Mungkin karena belakangan ini saya keseringan menyimak ulasan album-album mahakarya dari beberapa band di situs Consequences of Sound, jadinya saya teringat dengan salah satu album mahakarya, yang sepertinya sulit untuk disamakan dengan album-album berikutnya dari band tersebut.

Kilas balik sekitar enam tahun yang lalu, album Vampire Weekend milik Vampire Weekend merupakan satu-satunya album terbaik  milik grup musik ini yang mengusung corak indie rock yang dipadupadankan dengan afrobeat. Dan album ini adalah titik klimaks mereka menurut saya.  Mengapa?

Sebelum menjadi mahasiswa baru sekitar enam tahun yang lalu, saya mengenal Vampire Weekend saat masih  rajin-rajinnya menyimak majalah musik Trax yang menampilkan preview band apa saja yang bakal bersinar tahun itu. Dan terpampanglah Vampire Weekend dengan imej anak-anak parlente dan hi-class tampilannya.

Jujur saja, Saya tidak terlalu  peduli dengan tampilan imej grup musik ini kala itu, yang mana si vokalis, Ezra Koenig tampaknya bisa jadi idola para kaum hawa. Tapi melihat review album Vampire Weekend yang ditampilkan oleh Trax kala itu cukup menyakinkan, jadilah saya tertarik untuk mencari tahu tentang album mereka.

Waktu itu juga saya berhenti sejenak  dari penghobi kaset pita. Boleh dibilang cukup bosan mengkoleksinya lagi. Ditinjau dari finansial, hobi ini juga cukup mahal. Bagaimana tidak, setiap membeli kaset , minimal 2 -3 buah yang harus saya bawa pulang untuk didengarkan. Sehingga mau tidak mau saya harus mengurungkan niat membeli kaset lagi daripada merogoh kocek dalam-dalam untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Dan itu adalah  kesalahan fatal pertama saya di masa silam untuk album ini.

Mulailah saya mencari-cari album pertama dari Vampire Weekend di berbagai situs file-sharing yang sering saya kunjungi. Boleh dibilang ini cyber crime kecil-kecilan karena melanggar HAKI tentunya. Tapi mungkin ini satu-satunya cara saya bisa menikmati musik mereka saat itu di samping masih berkutat untuk penghematan anggaran. Tapi bukan perkara gampang mencari file album tersebut di situs file-sharing. Dimana saat itu saya masih sulit untuk membeli modem pribadi dengan harga yang masuk akal seperti sekarang.

Jadilah saya nongkrong mencarinya di warung internet 24 jam.  Cukup merogoh uang sepuluh ribu Rupiah untuk tiga jam. Dimulai dengan mencari music video-nya di Youtube, akhirnya dapat juga Vampire Weekend dengan lagu  “Oxford Comma” dan “Mansard Roof” ketika itu. Saat itu saya bisa melihat tampilan teatrikal si vokalis Ezra Koenig dan antek-anteknya di video musiknya sambil berujar,” Oh..ini yah yang namanya Vampire Weekend.” Namun untuk menikmati keseluruhan albumnya, tetap saja hasilnya pun nihil. Saya belum bisa mendapatkannya di setiap situs file-sharing, Perlahan-lahan saya pun melupakannya untuk sementara mencari album tersebut.

Sampai akhirnya saat pengumuman kelulusan SMA, saya punya banyak waktu untuk mencari album-album favorit dalam bentuk pada medio itu. Akhirnya setelah cari sana-sini, album Vampire Weekend dalam bentuk mp3 pun berhasil didapatkan. Dengan wajah sumringah, saya pun langsung mem-burningnya sealbum khusus untuk album ini dan didengarkan di CD Player saya yang sudah rusak saat ini.

Track demi track saya dengar, tapi hanya satu lagu yang saya suka waktu itu. Saya langsung jatuh cinta pada “Oxford Comma”. Selaras dengan musiknya, liriknya cukup menohok untuk band seperti ini. “Who gives a fuck about Oxford Comma?”  dan “Why would you lie about how much coal you have? Why would you lie about something dumb like that? Why would you lie about anything at all? First the window, then it’s through the wall”. Lirik yang cukup sekaligus menendang “pantat” para anak-anak akademisi dari kaum borjuis secara bersamaan.

Dan dimulailah saat jaman mahasiswa baru sambil menikmati musik mereka secara perlahan-lahan tanpa keinginan untuk langsung menyukai sealbum penuh. Hal ini secara magis terjadi pula saat saya mendengarkan lagu mereka berjudul “Campus” yang liriknya seperti ini:

 I wake up

My shoulder’s cold

I’ve got to leave here

Before I go

I pull my shirt on

Walk out the door

Drag my feet along the floor

I pull my shirt on

Walk out the door

Drag my feet along the floor

 

Then I see you

You’re walking cross the campus

Cruel professor

Studying romances

How am I supposed to pretend

I never want to see you again?

How am I supposed to pretend

I never want to see you again?

 

Walk to class

In front of ya

Spilled kefir

On your keffiyah

You look inside

And turn to the door

Drag your feet along the floor

 

Then I see you

You’re walking cross the campus

Cruel professor

Studying romances

How am I supposed to pretend

I never want to see you again?

How am I supposed to pretend

I never want to see you again?

 

In the afternoon

You’re out on the stone and grass

And I’m sleeping on the balcony

After class

 

 Bila disimpulkan, liriknya sederhana saja tentang mahasiswa yang kesehariannya  harus segera ke kampus pagi-pagi buta padahal masih ngantuk berat dan dimarahi dosen killer karena terlambat, dan secara tidak langsung ketemu dengan lawan jenis yang berparas cantik jelita di sudut kampus ketika itu dan berharap bisa bertemu kembali, setidaknya bisa berkenalan sambil bercengkrama di balkon setelah selesai kuliah.

Bait lirik yang ditebalkan di atas merupakan favorit saya.  Sambil meresapi makna liriknya, secara tidak langsung saya juga merasakannya ‘roh’ lagu ini. Benar-benar brilian! Membayangkan saja bisa terjadi, itu sedap-sedap ngeri. Seperti ucapan andalan si Boris, stand-up comedian itu.

Lagu ini langsung betul-betul menyejukkan saya saat diputar di playlist handphone sambil menikmati suasana kampus merah era mahasiswa baru saat itu.  Dengan sulit tapi pasti saya melewati masa-masa orientasi mahasiswa baru. Mengerjakan tugas-tugas kuliah dari MKU dan dikerjai senior pun masih penuh semangat lagu “Campus” yang terputar di sela-sela istirahat jam kuliah dan jam menjalani orientasi mahasiswa baru. Ternyata benar-benar mujarab. Namun persoalan keajaiban lagu “Campus” untuk bisa bertemu dengan pujaan hati di MKU dan sekitarnya, ternyata tidak demikian. Padahal sudah dengan hasrat anak muda yang menggebu-gebu untuk kasmaran.

Terlepas dari “ajaib”nya lagu “Campus”, keseluruhan album ini saya  dengarkan secara seksama. “A-Punk”, “Oxford Comma”, “Cape Cod Kwassa Kwassa” dan “Kids Don’t Stand A Chance” adalah lagu berikutnya di album “Vampire Weekend” yang menjadi favorit saya dan menemani masa-masa sebagai mahasiswa baru. Dan saya pun  mendengarkan kembali lagu-lagu di atas sambil menikmati teh hangat di hujan petang ini. Ah, nikmatnya! []

Image Credit: The Guardian