Siapa yang tidak mengenal sosok ini. Setiap manusia yang lahir dan besar di negeri ini pasti mengenal namanya. Bagaimana tidak, kisahnya selalu masuk dalam kurikulum pelajaran sejarah sekolah dasar. Kata-kata yang beliau lontarkan berpuluh-puluh tahun silam masih sering terdengar hingga saat ini. Sang proklamator bangsa, Soekarno.

Saya mengenal beliau lebih dekat saat berada di bangku Sekolah Menengah Pertama melalui buku tua di perpustakaan sekolah. Buku yang kemudian tidak pernah saya kembalikan. Kisahnya sembunyi dan disembunyikan demi sang saka merah putih, selalu menarik untuk saya bayangkan. Orasi orasinya yang berani dan menggemuruh menimbulkan energi positif akan sosoknya.

***

Karya tulis Jurnalistik selalu bergerak dinamis. Setidaknya begitu pemahaman yang saya dapat dari workshop menulis bersama Anwar Jimpe Rahman beberapa bulan lalu di Rumata’. Karya tulis jurnalisitik kini telah banyak mengalami modifikasi bentuk namun tidak merubah esensinya.

Berbicara tentang karya Jurnalistik, dari sekian banyak media cetak, saya paling tertarik dengan konsep dan cara menulis yang diterapkan di media bernama Tempo. Mengangkat isu dengan gaya bertutur yang lugas dan mampu membuat kita menganggukkan kepala adalah hal yang saya temukan kerap kali membaca karya jurnalistik di sana. Buku “Andaikan Saya Wartawan Tempo” yang saya dapat dari kak Ime, Redaktur Tempo Makassar sedikit banyak memberikan petunjuk untuk saya tentang cara menulis khas Tempo.

Sempat dibredel di tahun 1994, membuktikan bahwa Tempo adalah salah satu media cetak yang ditakuti oleh pemangku kebijakan. Ditakuti karena ketajaman pena milik mereka tentunya.

***

Seri Buku Tempo : Bapak Bangsa, “Sukarno, Paradoks Revolusi Indonesia” adalah buku sempurna yang menyatukan kekaguman saya akan Tempo dan Soekarno. Buku ini berusaha mencari sudut pandang yang berbeda dari apa yang telah kita pahami akan kisah Soekarno.

Menggunakan praktik jurnaisme investigasi, buku ini berhasil memperkenalkan sosok Heldy Djafar, istri terakhir Soekarno yang jarang terdengar di media. Berlandaskan tujuan jurnalisme yang mengetengahkan fakta dengan menarik dan dramatik tanpa mengabaikan presisi, kemudian membuat buku ini kental dengan pesona sejarah.

Nama besar Soekarno tidak akan pernah pudar hingga akhir zaman. Walaupun kepala pemerintahan berganti-ganti, masih ada saja orang-orang yang tetap mengabadikan fotonya yang menguning di dalam pigura yang mulai lapuk. Di penjual kaki lima, posternya masih dipajang bersebelahan dengan poster Madonna, Iwan Fals, Bob Marley. Simbol dari sebuah zaman di Abad 20. Kurang lebih begitulah buku ini bertutur.

Daya magis orasi Soekarno kemudian tidak sejalan dengan Hatta. Hatta berusaha menciptakan beribu-ribu bahkan berjuta-juta Soekarno. Ia mengkritik Soekarno yang cenderung mengumpulkan massa dengan satu Soekarno di tengahnya. Soekarno kemudian berpendapat sebaliknya, bahwa kata-kata diperlukan untuk mengilhami tindakan.

Lahir dengan bintang Gemini dengan lambang kekembaran, Soekarno mengakui bahwa dirinya memiliki dua sifat yang berlawanan. Di balik ekspresinya yang kasar, tegap dan menggunutur, Soekarno adalah pribadi yang rapuh.

Salah satu bab yang saya sukai di buku ini adalah “Don Juan” yang Mahir Mencinta. Berkisah tentang perjalanan kisah cinta Soekarno. Kecantikan perempuan adalah besi berani yang tak pernah berhenti memikat Soekarno hingga masa senja hidupnya. Bab ini menjelaskan bagaimana Soekarno dengan daya tarik dan kemampuan intelektualnya yang tinggi untuk menaklukkan hati wanita.

***

Tulisan ini mungkin terlalu lawas untuk dibaca oleh kalian yang berjiwa muda dan kekinian. Saya kemudian hanya berusaha menyegarkan ingatan akan pelajaran sejarah yang mungkin kita abaikan di sekolah. Bahwa Soekarno dan mungkin tokoh-tokoh pahlawan nasional lainnya sedikit banyak dapat menginspirasi, atau menjadi bacaan menarik dibanding menonton tayangan televisi atau berita-berita murah mainstream lainnya. []

Judul: Sukarno: Paradoks Revolusi Indonesia | Seri Buku TEMPO: Bapak Bangsa | Diterbitkan: Juli 2015| Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia | Jumlah Hal. : 134 Halaman

Baca tulisan lainnya dari Chairiza

Eat Clean with Clean Eating

Literasi Media dalam Drama Korea

Makanan, Permainan, Musik, Belanjaan dan Komunitas

Anarki, Hadist Nabi dan Band asal Jogja

Sumur, Bersin, Mangga dan Jahitan di Makassar in Cinema

Cuplikan Ide Cerita Makassar In Cinema #2

Berkampanye di Media Sosial

Yang Berbatu, Yang Ber-AKSI

Tujuh Postingan Mengganggu di Instagram

Wabah Positif Bernama Flu Hijab

Menyibak Rahasia Gemerlap Malam Ibukota

Tujuh Buku Bagus yang (Ternyata) Ditulis oleh Teman-Temanku

Appabotingeng ri Tana Ugi

Ruang Kreatif: Wadah Baru untuk Karya Indie Makassar

Berburu Barang Berkualitas dengan Harga Miring

Ada Apa dengan Gelar Bangsawan?

Berkreasi dengan Pipa