Oleh: Zulfikar Hafid (@daengfikarhafid) | Sumber Ilustrasi: Incidental Comics by Grant Snider*

Di masa akhir Sekolah Menengah Pertama, saya menyukai beberapa lagu dari sebuah kelompok musik bernama Jagostu. Salah satu alasannya adalah Eross Chandra, gitaris Sheila On 7, andalan saya! Kini, grup musik itu tiada kabar. Akan tetapi, sebagaimana karya, lagunya tetap ada. Lirik dalam lagunya berjudul Lewat Alam yang menjadi penyulut pemikiran:

“Jika kau percaya, apa yang kau baca, berhentilah membaca”

Lirik itu menghadirkan persepsi: tidak semua hal di buku bisa dipercaya. Sementara, kita telah sepakat, membaca adalah jalan untuk memeroleh kebenaran, keilmiahan, dan banyak pengetahuan. Bukankah kita diharuskan membaca? Kita malah dianjurkan membaca apa saja, membaca banyak hal.

Tulisan M. Aan Mansyur yang berjudul Hal-Hal Yang Saya Pelajari Selama Menjadi Pustakawan mempertegas semuanya. Katanya, membaca merupakan aktivitas paling berbahaya! Maka, simpulan paling aman namun mengerikan adalah kita memang harus berhati-hati membaca!

Pada kenyataannya, tidak susah kita temui seseorang yang seketika berubah paradigmanya setelah membaca buku, pemikiran Dawkins dalam buku The God Delusion, misalnya. Seorang beriman bisa murtad setelah membacanya. Sering juga, karena membaca, di suatu forum kumpul-kumpul teman lama, seseorang selalu mengarahkan pembicaraan agar bacaannya yang telah ia percayai dan hapal bisa keluar dari mulutnya. Ia lalu menguasai pembicaraan, melelahkan telinga, dan menghancurkan suasana, bahkan segalanya. Dan, tulisan ini pun demikian, karena membaca.

Sungguh, membaca tidak hanya berefek positif untuk hidup kita. Bahkan, seorang Seno Gumira Adjidarma (SGA) dalan novel Kitab Omong Kosong menunjukkan membaca juga mengalienasi. Setya yang ekstase, berenjana, larut dalam bacaannya, sehingga melupakan Maneka–teman hidupnya selama berkelana. Perempuan berwajah kuda ini pun marah. Ia merasa tersisih. Belum lagi, perubahan paradigma Setya yang menyebalkan. Betapa Maneka, perempuan terkasihnya bersedih atas itu.

Mungkin, karena menyadari bahaya membaca ini, guru-guru di sekolah hanya mengajari kita dari mengeja per huruf sampai membaca paragraf. Asal bisa membaca petunjuk jalan dan surat, tidak sesat dan dibodoh-bodohi orang, sukseslah pelajaran membaca.

Saya masih ingat, betapa pedis betis saya yang saat itu masih tanpa rambut bulu kaki. Guru saya mencambuk betis putih itu karena saya enggan mengeja. Ia khawatir, saya bukannya bisa membaca tulisan di papan tulis, tapi sudah menghafal dari bangku saya atas bisikan kawan yang telah teruji kepandaian membacanya di depan kelas.

Kita juga mungkin akan ingat betul, betapa hening suasana kelas ketika guru menguji konsentrasi dan kemampuan membaca kita dengan keharusan menyambung bacaan teman. Di situ, guru kita ingin tahu keterampilan membaca muridnya. Bisakah berhenti sejenak jika ada koma dan berhenti sedikit lebih lama jika ada titik. Begitu juga dengan intonasi jika ada tanda tanya.

Guru kita tidak pernah melakukan perlakuan khusus agar kita menggandrungi membaca buku, atau setidaknya menyeru, “kita harus membaca banyak buku!” Guru kita alpa atas itu. Kalau pun ada yang melakukannya, langka. Sekali lagi, mungkin, ini karena kesadaran akan bahaya membaca. Ya, mungkin!

Pemerintah kita, tampaknya juga menyadari hal ini. Perpustakaan yang memadai tidak disediakan untuk kita, baik di lembaga pendidikan maupun yang katanya perpustakaan kota atau daerah milik mereka. Sila kita tinjau perpustakaan-perpustakaan ini!

Jika benar semua ini karena kesadaran akan bahaya membaca, ah, alangkah baiknya guru-guru dan pemerintah kita! Mereka telah menghindarkan kita dari satu marabahaya! Maka, terkhusus untuk pemerintah kita, mari membalas jasanya dengan kembali menjadikan mereka pemimpin kita periode selanjutnya! Bagaimana?

*Sumber ilustrasi diambil dari salah satu panel komik Reading is Dangerous karya Grant Snider, seorang ilustrator berkebangsaan Amerika Serikat.


Baca tulisan lainnya

Isu Budaya Membaca Harus Menjadi Obrolan Nasional

#Barrumembaca: Budaya Literasi dan Kebangkitan Gerakan Positif Anak Muda

Membaca Konsumerisme

Membaca Rumah Baca

Terbebas dari Konsumtif, Orang Tua adalah Kunci

Berapa Buku yang Sudah Kamu Baca Tahun ini?