Oleh: Kemal Putra | Foto: Trailer Pengabdi Setan 1980

Beberapa kali adegan dua kakak-adik dikejar setan ditampilkan. Kadang dikejar secara terpisah, kadang bersamaan. Satu-satunya respon yang bisa saya berikan adalah memutar bola mata. Setan-nya berjalan lambat, tapi entah mengapa yang dikejar kadang cuma diam terpaku seolah ingin lari tapi tidak punya jalan untuk kabur ketika jelas-jelas ia sangat bisa. Tentu saja, ini semua dilakukan untuk memberi kesan dramatis, tapi dramatis yang menggelikan. Belum lagi ada satu bagian di mana salah satu setan-nya di suatu malam muncul dengan taring di kedua ujung bibir layaknya Vampire, lalu di malam-malam berikutnya taring tersebut lenyap. Ada apa? Dari mana datangnya taring itu? Atau ke mana perginya taring itu? Seandainya salah satu kakak beradik ini sampai digigit, apakah mereka juga akan berubah menjadi Vampire?

Kritik saya di atas terhadap Pengabdi Setan, tentu saja akan diprotes oleh mereka yang ketika kecil dulu dibuat takut oleh film yang jadi cult di luar negeri ini (Jepang dan beberapa negara Eropa merilis versi DVD). Dibuat takut, lalu ketika dewasa mereka mengenang dan menjadikannya sebagai film horor favorit. Maka jika mereka yang tidak sepakat dengan kritik ini, semata karena alasan masa kecil, maka cobalah ditonton ulang, dan perhatikan reaksi tubuh anda bekerja, apakah masih gentar?

Ada juga yang tidak sepakat dengan opini ini datang dengan pembelaan, “Yah namanya juga film jadul. Masih cemen kala itu.” Maka, cobalah tonton film-film horor seperti Nosferatu karya J.W. Murnau, Onibaba karya Kaneto Shindo, atau Possession karya Andrzej Zulawski. Serentetan karya horor klasik dengan kekuatan cerita dan nuansa yang tak tergerus zaman. Tentu saja, akan ada protes mengenai perbandingan yang saya lakukan, satu film yang dengan bangga berstatus cult sekali pun kelas B, dengan jajaran film yang selamanya dianggap “klasik” dan diakui jajaran kritikus dunia.

Namun, maksud dari perbandingan ini sebenarnya ingin terlepas dari perbedaan status yang disandang. Bahwa kekuatan sebuah film kerap tak punya urusan dengan zaman. Kita bisa memutar film yang sama dari tahun ke tahun dan kita masih tetap bisa terhubung dengan ceritanya, atau setidaknya masih tetap memberikan pengalaman yang sinematis. Bagi saya, Pengabdi Setan yang rilis tahun 1980 ini tak lagi memiliki kualitas-kualitas seperti itu.

Tapi sesungguhnya yang paling kontras dalam film garapan Sisworo Gautama Putra ini adalah keinginan menampilkan kekuatan Islam. Ini juga merupakan tipikal film horor era 70′ hingga akir 90’an. Bahkan, jika Suzanna sempat menjadi ikon ratu horor, tetap saja perannya sebagai Kuntilanak selalu tunduk atau insaf atas kekuatan dakwah Islami. Jika saat ini film-film dakwah menyusup ke dalam kisah-kisah romansa seperti Ayat-Ayat Cinta, 99 Cahaya di Langit Eropa, Surga yang Tak Dirindukan, dan banyak lainnya, maka di tahun-tahun ketika horror klasik masih berjaya, dakwah sepertinya justru subur menyusup ke dalam genre horror.

Secanggih dan sesumbar apapun sosok setan yang ditampilkan dalam film-film horor klasik, semisal penggambaran sosok vampire di Pengabdi Setan, ia akan dilenyapkan lewat hafalan kitab suci para Ustaz atau pun Haji.

Ini bukan tentang setan selayaknya tidak boleh dilawan dengan agama, atau agama tidak punya kesanggupan melawan setan. Tapi tren dakwah Islam dalam film-film horor kala itu ibarat pengukuhan betapa Islam adalah agama paling kuat di Indonesia. Dan, itu mustahil dipungkiri. Sewaktu saya masih kecil, menyaksikan film-film horror Suzanna adalah kesenangan tersendiri. Walau tentu saja sebagai anak kecil, ada teror yang tersisa di kepala saya sehabis menyaksikannya.

Tapi, melihat para ustaz bekerja melawan setan di layar tv dulu adalah hal yang terasa wajar, mungkin karena saya dibesarkan dalam keluarga muslim. Namun kini, di usia yang lebih dewasa dan berteman dengan banyak orang dari berbagai latar kepercayaan dan ketidakpercayaan, ketika saya paham bahwa Indonesia adalah negara demokrasi yang mengakui keberadaan lima agama, menyaksikan Pengabdi Setan membuat saya mengingat-ingat kembali masa kecil saya yang gemar akan film horror. Seandainya saya terlahir dalam keluarga Kristen, bagaimana saya akan merespon film-film horror Suzanna?

Mempertontonkan kekuatan dakwah Islam melawan setan dalam film-film horor klasik Indonesia secara masif adalah pernyataan bahwa Islam adalah agama yang dipeluk mayoritas penduduk Indonesia. Tapi entah dipercaya atau tidak, secara subtil, ini juga merupakan pernyataan bahwa ketika ia sudah menjadi mayoritas, maka ia superior. Dalam film-film tersebut, para setan sebelum menjadi setan, adalah sosok manusia.

Manusia yang datang dari keluarga muslim. Hanya dari keluarga muslim. Ini memperlihatkan betapa pilihan menjadikan keluarga muslim sebagai latar belakang agama yang dianut tokoh sentral adalah mutlak karena ia mayoritas. Kemudian ketika si manusia sudah menjadi setan, satu-satunya yang bisa menaklukkannya adalah ustaz. Seseorang hanya bisa disebut ustaz jika ia memeluk agama Islam. Ustaz yang selalu sanggup menaklukkan dendam si Setan adalah perwakilan superioritas agama yang telah menjadi mayoritas tersebut.

Mengingat masa tren seperti itu terjadi ketika Soeharto masih berkuasa dan lama, dalam sebuah grup WhatsApp yang anggotanya adalah para penonton film, saya sempat menyinggung bahwa tren tersebut bisa jadi adalah propaganda pemerintah untuk menertibkan masyarakat. Salah seorang pengguna grup tersebut memberi respon tertawa dan menganggap bahwa satu-satunya film propaganda yang dilakukan pemerintahan Soeharto di masa Orde Baru adalah lewat Pengkhianatan G-30S PKI semata. Padahal, di masa Orde Baru, hampir semua organisasi yang dibentuk berkaitan dengan film, memiliki anggota yang berasal dari orang-orang pemerintahan, seperti Dewan Film. Bahkan Badan Sensor Film yang merupakan warisan Belanda, kebijakannya dinamis mengikuti penguasa yang memimpin. Bahkan beberapa rumah produksi juga dikelola oleh orang-orang yang berkepentingan dengan pemerintah. Film-film horor seperti ini juga memperlihatkan relasi kuasa a la Orde Baru.

Dalam kisah Pengabdi Setan, kakak-beradik ini baru saja kehilangan ibu, yang nantinya hidup kembali sebagai Setan. Mereka berasal dari keluarga kaya raya. Ayahnya merupakan bos di perusahaan yang bergerak di bisnis properti. Di salah satu adegan, si ayah menandatangani kesepakatan pembangunan perumahan baru dengan dua orang koleganya. Dalam adegan tersebut, kolega pertama berujar, “Semoga usaha kita berjalan sukses.” Kolega kedua menimpali, “Ya, tapi bukan sukses kecil. Sukses besar!” Lalu, mereka bertiga tertawa. Si ayah kemudian mempertegas, “Usaha kita kan sejalan dengan tujuan pemerintah. Membangun sebanyak mungkin perumahan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.”

Dialog tersebut bersesuaian dengan visi pemerintah Orde Baru yang termakhtub dalam Rencana Pelita I (periode 1969-1974), lalu berlanjut lagi ke Pelita III (dimulai pada 1979) yang sasarannya mengenai penyediaan perumahan bagi rakyat, pemerataan pembangunan, dan pemerataan pemenuhan perumahan. Adegan tersebut mempertegas peran penting si Ayah sebagai elite yang turut bekerjasama dengan pemerintah demi mewujudkan visi pembangunan Orde Baru.

Ali Murtopo (Menteri Penerangan periode 1978-1983) dalam buku Kuasa dalam Sinema karya Krishna Sen mendefinisikan usaha modernisasi masyarakat sebagai salah satu visi Orde Baru untuk mengubah norma-norma yang tidak lagi berfungsi dalam masyarakat, termasuk yang menghalangi pembangunan. Ia mendeskripsikan rakyat pada umumnya hidup di suasana pikiran yang tidak cukup rasional. Salah satu bentuk yang menguatkan ketidak-rasionalan itu diduga termasuk kepercayaan pada ilmu hitam. Dalam kisah Pengabdi Setan, si kakak beradik dan ayahnya yang berasal dari kelas elit berpendidikan berubah menjadi tidak rasional ketika mereka menggunakan jasa dukun untuk melawan penyihir perempuan yang telah menghidupkan mayat ibu mereka.

Ketidak-rasionalan ini—yang dianggap tidak sejalan dengan usaha modernisasi Orde Baru—ditandai dengan tewasnya si dukun di tangan penyihir perempuan (yang sesungguhnya juga merupakan simbol ketidak-rasionalan).

Serupa dalam banyak film horor Indonesia lainnya, si penyihir ini–atau sosok hantu di film horor yang lain–akhirnya takluk akibat hafalan surat pendek sang Ustaz yang selalu muncul dengan pakaian putih simbol kesucian. Keluarga-elit-berpendidikan akhirnya selamat akibat dukungan Ustaz. Peran Ustaz, seperti halnya di banyak film horor lain, menurut Sen sebagai petunjuk bahwa Islam–yang juga menjadi agama yang paling banyak penganutnya di Indonesia–memberi validitas spiritual bagi rencana modernisasi a la Orde Baru.

Pengabdi Setan akhir-akhir ini kembali diperbincangkan, dan makin banyak yang ingin menontonnya. Itu karena sutradara terkenal Indonesia, Joko Anwar membuat ulang film ini. Joko Anwar terkenal vokal dan kritis bukan saja terhadap kebijakan pemerintah tapi juga terhadap organisasi keagamaan yang senang mengeluarkan fatwa. Membuat ulang film seperti Pengabdi Setan yang sarat pesan agama dan pro-pemerintah Orde Baru kala itu, tentu membuat kita menduga-duga akan jadi seperti apa Pengabdi Setan versi Joko Anwar.