Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

“Tanpa musik, hidup adalah sebuah kesalahan” – Friedrich Nietzsche

Musik telah ada sejak kita dalam kandungan. Secara normal, Beat dari jantung ibu merangsang perkembangan telinga, menjadi indera yang pertama berfungsi. Musik adalah sesuatu yang kita bawa secara alami. Kenyataan tersebut mampu menjadi ukuran, musik begitu mudah dinikmati secara universal.

Sejalan dengan itu, musik tentu sangat mudah menjadi wadah penyampai pesan. Dari lirik, judul, hingga bentuk-bentuk konseptual lain seperti album hingga pertunjukan. Memaknai lirik, nada, atau album musik tentu lebih mudah daripada memaknai sebuah pertunjukan. Lebih spesifik, ke dalam bentuk konser atau festival.

Setiap pertunjukan, tentu memiliki misi dan visi tersendiri, bahkan jika itu hanya sejenis Bazaar musik. Minimalnya tentu meraup laba sekaligus memberi panggung bagi musisi-musisi yang menemui kesulitan tempat “bermain”. Di beberapa event, biasanya ada tema khusus yang diangkat yang mampu menjadi pesan dan tujuan. Misalnya, Soundrenaline yang di tiap pelaksanaan memiliki tema berbeda dari tahun sebelumnya, yang saya ingat, “Make Music Not War”.

Melihat konteks kekinian, kelokalan seringkali menjadi kampanye besar dari berbagai kegiatan. Pertunjukan musik mulai banyak memberi ruang bagi band-band lokal dan turut andil dalam perkembangan scene-nya. Namun, benarkah demikian? Sejauh mana pengaruh sebuah event bagi scene musik di sebuah kota, khususnya Makassar? Secara khusus, bagaimana memandang kehadiran musisi dari luar negeri dalam sebuah event?

Berikut beberapa pendapat dari para pengamat, pelaku, hingga penikmat musik yang ada di Kota Makassar mengenai hal tersebut:

Ade Cakra Irawan (Pengamat musik):

“Musisi hanya bisa matang di atas panggung. Sekaligus menguji apakah karyanya bisa diterima khalayak. Mengenai band luar, buat penyelenggara tentu sebagai daya tarik penonton. Buat band lokal, bisa jadi bahan pembanding dan tentu saja bisa jadi tambahan CV dan kalau nda gengsian bisa bertanya dan curi skill.”

Anwar Jimpe Rachman (Penulis dan Pengamat musik):

“Saya tidak tahu bagaimana skalanya. Namun soal pengaruh, jelas selalu terjadi. Festival, tempat mempertemukan gagasan dan cara bekerja. Selain tentu saja untuk berhibur, berlibur, atau merayakan sesuatu. Teman-teman pegiat scene musik Makassar akan melihat langsung bahkan punya peluang untuk bertukar pikiran dengan pegiat dari Kota/Negara lain. Bukan via internet saja. Jadi tinggal memanfaatkannya.”

Bobhy (Penulis dan pengamat musik)

“Event berskala apa saja hanya akan berakhir sama seperti hajatan musik biasa, jika tidak ada niatan menjadikan event tersebut sebagai bagian penting dalam perkembangan scene musik.  Khususnya, scene musik lokal.

Artinya, perlu usaha ekstra untuk membangun ruang lain di scene yang tidak hanya mengenalkan atau menunjukkan eksistensi musisi tapi sekaligus memberi ruang yang luas dan banyak bagi para musisi tersebut untuk mendiskusikan atau mengartikulasikan karya dengan cara mereka. Dengan begitu, kita bisa meminimalisir minimnya apresiasi terhadap musik dan musisi lokal.”

Andi Muhammad Ikhlas (Pengamat sekaligus penggiat berbagai event musik)

“Kita bagian dari industri musik global. Jadi adalah sah jika pengaruh event Internasional juga masuk ke kita. Tinggal kita pintar-pintar memberi filter.”

Andre (Vokalis No Time to Run):

“Pengaruhnya sangat besar. Apalagi kalau ada yang membawakan soal budaya. Itu juga harapan saya. Bisa bagi pengalaman dan canda tawa”

Juang (Melismatis):

“Skala perkembangan scene tidak bisa dilihat dari level event. Bukan masalah regional, nasional, atau internasional. Yang paling penting adalah estetika sebuah event. Jika event tersebut sengaja diselenggarakan untuk mendukung scene lokal, maka event itulah yang membantu perkembangan scene. Bicara artis luar, secara influence mungkin berpengaruh. Band lokal bisa melihat referensi kalau bandnya (yang diundang, red) bagus.”

Artha Kantata (Tabasco):

“Pasti sangat berpengaruh. Mengingat anak band itu punya panutan, bisa dibilang ‘nabi’ masing-masing. Jadi kalau ada event skala internasional, bisa jadi referensi yang baik bagi perkembangan musik maupun mental bermain musik. Bisa menjadi motivasi tersendiri.”

Fami Redwan (Musisi):

“Saya nda terlalu pusing soal bagaimana Makassar berusaha membesarkan namanya di mata Indonesia atau dunia. Saya percaya musik itu universal. Yang jelas, banyak referensi yang dibawakan langsung ke depan mata kita lewat berbagai event. Mulai dari yang teknis hingga yang sifatnya mental. Belajarlah dari tamu-tamu kita, jangan berebut foto saja”

Rilo (Musick Bus Store):

“Kalau saya rasa cukup berguna. Kadang-kadang kita mencari referensi dari band-band bule untuk bisa dijadikan panutan dalam bermusik, bergaya, dll. Event internasional sangat seru dan sebagai anak Makassar, sangat jarang mendapatkan event berkelas internasional”

Mutiah Wenda Juniar (Penikmat musik):

“Pengaruhnya lumayan besar. Event internasional bisa jadi motivasi dan influence buat musisi lokal. Mereka bisa explore lebih jauh musiknya supaya bisa sama dengan musisi luar. Bisa jadi bahan pelajaranlah.”

Reza (Theory of Discoustic):

“Tidak ada korelasinya. Kenapa harus diinspirasi dengan cara yang mahal untuk bisa berkembang? Artinya, membuat event skala internasional bukan satu-satunya jalan untuk maju.”

Meski banyak pendapat yang bermunculan, namun tidak dapat dipungkiri, sebuah event musik tentu mempengaruhi berbagai hal. Dari perputaran ekonomi, hingga sosial-budaya. Selain menjadi referensi, sebuah event hanya satu jalan dari sekian banyak jalan untuk mengembangkan scene musik lokal.

Melihat dan berbicara tentang scene musik lewat sebuah event, tentu bukan hanya hubungan pemusik dan penyelenggara. Aspek penikmat adalah hal terpenting. Fungsi terkecil sebuah pertunjukan adalah perayaan, dan ukuran yang paling jelas ada pada diri penikmat. Apalagi event yang membawa aspek kelokalan, tentu saja akan diikuti dengan berbagai tendensi. Terutama jika melihat promosi dan pengadaan tiket masuk. Kenyamanan dan kualitas pertunjukan akan menjadi tuntutan tersendiri.

Sebuah event sejatinya adalah lingkaran terima kasih yang tak berhenti. Para penikmat datang dan membeli tiket adalah persembahan terima kasih mereka kepada musik, para musisi dan penyelenggara juga menampilkan pertunjukan sebaik mungkin sebagai ungkapan “terima kasih kembali”. Dan, sebuah ungkapan terima kasih yang terbaik, tentulah yang penuh ketulusan dan tanggung jawab. Sebab, jangan sampai sebuah pertunjukan hanya membuat musik tampak sebagai sebuah kesalahan.