Oleh: Abdi Karya ( @abdi.karya ) | Foto: M. Farid Wajdi ( @aiwajdi )

Membaca Melismatis seperti membaca buku aliran pemikiran kiri. Mereka punya sikap, manusiawi, liar, terbuka, tidak cengeng dan tidak cemen. Ketika band indie rewel soal spesifikasi sound system yang wajib hadir setiap pentas, mereka menunjukkan sikap positif dan percaya pada musik dan setiap personil. Sikap yang boleh dikatakan melawan arus, bukan hanya ditunjukkan pada pilihan bermusik mereka, namun juga pilihan ruang pentas mereka, kolaborator mereka, aktivitas bermusik di luar panggung Melismatis, serta kegelisahan mereka pada sikap masa bodoh para pemusik yang antipati kepada keadaan sekitar.

Ketika mereka mengerjakan musik untuk karya teater saya yang berjudul Perjalanan di Dunia Tengah, saya sepenuhnya percaya pada mereka. Keliaran musik mereka mengingatkan saya pada keliaran putra mahkota Kerajaan Dunia Tengah yang Ada dalam naskah I La Galigo, Sawerigading. Keras kepala, pantang menyerah tapi di dalamnya penuh cinta kasih. Seperti musik mereka: riuh, hening, kadang  menggantung seolah tak selesai. Karya musik teater mereka membawa pertunjukan ke level yang lebih tinggi.

Sebagai pekerja musik yang personilnya merupakan teman-teman masa kecil, sikap dan pemikiran mereka tumbuh tanpa membebani satu sama lain. Pertengkaran-pertengkaran lebih riuh  saat sedang latihan atau rekaman di studio. Sebagai anak kecil yang tumbuh bersama, mereka merdeka memperlakukan komposisi musik yang mereka inginkan. Mulai dari campur aduk instrumen hingga tukar tambah personil saat pentas.

Sikap ini bukan hanya didasari oleh pertemanan yang kuat, tapi juga penerimaan teman-teman mereka. Solidaritas yang tidak bisa ditawar. Dan mereka bisa bersikap lantang pada penyelenggara acara-acara musik yang tidak berpihak kepada musisi di kota ini.

Kilas balik sejenak, Melismatis adalah band yang terbentuk pada tahun 2006 di kota Makassar. Pertemanan yang erat melewati masa-masa sejak sekolah hingga saat ini. Perjalanan menyenangkan di akhir tahun 2011, akhirnya menjadi momen yang tepat untuk meyakinkan mereka merilis album bertajuk Finding Moon. Setelah merilis album tersebut, Melismatis terus bergerak melakukan tur, konser tunggal, dan banyak hal lainnya. Di tahun 2013, Melismatis kembali masuk studio dan berhasil menyelesaikan 2 album sekaligus. Saya pun terlibat dalam proses pembuatan album tersebut, termasuk saat sesi pemotretan untuk sampul albumnya.

Di tahun ini, mereka sepakat merilis dengan format double album, satu kemasan yang mencakup dua album sekaligus di dalamnya. Dua album tersebut memiliki konsep dan nuansa yang sangat berbeda. Album yang dinamai Semesta, dan yang satu adalah Rupa Pesona. Semesta bercerita tentang Kosmologi. Sedangkan Rupa Pesona berbicara tentang Manusia. Semua alur di dalamnya diambil dari perspektif mereka membaca salah satu episode tentang Pohon Welenrengnge dalam kisah I Lagaligo, sebuah karya sastra terpanjang di dunia yang menjadi cikal bakal budaya masyarakat di tanah Bugis.

Saat ini, Melismatis mempersiapkan sebuah konser tunggal bertajuk “Usai Berlabuh”. Sebuah Konser merayakan rilisnya album “Semesta – Rupa Pesona”. Bersama dengan itu, konser ini juga menjadi yang terakhir untuk Melismatis. Konser mereka besok tidak akan menutup atau mengubah pandangan bermusik mereka. Ini adalah upaya memulai lembaran baru perjalanan musikalitas mereka selanjutnya. Tentunya lebih berliku dan berwarna. Kita lihat saja penampilan mereka nanti. Salama’!

Simak kolaborasi saya bersama Melismatis dalam teater Perjalanan di Dunia Tengah di video berikut ini:

*Konser Usai Berlabuh akan digelar di Gedung Kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, pada hari Minggu, 5 Maret 2017. Konser ini juga sebagai peresmian album kedua sekaligus menjadi album terakhir Melismatis yang bertajuk “Semesta – Rupa Pesona”.  Tiket seharga Rp. 35.000 sudah bisa didapatkan di Guts Barber Shop (Alauddin & Perintis), Immortal (Boulevard), Musickbus Store (Pettarani), dan Prolog Art Building (GTC, Tanjung Bunga).

*Abdi Karya merupakan penggiat Rumata’ Art Space. Pernah bekerja sama dengan Melismatis dalam pagelaran teaternya bertajuk Perjalanan di Dunia Tengah.
*Muh. Farid Wajdi adalah fotografer utama dari Melismatis. Selain memotret, Farid juga berpartisipasi dalam pameran Rethinking Local Heroes.