Foto: Katakerja ( @katakerja65 )

Jika kita berani jujur kepada diri sendiri, kita pasti akan memahami bahwa hidup kita hari ini dikendalikan oleh sesuatu bernama kapitalis. Sebuah rezim yang mengarahkan kita ke suatu arah bernama konsumsi.

Perhatikanlah sekeliling kita (juga diri kita sendiri), mulai dari anak-anak hingga yang tua. Lihatlah pakaian-pakaian yang dikenakan, makanan, gadget, atau segala hal yang mereka konsumsi. Kita akan menemukan keseragaman dalam bingkai “trend” atau yang kini disebut “kekinian”. Lihatlah, betapa orang-orang (baca: kita) lebih butuh dan betah berada di resto-resto cepat saji, daripada di tempat makan yang lebih sehat. Menghabiskan uang untuk berbelanja barang-barang terbaru agar tidak ketinggalan zaman. Buku, film, musik, dan segala yang kita konsumsi tidak lepas dari jeratan keseragaman.

Bahwa ada sebagian yang keluar dari keseragaman, menyatakan diri berbeda, atau “anti mainstream”. Namun, itu tidak cukup meruntuhkan sistem yang ada, malah semakin mengokohkannya. Mereka yang ingin berbeda tetap berada di lingkaran konsumsi, memenuhi kebutuhan untuk berbeda. Dan di mana ada konsumsi, di situ ada kapitalis.

Masyarakat Konsumsi, buku yang ditulis Jean Paul Baudrillard, membahas secara luas tentang budaya konsumsi. Mulai dari logika, kehidupan sosial, hingga membentuk suatu budaya besar bernama konsumsi. Baudrillard memperluas konsumsi bukan sebatas pemenuhan barang dan jasa. Namun, segala hal yang bisa dijadikan objek konsumen. Hal tersebut kemudian merambah menjadi konsumsi makna, dikotomi “keren-tidak keren”, “bermartabat-kurang ajar”, atau “mampu-tidak mampu”.

Tidak mengherankan saat kita memilih makan bukan untuk kenyang atau untuk sehat. Namun, duduk sambil menikmati sajian di resto cepat saji adalah penegasan kemapanan. Kita menggunakan pakaian bukan untuk menutupi tubuh, namun untuk memperlihatkan kemewahan dari yang kita kenakan. Kita tumbuh menjadi masyarakat yang membeli sesuatu, bukan karena nilai manfaat sesungguhnya. Namun, karena gaya hidup. Sebuah citra yang terus didengungkan iklan, film, dan segala bentuk penyampaian informasi yang sampai kepada kita.

Menurut Baudrillard, kita tidak sedang hidup dalam masyarakat yang berkecukupan tapi dalam masyarakat pertumbuhan. Proses yang akan menghasilkan dua hal, makmur dan miskin. Makmur bagi yang diuntungkan dan miskin bagi yang terpinggirkan. Dan pada akhirnya, pertumbuhan ini yang membatasi gerak yang miskin. Pemaknaan yang muncul dari barang atau hal-hal yang kita konsumsi akan mengasingkan mereka yang tak mampu menikmati.

Lalu, Bagaimana menghadapinya? Bagaimana sistem ini bermula? Apa saja hal-hal yang membuatnya tetap ada? Adakah cara-cara untuk mengatasinya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang coba diurai di Klub Buku katakerja. Kegiatan yang telah lama diadakan namun kini dalam bentuk yang baru. Masyarakat Konsumsi karya J.P. Baudrillard hanya satu dari lima belas buku yang dibahas dalam Klub Buku Katakerja.

Klub Buku Katakerja_Revius_list

Daftar lima belas buku bertema konsumerisme yang dibahas oleh Klub Buku Katakerja edisi bulan Juli 2015.

Lima belas buku tersebut dibagikan kepada peserta dan telah dipresentasikan dalam Klub Buku dengan tema Konsumerisme dan budaya pop. Klub Buku Katakerja edisi Juli, telah berlangsung 26-31 Juli 2015. Selain presentasi, peserta juga diwajibkan menulis review singkat tentang buku yang dibaca dan dibawakan dalam presentasi.

Setelah membaca bukunya masing-masing, setiap orang diwajibkan mempresentasikan apa perspektifnya terhadap buku yang mereka baca.

Setelah membaca bukunya masing-masing, setiap orang diwajibkan mempresentasikan apa perspektifnya terhadap buku yang mereka baca.

Weny Mukaddas sedang membahas buku Generasi MTV karya Dadang Rusbiantoro di Klub Katakerja.

Weny Mukaddas sedang membahas buku Generasi MTV karya Dadang Rusbiantoro di Klub Buku Katakerja.

Dengan antusiasme yang tinggi dari para peserta kelas, Klub Buku selanjutnya untuk bulan Agustus akan diadakan pada tanggal 23-24 Agustus 2015. Dengan tema : Karya Sastra Amerika Latin. Bagi teman-teman yang berminat ikut dalam Klub Buku ini, sila datang langsung ke Perpustakaan Katakerja di BTN Wesabbe C65, pilih sendiri bukunya, kemudian dipresentasikan. Tentu menyenangkan, membahas buku ditemani beberapa cangkir kopi dan gorengan. Kita bercerita, berbagi ilmu, dan tentu saja berbagi canda. Sampai berjumpa di Klub Buku Katakerja edisi Agustus! []

featured image credit: thedailyomnivore.net & glogster.com


Baca artikel lainnya berkaitan dengan Katakerja

Hati-Hati, Negara bisa Melumpuhkan Alat Vitalmu!

Menyimak Puisi dan Musik Bekerja

Kota, Musik, dan Cita-Cita(ta)

Membaca Rumah Baca

Lima ‘Bioskop’ Alternatif di Makassar

Ketika Biola, Graffiti, Komunitas, dan Musik Berpadu

Daftar Tidak Kelar tentang Daftar

Apa Judul yang Cocok untuk Tulisan Ini Menurutmu?

Naskah Lontara’ yang Terasingkan

Jangan Buang, Daur Ulang!

Berkarya, Berteman, Berbagi dan Bersenang-senang