik dalam Cerita Ringan

Merayakan Ibadah ‘May Day’ Kekinian!