Oleh: Harnita Rahman (@comradenhytha)
Judul: Sepotong Hati yang Baru | Penulis: Darwis "Tere Liye" | Cetakan: September 2012 | Penerbit: Mahaka | Jumlah Halaman: 204 Hal.

Nama Tere Liye kuketahui sejak 2 tahun lalu, saat namanya terpampang besar di spanduk besar depan pintu masuk kampus merah. Kalau saya tidak salah ingat, dia diundang sebagai salah satu pembicara dalam sebuah helatan yang diadakan mahasiswa teknik.

Sampai kuketahui namanya Darwis, karena pada awalnya saya mengira dia seorang perempuan. Dia salah satu penulis terkenal beberapa tahun belakangan ini, menurut beberapa kawan yang kutanyai tentangnya. Saya belum tertarik mengenalnya saat itu, karena penulis muda khususnya penulis genre fiksi, cenderung berkiblat pada Andrea Hirata pasca kelahiran tetralogi Laskar Pelangi yang terkenal hingga penjuru negeri.

Bukan, saya bukan salah satu haters ataupun fans Andre Hirata, saya juga jatuh cinta pada tetralogi karyanya tersebut (minus Maryamah Karpov yang terkesan terlalu dipaksakan dan mengejar target pasar). Hanya saja aku benci tiba-tiba ia muncul di berbagai tayangan di layar kaca dan menjadi sok sastrawan.

Kembali pada Darwis alias Tere Liye. Beberapa waktu setelahnya, seorang sahabat adikku memesan  beberapa bukunya melalui Kedai Buku Jenny yaitu Negeri di Ujung Tanduk dan Negeri Para Bedebah. ia pun bercerita kalau buku-bukunya  menjadi best seller dan  naik cetak beberapa kali. Aku lupa kenapa tidak sempat membacanya padahal buku itu nongkrong cukup lama di kedai.

Dan beberapa minggu lalu, kutemukan buku Sepotong Hati yang Baru milik adikku, di tumpukan buku sumbangan untuk Malala Library dari teman-teman di Jogja.   Biasanya, saat membaca buku kumpulan cerita, aku memilih judul yang paling menarik, tapi karena aku sama sekali tidak mengetahui kalau ini kumpulan cerita, aku membacanya dari cerita pertama.

Pilihanku membaca cerita pertama  rasanya tidak tepat. “Hiks, Kupikir Itu Sungguhan” yang menjadi cerita pembuka di buku ini membuatku tidak ingin melanjutkan membacanya. Kisahnya remaja sekali dengan kemasan dan teknik menulis seolah menjiplak buku  teen literature yang berjamur di Gramedia.

Tapi, buku itu tetap kubaca, dengan pertimbangan mungkin cerita selanjutnya berbeda. Kali ini aku tidak salah. Judul kedua “Kisah Sie-Sie” membalik ekspektasiku akan buku ini. Kisah tentang seorang gadis remaja keturunan Tionghoa miskin di pedalaman Kalimantan, yang memknai perjuangan dari sudut pandang yang berbeda.

Kisah cinta yang percaya bahwa ketulusan bisa mengubah hidup seseorang , dan mencairkan hati yang membeku. Kisah tentang keyakinannya pada waktu yang akan memberikannya  jawaban terbaik atas pengorbanan-pengorbanannya. Sie-Sie menampilkan kisah perempuan yang hidup di atas batas keyakinanan-keyakinan yang jarang kita jumpai di jaman sekarang atau kalaupun ada, kadang kita menerjemahkan ketulusan-ketulusan seperti itu berbatas tipis dengan kebodohan.

Lalu, “Kisah Sepotong Hati yang Baru”, menunjukkan konsep cinta yang bertolak belakang dengan cerita sebelumnya. Menampilkan pandangan cinta yang sejalan dengan rasionalitas.  Yang tak lagi percaya pada akan konsep menerima semata. Cinta butuh pertimbangan-pertimbangan logis yang kadang tak mampu dibaca dengan hati yang terselebung melankolia cinta.

Selanjutnya “ Mimpi Sampek-Engtay” dan ”Itje Nurbaya & Kang Jalil” bertutur tentang certita cinta melegenda serupa legenda Romi dan Juliet dengan latar belakang berbeda. Sampek dan Engtay berlatar kehidupan Biara Shaolin di Cina yang berjuang sampai mati mendapatkan cinta putri mahkota, sementara  Itje dan Kang Jalil mengambil latar kehidupan kaum pribumi jauh sebelum kemerdekaan.

Romansa dalam kedua cerita memberikan kisah  cinta yang heroik.  Yang mengakhiri kisah cintanya bersama maut. Lalu cerita “Kalau Semua Wanita Jelek” . Cerita ini unik, salah satu yang saya sukai.  Dan semua perempuan yang memiliki ketidak percayaan atas tampilannya, wajib membaca cerita ini.  Cerita ini menjadikan kecantikan nyata sebagai alat alat komoditi  dalam kehidupan.

Sebetulnya agak mirip dengan salah satu film Holywood yang baru-baru ini kunonton. Judulnya “In Time”.  Lalu, cerita dengan tajuk “Buat Apa Disesali” juga cerita cinta yang tak berujung bahagia. Cerita klasik, namun dikemas menarik. Tentang kesenjangan sosial, pembantu dan tuannya, yang terhalang banyak tembok keangkuhan yang besar.

Cerita favoritku adalah “Percayakah Kau Padaku?”, tuturnya agak ribet dan sulit dicerna, tapi semakin kau tidak mengerti semakin ingin kamu melanjutkannya. Yang membuatku takjub dengan cerita ini adalah kisah Rama dan Sinta yang Tere Liye bantah legendanya, bahwa cinta Rama pada Sinta setelah kisah penculikan istrinya oleh  Rahwana bukanlah cinta yang kita kenal, tapi cinta Rama sejak saat itu telah diliputi kecurigaan hingga Sinta memilih ditelan langit demi membuktikan cintanya.

Delapan cerita yang disuguhkan Tere Liye dalam buku ini pada hakikatnya adalah tentang pilunya kisah mencintai dan dicintai seseorang. Kerennya, karena penerjemahan cinta dalam setiap kisahnya tidak melulu  sama.

Semua cerita memberi keutuhan untuk memahami maksud Tere Liye sekaligus pembaca tentang cinta yang dipahami banyak orang dari cara pandang yang beragam. Bagaimanapun ia, cinta adalah keutuhan. Sama seperti yang kupahami bahwa bentuk cinta itu selalu utuh meski dengan sepotong hati.

Bagi yang ingin memahami cinta dan perasaan dengan baik, buku ini kurekomendasikan untuk kalian baca. Bisa kalian pesan melalui Kedai Buku Jenny atau bisa meminjamnya di Malala Library.[]